
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi memilih bermalam di sebuah kaki bukit, bertanah lapang dan terbuka. Mereka menyalakan api unggun untuk sedikit menghangatkan tubuh.
Tirana dan Kembang Buangi duduk cukup dekat dengan api, sementara Joko Tenang agak menjauh, seperti anak tiri.
“Berapa lama lagi Ratu Getara bisa bertahan, Tirana?” tanya Joko Tenang. Meski ia tahu bahwa masih ada cukup waktu, tetapi ia ingin memastikan berapa tepatnya jumlah hari yang dimiliki oleh Ratu Getara untuk tetap hidup.
Sejak Ratu Getara memberikan Permata Darah Suci untuk menyelamatkan Joko Tenang dari racun Arak Kahyangan, wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu akan mati dalam waktu satu punama kemudian. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan nyawa Ratu Getara, yaitu memberinya makan Permata Darah Suci yang lain.
Setelah melakukan perjalanan dan pencarian ke negeri asing, kini Permata Darah Suci ada di tangan Joko Tenang.
“Jika tidak salah, tepat separuh purnama telah berlalu, Kakang,” jawab Tirana.
“Kita masih punya waktu untuk bisa menyelamatkan Ratu,” kata Kembang Buangi. “Statusmu semakin kuat di dunia persilatan, Joko. Dengan diangkatnya kau sebagai murid Tiga Malaikat Kipas, maka derajatmu sama dengan para guru kita.”
“Apalah gunanya status seperti itu?” tanggap Joko.
“Status adalah tahta. Betapa banyak orang menjadi jahat demi mendapatkan tahta itu. Kau akan lihat nanti perbedaannya, antara bermodalkan nama Ki Ageng Kunsa Pari dengan bermodalkan nama Tiga Malaikat Kipas,” kata Kembang Buangi.
“Aku lupa untuk melihat nama-nama orang sakti di dalam gulungan,” kata Joko. Ia teringat dengan gulungan kain yang diberikan oleh ketiga gurunya tadi siang.
Tirana yang juga jadi teringat, segera mengeluarkan gulungan kain yang ia simpan. Minati Sekar Arum tadi memberikannya kepada Tirana. Gadis berjuluk Gadis Penjaga itu melemparkan gulungan kain tersebut kepada calon suaminya.
Setelah dibuka, ternyata di dalam gulungan kain itu tertera tulisan yang tersusun-susun, lebih tepatnya adalah daftar nama-nama. Joko Tenang lalu mengubah penghadapannya dengan menyampingi sumber cahaya agar ia bisa membaca lebih jelas.
“Apa isinya, Joko?” tanya Kembang Buangi.
“Nama-nama pendekar. Ada yang aku kenal, tetapi lebih banyak yang aku tidak kenal. Dengarkan, aku bacakan satu per satu, ya.”
“Iya,” jawab kedua gadis cantik itu bersamaan.
Joko Tenang pun membacakan nama yang tertera di dalam kain dari atas hingga akhir.
Nama-nama yang tertera antara lain:
1. Resi Putih Jiwa.
2. Pangeran Lidah Putih.
3. Nyi Mentara Senyata.
4. Dewa Kematian.
5. Malaikat Serba Tahu.
6. Malaikat Istana Maut.
7. Serigala Perak.
8. Ki Ageng Kunsa Pari.
9. Ki Ageng Kunda Poyo.
10. Tabib Teguk Getir.
11. Resi Kasa Sinatra.
__ADS_1
12. Iblis Takluk Arwah.
13. Iblis Lontar Sumpah.
14. Ki Renggut Jantung.
15. Nenek Peti Terbang.
16. Bidadari Wajah Kuning.
17. Nenek Tongkat Lentur.
18. Dewi Tangan Tunggal.
19. Dewi Mata Hati.
20. Nyi Karang Jeblos.
21. Nyi Lampingiwa.
22. Setan Genggam Jiwa.
23. Siluman Harimau Hitam.
24. Siluman Kera Langit.
25. Resi Kumbalabatu.
26. Raja Kera.
28. Raja Pisau Langit.
29. Ratu Solek Pemikat.
30. Dewa Seribu Tameng.
31. Pendekar Malaikat Cakar Bayang-Bayang.
32. Resi Tambak Boyo.
33. Pendekar Ganesa Putih.
34. Pendekar Mustika Pelingkar Dewa.
35. Bidadari Payung Kematian.
36. Ratu Naga Lembah Seribu.
37. Resi Buyut Putih.
38. Pangeran Tapak Tua.
39. Nenek Lembah Perawan Tua.
Pendekar Seribu Tapak.
__ADS_1
“Sudah habis. Ternyata, kita memiliki banyak tokoh tua sakti aliran putih,” kata Joko.
“Tadi ada nama Raja Kera. Wanita yang menyerahkan kalung permata itu menyebut nama Raja Kera di akhir napasnya,” kata Kembang Buangi.
“Itu menjadi tugasmu, Kembang. Gurumu dan guru Hujabayat juga masuk dalam daftar,” kata Tirana.
“Setan Genggam Jiwa juga, gurunya Ginari,” tambah Joko pula. “Aku jadi penasaran, permasalah besar apa yang akan dibicarakan oleh para tokoh tua ini.”
“Setelah urusan menyelamatkan Ratu, Ginari dan Hujabayat selesai, lebih baik kita langsung kembali ke Bukit Gluguk, Kakang. Kita menikah, lalu kita jalankan tugas dari guru Tiga Malaikat Kipas,” kata Tirana.
“Tapi, apakah Ratu Getara dan Ginari mau mengikutiku dan menjadi pengawalku?” tanya Joko. Masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Munculnya rasa cemburu di antara para calon istrinya adalah hal yang tidak mustahil. Namun sejauh ini, hanya Tirana yang bisa memberi kepastian bahwa ia tidak akan menyimpan rasa cemburu, justru ialah yang mencari wanita lain dan menawarkan Joko sebagai calon suami.
“Sebenarnya aturan mainnya mudah, Kakang,” kata Tirana seraya tersenyum.
“Kita hanya menerima wanita sakti yang berhati ikhlas dan mau berbagi suami. Jika tidak, tentu tidak bisa. Jika dipaksakan, bukan keharmonisan yang tercipta, tetapi petaka,” jelas Tirana. “Ketika aku mendapat perintah dari Gusti Mulia Raja Sanggana, aku tidak serta merta langsung berangkat, tetapi aku menjalani pendidikan selama dua pekan, mempelajari pengetahuan tentang ilmu Delapan Dewi Bunga, penyakit Luluh Jantan yang Kakang derita, hingga membina hati agar siap menjadi istri yang harus berbagi suami dengan istri yang lain.”
“Seperti itukah?” tanya Kembang Buangi terperangah.
“Jangan sampai setelah mendengar ini kau mau menjadi calon istrinya Kakang Joko juga,” kata Tirana, bermaksud mencandai Kembang Buangi.
Tertawalah Kembang Buangi mendengar candaan Tirana.
“Mungkin, jika Kakang Hujabayat tidak bisa diselamatkan, lalu aku mencari pelampiasan kepada Joko.” Kembang Buangi membalas candaan itu.
Mereka tertawa bersama. Joko hanya tersenyum sambil menggulung kembali kain titipan Tiga Malaikat Kipas. Tirana yang melihat senyum calom suaminya itu, merasa syukur, itu artinya emosi pemuda berbibir merah itu sudah mulai terkendali.
“Ada yang datang,” kata Joko.
Tirana segera menajamkan pendengarannya. Ia pun dapat mendengar suara kaki kuda berjalan pelan dan suara pergerakan benda di atas tanah, seperti benda padat menggilas jalanan.
“Siapa?” tanya Kembang Buangi.
“Sepertinya pedati atau kereta kuda,” jawab Tirana sambil memandang ke arah tikungan jalan yang gelap.
Tidak berapa lama, suara roda kayu dan langkah kaki kuda semakin terdengar. Kembang Buangi pun sudah bisa mendengarnya.
Tampak di tikungan muncul cahaya, yang semakin lama semakin terang, seiring semakin dekatnya suara kendaraan itu. Tidak berapa lama, muncullah kepala seekor kuda putih dari balik batu besar yang tinggi di tikungan jalan. Kuda itu muncul dengan menarik sebuah kereta bagus berwarna cokelat dan merah. Di salah satu sudut atas bilik kereta ada sebuah obor cukup besar yang menjadi penerang.
Di sisi kiri kereta juga ada seekor kambing mati yang diikat menggantung.
Di bagian depan bilik, tepatnya di tempat sais, duduk dua orang lelaki.
Lelaki pertama adalah seorang gagah dengan otot-otot terbuka bertonjolan. Ia mengenakan rompi hitam yang terkesan kekecilan untuk ukuran tubuhnya yang besar dan lebar. Lelaki yang berusia kisaran tiga puluhan tahun itu memiliki rambut gondrong keriting. Di dagunya tumbuh jenggot semodel jenggot kambing. Orang itu bernama Sabdo Bumi, lebih dikenal dengan panggilan Siluman Kuping Buntu.
Orang yang duduk santai di samping Sabdo Bumi sebagai pengendali kuda adalah seorang gendut berlemak. Ia berpakaian putih-putih dan sempit. Orang itu sudah dikenal oleh Joko Tenang dan Tirana. Ia tidak lain adalah Gulung Lidah, lelaki gagap yang punya nama lain Siluman Gagap.
“Bibibi... bidadariku!” teriak Gulung Lidah ketika mengenali orang yang ada di sekitar api unggun di depan sana.
Sebelum kereta kuda itu sampai ke dekat lokasi peristirahatan Joko, Gulung Lidah sudah bangkit dan berkelebat di udara malam.
“Hahaha! Kakaka... kalau jojojo... jodoh tidak akan ke mamama... mana!” kata Gulung Lidah yang mendarat ringan di dekat api.
Tirana tersenyum karena mengenali Gulung Lidah. Sedangkan Kembang Buangi tersenyum karena mendengar kegagapan lelaki gemuk itu. Joko Tenang tersenyum seraya menghempaskan napas. (RH)
__ADS_1