
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Hihihi…!”
Ujung-ujungnya Putri Sri Rahayu tertawa senang mengejar-ngejar Joko yang kabur ke sana dan ke sini.
Si nenek yang kondisinya sudah membaik meski kehilangan satu kaki, hanya bisa terperangah takjub melihat dua garis merah melintas begitu cepat saling berkejaran tanpa jelas sosoknya.
“Berhentilah, Putri! Aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku menyebut kuntilanak karena nenek itu menyebut kuntilanak setan!” teriak Joko Tenang.
“Tapi kenapa kau menyebut mencari burung?” tanya Putri Sri Rahayu lagi, tanpa mengendurkan kejarannya. Entah sudah berapa kali mereka berputar-putar saja di tempat itu.
“Itu karena aku ingat calon istriku, hahaha!” jawab Joko lalu tertawa juga akhirnya.
Tiba-tiba Joko Tenang berhenti mendadak. Terkejutlah Putri Sri Rahayu. Sebab ia pasti akan menabrak punggung Joko.
Wess!
Benar, Putri Sri Rahayu tidak bisa menahan dirinya menabrak punggung Joko Tenang. Namun, Putri Sri Rahayu harus terkejut lagi, tubuhnya bablas menembus tubuh Joko seperti menabrak ruang kosong meski sosok pemuda itu terlihat jelas keberadaannya.
Putri Sri Rahayu yang menabrak ruang kosong, segera berbalik menatap heran kepada Joko yang tersenyum, seolah merasa menang.
Tes!
Sang putri yang penasaran, menyentilkan jari telunjuknya, melepaskan satu tenaga. Namun, serangan Putri Sri Rahayu tidak mengenai apa pun, padahal jelas ia melihat Joko berdiri tidak jauh di depannya.
“Hahaha!” tawa Joko, benar-benar merasa menang. Ia telah menggunakan ilmu Hijau Raga.
Putri Sri Rahayu mengenakan kembali sarung tangannya. Ia lalu mencebik kepada Joko dan berjalan mendekati Joko lebih dekat.
Ternyata Joko Tenang bergerak menjauh, menjaga jarak. Tersenyumlah Putri Sri Rahayu.
Ilmu Hijau Raga memang membuat raga Joko tidak bisa tersentuh, tetapi itu tidak membuat menyakit Sifat Luluh Jantan-nya lenyap.
“Hihihi!” tertawalah Putri Sri Rahayu lalu kembali mengejar Joko, maksudnya hanya untuk berdekatan.
“Hentikan, Putri! Apakah kau akan mengejarku terus?” teriak Joko Tenang.
“Aku akan mengejarmu terus sampai aku memukulmu seratus kali!” jawab Putri Sri Rahayu.
Akhirnya mereka kembali kejar-kejaran seperti setan yang tidak tampak karena terlalu cepatnya. Ke sana, ke mari. Kadang sampai jauh, lalu balik lagi lewat di depan si nenek yang hanya bisa geleng-geleng.
__ADS_1
“Jika kau tidak berhenti, aku akan melakukan sesuatu!” ancam Joko.
“Aku ingin lihat apa yang bisa dilakukan oleh lelaki mata keranjang sepertimu!” tantang Putri Sri Rahayu.
“Ini yang bisa aku lakukan!” teriak Joko sambil tiba-tiba berbalik dan berhenti di tempat.
Putri Sri Rahayu yang mengejar dengan kecepatan lesatan yang tinggi, sempat terkejut, tetapi ia hanya tersenyum.
Bdak! Bdluk!
Cup!
Sungguh di luar dugaan sang putri. Ternyata Joko Tenang sudah tidak menggunakan ilmu Hijau Raga. Akibatnya, dengan keras Putri Sri Rahayu menabrak tubuh depan Joko. Bukan hanya badan yang bertabrakan, tetapi juga wajah dan bibir dengan bibir.
Setelah itu, keduanya jatuh bertindihan. Jika tadi Joko yang di atas, kini Putri Sri Rahayu yang di atas. Ditambah lagi, untuk kedua kali bibir mereka saling sua tanpa “say hello” dan pertemuannya lebih lembut.
Betapa malunya Putri Sri Rahayu. Buru-buru ia bangun dari atas tubuh Joko.
Krek!
“Akk!” jerit Joko Tinggi dalam kondisi tidak berdaya. Urat-urat di dahinya sampai bertonjolan menahan sakit yang begitu menyengat sampai ke ubun-ubun dan ujung jari-jari.
“Hihihik…!”
Si nenek tertawa “terbihik-bihik” melihat adegan tragis di depan matanya itu, seolah ia lupa dengan luka parahnya.
Setelah merasa malu, Putri Sri Rahayu semakin terkejut, buru-buru ia menjauhi pemuda malang itu. Sebagai seorang putri yang sakti, baru kali ini ia merasa menjadi wanita yang paling bodoh dan teledor.
“Aduuuh! Pisangku!” rintih Joko penuh penghayatan sambil kedua tangannya berkumpul di pangkal paha dan tubuh meringkuk seperti udang rebus.
“Hihihi…!” Putri Sri Rahayu yang awalnya merasa malu dan terkejut, mendadak tertawa kencang gegara mendengar Joko menyebut “pisangku”.
Akhirnya Putri Sri Rahayu menikmati tawanya, sampai ia memilih duduk di tanah berumput. Ia tertawa karena menertawakan kemalangan Joko dan tertawa karena istilah unik yang disebut Joko barusan.
Hingga akhirnya, suasana kembali tenang. Erangan Joko Tenang telah reda serta tawa Putri Sri Rahayu dan si nenek tinggal menyisakan senyuman lebar.
“Kau harus bertanggung jawab, Putri!” seru Joko tiba-tiba kepada Putri Sri Rahayu.
“Apa yang harus aku pertanggungjawabkan?” tanya Putri Sri Rahayu dengan nada tidak kalah ketus.
“Kau menciumku dua kali! Kau harus bertanggung jawab dengan menjadi istriku!” tuntut Joko Tenang.
__ADS_1
Melebar sepasang mata Putri Sri Rahayu mendengar tuntutan pemuda berbibir merah itu. Ingin rasanya ia “meracuni” Joko saat itu juga karena kesal.
“Joko, kau…” ucap Putri Sri Rahayu. Saking gemasnya, ia sampai bingung harus memarahi Joko seperti apa. Namun kemudian dia mendamprat pemuda itu, “Kau sengaja melakukannya. Tadi kau tembus seperti bayangan, tapi kenapa ketika kau mencegatku, tidak?”
“Karena kau tidak mau berhenti mengejarku….”
Kata-kata Joko Tenang mendadak berhenti menggantung, membuat Putri Sri Rahayu serius menatapnya, tatapan yang masih mengandung kesal.
“Kenapa?!” tanya Putri Sri Rahayu agak membentak.
“Ada yang aneh,” jawab Joko.
“Apa?!” tanya Putri Sri Rahayu galak, wajah buruknya merengut tambah buruk.
“Aku tidak keracunan. Waktu aku mencium lehermu, aku keracunan. Namun, ketika aku mengecup bibirmu, aku tidak keracunan. Kenapa bisa demikian, Putri?” tanya Joko serius.
“Karena kau sudah kelewatan batas terhadapku, maka aku beri tahu. Kulit wajahku bukan wajah asli, tapi topeng. Paham?!” kata Putri Sri Rahayu masih bernada tinggi seraya mendelik di akhir kalimatnya.
“Hah!” kejut Joko, sedikit pun tidak menyangka. “Tapi kulit wajah itu begitu asli?”
“Karena topengku terbuat dari kulit asli wajah manusia. Dan aku bisa melakukannya kepadamu juga, Joko!” kecam Putri Sri Rahayu, masih menunjukkan kemarahannya.
“Melakukan apa? Menjadi istriku? Hahaha!” kata Joko mulai menggoda, ia sedikit pun tidak peduli dengan kemarahan sang putri. “Itu artinya, meski seluruh kulitmu beracun, kita tetap bisa jadi suami istri. Kau tetap saja pakai topengmu. Aku yakin, wajah di balik topengmu itu jauh lebih cantik dari topengmu.”
“Aku tidak peduli!” ketus Putri Sri Rahayu sambil merengut dan berbalik membelakangi Joko. Namun, setelah berbalik, sang putri justru tersenyum sendiri.
Dengan gerakan yang tanpa suara, Joko Tenang pergi menghampiri si nenek berbaju hitam.
“Nenek, siapa kau?”tanya Joko Tenang lembut, sambil berjongkok agak jauh di depan si nenek.
Putri Sri Rahayu terkejut saat mendengar Joko telah meninggalkannya dan mengurusi si nenek yang kalau bicara kusut kata-katanya.
“Ih, merayu-rayu minta aku jadi calon istri, tapi aku tidak dipedulikan lagi!” dengus Putri Sri Rahayu begitu kesal, tapi dalam hati.
Karena kesalnya, akhirnya Putri Sri Rahayu memutuskan pergi tanpa diketahui oleh Joko Tenang.
“Nini Silangucap aku. Siapa kau, Muda Anak?” Si Nenek balik bertanya.
“Aku Joko Tenang. Jika boleh tahu, masalah apa dengan Mega Kencani?”
“Melihatnya aku gurunya menyerang dari belakang. Saat datang aku ke kediaman Ranggasewa, melihatnya aku jauh dari dia. Kejar aku dia, tapi lolos bisa. Tadi lagi ketemu!” jelas Nini Silangucap yang perlu upaya sedikit keras bagi Joko untuk memahami maksud perkataannya. (RH)
__ADS_1