
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Laga Patra berkelebat cepat di udara, melewati atas barisan pasukan Kerajaan Balilitan yang kini sedang berada di wilayah Kerajaan Baturaharja. Ia kemudian turun mendarat di tengah-tengah iringan pasukan besar tersebut.
Di tengah-tengah iringan besar dan panjang itu tempat posisi Ratu Ginari berada. Dia ditandu menggunakan tandu yang biasa dipakai oleh Suginowo, Ketua Kelompok Kaki Angin alias Roh Langit Lima. Tandu itu dipikul oleh empat murid Suginowo yang biasa memanggul tandu.
Sementara lima Roh Langit lainnya berkuda di belakang tandu. Para anggota Kelompok Kaki Awan berada di barisan paling belakang di depan kelompok Bajak Laut Elang Biru.
“Sembah hamba kepada Ratu Ginari!” ucap Laga Patra seraya bersujud seperti biasa.
“Bangunlah!” perintah Ginari penuh wibawa yang dingin sedingin es benua Antartika. Ia berbicara dari balik tabir tandu berwarna kuning.
“Aku sudah bertemu dengan Joko Tenang, Ratu. Bahkan aku sempat menjajal kekuatan salah satu wanitanya!” lapor Laga Patra setelah ia berdiri tegak.
Laporan itu membuat wajah bercadar Ginari yang memandang lurus ke depan menjadi tergerak melirik ke samping, dimana Laga Patra berdiri.
“Gambarkan kekuatannya!” perintah Ratu Ginari.
“Ada sebelas orang yang aku lihat, terdiri dari lima wanita enam lelaki. Itu tidak termasuk orang di dalam kereta kuda. Dari peraduan pukulan dengan salah satu wanita Joko Tenang, aku menyimpulkan bahwa cukup aku dan seorang Roh Langit saja, sudah sanggup mengatasi rombongan itu,” jawab Laga Patra.
“Itu kekuatan yang sangat kecil dibandingkan kekuatan kita. Hanya kekasihku dan wanita-wanita kurang ajar itu yang harus diwaspadai. Meski kekuatannya jauh di bawah kita, tetapi kita harus tetap waspada. Aku ingin kita menghadang mereka,” kata Ratu Ginari.
“Daerah ini masih dalam wilayah Kerajaan Baturaharja, jadi aku mengenalnya. Rombongan Joko Tenang sedang menuju ke arah keluar dari wilayah kerajaan ini. Jika mereka berjalan terus lalu pasukan kita mengikuti jalan yang tadi aku lewati, maka pasukan kita akan berada di belakang mereka. Untuk memperlambat mereka, kita harus mengirim pasukan untuk memperlambatnya, lalu kita mengambil jalan yang sedikit lebih jauh untuk menghadang,” ujar Laga Patra.
“Apakah kelompok Bajak Laut Elang Biru bisa menghadang mereka?” tanya Ratu Ginari.
“Untuk mengalahkannya, tidak. Tapi jika untuk memperlambat, bisa, Ratu,” jawab Laga Patra.
“Biru Segara! Galang Madra!” panggil Ratu Ginari, sedikit agak keras.
Biru Segara dan Raja Galang Madra yang berkuda di belakang, segera datang menghadap bersama kudanya.
“Hamba, Ratu Ginari!” ucap Biru Segara dan Raja Galang Madra.
“Biru Segara, perintahkan kedelapan anak buahmu untuk menghadang rombongan Joko Tenang. Bunuh yang mereka sanggup bunuh, tapi jangan sentuh Joko Tenang, karena dia adalah calon raja kalian!” perintah Ratu Ginari.
“Baik, Ratu,” jawab Biru Segara lalu menjura hormat dari atas kudanya dan berbalik pergi menuju ke ujung barisan.
“Galang Madra, perintahkan lima ratus pasukanmu untuk mengikuti Bajak Laut Elang Biru!” perintah Ratu Ginari.
“Baik, Ratu,” ucap Raja Galang Madra lalu menghormat. Ia lalu pergi bersama kudanya untuk menemui senopatinya.
__ADS_1
“Laga Patra, kau pimpin pasukan melalui jalan yang kau maksud!” perintah Ratu Ginari.
“Baik, Ratu,” ucap Laga Patra patuh.
Sementara di lokasi lain, tepatnya di tempat peristirahatan Joko Tenang.
Rombongan itu mulai melanjutkan perjalanan. Masih ada satu kuda cadangan yang bisa digunakan oleh Turung Gali. Dia berjalan paling depan. Sementara posisi yang lainnya tidak berubah, kecuali Joko Tenang.
Joko Tenang berserigala bersama dengan Kusuma Dewi. Mereka berdua menunggangi serigala yang bernama Belang. Keduanya terlihat begitu mesra, terlebih posisi Kusuma Dewi duduk dalam dekapan Joko Tenang.
Joko Tenang bisa berserigala bersama Kusuma Dewi bukan atas kehendak sepihak sang pangeran, tetapi kehendak suara mayoritas yang kemudian disepakati. Rupanya sistem demokrasi sangat kental dalam bahtera istana tangga yang dipimpin oleh Joko Tenang.
“Kusuma Dewi sudah lama memendam rindu dan cinta, sama seperti Kerling Sukma sebelumnya. Jadi kami izinkan Kakang menunggangi serigala bersama Kusuma Dewi,” kata Tirana yang diangguki oleh Getara Cinta, ketika mereka membahas formasi rombongan mereka beberapa saat lalu.
“Aku setuju. Nasibku mungkin semirip dengan Kusuma Dewi, meski aku merasa lebih beruntung,” kata Kerling Sukma.
“Tapi aku…” ucap Kusuma Dewi, tetapi putus dan menggantung. Wajah putihnya tampak memerah.
“Tidak perlu malu, Kusuma. Kami pun akan senang jika Kakang bisa membahagiakan wanitanya yang lain. Kami baru akan cemburu jika Kakang mencintai wanita jahat atau dia diam-diam mencintai yang lain tanpa sepengetahuan kami,” kata Tirana.
“Tidak apa-apa, Kusuma. Menjadi hak hatimu untuk lebih lama menghabiskan waktu bersama Kakang Joko,” kata Getara Cinta pula.
“Baik,” ucap Kusuma Dewi. Meski ia memendam setengah rasa malu, tetapi hal seperti itu menjadi kejutan baginya. Ia tidak menyangka bahwa istri-istri Joko Tenang bisa bersifat seperti itu.
Hasilnya, Kusuma Dewi merasakan perasaan yang sangat bahagia, seolah-olah ia sudah menjadi istri Joko Tenang dan menjadi wanita yang paling bahagia daripada semua calon madunya. Posisi serigalanya pun berada agak paling belakang.
Namun, kondisi itu membuat Surya Kasyara yang menjadi kusir dan kedua sahabatnya, hanya bisa menelan ludah sendiri atau membiarkan air liurnya mengalir. Maksudnya mengalir di dalam mulutnya sendiri.
Namun, kemesraan Joko Tenang dan Kusuma Dewi tidak berlangsung lama. Ada orang yang datang.
“Joko!” panggil seorang lelaki. Terdengar suaranya sudah cukup tua.
Orang itu muncul berkelebat dari arah samping. Sosok lelaki pendek berpakaian merah gelap. Ia mendarat di depan kuda Turung Gali, tetapi lelaki botak licin bercambang dan berjenggot merah itu tidak tertarik melirik Turung Gali sedikit pun. Ia langsung berbelok berlari lucu ke barisan para serigala.
Sedemikian gentingnya perkara yang dibawa oleh orang tua cebol itu, ia tidak mempedulikan para wanita cantik di atas serigala, apalagi para serigalanya yang tidak lebih cantik dari penunggangnya. Ia langsung memergoki Joko Tenang yang sedang merangkul Kusuma Dewi.
“Gawat, Joko! Ayo cepat turun! Ini lebih gawat dari pada kau kehilangan semua istrimu!” kata orang pendek itu begitu terburu-buru seperti orang panik.
“Siapa yang mengejarmu, Raja Kera?” tanya Joko Tenang sambil turun dari punggung Belang dan meninggalkan Kusuma Dewi.
Rombongan itu terpaksa berhenti karena perkara kedatangan pria cebol yang adalah Raja Kera adanya.
“Tidak ada yang mengejarku, tetapi perkara ini sangat berbahaya. Setelah aku mengetahuinya, aku langsung pergi mencarimu sampai ke Bukit Gluguk, ke kediaman Setan Genggam Jiwa, hingga akhirnya aku mendapat petunjuk dari Pendekar Tongkat Merah murid Dewi Mata Hati. Aku langsung mengejarmu dan aku mendapatkanmu di sini,” tutur Raja Kera menceritakan sekilas perjuangannya dalam mengejar Joko Tenang.
__ADS_1
“Tapi masalah apa yang kau bawa sehingga begitu penting untuk menemukanku?” tanya Joko Tenang.
“Aku pernah menceritakan kepada kalian tentang Satria Gagah. Kau ingat?” tanya Raja Kera buru-buru.
“Aku tidak ingat,” jawab Joko Tenang.
“Satria Gagah sahabatku yang sudah mati, kemudian dihidupkan oleh Kalung Tujuh Roh. Aku datang bersamanya ketika menyaksikanmu bertarung dengan si raja pedang di Lembah Cekung,” kata Raja Kera menggebu-gebu agar Joko Tenang bisa ingat.
“Ya, aku ingat,” jawab Joko Tenang.
Sementara yang lain hanya menyimak.
“Setelah pulang dari Lembah Cekung, ia membunuh Sintri Lewo, putrinya sendiri yang datang bersama kami menontonmu di Lembah Cekung. Ketika aku usut, ternyata Satria Gagah sebelumnya juga telah membunuh Tawang Suka, putranya yang aku pinjami Kalung Tujuh Roh. Dan kau tahu apa yang akan terjadi setelah kalung itu hancur?”
“Aku tahu,” jawab Joko Tenang dengan tenang.
“Apa?” tanya Raja Kera, karena dia tidak percaya jika Joko Tenang mengetahui apa yang telah ia ketahui.
“Ginari sebagai orang terakhir yang dihidupkan oleh Kalung Tujuh Roh, akan menjadi pemimpin dari keenam orang yang pernah dihidupkan oleh kalung itu. Dan mereka semua akan menjadi orang jahat. Begitukah?” kata Joko Tenang dengan tenang.
Terkejutlah Raja Kera. Ternyata Joko Tenang yang ia kejar-kejar dari jarak yang begitu jauh hanya demi menyampaikan berita itu, sudah tahu. Seolah sia-sia upayanya.
“Dari mana kau bisa tahu, Joko?”
Kali ini yang bertanya bukan Raja Kera ataupun seseorang dari rombongan Joko Tenang. Orang yang bertanya itu tahu-tahu muncul di sisi kiri Raja Kera.
Orang tua itu berwajah sawo matang, tetapi rambut hingga brewoknya berambut serba putih. Demikian pula sepasang alisnya. Sepasang punggung tangannya ditumbuhi rambut tebal berwarna putih. Demikian pula dengan kedua punggung kakinya. Ia pun memiliki ekor seperti monyet atau kucing yang panjang dan berbulu putih pula. Namun, lelaki berperawakan sedang itu mengenakan pakaian serba hitam. Dialah yang bertanya kepada Joko Tenang.
Joko Tenang baru kali ini bertemu dengan makhluk tua itu. Demikian pula para wanita Joko Tenang dan pengikutnya.
“Ini adalah sahabatku yang memberikan Kalung Tujuh Roh kepadaku. Namanya Manyo Pute, julukannya Si Monyet Putih,” kata Raja Kera memperkenalkannya.
“Si Monyet Putih. Hormatku, Tetua,” ucap ulang Joko Tenang lalu membungkuk sedikit memberi hormat kepada tokoh tua itu. Ia lalu menjawab pertanyaan Manyo Pute, “Malaikat Serba Tahu yang mengungkapkan asal usul kalung itu, karena salah satu calon istriku tiba-tiba berubah sifat setelah hidup kembali.”
“Jika kalian sudah tahu, jadi kami tidak perlu menjelaskannya lagi,” kata Manyo Pute.
“Kita harus bertindak cepat untuk mencegah kekuatan tujuh orang itu bersatu, Joko!” kata Raja Kera.
“Terlambat, Raja Kera. Baru saja kami bertarung dengan satu dari roh yang dihidupkan kembali itu. Dan yang belum kau tahu adalah, mereka sudah bersatu dan kini mereka berada sangat dekat dengan posisi kita,” jelas Joko Tenang.
“Apa?!” pekik Raja Kera dan Manyo Pute terkejut bersamaan.
“Tidak hanya itu, mereka sedang memburuku,” tambah Joko Tenang.
__ADS_1
“Apa?!” kejut dobel kedua monyet manusia itu. (RH)