Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
52. Rasa di Hati Nintari


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Sekeluarnya dari celah tebing itu, mereka masih menempuh daerah berbatu, tetapi pola buminya menurun.


“Puspa, apakah kau berasal dari keluarga kerajaan?” tanya Joko. Ia merasa penasaran dengan wanita kumal itu.


“Puspa yang punya kerajaan. Nanti kalau Puspa bertemu dengan Getara dan Aswa, Puspa akan pukul pantatnya, hihihik!” jawab Puspa lalu tertawa.


“Bukannya mereka akan menangkapmu?” tanya Joko lagi.


“Tidak akan bisa. Puspa punya ilmu Gerbang Tanpa Batas,” jawab Puspa.


Puspa mendadak berhenti di atas batu besar. Joko ikut berhenti di batu besar sebelahnya. Mereka memandang hamparan batu-batu besar yang luas di depan mereka. Cahaya matahari sudah tidak menerpa daerah itu, tinggal cahaya langit senja yang masih memberikan penerangan. Tak lama lagi gelap malam akan memeluk Rimba Berbatu.


“Itu Lorong Hitam!” tunjuk Puspa ke arah jauh.


Joko Tenang bisa melihat sebuah lubang hitam di bawah tebing batu yang di atasnya tumbuh hutan lebat.


“Itu pintu wilayah Kerajaan Tabir Angin,” kata Puspa. “Puspa tidak mau masuk ke sana, banyak prajuritnya Getara. Mereka pasti akan menangkap Puspa.”


“Ayo pergi bersamaku. Jika kau bersamaku, para prajurit Tabir Angin tidak akan menangkapmu,” kata Joko membujuk. “Nanti kita akan makan enak di kerajaan.”


“Tidak! Makanan Puspa pasti diberi racun!” kata Puspa.


Jauh di depan sana muncul satu sosok manusia berwarna ungu yang melesat dari satu batu ke atas batu lainnya. Gerakannya tampak jelas menuju ke arah tempat Joko dan Puspa berada. Ketika semakin dekat, diketahui bahwa sosok itu adalah seorang wanita. Semakin dekat lagi, Joko bisa mengenali sosok wanita remaja yang usianya sekitar 15 tahun itu.


Sosok gadis mungil lagi cantik itu berhenti di atas batu yang lebih rendah di depan Joko dan Puspa. Kehadiran Nintari alias Bidadari Seruling Kubur itu membuat Puspa memandang tidak ramah.


“Siapa wanita kotor yang bersamamu itu, Joko?” tanya Nintari.


“Hei! Siapa yang kotor?!” bentak Puspa.


“Tenang, Puspa. Dia teman,” kata Joko kepada Puspa.

__ADS_1


“Bukan, dia orangnya Getara Cinta. Puspa pernah melihatnya bersama pasukan Tabir Angin!” bantah Puspa. Ia lalu beralih memandang tajam kepada Joko dan menunjuknya dengan jari berkuku panjang hitamnya. “Kau berdusta! Kau juga orangnya Getara Cinta! Puspa tidak mau berteman!”


Puspa lalu berbalik dan melompat ke batu lain untuk pergi.


“Tunggu, Puspa! Aku memang bukan orangnya Getara Cinta!” seru Joko sambil melompat mengikuti Puspa.


“Jangan ikuti Puspa!” bentak Puspa.


Wuss!


Serangkum angin pukulan dilepaskan oleh Puspa, membuat Joko melompat mundur dan turun berlindung di balik batu. Angin itu melintas di atas kepala Joko. Joko bisa merasakan ada hawa racun di dalam angin itu.


Setelah anginnya berlalu, Joko melongokkan kepalanya kepada Puspa, tetapi wanita kumal itu telah berkelebat jauh ke selatan. Sementara Nintari masih berdiri di tempatnya.


Alam semakin menggelap. Lorong Hitam yang ditunjukkan oleh Puspa tadi mulai samar terlihat.


Nintari melompat dan mendarat di dekat Joko. Joko segera melompat mundur menjaga jarak.


“Apakah kau sedang menuju Tabir Angin?” tanya Nintari seraya tersenyum melihat tindakan Joko itu.


“Lalu siapa wanita kotor itu?” tanya Nintari.


“Namanya Puspa. Kau orang yang lebih lama di wilayah ini tidak mengenalnya?”


“Tidak.”


“Aku menemukannya saat aku kebingungan mencari jalan ke Tabir Angin. Sosoknya misterius,” kata Joko. “Lalu kau mau ke mana?”


“Tugasku di Kerajaan Tabir Angin sudah selesai sejak kau mengalahkanku. Aku mau pergi. Namun, sudah malam. Beruntung aku bertemu lagi dengan pemuda tampan yang tujuh tahun lalu ingin aku miliki. Apakah kau mau bermalam denganku di sini?”


“Aku harus mengejar calon istriku, aku khawatirkan mereka,” jawab Joko.


“Tidak perlu kau khawatirkan mereka. Tadi aku melihat mereka dikawal oleh prajurit Tabir Angin menuju istana. Mungkin malam ini mereka tiba. Jika kau memaksa melanjutkan perjalanan, terlalu gelap. Bermalamlah denganku di sini, besok aku akan mengantarmu menemui Ratu Getara Cinta,” kata Nintari.

__ADS_1


“Tapi kau jangan tidur di dekatku,” kata Joko memberi syarat.


“Kenapa? Aku cantik dan mungil. Calon istrimu tidak akan tahu. Apakah kau tidak ingin mendapat ciuman dariku? Hihihi!” kata Nintari bertingkah sedikit genit.


“Aku tidak pernah dicium. Aku bisa meninggal jika mendapatkannya,” kata Joko.


“Hihihik!” kian tinggi Nintari tertawa. Lalu katanya, “Apakah kau tidak tahu bahwa banyak sekali lelaki yang memperebutkan aku hanya untuk menyentuhku?”


“Hah!” Joko mendelik. “Hanya untuk menyentuhmu? Jadi kau sudah banyak disentuh?”


“Tidak, karena lelaki yang berani menyentuhku akan mati.”


“Kulitmu beracun?” tanya Joko lugu.


“Aku membunuhnya!” tandas Nintari.


“Untung aku bukan lelaki yang suka menyentuh,” ucap Joko.


“Biarpun aku wanita yang genit, tetapi aku masih suci dari sentuhan lelaki.”


“Aku suka wanita yang seperti itu,” kata Joko. “Kau tunggulah di sini, biar aku mencari kayu bakar.”


“Baik. Tapi ingat, jangan lupa kembali ke mari,” kata Nintari.


Joko hanya tersenyum. Ia lalu berkelebat pergi. Bergerak di daerah berbatu seperti itu memang lebih efektif menggunakan ilmu peringan tubuh. Nintari pun menunggu di atas batu tersebut. Tampak ia tersenyum-senyum sendiri memandangi kepergian pemuda tampan itu.


Sejak awal bertemu dengan Joko tujuh tahun lalu, Nintari memang memiliki ketertarikan dengan Joko yang usianya jauh lebih muda darinya. Namun kala itu, Nintari yang memilih jalan hidup bekerja kepada orang yang membayar, sedang membela gerombolan penjahat. Kisah itu tertuang dalam “Perampok Raja Gagah”.


Rasa yang melanda hati Nintari ketika bertemu dengan Joko di Sumur Juara berbeda dengan rasa yang kini menyelimuti hatinya. Kini Nintari telah tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap seseorang ketika bertemu Joko, berbeda ketika harus menang melawan Joko saat bertarung di Sumur Juara.


Meski fisiknya tidak biasa, yakni fisik remaja tetapi usia sudah 45 tahun, Nintari tetap memiliki jiwa wanita yang normal. Maka tak heran ketika ia duduk termenung menunggu kedatangan Joko saat itu, pikirannya bermain dalam hayalan tentang hubungannya dengan sosok seorang lelaki. Namun hingga saat ini, Nintari tidak pernah bernafsu untuk memiliki seorang pendamping lelaki, kecuali cerita masa lalunya 25 tahun yang lalu yang berujung dengan kehancuran hati dan cinta.


Bermodal sejarah cinta yang kelam, Nintari memandang buruk semua lelaki hingga ketika ia bertemu dengan Joko di senja ini, sepertinya ada pergeseran prinsip di dalam hatinya tentang sosok lelaki. Meski ia memiliki ilmu pemikat, ia bukanlah jenis wanita yang lunak dalam perkara cinta. Dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pendekar bayaran, sudah tak teringat jelas berapa banyak lelaki yang mati di tangannya karena bernafsu ingin menyentuh atau melecehkannya sebagai seorang wanita.

__ADS_1


Meski Nintari melihat ada karakter berbeda dalam diri Joko dengan karakter lelaki pada umumnya, ia tidak mau mudah goyah, terlebih Joko dengan terang-terangan mengungkapkan bahwa ia sedang mencari wanita yang banyak untuk dijadikan istri. Hal itu sangat bertentangan dengan prinsip dan hatinya. (RH)


__ADS_2