
*Cincin Darah Suci*
Joko Tenang harus menemani minum para tamu, meskipun pengantin wanita sudah masuk ke dalam kamar pengantin. Mau tidak mau Putri Yuo Kai harus duduk menunggu di pinggir ranjang pengantinnya dalam kondisi tetap utuh berpakaian pengantin dan wajah tertutup oleh kain merah.
Pangeran Han Tsun menjadi orang yang paling senang dalam acara minum-minum menemani Joko Tenang. Bukan karena Joko sebagai pengantin lelaki, tetapi karena ada Su Mai yang menjadi penerjemah. Pada kesempatan itu, Pangeran Han Tsun juga mengajak Su Mai untuk minum bersama.
“Tsun’er, biarkan Joko pergi ke kamarnya, jangan sampai dia mabuk!” kata Kaisar Long Tsaw yang melihat putranya seolah sengaja menunda-nunda Joko untuk selesai.
“Ah, Ayahanda,” ucap Pangeran Han Tsun yang sudah mulai mabuk karena berlebihan minum anggur.
Setelah menjura hormat kepada sang kaisar, Joko Tenang akhirnya meninggalkan acara pesta dan pergi masuk ke kamar pengantin.
Putri Yuo Kai yang sudah menunggu cukup lama, menjadi sangat berdebar saat mendengar langkah kaki Joko mendekat.
Kaki Joko melangkah masuk. Sang putri semakin berdebar. Joko menutup pintu kamar. Sang putri tambah berdebar.
Joko Tenang melangkah mendekat ke arah pembaringan. Putri Yuo Kai yang menunduk, hanya bisa melihat samar sepasang kaki Joko melangkah normal, menunjukkan bahwa suaminya tidak minum sampai mabuk.
Akhirnya Joko Tenang berhenti lima langkah dari Putri Yuo Kai.
“Yuo Kai sayangku!” sebut Joko Tenang lembut.
“Ya?” sahut Putri Yuo Kai singkat dan pelan, nyaris tidak terdengar.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Joko.
“Aku tidak mengerti perkataanmu, Suamiku,” kata Putri Yuo Kai.
“Hahaha! Aku lupa, di sini tidak ada Su Mai,” ucap Joko seraya tertawa.
“Suamiku, bukalah penutup kepalaku!” kata Putri Yuo Kai.
“Aku tidak mengerti. Tunggu, aku akan mengambil kertas dan tinta,” kata Joko Tenang yang teringat ketika mereka berkomunikasi menggunakan bahasa gambar.
Joko Tenang segera mengedarkan pandangannya. Ia tidak hapal isi kamar yang baru dia tempati itu, jadi harus mencari dulu.
“Joko!” panggil Putri Yuo Kai yang bingung melihat tingkah suaminya.
“Ya?” sahut Joko seraya menengok memandang istrinya.
“Buka ini!” kata Putri Yuo Kai, ia menunjuk kain merah yang menutupi kepalanya.
“Kenapa dengan itu? Oh ya, kemarin Su Mai memberitahuku. Suami harus membuka kain penutup wajah istrinya di malam pertama. Tapi ini masih siang, Yuo Kai,” kata Joko.
__ADS_1
Putri Yuo Kai menunggu, ia menduga bahwa Joko telah mengerti maksudnya. Namun, Joko masih berusaha mencari kertas dan tinta di ruangan luas itu.
“Apakah masa bahagia seperti ini akan rusak hanya karena bahasa?” keluh Putri Yuo Kai lirih. Ia kemudian kembali memanggil Joko, “Joko!”
“Ya?” sahut Joko lagi sambil menengok kepada sang putri.
“Lepaskan penutup wajahku,” kata Putri Yuo Kai sambil memberi isyarat menunjuk penutup kepalanya.
Joko Tenang kembali melangkah mendekati istrinya.
“Kau ingin aku membukanya sekarang?” tanya Joko yang tidak bisa dipahami istrinya. “Baiklah.”
Wus!
Joko Tenang kemudian menggerakkan dua jarinya. Segulung angin kecil bertiup dan menerbangkan kain merah dari kepala Putri Yuo Kai.
Maka terbukalah sudah wajah cantik jelita yang hampir satu hari ini tertutupi oleh kain merah. Bibir merah Putri Yuo Kai terlihat begitu menggiurkan di mata Joko. Namun apa daya, Joko bingung harus berbuat apa.
Putri Yuo Kai masih menunduk malu. Ia menunggu tindakan dari suaminya. Namun, yang dia harapkan tidak juga terjadi. Suaminya masih berdiri diam.
Akhirnya Putri Yuo Kai mengangkat wajahnya. Dipandangnya suaminya. Joko Tenang hanya tersenyum.
“Apakah ini akan menjadi mimpi buruk bagiku? Kita hanya memiliki kesempatan sekarang ini, Joko. Apakah kau tidak mau melakukan sesuatu terhadapku?” batin Putri Yuo Kai.
“Ya?” sahut Joko.
Putri Yuo Kai menepuk kasur di sisinya. Setelah itu, sang putri berdiri dan menjauh dari ranjang.
Joko mengangguk. Ia lalu menurut dengan berjalan ke ranjang dan duduk di pinggirnya.
Bruk!
Terkejut Joko Tenang. Selain sangat cepat, gerakan Putri Yuo Kai begitu tiba-tiba menyergap peluk tubuh Joko. Keduanya pun bertindihan di atas kasur.
“Biar aku yang melakukannya!” kata Putri Yuo Kai seraya tertawa senang di atas wajah Joko Tenang.
Putri Yuo Kai memeluk erat tubuh Joko, seakan-akan tidak mau merenggangkannya sedikit pun. Seketika itu, Joko pun tidak berdaya. Semua anggota tubuhnya berubah lemas tanpa tenaga. Joko hanya pasrah.
Birahi dan nafsu Putri Yuo Kai sudah melewati batas kesabaran. Ia tidak peduli dengan wajah Joko yang memucat. Ia pun sudah menyingkirkan rasa malunya. Sang putri menghajar habis bibir dan wajah Joko dengan bibir lembutnya.
Apa boleh buat, Putri Yuo Kai harus bermain solo, sebab Joko sudah terkapar sebelum bergulat. Meski demikian, Putri Yuo Kai begitu menikmatinya dan itu menjadi masa-masa yang paling bahagia di dalam hidupnya.
Jika dalam kondisi seperti itu saja ia bisa bahagia, Putri Yuo Kai yakin bahwa ketika Joko sembuh dari penyakitnya, kebahagiaan itu akan terasa lebih indah berkali lipat.
__ADS_1
Meski kondisinya dalam keadaan lemah tidak berdaya tanpa bisa melakukan apa-apa, Joko Tenang tetap ada merasakan nikmatnya dicumbu. Karena ini adalah yang pertama, jadi kenikmatan yang sedikit tetap ia rasakan sebagai sensasi yang luar biasa.
Sementara itu, di Taman Selatan.
Tirana menemani Puspa di bawah salah satu pohon permaisuri.
“Kenapa kau datang ke tempat Puspa?” tanya Puspa kepada Tirana.
“Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan Kakang Joko dan Putri Yuo Kai,” jawab Tirana seraya tersenyum.
“Dasar Ayam Pingit! Bukannya mencari permata, malah mencari istri. Untung bukan Puspa yang dikawini, hihihi!”
“Puspa, biasanya, jika seorang perempuan cantik suka memaki seorang lelaki, pasti nanti akan menjadi suaminya,” kata Tirana.
“Hah! Tidak tidak tidak. Amit-amit jabang tua! Jangan sampai, Ayam Tampan!” kejut Puspa lalu segera mengganti sebutannya teruntuk Joko menjadi “Ayam Tampan”.
Tertawalah Tirana melihat reaksi Puspa.
“Besok pagi kita akan ke timur untuk mencari Permata Darah Suci,” kata Tirana, kali ini serius.
“Apakah Ayam Tampan ikut?” tanya Puspa.
“Iya.”
“Apakah perempuan wangi itu juga ikut?” tanya Puspa lagi.
“Tidak. Putri Yuo Kai akan pergi berperang ke perbatasan negerinya.”
“Jika bukan karena harus pulang, Puspa ingin tinggal di sini, di bawah pohon ini,” kata Puspa.
“Terus terang aku sedikit khawatir jika pulang dengan ilmu Gerbang Tanpa Batas. Aku takut peristiwa berpisah dengan Kakang Joko terjadi lagi,” kata Tirana. “Tentunya akan sangat lama jika harus mengarungi lautan untuk pulang.”
“Rupanya kalian berkumpul di sini!” sapa seseorang dari belakangTirana.
Orang yang datang itu adalah Su Ntai.
“Besok pagi kami akan berangkat ke timur, Ki,” kata Tirana memberi tahu.
“Apakah jasaku masih dibutuhkan?” tanya Su Ntai.
“Aku rasa masih,” jawab Tirana.
“Kisah cinta Joko dan Putri Yuo Kai sangat menyedihkan. Hari ini menikah, tetapi besok pagi harus berpisah,” kata Su Ntai. (RH)
__ADS_1