
Sawiri menggerakkan lengan kanannya yang membuat lilitan tali merah di leher Joko Tenang bergerak lalu melesat ke dalam genggaman Sawiri. Maka bebaslah Joko Tenang dari belenggu yang melumpuhkan tenaga dalam dan kesaktiannya. Namun, Joko Tenang tetap dalam kondisi lemah tidak berdaya karena keberadaan Sawiri dan ketiga prajurit wanita yang menggotongnya tadi kurang dari tiga langkah.
“Aku harus tetap berpura-pura lemah meski nanti tenagaku pulih,” membatin Joko Tenang. Untuk memperkuat sandiwaranya, Joko mengerang, “Akh!”
Munculnya suara erangan Joko menunjukkan kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Joko pun terlihat berusaha bangun, tapi tidak kuat seperti gerakan orang yang lumpuh.
“Joko, apakah kau bisa bicara?” tanya Sawiri.
“Apa yang... kalian lakukan... terhadap kami?” tanya Joko dengan suara yang begitu lemah dan terputus-putus.
“Jika kau dan teman-temanmu bukan mata-mata, apa yang kau lakukan di wilayah Hutan Kabut?” tanya Ratu Aswa Tara.
“Arak Kahyangan,” ucap Joko Tenang lemah, tetapi masih dapat didengar olah Ratu dan para prajuritnya.
Agak melebar sepasang mata Ratu Aswa Tara mendengar nama yang disebutkan oleh Joko. Wanita cantik itu terdiam sejenak, seolah otaknya berpikir dengan cepat.
“Siapa yang ingin kau obati dengan Arak Kahyangan?” tanya Ratu Aswa Tara.
“Calon istriku... dan kekasih sahabatku,” jawab Joko.
“Hmm.” Ratu Aswa Tara bergumam dan mengangguk samar. “Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau tidak memerlukan Arak Kahyangan untuk mengobati dirimu?”
“Aku punya obat,” jawab Joko.
“Di mana?”
“Calon istriku... yang lain.”
“Oh!” seru Ratu Aswa Tara terkejut lalu tersenyum sendiri. “Rupanya kedua wanita yang bersamamu itu semuanya calon istrimu, Joko?”
“Iya. Aku sedang... cari istri... banyak.”
“Hahaha!” tawa Ratu Aswa Tara. Lalu tanyanya lagi, “Keperkasaan apa yang kau miliki sehingga kau mau mencari istri yang banyak?”
“Calon istriku... sakti. Aku... lebih sakti.”
__ADS_1
“Oh ya? Aku tidak percaya. Dengan kondisimu seperti ini, bagaimana bisa kau memuaskan satu istri, apalagi memuaskan istri banyak? Hahaha!”
Melihat ratu mereka tertawa, para prajuritnya pun turut tersenyum-senyum.
“Aku akui kau memang sangat tampan. Seandainya kau tidak selemah ini, aku tidak keberatan berbagi ranjang denganmu. Aku beri tahu tentang keberadaan Arak Kahyangan pun kau tidak akan bisa membalas budi.”
Mendengar kata-kata Ratu Aswa Tara, Joko seolah menemukan jalan menuju ke Arak Kahyangan.
“Berikan Arak Kahyangan. Aku akan... berikan... apa pun yang... aku bisa,” kata Joko dengan nada suara agak bersemangat.
“Kau bisa berikan apa pun yang kau bisa?” tanya Sang Ratu lagi seolah tidak yakin.
“Iya, jika obatku... kau lepaskan.”
“Baik,” ucap Ratu Aswa Tara sambil mengangguk-angguk samar seolah sedang berpikir. Lalu katanya, “Aku membutuhkan seorang sakti untuk memenangkan adu tanding. Apakah kau bisa?”
“Bisa. Aku sakti... asalkan kau... lepaskan calon istriku. Hanya dia yang... punya obatku.”
“Baik, aku perlu bukti. Besok akan ada pertandingan dengan Kerajaan Tabir Angin. Peraturan pertandingan adalah setiap kubu memakai jasa pendekar-pendekar asing. Pemenangnya akan memiliki hak menyandang nama sebagai kerajaan. Pertandingan terdiri dari tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan masing-masing menurunkan tiga jago. Pertemuan pertama sudah terjadi dan aku kalah. Aku harus memenangkan dua pertemuan berikutnya agar aku mengalahkan Ratu Getara Cinta dan wilayahku akan bernama Kerajaan Hutan Kabut,” jelas Ratu Aswa Tara. Lalu tanyanya, “Sesakti apa kau sebenarnya, Joko?”
“Jika aku mempercayaimu, aku berjudi dengan mempertaruhkan kemenanganku selama satu tahun. Jika ternyata kau tidak bisa memberi kemenangan, berarti aku harus menunggu setahun lagi untuk bisa berharap menjadi kerajaan. Namun baik, jika kau dan calon istrimu tidak memberi kemenangan, aku terpaksa membunuh calon istrimu yang sudah sekarat itu. Termasuk wanita cantik berbaju putih yang juga kondisinya sekarat. Dan ingat, tidak akan ada Arak Kahyangan.”
“Baik,” jawab Joko lemah.
“Jika kau bisa menang besok dari para pendekar Ratu Getara Cinta, maka kita buat kesepakatan!” tandas Ratu Aswa Tara.
“Baik.”
“Sawiri, kembalikan Joko ke penjara. Pisahkan calon istrinya yang sekarat ke penjara lain sebagai sandera. Besok sebelum pertandingan dimulai, hadapkan Joko dan calon istrinya!”
“Baik, Ratu!” ucap Sawiri patuh. Lalu perintahnya kepada prajurit, “Bawa dan kembalikan ke penjara!”
Ketiga prajurit wanita berpakaian putih kembali menggotong tubuh Joko yang tidak berdaya.
Setibanya di penjara, tempat Tirana dan Ginari masih tergantung, Joko kembali digantung. Namun, giliran Ginari yang diturunkan dan dibawa pergi.
__ADS_1
“Mau kalian bawa ke mana temanku?” tanya Tirana.
“Wanita ini hanya untuk sandera,” jawab Sawiri sambil melangkah pergi.
“Biarkan saja, itu sudah perintah ratu mereka,” kata Joko kepada Tirana. “Besok mereka akan melepasmu.”
******
Keesokannya, Joko Tenang dan Tirana dibawa menghadap Ratu Aswa Tara di taman yang berbeda. Joko tetap digotong oleh tiga prajurit wanita, sementara Tirana berjalan dengan leher dijerat lilitan tali merah. Kondisi itu membuat keduanya tidak mampu mengerahkan ilmu apa pun yang mereka miliki. Meski Joko tidak dibelenggu oleh Tali Pemupus, tetapi keberadaannya di antara para wanita itu, membuatnya lemah tidak berdaya.
Hari ini, Ratu Aswa Tara tampil tetap cantik dengan pakaian kebesaran yang didominasi warna hijau tua. Ia duduk anggun di sebuah kursi batu berukir yang memiliki bantalan tebal lagi empuk. Dua wanita masing-masing berdiri di sisi kanan dan kiri tahtanya sebagai penjaga.
Salain Sawiri, ada satu wanita bertubuh tinggi besar yang sebelumnya tidak dilihat keberadaannya oleh Joko. Wanita itu berpakaian kebesaran warna merah gelap, hampir sama dengan warna pakaian Tirana. Wajahnya tegas dan dingin. Pandangannya tajam, seolah memiliki hasrat membunuh yang tinggi. Ia dikenal dengan nama Pina Pima, Panglima Hutan Kabut. Kedudukannya lebih tinggi daripada Sawiri.
“Sebelum kita pergi ke Sumur Juara, kalian harus buktikan bahwa kalian layak aku jadikan jago dalam pertarungan hari ini,” kata Ratu Aswa Tara kepada Joko dan Tirana.
“Jika Yang Mulia Ratu menyandera tiga sahabat kami, maka tidak perlu khawatir jika leherku dibebaskan,” kata Tirana.
Ratu Aswa Tara tanpa pertimbangan lagi, ia memberi isyarat anggukan kepada Sawiri.
Slet!
Sawiri menggerakkan tangan kanannya, maka Tali Pemupus yang memilit leher Tirana bergerak lepas dan melesat menghilang ke tangan tuannya.
Zersss!
Saat itu juga, kedua tangan Tirana masing-masing memegang sebulat sinar biru yang mengeluarkan asap-asap tipis.
Hal itu membuat semuanya terkejut dan langsung bersiaga atas kemungkinan ancaman. Hanya Ratu Aswa Tara yang bersikap lebih tenang.
Joko Tenang sendiri pernah melihat sinar ajian itu ketika Tirana pertama kali mendatanginya.
“Sebagai bukti untukmu, Yang Mulia Ratu, aku akan membalas perlakuan Sawiri kepada kami,” kata Tirana dengan senyum kecil yang menusuk kepada Sawiri.
Sawiri kian bersiap dan tegang, karena ia akan menjadi target percobaan oleh Tirana. Terlebih ketika Tirana mulai melangkah kepadanya, seiring itu pun berhembus angin tenaga dalam yang menyebar dari tubuh si gadis, memberi nuansa ketegangan bagi para prajurit Ratu Aswa Tara. Di posisinya, Pina Pima juga bersiap saat ada kode perintah dari ratunya. (RH)
__ADS_1