
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
“Kakang Joko!” sebut ketiga istri Joko Tenang bergantian, panik. Kerling Sukma bahkan menangis, khawatir suami mereka kenapa-napa.
Tubuh Joko Tenang yang terbaring di pangkuan Kerling Sukma kini dalam kondisi tidak sadarkan diri. Seluruh kulitnya berubah warna jadi menghitam seperti air keruh. Baju pada bagian dadanya hangus, termasuk kulit dadanya. Ada lima titik hitam pekat pada kulit bagian dada itu, bekas kelima jari Lirik Layangati.
Semua orang terkejut dengan kejadian yang begitu cepat dan tidak terduga. Kerling Sukma yang saat kejadian berada di antara Joko Tenang dan Lirik Layangati pun tidak sempat berbuat apa-apa. Kerling Sukma sedikit pun tidak memiliki pikiran buruk terhadap kakak tirinya itu, terlebih sikap kakaknya itu terlihat begitu bahagia.
Cup!
Tirana cepat mengecup kening Joko Tenang. Sinar kuning tipis langsung muncul dan meresap masuk ke wajah Joko Tenang. Namun, tidak ada perubahan bagus apa pun pada diri suaminya.
“Seribu Tapak, bukankah itu ilmu Jari Penghancur Nyawa?” tanya Ki Ranggasewa tegang.
“Benar,” jawab Pendekar Seribu Tapak lemah, seolah ia tidak kuasa akan sesuatu.
Mendengar jawaban Pendekar Seribu Tapak, Getara Cinta cepat mendongak kepada Pendekar Seribu Tapak.
“Kakek Seribu Tapak, kau tahu tentang ilmu yang menyerang Kakang Joko. Katakanlah!” kata Getara Cinta.
Tirana yang gagal dalam beberapa kali pemberian ilmu Kecupan Malaikat, juga cepat menatap Pendekar Seribu Tapak.
“Kakek Guru, aku harap kau memberi petunjuk!” kata Kerling Sukma pula.
“Ilmu itu bernama Jari Penghancur Nyawa, milik adikku, Pendekar Jari-Jari Hijau. Itu ilmu terkutuk karena gampang diwariskan tetapi hanya penciptanya yang bisa mengobatinya. Setahuku, ilmu itu haram untuk diwariskan. Mereka yang sudah memiliki, diwajibkan untuk memusnahkan ilmunya. Dan setahuku, adikku sudah lama memusnahkannya, termasuk ilmu cara pengobatannya. Jadi, aku tidak mengerti, kenapa Lirik Layangati bisa menguasai ilmu terkutuk ini,” jelas Pendekar Seribu Tapak.
“Apakah artinya itu tidak ada cara untuk menyembuhkan Kakang Joko, Kek?” tanya Tirana.
“Setahuku tidak ada,” jawab Pendekar Seribu Tapak lemah. “Jika itu kerja racun, mungkin aku masih bisa menolong Joko Tenang. Ilmu ini mencengkeram jantung sehingga membuat semua kulit menghitam. Jantung akan direnggut setelah sekitar lima hari.”
“Kakak Lirik, kenapa kau lakukan ini? Jika kau masih membenciku, kenapa Kakang Joko yang mau kau bunuh, bukan aku?” ratap Kerling Sukma menangis.
“Kakek Seribu Tapak pasti melewatkan sesuatu,” kata Tirana. “Seganas apa pun satu ilmu, pasti ada cara penyembuhannya. Aku yakin kita bisa menyembuhkan Kakang, kesaktian kita tinggi-tinggi.”
“Baiklah, mungkin aku salah pengetahuan, buktinya ilmu yang kukira sudah musnah itu ternyata masih bisa dipelajari oleh Lirik Layangati. Tidak ada salahnya kita mencoba mengobati Joko,” kata Pendekar Tiga Tapak mengalah.
“Guru!” sebut Kerling Sukma yang baru teringat bahwa ia memiliki seorang guru yang sangat sakti. “Di mana Guru? Dia pasti memiliki ilmu pengobatan.”
Kerling Sukma mengedarkan pandangannya mencoba mencari sosok Dewi Mata Hati. Namun, ia tidak menemukan gurunya. Ia hanya menemukan Robenta dan Kumala Rimbayu.
“Di mana Dewi Mata Hati?” tanya Getara Cinta agak keras.
“Tadi Dewi berdiri di sampingku, tapi kenapa tiba-tiba tidak ada?” kata Ki Ranggasewa bingung, celingak-celinguk mencari keberadaan Dewi Mata Hati.
“Kakang Robenta, di mana Guru?” tanya Kerling Sukma kepada kakak seperguruannya, yaitu Robenta alis Pendekar Tongkat Merah.
“Aku tidak tahu, tadi berdiri di samping Ki Ranggasewa,” jawab Robenta.
__ADS_1
“Biar aku cari di kamarnya,” kata Kumala Rimbayu lalu segera berbalik dan berlari kecil.
“Cepat bawa Pangeran ke kamarnya untuk coba diobati!” kata Pendekar Seribu Tapak.
Getara Cinta yang memiliki tubuh lebih besar daripada kedua madunya, segera mengangkat tubuh Joko Tenang dan segera berkelebat pergi menuju kamar Joko Tenang. Tirana dan Kerling Sukma mengikuti, termasuk para tokoh yang hadir.
Para tokoh terpaksa menunda kepulangannya. Mereka juga ingin tahu nasib Joko Tenang selanjutnya.
Mereka tidak mempedulikan lagi kemalangan yang dialami oleh Lirik Layangati yang sedang diratapi oleh ibu dan kakaknya.
Gatri Yandana lebih memilih mendampingi putrinya.
“Aku tidak menyangka jika anak itu masih menyimpan dendam di hatinya,” keluh Pendekar Seribu Tapak kepada Ki Ranggasewa dan Nyi Lampingiwa yang ada di dekatnya.
“Kata Dewi Mata Hati, kemarin dia merasakan energi buruk pada diri Lirik Layangati. Mungkin hal itu yang membuat Dewi Mata Hati bersikap dingin kepada anak itu,” kata Ki Ranggasewa.
“Sebagai bekas orang sakti yang buta, aku tahu bahwa Dewi Mata Hati memiliki ilmu perasa yang sangat tinggi. Bahkan dia bisa mengetahui warna, yang orang buta sakti lainnya tidak bisa tahu,” kata Nyi Lampingiwa.
“Nanti aku harus tanyakan kepada Jari Hijau, kenapa ilmu terkutuk itu masih bisa diwariskan kepada muridnya!” desis Pendekar Seribu Tapak.
“Apakah benar kejahatan ilmu itu tidak bisa disembuhkan, Seribu Tapak?” tanya Robenta yang turut bergabung.
“Karenanya dia disebut ilmu terkutuk, sebab pemilik ilmunya saja tidak bisa menolak jahat dari ilmu itu, kecuali penciptanya. Tapi, semoga saja pengetahuanku salah,” kata Pendekar Seribu Tapak.
Sementara itu di kamar, ketiga istri Joko Tenang sedang berusaha mengerahkan ilmu penyembuhnya.
Getara Cinta pun melakukan upaya pengobatan dengan menyalurkan tenaga sakti penyembuh. Getara Cinta menempelkan kedua telapak tangannya pada dada bidang suaminya. Kedua tangan itu menyala hijau, kemudian menyalurkan gelombang-gelombang sinar hijau masuk ke dalam dada Joko.
Getara Cinta melakukan prosesi itu hingga lima menit. Namun, tidak ada perubahan sedikit pun. Joko Tenang tidak tersadar dan bahkan warna kulitnya terus kian menghitam. Bibir merah Joko Tenang bahkan ikut menghitam.
“Kakang, bangunlah, Kakang!” sebut Getara Cinta menangis, sambil menepuk-nepuk lembut pipi suaminya.
“Biar aku coba, Ratu,” kata Kerling Sukma.
Kerling Sukma lalu melakukan sedikit gerakan bertenaga. Kemudian ia menyentuhkan ujung jari tengahnya di kening suaminya. Dari ujung jari itu masuk aliran listrik kuning ke dalam wajah Joko yang kini berwarna hitam, membuat ketampanannya hilang tanpa tersisa. Ilmu Jari Tabib itulah yang Kerling Sukma gunakan kepada suaminya, jika Joko Tenang mengalami kelelahan dan kesakitan usai bertarung ranjang berulang kali.
Namun, setelah waktu berlalu agak lama, usaha Kerling Sukma tidak kunjung berbuah hasil.
“Bagaimana ini, Ratu?” tanya Kerling Sukma frustasi.
“Mungkin Permata Darah Suci bisa bereaksi terhadap luka Kakang Joko,” ucap Getara Cinta.
“Jangan, Ratu!” cegah Tirana cepat.
“Tidak ada salahnya kita mencoba, Tirana!” kata Getara Cinta bernada agak tinggi, seiring air matanya tumpah deras.
“Terbukti permata itu tidak bereaksi apa-apa. Di dalam tubuh Kakang Joko juga ada Permata Darah Suci. Jika Ratu mengeluarkan Permata Darah Suci di tubuh Ratu, kami bisa kehilangan dua nyawa!” kata Tirana yang juga sudah sembab wajahnya karena menangisi suaminya.
__ADS_1
“Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Lirik bisa menyerang Kakang Joko yang tidak memiliki masalah dengannya?” tanya Getara Cinta bingung.
“Dia sangat dendam kepadaku, Ratu. Aku terlalu bodoh begitu tidak waspada dengannya. Mungkin ia tahu bahwa Kakang sudah tidak memiliki kesaktian, sehingga mudah untuk diserang,” kata Kerling Sukma.
“Biar Ayah mencoba mengobati Joko, Tirana,” kata Turung Gali.
Ketiga istri Joko segera memberi ruang kepada Turung Gali.
“Bibi Guru, aku tidak menemukan Guru Besar!” lapor Kumala Rimbayu yang muncul di pintu kamar.
“Ayo kita cari lagi!” kata Kerling Sukma yang disebut Bibi Guru oleh Kumala Rimbayu. Ia menyeka air matanya dengan jari-jarinya.
“Tirana, aku akan ikut mencari Dewi Mata Hati!” kata Getara Cinta .
Tirana hanya mengangguk.
Saat Getara Cinta, Kerling Sukma dan Kumala Rimbayu keluar, Pendekar Seribu Tapak datang bersama Obang Kenari.
Ketiga wanita cantik itu menyebar di area lingkungan perguruan. Setiap tempat di perguruan itu mereka coba lihat. Namun, sosok Dewi Mata Hati tidak ada.
“Guruuu!” teriak kencang Kerling Sukma akhirnya, ia merasa frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong suaminya, juga frustasi karena tidak bisa menemukan keberadaan gurunya.
Ia berpindah tempat lagi, lalu berteriak lagi. Hingga ke perkebunan milik perguruan, Kerling Sukma datangi. Kemudian ia berteriak lagi memanggil.
“Guruuu! Hiks hik hiks!” teriak Kerling Sukma lalu menangis tersedu-sedu.
“Sukma!” panggil Getara Cinta yang datang menemui Kerling Sukma.
“Ratuuu!” sebut Kerling Sukma lalu menghamburkan tangisnya dengan memeluk madunya itu. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Getara Cinta.
Getara Cinta yang juga dalam kesedihan, jadi terbawa lebih ikut menangis. Kedua istri Joko Tenang itu akhirnya bertangisan di kebun.
Suasana duka yang meliputi Perguruan Tiga Tapak tiba-tiba dikejutkan oleh kebisingan suara kedatangan Sigangga.
Seperti biasa, Sigangga datang dengan lari kuda yang kencang. Semua orang yang ada di sekitar halaman utama dan balairung segera memandang kepada kedatangannya.
“Tamu pentiiing!” teriak Sigangga sambil memasuki gerbang bersama kudanya.
Setibanya di halaman, belum lagi kuda berhenti dari larinya, dia sudah melompat dengan bersalto di udara.
Jleg!
Kali ini, Sigangga mendarat sempurna di tanah. Tembas Rawa segera mewakili Ketua Perguruan dalam menerima laporan.
“Lapooor! Tamu ganteng datang!” lapor Sigangga dengan mantap, mirip seorang utusan pembawa pesan sungguhan.
“Malaikat Serba Tahu datang lagi?” tanya Tembas Rawa.
__ADS_1
Terangkatlah wajah orang-orang yang mendengar nama Malaikat Serba Tahu disebut. Mereka seolah mendengar kabar bagus dan meletakkan harapan kepada orang tua cebol yang awet muda itu. (RH)