Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
61. Tangis Penyesalan Ginari


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Gadis berparas putih jelita ini berlari pelan keluar dari kamarnya. Rambutnya terurai lurus. Ia mengenakan pakaian berwarna biru muda. Ia melewati dua prajurit yang berjaga diam di depan pintu kamar. Di wajahnya sangat tergambar kecemasan. Gadis bermata indah ini tidak lain adalah Ginari yang berjuluk Pendekar Tikus Langit.


Di belakangnya berjalan menyusul gadis cantik bergaun putih. Ia adalah Kembang Buangi. Ia lebih dulu sembuh dari sakitnya meski kini kondisinya masih lemah.


Ketika Ginari menemukan pintu lain yang tidak jauh dari kamarnya, ia segera masuk dan berhenti di ambang pintu.


Di dalam kamar yang cukup besar itu berdiri seorang gadis cantik pula berpakaian kuning putih. Ginari mengenalnya sebagai calon istri Joko Tenang, yakni Tirana. Ginari dan Tirana telah berbagi calon suami. Kemunculan Ginari di pintu membuat Tirana menengok melihatnya. Tirana tersenyum kepadanya, tetapi wajah Ginari masih cemas.


Saat melihat sesosok tubuh terbaring di dipan kayu berukir, Ginari langsung berlari masuk mendapati lelaki yang terbaring beralas tilam putih.


“Joko!” panggil Ginari yang saat itu pula pecah tangisnya.


Ia melihat Joko terbaring dalam kondisi terpejam, tetapi napasnya masih bekerja. Sementara Tirana terdiam, sengaja memberi ruang dan waktu bagi Ginari.


“Joko!” sebut Ginari lembut seraya terisak. Ia memberanikan diri meraih tangan Joko dan menggenggamnya. “Joko, maafkan aku. Aku sangat menyesal telah memfitnahmu di hari yang lalu. Mengapa kau begitu rela mengorbankan nyawamu demi menolong aku yang seharusnya tidak pantas ditolong?”


Ginari meratapi Joko dengan mengenang hari-hari ketika ia mengira Joko telah merusak kehormatannya dan ia begitu ingin membunuh Joko. Tangisnya terseduh-seduh. Tirana membiarkannya. Dari luar masuk Kembang Buangi dan berhenti. Ia berdiri diam untuk membiarkan Ginari meluapkan kesedihan dan penyesalannya.


“Joko, jangan mati. Aku sangat menyesal. Aku sangat ingin menjadi istrimu. Aku tidak keberatan sedikit pun, asalkan kau tidak mati!” ucap Ginari lirih lalu melanjutkan ratapannya dengan luapan tangis.


Ginari mengangkat tangan Joko lalu ditempelkan ke pipinya. Tangan Joko basah terkena air mata.


Ratapan Ginari agak mempengaruhi suasana batin kedua gadis yang lain. Mereka jadi ikut sedih pula.


“Aku mencintaimu, Joko. Tolong, sembuhlah,” ucap Ginari.


Ginari teringat kejadian di gubuk usang, ketika amarahnya tidak terkendali dan dia menendang kepala Joko yang sedang tidur di atap gubuk. Tendangan itu membuat Joko jatuh menggeragap dan menghantam bumi.


Wuss!


“Hugk!”


Satu angin pukulan datang dari atas dan menghajar tubuh Joko hingga terlempar sejauh dua tombak.


Bakbakbak...!


Belum juga sempurna Joko bangkit, Ginari telah berkelebat cepat dan mendaratkan terjangan beruntun dari udara. Lima hantaman telapak kaki yang begitu keras membuat Joko terjengkang. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Bibir merahnya terembesi darah kental yang menunjukkan Joko mengalami luka.


“Kenapa kau menyerangku, Nisanak?” tanya Joko dengan ekspresi kelelahan.


“Aku bunuh kau, Lelaki Mesum!” teriak Pendekar Tikus Langit seraya membuat perisai besar di tangan kanannya bersinar hijau.


Ginari juga teringat, ketika ia dikeroyok oleh empat tokoh sakti di kediaman gurunya. Saat itu Joko datang sembari tersenyum saat bertemu pandang dengan Ginari.


“Mau apa kau ke mari, Lelaki Cabul?!” tanya Ginari cukup galak.


“Hahaha, kau suka bercanda juga, Nisanak. Namaku bukan Lelaki Cabul, tapi Joko Tenang,” kata Joko yang didahului tawa kecil yang enak didengar, tapi muak bagi telinga Ginari. “Aku lupa menyampaikan satu pesan kepada gurumu. Apakah gurumu ada?”


“Dia pergi menemui gurumu untuk menyelesaikan masalah kejahatanmu terhadapku!” ketus Ginari.

__ADS_1


Ginari juga teringat, ketika ia dalam kondisi terluka parah dan telah diracuni oleh Pil Gerogot Jantung oleh Nenek Kerdil Raga. Ia dan Joko memperdebatkan Hujabayat yang sebelumnya mengaku sebagai kekasihnya kepada Joko.


“Dia tadi sangat bernafsu menghajarku, karena aku dia fitnah telah memperkosa kekasihnya, yaitu kau. Lalu kenapa dia tidak peduli denganmu dan tidak mengakuimu? Kau pun tidak mengakuinya,” kata Joko merujuk kepada Hujabayat.


“Hujabayat memang bukan kekasihku. Aku dan dia tidak akrab. Kau masih menyangkal bahwa kau telah memperkosaku?” kata Ginari.


“Apakah kita harus berdebat lagi tentang itu dalam kondisimu seperti ini, Ginari? Aku tegaskan untuk terakhir kalinya, aku tidak pernah memperkosamu atau melecehkanmu!”


Joko lalu duduk empat langkah di depan Ginari.


“Kenapa kau malah duduk? Jika tidak ingin menolongku, tinggalkan aku. Biarkan aku mati dalam kondisi menyesal,” kata Ginari.


“Menyesal kenapa?” tanya Joko.


“Karena tidak bisa membunuhmu!” desis Ginari dengan tatapan benci.


Dan terakhir Ginari teringat, ketika Joko kebingungan untuk membawa tubuhnya karena Joko tidak bisa menyentuhnya.


“Hanya Jagur yang ada di dalam ideku untuk bisa membawamu pergi. Jika kau tidak mau, apakah kau punya cara lain?” tanya Joko kepada Ginari.


“Tinggalkan aku, biarkan aku mati membusuk di sini,” kata Ginari.


“Jika aku meninggalkanmu, berarti aku tidak melaksanakan janjiku kepada kakekmu. Kakekmu bisa-bisa menghantui hidupku. Aku telah mengiyakan kepada kakekmu untuk menikahimu. Namun, jika kau tidak mau, tentunya aku tidak bijak jika harus mendesakmu.”


“Tinggalkan aku! Biarkan aku mati membusuk bersama kakekku di sini! Aku membencimu, ingin sekali membunuhmu! Kau lelaki keterlaluan! Kau perusak kehormatan!” teriak Ginari tiba-tiba meluapkan kemarahannya, tapi ia tidak bisa bergerak sedikit pun kecuali kepalanya yang bergerak lemah.


Joko jadi terdiam mendapat caci maki itu. Perasaannya memang ada yang terasa sakit. Selama ini ia merasa tidak berbuat salah sedikit pun kepada gadis cantik itu, tapi hingga kini Ginari masih menganggap bahwa dirinya telah diperkosa oleh Joko.


“Makianmu membuatku sedih dan sakit hati. Kau begitu tega,” ucap Joko lemah. Ia menarik napas dalam lalu bergerak berdiri.


Namun kemudian, satu suara menyadarkan Ginari.


“Aku bisa mati cepat jika kau terus memegang tanganku,” ucap bibir Joko tiba-tiba dengan mata tetap terpejam.


Terkejutlah Ginari mendengar kata-kata itu. Ia seketika langsung melepas tangan Joko begitu saja. Ekspresi tangisnya terhenti dan ia diam memandangi wajah Joko yang masih terpejam matanya. Namun, perlahan bibir merah Joko bergerak membentuk senyum dan disusul kelompak mata yang terbuka.


Hal itu membuat Ginari mendelik dan buru-buru berdiri dari duduknya di sisi dipan. Ia agak menjauh dari Joko, tetapi masih dalam jangkauan tiga langkah. Meski masih sedih, tetapi isak Ginari telah berhenti.


“Mengapa menangisiku, aku masih hidup. Tapi jika kau sering-sering memegang tanganku, justru aku bisa cepat mati,” kata Joko seraya menatap sayu kepada Ginari.


“Rupanya kau tidak apa-apa!” dengus Ginari agak kesal. Ia berusaha menutupi rasa begitu takutnya ia kehilangan Joko.


Tirana dan Kembang Buangi tertawa kecil.


“Kakang Joko akan mejadi lemah jika kita mendekatinya kurang dari empat langkah,” kata Tirana kepada Ginari.


Ginari segera menjauhi Joko menjadi empat langkah. Kembang Buangi datang ke sisi Ginari.


Joko Tenang tertawa rendah.


“Jadi, tadi kau mendengar semua perkataanku?”tanya Ginari dengan nada ragu.

__ADS_1


“Iya. Aku ucapkan terima kasih atas cintamu, Ginari,” kata Joko. Dengan gerakan yang lemah, Joko bergerak bangun lalu duduk bersila.


Jawaban Joko itu membuat Ginari menunduk malu, tidak berani bertatapan langsung dengan Joko. Ia menyibukkan diri menyeka air matanya.


Sebelum Ginari masuk ke kamar itu, Joko dalam kondisi yang sudah membaik. Namun, ketika Ginari muncul di ambang pintu, Joko pura-pura tidak sadarkan diri. Kondisi Joko seketika berubah lemah ketika Ginari menghampirinya, terlebih memegang tangan.


“Kau mengerjaiku, Kembang!” tukas Ginari, ia merasa dijahili. Namun, ia benar-benar sedih dan sangat takut kehilangan Joko.


“Seharusnya kau membersihkan diri dulu baru menemui Joko. Sisa bau busuk masih tersisa di tubuhmu,” kata Kembang Buangi.


“Kau pikir aku sempat memikirkan hal itu. Rasa penyesalan selalu memenuhi kepalaku sebelum aku tidak sadarkan diri. Karenanya, ketika aku sadarkan diri, yang pertama ada di benakku adalah rasa sesal dan sedih itu,” kilah Ginari.


“Kau dan aku sudah menunjukkan bahwa kita memang adalah calon istri Kakang Joko. Aku pun mengalami hal yang sama ketika Kakang Joko sudah di ujung kematian,” kata Tirana. Kemudian ia bertanya, “Apakah sekarang kau ikhlas hati ingin menjadi istri Kakang Joko?”


“Iya,” jawab Ginari seraya tersenyum malu seraya mencuri pandang kepada Joko.


Joko Tenang hanya tersenyum manis melihat reaksi malu-malu Ginari, sangat bertentangan dengan kegalakannya saat pertama bertemu.


“Sepulang dari Rimba Berbatu, kita akan pulang menemui guruku. Aku akan meminta agar kita bertiga dinikahkan,” kata Joko.


Mendengar rencana Joko itu, Ginari kian tersenyum lebar. Ada bahagia yang berledakan di dalam hatinya.


“Kembang, kau bisa mengantarku pergi membersihkan diri,” kata Ginari mengalihkan bahan pembicaraan.


“Ayo!” ajak Kembang Buangi seraya tersenyum lebar. Ia menarik tangan Ginari yang masih tersenyum-senyum malu.


Sebelum melangkah pergi, Ginari menyempatkan diri memandang wajah tampan Joko yang masih tersenyum penuh sejuk.


“Eh, ayo!” kata Kembang Buangi sambil menghentak pelan tangan Ginari, sebab Ginari tidak langsung berjalan.


Ginari akhirnya tertawa sambil berjalan mengikuti Kembang Buangi. Hal itu membuat Joko dan Tirana tertawa pula mengiringi keharmonisan di antara mereka.


“Ginari sayang!” panggil Joko sebelum Ginari menghilang di luar pintu.


Mendelik mata indah Ginari dipanggil “sayang” oleh Joko. Seketika ia berhenti dan berbalik dengan senyum yang sudah mekar.


“Ya?” tanya Ginari.


“Setelah kalian mandi, datanglah kemari. Kita akan mengunjungi Ratu,” kata Joko.


“Baik.”


Joko kembali memberikan senyum manis dan tatapan mesra kepada Ginari. Tak henti-hentinya rasa syur mengalir di dalam dada Ginari ketika Joko memberikan senyum dan tatapan mesra seperti itu. Setelah itu, Ginari melanjutkan langkahnya bersama Kembang Buangi.


“Setelah aku melalui masa-masa sekarat, sepertinya aku berubah menjadi wanita yang gampang terbuai oleh rasa-rasa cinta,” kata Ginari kepada Kembang Buangi.


Kembang Buangi tertawa mendengar perkataan Ginari.


“Jangan sekali-kali kau lepaskan lelaki seperti Joko, karena mungkin tidak akan ada lagi lelaki seperti dia,” kata Kembang Buangi. “Kau begitu mencintai Joko?”


“Aku tidak akan menangisi orang yang tidak aku cintai,” jawab Ginari. “Oh ya, bagaimana dengan Hujabayat?”

__ADS_1


“Kakang Hujabayat masih ditawan oleh Kerajaan Hutan Kabut. Namun, kata Tirana, Kakang Hujabayat terpaksa ditinggalkan demi menyelamatkan kita berdua ke tempat Arak Kahyangan,” jawab Kembang Buangi.


“Semoga Kakang Hujabayat tidak terancam nyawanya,” harap Kembang Buangi. (RH)


__ADS_2