
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Sesst! Blar blar blar!
Tiga sinar merah berekor melesat meledakkan tiga batang pohon besar yang tumbuh berdekatan satu sama lain.
Bruksrr!
Batang atas ketiga pohon itu ambruk ke tanah. Maka tampaklah sebuah mulut gua yang sebelumnya tertutupi oleh keberadaan tiga pohon tersebut.
Suara ribut itu mengejutkan seorang tua di dalam gua yang sedang merebus sesuatu di dalam kuali besar. Ia berpakaian serba hitam dengan jubah berwarna hitam. Lelaki berambut putih digelung itu memiliki jenggot sedada yang berwarna abu-abu.
Lelaki tua berusia tujuh puluh tahun itu menengok ke arah mulut gua. Ia mendengus menunjukkan ekspresi marah.
Set! Tep!
Orang tua itu menghentakkan lengan kanannya ke samping. Sebatang tongkat kayu hitam pekat melesat tertarik dan ditangkap oleh tangan si kakek. Tongkat itu terlihat unik karena kepala tongkat berbentuk buah nanas.
Sementara di luar.
Lima wanita berpakaian serba hitam melesat berlari di udara. Kelimanya mengenakan topeng kayu hitam yang menutupi wajah bagian bawahnya, dari hidung hingga dagu. Kelimanya mendarat di mulut gua.
Wusss!
Namun, tiba-tiba segulung angin keras menderu dari dalam gua dan menyerang mereka. Kelimanya bergerak cekatan dengan cara berlindung di balik dinding bibir gua.
Setelah angin itu berlalu, mereka langsung melesat masuk ke dalam gua. Di dalam gua yang hanya punya satu ruangan, mereka langsung mengepung posisi si kakek yang baru saja melepaskan angin pukulan.
Duk! Wess!
Si kakek mengetuk lantai gua dengan ujung tongkatnya. Satu gelombang tenaga sakti seketika melesat menyebar. Kelima wanita itu kompak melompat ke udara menghindari gelombang tenaga yang menjalar cepat di lantai.
Dadar dadar…!
Ledakan beruntun terjadi di sekeliling si kakek, bertepatan ketika kelima wanita itu berada di udara.
“Ki Ageng Kunda Poyo!” sebut seorang wanita. Namun, suara itu bukan milik salah satu dari kelima wanita bertopeng.
Si kakek yang disebut namanya agak terkejut, karena ia tidak merasakan kedatangan satu wanita lagi. Tahu-tahu wanita itu sudah masuk ke dalam gua.
Wanita yang baru masuk adalah seorang gadis cantik jelita berpakaian serba ungu. Gadis berwajah bulat itu berhidung mancung dengan bibir yang berwarna merah terang tapi tanpa gincu. Rambutnya sebahu yang diperindah dengan dua hiasan jepit rambut dari emas beruntai berlian. Kecantikannya semakin mengundang nafsu dengan kumis yang sangat halus di atas bibirnya. Pakaiannya memiliki sayap tebal di belakang.
Lebih terkejut kakek yang bernama Ki Ageng Kunda Poyo ketika melihat paras cantik wanita itu, terlebih ketika memastikan bahwa bibir gadis itu merah natural.
“Siapa kau? Kenapa kau mirip sekali dengan Ningsih Dirama?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.
“Aku putrinya, Ki Ageng. Namaku Putri Aninda Serunai. Mungkin Ki Ageng sudah bisa menerka apa tujuanku,” ujar wanita cantik itu.
Mendelik terbelalak Ki Ageng Kunda Poyo. Jika yang datang adalah keturunan dari Ningsih Dirama, pasti tujuan utamanya adalah mengambil pusaka milik leluhurnya, yaitu Tongkat Jengkal Dewa.
__ADS_1
“Aku memang menunggu ahli waris dari Tongkat Jengkal Dewa, tetapi bukan kau yang aku tunggu selama ini,” kata Ki Ageng Kunda Poyo.
“Setahu aku, siapa pun keturunan dari Ratu Bibir Darah, dia berhak memiliki pusaka itu. Aku tahu risiko bahaya bagi siapa yang menyentuh pusaka itu, tetapi aku sebagai keturunan Ratu Bibir Darah berhak mencobanya,” kata Putri Aninda Serunai dengan tenang. “Jika Ki Ageng tidak memberikan jalan, terpaksa aku akan mengambilnya dengan cara yang lancang.”
Beberapa hari kemudian.
Putri Aninda Serunai melangkah menaiki tangga batu yang sempit, memiliki alur berputar ke atas. Entah berapa ratus atau berapa ribu anak tangga yang sudah dinaiki oleh wanita yang berjuluk Putri Dua Matahari itu.
Putri Aninda Serunai akhirnya tiba pada anak tangga puncak. Ia kemudian menyusuri lorong pendek yang membawanya pada sebuah pintu teralis besi. Itu adalah pintu sebuah ruangan batu yang kecil dan sempit. Di ruangan batu itu hanya ada satu dipan batu, satu meja batu dan satu kursi batu. Di atas meja ada sebuah kendi dan sebuah gelas. Namun, ruangan itu tidak memiliki satu dinding. Dindingnya adalah udara terbuka yang bisa melihat bebas ke alam lepas. Jika melompat keluar melalui jalan itu, maka akan jatuh ke bawah yang dasarnya tidak terlihat karena begitu jauhnya.
Di atas dipan batu duduk bersila seorang gadis cantik jelita berpakaian serba merah terang. Ia tidak lain adalah Putri Sri Rahayu. Ruangan yang adalah penjara itu, dipenuhi oleh aroma bunga mawar nan lembut yang bersumber dari tubuh Putri Sri Rahayu.
Ceklek!
Tanpa menyentuh lubang kunci pada pintu atau menggunakan anak kunci, terdengar ada suara gerakan di lubang kunci. Cukup dengan kekuatan pandangan matanya, Putri Aninda Serunai bisa membuka kunci pada pintu. Setelah itu, pintu terbuka sendiri. Sang putri pun melangkah masuk.
Meski sepasang mata Putri Sri Rahayu tertutup, tetapi ia sudah tahu siapa yang datang.
“Kakak!” sebut Putri Sri Rahayu menyapa, setelah ia duduk di kursi batu menghadap kepada kakaknya.
“Apa keperluanmu, Aninda?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Tidak ada. Aku hanya kangen kepadamu,” jawab Putri Aninda Serunai seraya tersenyum tipis. “Tapi aku ingin memastikan seperti apa kondisimu di sini.”
“Aku baik-baik saja,” jawab Putri Sri Rahayu, lalu ia membuka kedua matanya.
Dess!
Kedua putri tersebut hanya berpaling sejenak melihat nasib nahas si burung yang menyangka itu adalah mulut gua.
“Berapa lama Kakak akan berada di Penjara Menara Langit ini?” tanya Putri Aninda Serunai.
“Sampai calon suamiku datang membebaskanku,” jawab Putri Sri Rahayu enteng.
“Berarti dia akan menghadapi banyak prajurit siluman untuk bisa sampai ke sini,” kata Putri Aninda Serunai. “Sepertinya aku harus berurusan serius dengan calon kakak iparku itu. Ia dan orang-orangnya telah membunuh Siluman Panah Setan dan menggagalkan rencana di Kadipaten Surosoh. Itu membuatku marah, Kakak.”
“Aku hanya bisa mengingatkanmu. Jika kau belum bisa mengalahkan kesaktianku, maka jangan harap kau bisa mengalahkan kesaktian calon-calon maduku,” kata Putri Sri Rahayu.
“Tapi aku adalah orang yang cerdas. Aku pun memiliki banyak prajurit siluman sakti. Dan aku akan membuat permainan di Jurang Lolongan. Kau tahu ini?”
Putri Aninda Serunai menunjukkan sebuah benda yang sejak tadi ia pegang. Sebuah benda berbentuk silinder berwarna merah yang sangat pas jika digenggam. Panjang benda itu hanya sejengkal. Pada benda itu ada empat garis melingkar yang membagi menjadi lima bagian, membuat benda itu bisa diputar berdasarkan sistem mesin yang ada di dalamnya.
“Benda sakti apa itu?” tanya Putri Sri Rahayu. Ia bisa merasakan bahwa benda itu memiliki hawa membunuh yang begitu kuat.
“Jika benda ini aku berikan kepadamu, mungkin kau akan mati dengan sendirinya. Pusaka ini bernama Tongkat Jengkal Dewa. Ini adalah pusaka warisan leluhurku dari garis Ibu. Aku akan membuat permainan di Jurang Lolongan dengan pusaka ini, suatu cara ringkas untuk bisa menyingkirkan banyak pendekar-pendekar aliran putih,” jelas Putri Aninda Serunai.
“Apa yang kau cari dari semua perbuatanmu ini, Aninda?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Aku hanya membantu Ayahanda agar keluarga kita merajai dunia persilatan,” jawab Putri Aninda Serunai. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berkata, “Aku juga berharap calon kakak iparku segera datang membebaskanmu. Tentunya aku juga akan ikut senang jika kakakku bahagia.”
Putri Sri Rahayu tidak mengomentari lagi perkataan adiknya. Putri Aninda Serunai lalu melangkah pergi keluar dari penjara itu.
__ADS_1
Sementara itu di wilayah lain, Senopati Langgapati menggebah kudanya menuju ke sebuah tenda besar yang ada tidak jauh dari pinggir sungai. Tenda itu dijaga oleh barisan prajurit berseragam merah gelap, bersenjata pedang dan tameng kayu tebal.
“Senopati Langgapati tiba!” teriak prajurit penjaga pintu tenda.
Setelah turun dari kudanya, Senopati Langgapati langsung berjalan masuk ke dalam tenda tanpa ada yang menahannya. Setibanya di dalam, ia langsung berlutut menghormat dalam.
Saat itu, di dalam tenda tersebut sedang berlangsung pertemuan para pejabat Kerajaan Balilitan.
“Hormat hamba, Gusti Ratu!” ucap Senopati Langgapati.
“Apakah sudah siap, Senopati?” tanya seorang wanita yang disebut “Gusti Ratu”. Ia adalah seoarang wanita berusia empat puluh lima tahun, tetapi ia masih sangat cantik di usia matang seperti itu. Kehalusan, kebersihan dan kekencangan kulit cerahnya masih begitu jelas terlihat. Ia begitu megah dengan pakaian serba biru terangnya yang dipadu warna hitam pakaian perangnya. Ia adalah Ratu Lembayung Mekar, janda dari Raja Galang Madra. Kini ialah penguasa Kerajaan Balilitan.
Di belakang Ratu Lembayung Mekar berdiri seorang prajurit wanita yang membawa sebuah busur di tangan kanannya.
Sang ratu sedang rapat militer bersama empat perwiranya.
“Pasukan sudah siap berangkat kembali, Gusti Ratu,” kata Senopati Langgapati.
“Kita berangkat ke Gunung Prabu!” perintah Ratu Lembayung Mekar lalu berdiri dan berjalan keluar lebih dulu. Prajurit wanita di belakangnya segera mengikuti.
Senopati Langgapati dan para perwira tinggi lainnya segera mengikuti. Mereka menaiki kudanya masing-masing.
Sementara Ratu Lembayung Mekar naik ke kereta perang warna merah terang. Kereta itu di tarik oleh dua ekor kuda dengan seorang sais lelaki. Prajurit wanita sang ratu duduk di sisi sais.
Pasukan berseragam merah gelap segera bergerak dan berbaris rapi di belakang kereta kuda. Mereka berlari mengikuti kereta kuda yang melaju sedang.
Mahapati Tarik Sewu dan Senopati Langgapati memimpin rombongan. Tidak butuh waktu lama setelah meninggalkan pinggiran sungai, mereka tiba di padang rumput yang dipadati oleh barisan pasukan berseragam kuning hitam. Pasukan itu membawa panji-panji perang yang berwarna warni. Jumlahnya lima belas ribu pasukan. Itu adalah pasukan terakhir yang dimiliki Kerajaan Balilitan.
“Pasukaaan! Berangkaaat!” teriak Senopati Langgapati.
“Berangkat!” teriak pasukan itu serentak, memberi gelombang kejut kepada semangat setiap prajurit. (RH)
TAMAT
****************
PENGUMUMAN
Ini adalah chapter terakhir dari season terakhir novel PENDEKAR SANGGANA. Chapter ini sengaja dibuat menggantung karena berfungsi hanya sebagai cuplikan untuk novel baru lanjutannya, yaitu 8 DEWI BUNGA SANGGANA.
Hasil polling untuk judul novel barunya adalah:
a) 8 Dewi Bunga Sanggana \= 42 suara
b) 8 Dewi Bunga \= 35 suara
c) 8 Dewi Sanggana \= 17 suara
Terima kasih Author ucapkan kepada seluruh Readers yang ikut partisipasi. Hasil demokrasi harus dijunjung tinggi. Meski sebenarnya Author cenderung memilih b, tetapi untuk hal ini, suara terbanyak harus dihormati.
__ADS_1
Semoga para Readers tetap ikhlas setia mendukung novel berikutnya. Kita jumpa lagi di novel 8 DEWI BUNGA SANGGANA.