Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
23. Rahasia yang Terungkap


__ADS_3

“Mundur kalian!” teriak Nenek Kerdil Raga.


Para centeng pengeroyok yang tersisa segera mundur. Dalam hati mereka bersyukur. Jika tidak disuruh mundur, mungkin mereka tinggal menunggu giliran untuk mati.


“Gajahlani!” panggil Nenek Kerdil Raga.


Gajahlani yang mengerti, langsung melompat menerjang Kembang Buangi. Si gadis langsung menyambut terjangan itu dengan kibasan pedang.


“Aw!” jerit Gajahlani seperti perawan tersentuh tikus, ia harus menarik kakinya agar terhindar dari tajamnya pedang Kembang Buangi.


Selanjutnya, Gajahlani memainkan jurus yang gerakannya seperti tarian. Ternyata jurus itu membuat serangan-serangan pedang Kembang Buangi menjadi tak berguna. Namun, gadis itu tetap terus berusaha menyudutkan Gajahlani dengan pedangnya.


Pada satu saat. Kembang Buangi maju dengan langkah cepat seraya mengibaskan pedangnya berulang-ulang yang mengincar leher Gajahlani, membuat pria besar itu mundur pula dengan langkah yang cepat guna menjaga jarak.


Detik berikutnya, tiba-tiba Gajahlani melakukan penghindaran dari pedang dengan cara membungkuk rendah dan cepat ke depan. Tubuh atasnya bisa lolos dari pedang yang lewat di atas. Sementera sepasang tangan kekar Gajahlani menyerang kaki Kembang Buangi. Gadis itu sigap melompat bersalto ke belakang.


Pak!


Baru saja kaki Kembang Buangi mendarat di tanah, pukulan telapak terbuka Gajahlani sudah datang dengan cepat dan tidak bisa disambut dengan pedang. Terpaksa Kembang Buangi menyambut tapak Gajahlani dengan tapak kirinya. Pertemuan dua pukulan itu membuat Kembang Buangi terjajar beberapa tindak, sebab tenaga dalam Gajahlani lebih unggul.


Bek! Bek!


Saat Kembang Buangi terjajar dan menahan nyeri di lengan kiri, Gajahlani langsung meluruk cepat ke depan. Punggung telapak tangan Gajahlani masuk dua kali menghantam perut si gadis. Kembang Buangi terbungkuk kesakitan.


“Aiii, gadisku kenapa?” tanya Gajahlani dengan gaya genitnya.


Pedang Kembang Buangi jatuh dari genggaman, seiring jatuhnya tubuh si gadis. Kondisi Kembang Buangi yang kesakitan membuat Gajahlani merasa sudah menang.


Baks!


“Aaa ...!”


Tiba-tiba saja Kembang Buangi menghentakkan kedua tangannya ke arah Gajahlani yang sedang lengah. Dalam jarak yang begitu dekat, melesat sinar kuning menghantam dada tanpa baju itu. Gajahlani pun terlempar ke udara seiring jeritannya yang begitu nyaring. Ketika tubuh besar itu jatuh ke bumi, kondisinya sudah hangus hitam berasap dan tanpa nyawa lagi.


Sinar kuning berbentuk bola besar yang dilepaskan Kembang Buangi adalah pukulan maut bernama Menapak Gerhana Bulan yang memiliki daya panggang yang sangat tinggi. Bila terkena pukulan itu, korban bisa langsung tewas dalam kondisi tubuh hangus, meski pakaian tidak ikut terbakar.


“Gajahlani!” jerit Nenek Kerdil Raga terkejut bukan main menyaksikan murid kesayangannya tewas begitu mudahnya.


Nenek Kerdil Raga benar-benar murka terhadap Kembang Buangi atas kematian Gajahlani, murid kesayangannya yang imut-imut, menurutnya.


Nenek Kerdil Raga melompat ke udara sambil melepaskan satu angin pukulan keras kepada Kembang Buangi. Buru-buru gadis berpakaian serba putih itu berkelebat menghindar, meninggalkan tanah yang kemudian hancur berlubang. Namun, gadis itu agak telat, sehingga daya ledak angin pukulan itu masih sempat mendorong tubuh si gadis di udara. Kembang Buangi menghantam sebatang pohon pisang.

__ADS_1


“Mati kau!” seru Nenek Kerdil Raga yang menyusulkan seberkas sinar hijau bulat pipih.


“Tidak semudah itu!” balas Kembang Buangi seraya cepat lepaskan pukulan Menapak Gerhana Bulan.


Bledaar!


Bertemulah sinar hijau dan kuning sehingga terjadi ledakan dua tenaga dalam dahsyat. Ternyata, tenaga dalam ilmu Nenek Kerdil Raga lebih rendah, sehingga nenek kerdil itu terjengkang jatuh. Sementara Kembang Buangi yang tidak memasang kuda-kuda yang kuat, terdorong lagi menghantam batang pohon pisang. Keduanya hanya bisa mengerenyit merasakan sakit pada tubuh dalam mereka.


“Aku meremehkan bocah cantik ini,” membatin Nenek Kerdil Raga.


Kembang Buangi melompat kucing menyambar pedangnya yang tergeletak. Selanjutnya, ia menyerang Nenek Kerdil Raga dengan ganas. Dibantu tongkat panjang dan besarnya, Nenek Kerdil Raga lincah mementahkan amukan pedang si gadis. Justru kemudian, situasi berbalik, Kembang Buangi yang akhirnya kerepotan menghadapi serangan balik permainan tongkat Nenek Kerdil Raga.


Di saat pertarungan sedang sengit di antara kedua wanita itu, tiba-tiba Nenek Kerdil Raga mencelat tinggi lurus ke atas. Dari puncak lejitannya, si nenek melesatkan sinar merah mematikan. Cepat Kembang Buangi bersalto ke belakang sebanyak tiga kali.


Wet wet! Bekk!


“Hekrr!”


Belum juga Kembang Buangi berdiri sempurna, tongkat kayu Nenek Kerdil Raga sudah berputar-putar di udara lalu salah satu ujungnya telak dan keras menghantam perut si gadis. Kembang Buangi terjengkang ke bumi. Mulutnya menyemburkan darah kental, sementara kain baju di bagian perut berlubang hangus dengan kulit mengebulkan asap tipis.


“Cuih!” Kembang Buangi meludah, membuang darah dari mulutnya. Wajah cantiknya meringis kesakitan. Dengan gerakan yang pelan, ia berusaha bangkit.


“Akh!” jerit tertahan Kembang Buangi saat sebuah sinar hitam kecil datang dari samping dan menusuk masuk ke dalam lambungnya.


Serangan sinar hitam kecil itu berasal dari Ki Demang Rubagaya.


Kini Kembang Buangi tergeletak tidak berdaya, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan yang tinggi. Kembang Buangi merasakan seluruh daging tubuhnya seperti disayat-sayat benda tajam. Namun, suaranya tidak dapat keluar memperdengarkan rasa kesakitannya. Tubuh indah itu hanya bisa tersentak-sentak samar.


“Bawa tubuh perempuan itu! Biarkan dia mati di alun-alun desa!” perintah Ki Demang Rubagaya kepada para centengnya.


Beberapa centeng Ki Demang segera bergerak menghampiri tubuh Kembang Buangi. Mereka meraih kedua tangan gadis itu lalu menyeretnya seperti menarik mayat. Kembang Buangi yang masih bernapas itu, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


“Kalian! Kuburkan mayat muridku!” perintah Nenek Kerdil Raga kepada beberapa centeng lainnya.


Nenek Kerdil Raga lalu bertanya kepada Ki Demang Rubagaya.


“Apakah kau sengaja meninggalkan jejak pada kematian gadis itu, Demang?”


“Ya, agar Pangeran Tapak Tua tahu akibat dari mencampuri urusan orang lain,” jawab Ki Demang dingin.


Ki Demang lalu beranjak hendak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Brakk!


Tiba-tiba pintu yang tertutup hancur oleh hantaman sesosok tubuh dari sisi dalam. Sosok tubuh itu adalah seorang centeng yang bertugas di dalam rumah. Centeng itu sudah dalam kondisi tewas dengan tubuh yang mengebulkan asap merah tipis. Hal itu membuat Ki Demang Rubagaya terkejut.


“Pengemis Maling!” ucapnya dengan mata mendelik.


Dprakr! Blugk!


Sebentar kemudian, satu tubuh terlempar menjebol genting dari sisi dalam, lalu jatuh di halaman dengan kondisi serupa centeng pertama.


Dprakr! Jleg!


Berikutnya, seorang lelaki kembali menjebol genting dengan tubuh berputar seperti gansing. Lelaki tua berpakaian seperti gembel tersebut mendarat enak di tanah halaman. Di bahu kanan lelaki dekil itu terpanggul sosok wanita berpakaian serba hitam. Orang itu tidak lain adalah Pengemis Maling dan wanita di bahunya adalah Ginari yang berjuluk Pendekar Tikus Langit. Ginari dalam kondisi yang tidak berdaya karena luka parah yang dideritanya.


“Tentunya kau bisa mengenalku setelah kau lihat mayat hewan penjagamu itu, Demang?” kata Pengemis Maling. “Karena Pendekar Tikus Langit gagal untuk membunuhmu, maka terpaksa aku yang harus turun tangan untuk menghentikan kejahatanmu.”


“Ternyata kecurigaanku memang benar. Kau masih beruntung tidak mati di waktu itu. Meraba Kabut Merah sudah sangat membuktikan bahwa kau memang Kalugar si Pengemis Maling,” kata Ki Demang Rubagaya.


“Hehehe....!” kekeh Pengemis Maling. “Kau terlalu biadab, Demang. Padahal kau tahu bahwa gadis ini adalah anakmu sendiri, tapi kau masih juga berniat membunuhnya. Dia pun tahu bahwa kau adalah ayahnya. Tapi karena kau telah membunuh ibunya, maka ia pun bertekad untuk membunuhmu. Kau tidak akan pernah luput dari kematian, Demang. Seandainya, hari ini aku gagal membunuhmu, maka perlu kau tahu, gadis yang baru saja kau serang dengan Ajian Sayat Nyawa, adalah putri dari kakakmu sendiri.”


“Apa?!” kejut Ki Demang Rubagaya. “Jangan membodohiku, Kalugar! Dia adalah anak Baruya dan Gendasari!”


“Kau tahu, kakakmu, Orang Sakti Benci Bumi sangat mencintai Gendasari, istri Baruya. Kembang Buangi yang baru saja kau bunuh adalah bayi perselingkuhan Gendasari dengan kakakmu. Jika kau lolos hari ini dari kematian, maka tunggulah kematianmu di tangan Orang Sakti Benci Bumi!”


“Jangan berharap dia akan percaya. Dia tidak sebodoh kerbau sehingga bisa diadu domba dengan diriku!” teriak Ki Demang Rubagaya. “Kakakku tidak akan dendam kepadaku bila kalian semua mati!”


“Maling!” sebut Nenek Kerdil Raga. “Gadis itu sudah aku beri Pil Gerogot Jantung. Percuma kau membawanya pergi, dalam dua hari ia akan mati dalam kondisi membusuk.”


“Sungguh keparat kau, Kerdil! Kau akan menyesali perbuatanmu!” teriak Pengemis Maling.


“Meski kau membunuhku, gadis itu tetap tidak akan bisa selamat,” kata Nenek Kerdil Raga.


“Berikan obat penawarnya, Kerdil!” teriak Pengemis Maling.


“Aku hanya membuat racunnya, tidak membuat obat penawarnya, Maling. Terimalah nasibmu!” kata Nenek Kerdil Raga.


“Bunuh pengemis ini!” teriak Ki Demang Rubagaya.


Serentak centeng-centeng Ki Demang menyerang Pengemis Maling.


Ki Demang Rabagaya tahu, andaikan centengnya berjumlah seratus orang pun, tetap Pengemis Maling tidak akan bisa tersentuh, terlebih anak buahnya saat ini hanya sekitar dua puluh orang. Namun, Ki Demang terkenal licik. Ia ingin mengulang perbuatannya terhadap Kembang Buangi. Ketika Pengemis Maling sibuk melayani centeng-centeng yang tidak ada harganya itu, Ki Demang akan mencari celah untuk menyerang secara curang. (RH) 

__ADS_1


__ADS_2