Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 34: Dinding Seribu Baja


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Meski kebersediaan Dewi Mata Hati diikuti dengan syarat, jelas itu membuat ketiga istri Joko Tenang dan Turung Gali memiliki harapan baru.


Khususnya Kerling Sukma, ia jadi berhenti menangis. Ia sangat bersyukur bahwa gurunya mau berkorban demi kepentingan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan nyawa Joko Tenang, calon pewaris Dewa Kematian.


Dewi Mata Hati memberi syarat, yaitu Dinding Seribu Baja-nya harus dihancurkan. Ilmu yang berwujud dinding sinar kuning bening itu kini menjadi sekat antara keberadaan Tirana dan lainnya dengan posisi Dewi Mata Hati.


Kerling Sukma sebagai murid kesayangan Dewi Mata Hati, sebelumnya tidak pernah tahu tentang ilmu perisai ini. Baik gurunya ataupun kakak seperguruannya tidak pernah menyebut atau memperlihatkan ilmu ini. Jadi, Kerling Sukma tidak tahu, sehebat apa ilmu perisai ini.


Namun, ia sangat optimis bisa menghancurkan ilmu pertahanan itu. Terlebih beberapa hari lalu, ia berhasil menghancurkan ilmu perisai kakek gurunya di Perguruan Tiga Tapak. Ilmu perisai Dinding Perkasa milik Pendekar Seribu Tapak yang sangat besar, sanggup Kerling Sukma hancurkan dengan Tebasan Mata Batin.


Sementara di atas batu kristal hijaunya, Dewi Mata Hati memilih duduk bersila. Ia merilekskan tubuhnya dan melakukan olah pernapasan yang teratur. Ia tinggal menunggu hasil dari upaya para orang muda di balik dinding.


“Izinkan aku yang lebih dulu mencoba, Ratu. Semoga ini tidak lebih kuat dari Dinding Perkasa milik Kakek Guru,” kata Kerling Sukma dengan suara yang serak, sisa dari tangisan dahsyatnya tadi.


“Lakukanlah!” kata Getara Cinta.


Kerling Sukma lalu berkonsentrasi. Ia berdiri dengan kaki rapat.


Zess!


Tiba-tiba kedua lengan Kerling Sukma dilapisi sinar emas bergelombang.


Tidak hanya sekedar mengerahkan ilmu Tebasan Mata Batin pada kedua tangannya, tetapi Kerling Sukma juga mengerahkan tenaga saktinya untuk menunjang kekuatan ilmu yang akan ia kerahkan.


Zezzz! Buomm!


Akhirnya Kerling Sukma mengibaskan lengan kanannya ke depan. Maka satu kiblatan sinar emas tipis berbentuk vertikal melesat cepat, menebas dinding kuning tersebut.


“Apah!” ucap Kerling Sukma terkejut. Perasaannya serasa ingin menangis kembali. Ilmu tingginya itu ternyat tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Dinding Seribu Baja.


Namun, ia tidak boleh langsung kecil hati. Ia masih memiliki ilmu yang lebih tinggi, yaitu ilmu Jari Surga. Terlebih bersamanya masih ada Tirana dan Getara Cinta yang memiliki kesaktian tidak tanggung-tanggung.


Getara Cinta yang juga pernah menyaksikan kehebatan ilmu Tebasan Mata Batin, juga terkejut. Ia tidak menyangka ilmu Dinding Seribu Baja itu jauh lebih hebat dari ilmu Dinding Perkasa milik Pendekar Seribu Tapak.


Kerling Sukma tidak mau berhenti. Ia segera mengangkat tinggi tangan kanannya lurus ke atas. Jari telunjuk dan jari tengahnya tegak lurus, sementara tiga jari lainnya menekuk.

__ADS_1


Cresss!


Detik berikutnya, sinar putih sangat menyilaukan muncul bercokol di dua ujung jari yang tegak. Kerling Sukma akan mencoba ilmu tertingginya, yaitu Jari Surga.


Tum tum tum!


Boom boom boom!


Akhirnya Kerling Sukma mengayunkan jari tangannya ke depan. Ternyata yang melesat bukan hanya satu sinar, tetapi tiga sinar putih kecil menyilaukan. Melesat beruntun dengan jarak yang sangat rapat.


Kurang dari satu detik, tiga ledakan dahsyat yang luar biasa kerasnya menghantam Dinding Seribu Baja. Gua tempat mereka berada terguncang beberapa saat.


“Hiks…!” tangis tertahan Kerling Sukma saat melihat Dinding Seribu Baja tidak apa-apa. Ia jatuh terduduk lemah. “Guru pasti memang tidak pernah berniat menolong Kakang Joko!”


Tirana telah melompat tinggi menuju Dinding Seribu Baja. Di tangan kanannya telah bercokol bola sinar dua warna, yaitu hijau dan kuning.


Broass!


Ilmu bernama Bola Dua Maut itu Tirana bantingkan menghantam Dinding Seribu Baja. Ledakan dahsyat terjadi, tetapi itu hanya ledakan dari ilmu Bola Dua Maut, tidak termasuk ledakan dinding sinar itu.


“Setinggi inikah kesaktian Dewi Mata Hati?” ucap Tirana lirih, wajahnya mengerenyit putus asa. Ternyata harapan yang sempat terlihat dekat, faktanya sangat jauh.


Melihat kegagalan Kerling Sukma dan Tirana, Getara Cinta yang awalnya percaya akan berhasil menghancurkan Dinding Seribu Baja, jadi berubah ragu. Namun, ia tetap harus mencoba.


“Aku memiliki Permata Darah Suci,” ucap Getara Cinta menyemangati dirinya.


“Kami mengandalkanmu, Ratu!” ucap Tirana.


Getara Cinta mengangguk. Ia lalu membangkitkan kekuatan Permata Dara Suci.


Pruss!


Tiba-tiba seluruh tubuh cantik Getara Cinta diselimuti lidah-lidah api berwarna hijau. Bahkan sepasang matanya menyala hijau terang tanpa terlihat ada pupil matanya. Selanjutnya, kedua tangan Getara Cinta menggenggam. Maka muncullah sinar hijau berpijar. Pukulan inilah yang pernah mengalahkan kekuatan dahsyat Surya Langit Jagat, saat Joko Tenang bertarung melawan Pangeran Baijin.


“Heaat!” pekik Getara Cinta sambil melompat maju.


Bluammm!

__ADS_1


Getara Cinta menghantamkan kedua tinjunya sekaligus pada dinding sinar kuning. Satu suara hantaman dahsyat menggetarkan gua itu, sehingga debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit gua.


Namun, lagi-lagi membuat frustasi. Dinding Seribu Baja masih kokoh tanpa tergoyahkan.


“Ilmu apa ini?” ucap Getara Cinta lemah.


“Guruuu!” teriak Kerling Sukma lagi penuh histeris. Ia menangis putus asa. Di kepalanya tidak lagi menemukan cara untuk menghancurkan ilmu perisai itu.


Sementara di dalam sana, Dewi Mata Hati tetap bergeming dalam duduknya yang penuh ketenangan.


“Biar Ayah juga mencoba,” kata Turung Gali kepada Tirana. Ia lalu memberikan raga Joko Tenang kepada Tirana.


Tirana lalu duduk memangku badan atas suaminya.


Zerzzz!


Kedua lengan Turung Gali kini diselimuti gulungan-gulungan sinar merah. Ia memasang kuda-kuda. Selanjutnya….


Zruzzz!


Turung Gali menghentakkan sepasang lengannya bersamaan. Maka dua spiral sinar merah melesat tanpa putus dari kedua lengan Turung Gali. Dua ujung sinar itu mendarat pada dinding sinar kuning, berusaha untuk menekan dan mengebor dinding itu.


“Heaaakr!” teriak Turung Gali sambil terus berusaha meningkatkan tenaganya. Hingga wajahnya menegang memerah, urat lehernya bertonjolan tegang.


Namun, dinding itu bergeming. Tidak ada perubahan sama sekali. Ilmu Lengan Merah Turung Gali tidak memberi efek apa pun.


“Fuuuh!” Turung gali akhirnya menyerah. Ia menghentikan ilmu Lengan Merah-nya, membuat spiral sinar merah lenyap. Ia terengah-engah, tenaga dalamnya begitu banyak ia kerahkan.


“Apa yang harus kita lakukan, Ratu?” tanya Kerling Sukma.


“Tinggal satu peluang,” kata Getara Cinta. “Kita serang bersamaan dengan masing-masing ilmu tertinggi kita.”


“Ayo!” kata Tirana setuju. Ia lalu membaringkan tubuh Joko Tenang di lantai.


Kerling Sukma dan Tirana bangkit berdiri.


Akhirnya mereka berempat berjejer ke samping. Mereka berempat siap dengan mengatur napas terlebih dahulu. Dalam pikiran mereka, tumbuh keyakinan. Jika Dinding Seribu Baja dihantam serentak, kemungkinan besar dinding itu akan hancur. (RH)

__ADS_1


__ADS_2