
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Selendang hitam Chi Men membelit kuat pedang Ducken Pert. Saling tarik terjadi yang disaksikan oleh kubu Prabu Dira dan Desa Stormeggland.
Sress!
Mendadak pedang Ducken Pert menyala api yang seketika membakar selendang hitam Chi Men hingga putus. Chi Men cepat mengebutkan selendangnya, memadamkan api yang membakar.
Selanjutnya, Chi Men melompat maju kepada Ducken Pert. Lelaki besar itu cepat menyambut Chi Men dengan tebasan pedang yang diselimuti nyala api.
Crek! Treng!
Ducken Pert harus mendelik ketika pedang apinya ditahan oleh silangan kuku-kuku besar Chi Men yang membara panas. Chi Men menahan dengan ilmu Cakaran Naga Langit tanpa merasakan panas dari api pedang.
Ducken Pert lebih terkejut ketika Chi Men menarik kencang cakarnya, mematahkan pedang besar itu.
Buk!
Keterkejutan Ducken Pert membuat tendangan Chi Men yang cepat, masuk menusuk perut lelaki besar itu.
Ducken terjengkang lalu jatuh bergulingan ke arah bawah karena tanah yang miring.
“Serang!” teriak Barbara memberi komando kepada para lelaki berambut kuning.
Seeet!
Namun, para lelaki berambut pirang yang mau maju menyerang, terpaksa menahan diri ketika sebilah pedang melesat terbang yang nyaris menyambar leher-leher mereka.
“Jangan ada yang bertindak!” seru Permaisuri Yuo Kai memperingatkan.
Pedang terbang itu kembali ke sarungnya di tangan Bo Fei. Barbara jadi tidak berani bertindak lagi.
Sementara itu, Ducken Pert sudah melompat naik ke udara.
Zwerzzz!
Ducken Pert mengibaskan tangan kanannya. Dari kibasan itu berlesatan sejumlah sinar-sinar biru berpijar yang menyerang semua lawan.
Melihat ayahnya melepaskan ilmu tertingginya, Barbara tampak tersenyum sumringah.
Blar! Blar! Bemm! Srep! Blar blar blar!
Chi Men dan Bo Fei dengan gesit menghindari sinar biru itu hingga terjadi ledakan di tempat lain. Permaisuri Yuo Kai cukup memasang ilmu perisai Ruang Darah Naga.
Sementara Prabu Dira cepat menghindar sambil melindungi kedua pelayan istrinya. Prabu Dira membelakangi datangnya sinar sambil kedua lengan kekarnya menarik geser tubuh Mai Cui dan Yi Liun agar satu garis. Sinar biru itu masuk begitu saja ke punggung rompi pusaka Prabu Dira tanpa memberikan celaka apa-apa.
Mai Cui dan Yi Liun kompak tersenyum malu atas perlindungan Kaisar Joko, karena mereka berdua berada begitu dekat dengan dada kekar tuannya.
Sementara Barbara hanya bisa kecewa.
Blelet! Set! Das!
Selendang tangan kanan Chi Men berkreasi dengan gerakan cepat di udara membentuk spiral indah ke arah Ducken Pert. Tanpa Ducken ketahui, ujung selendang di tangan kiri Chi Men melesat lurus lewat di dalam lubang putaran spiral selendang tangan kanan.
Ketika tahu-tahu ujung selendang kiri muncul menusuk dari dalam lubang selendang kanan, Ducken Pert tidak bisa menghindar ketika dadanya di hantam.
Ducken Pert terpental keras dan pasti akan jatuh jauh ke bawah karena posisinya yang tidak menguntungkan.
Wess! Blets!
__ADS_1
Namun, Chi Men cepat berkelebat mengejar tubuh lelaki besar itu. Lesatan selendangnya yang bisa memanjang jauh, lebih cepat menangkap tubuh Ducken Pert dan membelitnya. Kali ini, kedua tangan Ducken Pert masuk dalam lilitan selendang hitam Chi Men, membuatnya tidak berkutik.
Ducken Pert mendarat di tanah dengan baik, tetapi tubuhnya terlilit. Ketika ia mencoba melawan lilitan itu dengan tenaga dalam yang tinggi, selendang Chi Men yang lain datang membelit juga, memberi lilitan ganda.
Zezz!
Tiba-tiba dari kedua tangan Chi Men melesat aliran sinar kuning yang menjalar di selendang itu hingga mengenai tubuh Ducken Pert.
“Aaakk…!” jerit Ducken Pert tinggi ketika sinar itu menyengat seluruh tubuhnya. Tubuh Ducken Pert sampai mengejang keras.
Ilmu Selendang Petir Neraka Chi Men membuat Ducken Pert merasa lemah.
Permaisuri Yuo Kai lalu melayang maju dengan tangan kanan terulur dan kelima jari lembutnya merenggang membuka. Ia melepaskan Serat Sutra.
“Lepaskan, Chi Men!” perintah Permaisuri Yuo Kai.
Chi Men lalu menarik lepas kedua selendangnya dari tubuh Ducken Pert.
Meski merasa lemah, tapi lepasnya lilitan selendang itu membuat Ducken Pert ingin memanfaatkan peluang.
“Ayah jangan bergerak!” teriak Barbara keras dan histeris.
“Hekh!” Ducken Pert yang ingin bergerak jadi terkejut dan mengeluh tertahan. Tiba-tiba ia merasakan ada benang yang melilit lehernya sehingga kulitnya ada yang teriris dan berdarah. Demikian pula dengan kedua pahanya, ada lilitan benang yang kuat tapi tidak terlihat.
“Ayah! Jangan bergerak! Benang wanita itu bisa memenggalmu!” teriak Barbara dalam bahasa lokal.
Pemberitahuan Barbara itu membuat Ducken Pert dan yang lainnya terkejut. Itu artinya, sekali tarik saja jari Permaisuri Yuo Kai, maka tamatlah riwayat Ducken Pert. Keadaan itu membuat tegang kubu Desa Stormeggland.
“Aku hanya ingin mendengar ceritamu tentang Pedang Singa Suci,” ujar Permaisuri Yuo Kai kepada Ducken Pert yang kini tidak berani bergerak.
“Pedang itu adalah pedang kebesaran Kerajaan Ironland di Negeri Darah Biru, negeri aku berasal. Aku mencuri pedang itu untuk merebut Kerajaan Ironland. Namun, pedang itu terkunci di dalam Batu Darah Putih yang tidak bisa dipecah oleh tempaan palu apa pun. Namun, batu itu hanya bisa dikikis dengan darah segar wanita muda. Jadi aku membawanya pergi jauh dari Negeri Darah Biru dengan maksud nanti setelah berhasil mendapatkan pedang itu, aku akan kembali merebut kerajaan. Tidak aku sangka, membutuhkan waktu berpuluh tahun untuk mengikis Batu Darah Putih dengan darah. Bagaimana suamimu bisa mendapatkan pedang itu, padahal pedang itu masih tertanam di dalam Batu Darah Putih?” kisah Ducken Pert dengan bahasa Mandarin, kemudian bertanya.
“Suamiku, dia bertanya, bagaimana kau bisa mendapatkan Pedang Singa Suci, sedangkan pedang itu masih ada di dalam Batu Darah Putih,” kata Permaisuri Yuo Kai kepada Prabu Dira, menerjemahkan pertanyaan Ducken Pert ke dalam bahasa Jawi.
Permaisuri Yuo Kai lalu menerjemahkan perkataan suaminya untuk Ducken Pert.
“Tidak mungkin,” ucap Ducken Pert lirih. Ia sulit untuk menerima fakta itu. Puluhan tahun yang lalu, ia telah mencoba menghancurkan Batu Darah Putih dengan berbagai cara, termasuk cara menghantamnya dengan ilmu kesaktian, tetapi tidak ada yang berhasil. “Apakah pemuda itu begitu sakti sehingga ilmunya bisa bekerja terhadap batu itu?”
“Aku sudah bisa mengeluarkan pedang itu. Aku akan mengembalikannya kepadamu!” kata Prabu Dira.
Perkataan itu membuat Permaisuri Yuo Kai memandang suaminya beberapa detik. Kemudian dia menerjemahkannya untuk Ducken Pert.
Mendengar hal itu, terkejutlah mereka.
“Kembalikan kepadaku, itu ada milikku. Pedang itu adalah hakku!” kata Ducken Pert cepat, tanpa berani banyak bergerak.
“Apa kau yakin, Kisanak?” tanya Prabu Dira tanpa menunggu terjemahan istrinya.
Permaisuri Yuo Kai menerjemahkannya untuk Ducken Pert.
“Aku yakin!” seru Ducken Pert.
“Dia yakin, Suamiku,” kata Permaisuri Yuo Kai.
“Lepaskan benangmu, Kai’er!” perintah Prabu Dira.
Permaisuri Yuo Kai lalu melonggarkan betotan benang Serat Sutra di tangannya, kemudian benang itu ditarik pulang. Maka terbebaslah Ducken Pert dari ancaman maut. Lehernya tampak mengalirkan darah dari beberapa sayatan pada kulit.
Prabu Dira lalu berkonsentrasi dan melakukan gerakan tangan kanan saja. Ketika Prabu Dira mendorong lengan kanannya lurus ke atas dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi, tiba-tiba di tangan itu muncul sebuah pedang buntung berwarna putih susu.
Terbelalaklah Ducken Pert melihat kemunculan benda yang memang adalah Pedang Singa Suci. Ia tersenyum lebar.
__ADS_1
Awalnya Prabu Dira tidak tahu cara mengeluarkan pedang yang bersemayam di dalam tubuhnya itu. Namun, diam-diam Prabu Dira mencoba beberapa cara dengan memainkan tenaga dalamnya di dalam tubuh. Hingga akhirnya ia merasakan usahanya berhasil dan ia yakin sanggup mengeluarkan pedang itu. Kemudian memang berhasil upaya Prabu Dira tersebut.
“Pedang Singa Suci, pedangku. Akhirnya kau akan menjadi milikku! Setelah ini kita akan kembali ke Negeri Darah Biru!” teriak Ducken Pert seperti seorang pemuja cinta yang telah menemukan gadis yang diimpikannya selama puluhan tahun.
“Ayah, jangan! Jangan ambil pedang itu!” kata Barbara. Tiba-tiba ia merasa khawatir, terlebih ketika ia ingat saat pedang itu menyengat Prabu Dira di gua.
“Kenapa, Barbara? Puluhan tahun Ayah menunggu-nunggu masa ini, masa di saat aku memegang Pedang Singa Suci. Aku tidak akan membiarkannya pedang itu dimiliki oleh orang lain!” teriak Ducken Pert.
Sementara itu, Kan Lwin, San San Htay dan warga desa lainnya menjadi tegang. Mereka menduga-duga di dalam hati, mungkin akan terjadi sesuatu ketika pedang aneh itu berpindah tangan.
“Lemparkan pedang itu!” teriak Ducken Pert kepada Prabu Dira yang berdiri di tanah yang lebih tinggi.
“Ambillah!” kata Prabu Dira sambil melempar pedang di tangannya dengan sikap yang tenang.
Tap! Zerzzz! Zeng!
Dengan wajah antusias dan gembira, Ducken Pert menangkap pedang itu dengan tangan kanannya.
Tiba-tiba dari dalam pedang itu muncul aliran sinar putih yang menjalari tangan Ducken Pert, lalu terus menyengat ke seluruh tubuh. Saat itu pula muncul kurungan sinar putih susu tapi transparan yang mengurung keberadan Ducken Pert.
“Aaak…!” jerit Ducken Pert dengan tubuh mengejang keras dan bergetar liar.
“Ayaaah!” pekik Barbara begitu cemas.
Melihat kondisi ayahnya yang begitu mengkhawatirkan, Barbara cepat melompat dengan tinju kanan membara biru.
Bung!
“Akk!” pekik Barbara dengan tubuh terlempar keras setelah tinjunya ia hantamkan pada dinding kurungan sinar itu.
Barbara buru-buru bangkit dan melihat ke arah ayahnya. Sebab, jeritannya mendadak berhenti.
Ducken Pert kini tergeletak dengan sepasang mata mendelik mengeluarkan aliran darah. Darah juga keluar dari lubang hidung, telinga dan mulutnya. Kulitnya terlihat sangat memerah seperti merahnya kepiting rebus.
Pedang Singa Suci tergeletak begitu saja di rerumputan dekat tubuh Ducken Pert. Sinar putih yang menyengat sudah hilang, demikian pula kurungan sinar putih susu.
“Ayaaah!” jerit Barbara histeris lalu buru-buru mendapati mayat ayahnya.
“Siapa lagi yang menginginkan pedang itu, silakan ambil saja!” seru Prabu Dira yang kemudian diterjemahkan oleh Permaisuri Yuo Kai.
Namun, orang-orang Desa Stormeggland terdiam, tidak ada yang berani memenuhi tantangan itu. Kematian Ducken Pert jelas sangat mengerikan. Ia dibunuh oleh pedang yang diimpi-impikannya selama hidupnya.
“Kan Lwin!” teriak Abhoy Danu yang datang dari sisi atas gunung. “Kami menemukan banyak mayat wanita di dalam gua!”
“Apa?!” kejut Kan Lwin dan San San Htay.
Semua warga desa yang tidak mengetahui cerita tentang pedang itu, turut terkejut. (RH)
**********************
PENGUMUMAN
Sistem yang diterapkan oleh MT telah memaksa Author untuk menamatkan novel ini meski jalan ceritanya belum tuntas. Lanjutan kisah dari novel ini akan ditulis dalam sebuah novel baru dengan judul baru pula.
Karena Author tidak suka urutan 1, 2, 3 dan seterusnya, maka Author tidak memilih judul "Pendekar Sanggana 2" atau "Sanggana 3" untuk novel lanjutan "Pendekar Sanggana".
Author memutuskan, judul novel baru Pendekar Sanggana adalah:
a) 8 Dewi Bunga Sanggana
b) 8 Dewi Bunga
__ADS_1
c) 8 Dewi Sanggana
Silakan Readers memilih satu. Pilihan terbanyak akan Author pilih sebagai judul novel lanjutannya.