Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 13: Pengintaian Penghuni Gua


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


 


“Siapa orang-orang itu?”


“Aku tidak tahu, Barbara.”


“Ada yang datang dari dari langit!”


“Apakah mereka manusia? Atau dia dewa. Jika benar ada dewa, berarti apa yang disembah oleh Kaum Naga dan Kaum Garam benar adanya.”


“Apakah kau tertari dengan agama mereka?”


“Tidak, aku hanya tertarik kepada San San Htay.”


“Kau akan berhadapan dengan Kan Lwin jika berani mengusik San San, Albert.”


“Huh, Kan Lwin itu lelaki yang lemah. Lebih baik kita mendekat lagi, Barbara.”


“Jangan! Mereka bukan orang biasa. Aku khawatir justru kita akan diketahui oleh mereka.”


“Lihat, wanita-wanita muda itu begitu indah. Sangat bagus untuk jadi persembahan bagi Pedang Singa Suci.”


“Kita lihat dulu kondisinya, jika memang memungkinkan, kita bisa menculiknya satu.”


“Lihat, benda merah itu ternyata seorang lelaki tua!”


“Dia pasti memang bukan manusia. Lihat perempuan berompi merah itu, begitu terhormat….”


“Dia bukan perempuan. Perhatikan dengan teliti bentuk tubuhnya, Barbara.”


“Hah! Jadi dia lelaki?”


“Kau ini, penglihatanmu semakin terganggu oleh kegelapan. Pantas saja kau tidak mudah jatuh hati kepada lelaki tampan sepertiku. Ternyata matamu bermasalah.”


“Jangan kurang ajar kau, Albert! Kau pikir aku akan suka dengan lelaki yang aku tahu segala keburukannya? Bahkan, kau mungkin saja akan tega menjadikanku persembahan jika kau tidak menemukan korban.”


“Kau jangan memojokkanku. Itu tidak mungkin aku lakukan terhadap gadis yang aku sukai.”


“Dasar hidung lubang satu! Baru saja kau menyebut nama anak gadis Ketua Desa, sekarang kau menyebutku di dalam seleramu!”


“Orang langit itu begitu akrab dengan pemuda berompi merah itu.”


“Itu artinya kau tidak bisa macam-macam membuat urusan dengannya. Lebih baik hindari saja untuk menargetkan wanita-wanita cantik itu.”


“Mencari wanita ke Desa Nay Swi Daw melelahkan. Waga desa di sana semakin ketat berjaga setelah beberapa kali wanita mudanya hilang tanpa kabar.”


“Suatu saat apa yang kita lakukan di gua pasti akan diketahui oleh Kodawgyi.”

__ADS_1


“Terbukti sudah puluhan tahun kita berusaha mengikis batu pedang itu, rahasia kita tetap terjaga. Jika mereka tahu apa yang sebenarnya kita lakukan, seharusnya ayahmu berani membunuh mereka semua.”


“Aku terkadang tidak tega, selama puluhan tahun kita menipu mereka dan mereka sudah sangat percaya kepada kita.”


“Jangan berhati lemah, Barbara!”


“Sinar putih apa itu?”


“Binatang itu terlihat jelas!”


“Itu burung yang sangat besar. Hah! Dia hilang begitu saja!”


“Ke mana perginya burung raksasa itu?”


“Orang langit itu pergi lagi ke langit!”


“Apa yang akan kita lakukan?”


“Kau tetap di sini, Barbara. Aku akan kembali ke gua dan menyuruh Lois dan Stim untuk menculik satu dari wanita itu.”


“Baik.”


Apa yang Barbara dan Albert saksikan dari tempat persembunyiannya yang gelap adalah kedatangan Resi Putih Jiwa menemui Prabu Dira. Mereka menyaksikan jelas wujud Gimba ketika tubuhnya diselimuti sinar putih, lalu hilang.


Lokasi pengintaian Barbara dan Albert berada cukup tinggi di sisi atas gunung, tetapi cukup memadai melihat keberadaan Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai.


“Suamiku, ada orang yang mengintai kita dari sisi atas,” kata Permaisuri Yuo Kai.


Permaisuri Yuo Kai lalu memerintahkan Bo Fei dan Chi Men untuk tetap berada di tempat itu bersama Mai Cui dan Yi Liun. Mereka tetap menyalakan pembakaran kecil sebagai sumber penerangan.


Mengandalkan ilmu peringan tubuhnya, Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai bergerak bersama di dalam kegelapan.


Tidak membutuhkan waktu lama, Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai yang bergerak mengambil jalan agak memutar, telah berada di area belakang posisi Barbara yang terus mengawasi ke bawah, ke tempat Bo Fei dan Chi Men berada.


Kehadiran Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai tidak dirasakan oleh Barbara. Namun, sebelum keduanya melakukan sesuatu, mereka melihat ada pergerakan di dalam gelap di daerah atas yang menuju ke tempat itu.


Permaisuri Yuo Kai memberi bahasa isyarat agar Prabu Dira meringkus orang yang mengintai, sedangkan dia akan melumpuhkan dua orang yang bergerak turun. Prabu Dira mengangguk.


“Serang!” kata Prabu Dira berbisik.


Maka serentak suami dan istri itu bergerak cepat.


Permaisuri Yuo Kai berkelebat cepat. Suara dan kemunculannya dalam kegelapan mengejutkan dua lelaki besar yang menuruni jalan dengan berhati-hati. Kedua lelaki besar itu tumbang dengan cepat saat totokan Permaisuri Yuo Kai bersarang pada tubuh mereka.


Sementara itu, Prabu Dira menyergap sosok dalam kegelapan dari belakang. Dari belakang ia bekap mulut orang itu.


“Hep!” pekik Barbara saat tiba-tiba ada tangan kuat yang membekap mulut dan hidungnya dari belakang.


Cepat sekali Barbara merespon dengan menolakkan sepasang kakinya mendorong keras tubuhnya ke belakang. Dorongan keras itu membuat Prabu Dira terdorong pula ke belakang. Di dalam gelap, Barbara jatuh menindih tubuh pembekapnya.

__ADS_1


Barbara berusaha meronta, tetapi tangan Prabu Dira sangat kuat membekap. Nahasnya lagi bagi Barbara, tangan Prabu Dira yang lain memeluk kuat lengan dan dadanya.


“Diam!” bisik Prabu Dira.


Meski Barbara tidak mengerti bisikan Prabu Dira, mau tidak mau ia harus berhenti meronta dengan mata lebarnya yang mendelik, ketika ia merasakan ada gerakan merayap di tubuhnya.


Gerakan merayap itu bukan gerakan nakal tangan Prabu Dira pada dada Barbara, tetapi gerakan ular yang cukup besar.


Zzzz!


Tepat ketika keduanya jatuh bertindihan, seekor ular yang sedang jalan-jalan lewat. Suara desisannya yang membuat Prabu Dira berusaha menahan rontaan Barbara. Ular sebesar lengan itu terus merayap di atas tangan Prabu Dira dan dada Barbara, membuat posisi tangan Prabu Dira tetap diam di dada besar itu.


“Kurang ajar!” maki Barbara setelah ular itu berlalu pergi. Ia memaki dengan bahasa yang Prabu Dira tidak mengerti.


Ketika ular itu telah berlalu, Barbara cepat menangkap jari tangan Prabu Dira dan menariknya agar lepas dari dadanya.


“Akh!” pekik Prabu Dira tertahan karena sakit pada jarinya.


Saat bekapan Prabu Dira pada dirinya melonggar, Barbara cepat meronta dan berguling menjauhi tubuh Prabu Diri. Barbara cepat bangkit berdiri.


Bak bak!


Namun, tiba-tiba sekelebat sosok melesat di udara dan mendaratkan tendangannya dua kali pada tubuh Barbara. Serangan dalam gelap itu membuat Barbara tidak berkutik. Tubuhnya terlempar. Pelaku serangan itu adalah Permaisuri Yuo Kai.


“Aaa!” pekik Barbara karena tubuhnya meluncur pada tanah yang miring.


Tubuh Barbara berhenti meluncur. Kini ia menggantung dengan hanya berpegangan pada ranting pohon yang didapatnya secara untung-untungan.


Trek!


Terdengar suara ranting itu patah, membuat Barbara yang sudah tidak menginjak tanah semakin mendelik. Ia pun langsung menduga kuat bahwa tubuhnya akan meluncur jatuh ke jurang yang gelap.


Tes!


Terdengan suara benda yang putus.


“Aaak!” pekik Barbara tertahan.


Jeritannya putus mendadak saat tubuhnya jatuh pada sesuatu yang akrab, yaitu rasa dua tangan yang kokoh.


Di dalam gelapnya jurang, tubuh Barbara jatuh tepat di tangkapan kedua tangan Prabu Dira yang sudah berdiri di dasar jurang. Dasar jurang itu dangkal. Gelapnya malam membuat jurang itu tergambar sangat dalam.


Dak!


Sadar bahwa tubuhnya ditangkap oleh seorang lelaki, Barbara langsung menyikut wajah Prabu Dira, membuat Prabu Dira tersentak ke belakang dan hilang keseimbangan.


“Aaa!” jerit Prabu Dira dan Barbara bersamaan.


Prabu Dira yang hilang keseimbangan justru oleng dan jatuh ke belakang. Ternyata di belakangnya adalah semak pinggiran jurang lagi. Kedua orang itu sama-sama meluncur jatuh.

__ADS_1


“Suamiku!” teriak Permaisuri Yuo Kai yang mendengar jeritan keduanya. (RH)


__ADS_2