Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 13: Menunggangi Serigala


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


Kemenangan di atas kedukaan. Joko Tenang dan istri-istrinya memutuskan bahwa tidak ada pesta atau perayaan atas kemenangan mereka dari Gerombolan Kuda Biru.


Arya Permana dan ibunya, Pitaloka, dilanda kesedihan mendalam karena kematian Kayuni Larasati dan Adipati Tambak Ruso. Surya Kasyara pun meratap bersama botol-botol tuak di penginapan. Ia benar-benar mabuk. Sesekali pantun sedihnya terdengar kencang sampai ke luar penginapan.


“Bunga seroja tumbuh layu, di saat rembulan muncul sempurna, belum sempat kita bercumbu rayu, tapi kau pergi saat aku masih cinta!”


Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma yang duduk memeluk satu meja di ruang makan penginapan, hanya memandangi Surya Kasyara yang minum seorang diri di meja dekat tangga yang menuju lantai dua. Sementara Sandaria hanya khusyuk mendengarkan. Ia meninggalkan kelima serigalanya beristirahat di depan penginapan, memberi pemandangan yang mengerikan bagi orang yang tidak akrab.


Lalu di mana Pangeran Dira Pratakarsa Diwana? Dia sedang meluangkan waktu berduaan dengan cinta pertamanya, Kusuma Dewi.


Meski Joko Tenang sangat senang dengan kehadiran Sandaria yang mungil menggemaskan, tetapi ia memutuskan untuk memprioritaskan Kusuma Dewi. Joko Tenang harus mengemas lebih rapi dan nyaman hati Kusuma Dewi agar tidak mudah goyah, terlebih pada saat yang sama Sandaria muncul dengan segala pesonanya.


“Wajah purnama indah dipandang mata, pungguk merenung dalam gelap yang sepi, wahai Kayuni Larasati yang jelita, temuilah aku dalam setiap mimpi,” pantun Surya Kasyara.


Surya Kasyara lalu bangun dari duduknya. Dengan langkah sempoyongan dia melangkah ke luar penginapan. Tanpa sadar dia melangkah miring ke dekat Satria, serigala hitam.


Gerrr!


Satria sontak menggeram sambil bangun berdiri siaga memandang Surya Kasyara. Keempat serigala yang lain juga ikut bangun dan menggeram ramai.


Sebelumnya, tanpa sengaja Surya Kasyara berjalan sempoyongan menabrak badan Satria. Geraman Satria langsung membuat Surya Kasyara terkejut dan melompat menjauhi binatang besar itu.


“Eh eh eh! Siapa kalian, hah?!” bentak Surya Kasyara sambil menunjuk Satria dan rekan-rekannya. Tampak matanya sudah sayu, “Kalian pikir aku takut kepada kalian!”


Gerrr!


Serentak kelima serigala itu menggeram keras kepada Surya Kasyara, hingga-hingga pemuda mabuk itu tersentak terkejut dan jatuh terduduk di tempatnya.


Melihat hewan-hewan dari benua jauh itu tidak menyerang, buru-buru Surya Kasyara bangun dengan sempoyongan.


“Aku tidak takut! Tapi bohooong! Hahaha!” teriak Surya Kasyara kepada para serigala, lalu berlari terbiri-birit meninggalkan depan penginapan.

__ADS_1


Blugk!


Surya Kasyara jatuh tersungkur ke tanah. Sementara kelima serigala hanya memandangi tingkah pemuda mabuk itu tanpa kata dan komentar. Mereka lalu kompak kembali merapat ke tanah.


Terlihat ada dua orang lelaki berlari mendatangi Surya Kasyara. Salah satunya bertubuh gemuk. Kedua lelaki itu tidak lain adalah kedua sahabat masa lalu Surya Kasyara, yaitu Gowo Tungga dan Gembulayu. Keduanya termasuk orang-orang yang selamat dari kekejaman anggota Gerombolan Kuda Biru.


Di sisi lain, Lanang Jagad dengan telaten mengurusi Rara Sutri yang belum sembuh sempurna dari efek racunnya. Butuh beberapa hari minum ramuan untuk benar-benar membuatnya sehat total.


Adapun Reksa Dipa, ia harus beristirahat total. Pengobatan dari Turung Gali hanya mampu menyelamatkannya dari kematian. Namun kemudian, setelah kemenangan itu, Tabib Rakitanjamu pulang dari Padepokan Hati Putih. Ia kemudian menangani luka Reksa Dipa untuk mempercepat kesembuhannya.


Selain itu, Tabib Rakitanjamu juga membantu dalam mengembalikan ketertiban di Kadipaten Surosoh. Warga yang mengungsi diajak untuk kembali dan membersihkan lingkungan mereka, baik dari mayat-mayat maupun dari puing-puing sisa kebakaran.


Sosok Tabib Rakitanjamu sebagai tabib yang kesohor dan dihormati, memudahkannya untuk mengajak dan mengimbau warga.


Nasib kepemimpinan di Kadipaten Suroso akan diputuskan oleh Kerajaan Baturaharja. Arya Permana sudah mengirim seorang utusan ke kerajaan untuk melaporkan apa yang telah terjadi di Kadipaten Surosoh.


“Kapan Kakang rencananya akan menikahi Kusuma Dewi dan Sandaria?” tanya Tirana ketika Joko Tenang berkumpul bersama para wanitanya.


“Aku sudah menyampaikannya kepada Kusuma dan belum kepada Sandaria. Kami berencana akan menikah setibanya di Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Joko Tenang. Lalu tanyanya kepada Sandaria, “Apakah kau setuju, Sandaria?”


“Hihihi…!” Tertawa ramailah para wanita itu mendengar gambaran yang dibayangkan Sandaria.


“Apakah aku salah?” tanya Sandaria dengan suara manjanya. Ia merengut menggemaskan. Tirana bahkan ingin mencubit bibirnya, tapi itu hanya niat sebatas hati.


“Tidak salah, kau benar, Sayang. Kami pun akan malu jika harus menikah di tengah jalan dan melalui malam pertama di tengah jalan,” kata Getara Cinta lembut. Sebutan “Sayang”-nya memberi kenyamanan bagi perasaan Sandaria.


“Kelembutan Ratu membuatku jadi sungkan jika mau main serobot lagi,” ucap Sandaria, secara tidak langsung mengakui tindakan serobotnya, saat Joko dan Getara Cinta sedang menonton pertarungan Kerling Sukma melawan Gadis Kuda Biru.


“Hihihi!” Mereka tertawa rendah.


“Hahaha!” Justru Joko Tenang yang tertawa agak kencang. Menurutnya, aksi serobot yang dilakukan oleh Sandaria terhadap Getara Cinta adalah perkara yang lucu. Ternyata Sandaria yang buta bisa berlakon pura-pura lugu.


“Istri-istriku yang tercinta harus memiliki rumah. Dari seorang pengembara menjadi orang yang menetap. Dari yang awalnya memiliki istana, menjadi memiliki istana kembali. Ratu harus aku kembalikan ke istana. Putri You Kai akan aku jemput meninggalkan istana dan akan kembali aku tempatkan di istana. Aku tidak bisa bayangkan jika semua istriku hamil dan aku masih belum memiliki tempat tinggal,” tutur Joko Tenang.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa mereka.


Kusuma Dewi yang merasa sebagai anak baru di antara para wanita cantik dan sakti itu, mulai merasakan kehangatan dalam kebersamaan itu.


“Apakah hari ini kita akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Prabu, Kakang?” tanya Kerling Sukma.


“Malam ini kita bermalan di sini. Selain untuk memastikan tidak ada lagi pengacau keamanan, agar kondisi Reksa Dipa lebih membaik untuk bisa berkuda,” jawab Joko Tenang.


“Lebih baik Reksa Dipa naik kereta kuda, biar kami yang berkuda,” kata Getara Cinta.


“Benar, Kakang!” timpal Tirana.


“Karena aku sedang bahagia, bagaimana jika aku menawarkan kalian tunggangan serigalaku?” tawar Sandaria.


“Aku pilih yang putih!” kata Kerling Sukma cepat.


Wanita yang lain hanya tersenyum atas kecepatan Kerling Sukma.


“Apakah para serigala itu bisa nyaman dengan penunggang wanita yang lain?” tanya Tirana.


“Ya. Aku sudah menjelaskan semuanya kepada mereka. Mereka semua sudah menganggap Kakang Joko dan istri-istrinya adalah tuan dan keluarga sendiri. Kalian nanti cukup menyebut nama mereka jika ingin memerintahkan sesuatu,” jelas Sandaria. “Oh ya, tapi aku hanya meminjamkan, tidak memberikan.”


“Tidak mengapa, asalkan aku bisa merasakan menjadi Putri Serigala,” kata Tirana seraya tersenyum.


Maka, keesokan harinya, setelah Joko Tenang menyampaikan perihal undangan Tiga Malaikat Kipas keapada Tabib Rakitanjamu alias Tabib Teguk Getir, pemuda berbibir merah itu pamit untuk melanjutkan perjalanan bersama istri-istrinya.


Kali ini perjalanan berlangsung berbeda bagi para wanita Joko Tenang. Selain kuda, dalam rombongan Joko Tenang juga ada serigala yang menyertai. Setiap serigala kini memiliki seorang penunggang, yaitu para istri yang dicintai oleh Joko Tenang.


Tirana menunggangi Kemilau, serigala berbulu kuning kemerahan. Getara Cinta menunggangi Bintang, serigala berbulu abu-abu. Kerling Sukma menunggangi Bulan, serigala berbulu putih bersih. Kusuma Dewi juga mendapat bagian, yaitu menunggangi Belang, serigala putih berkepala hitam.


Sementara Sandaria duduk di atas Satria, serigala terbesar.


Joko Tenang duduk di dalam bilik kereta bersama Reksa Dipa. Kusir diperankan oleh Turung Gali, ayah mertua si calon raja. Kereta kuda memiliki buntut, yaitu beberapa ekor kuda yang turut berjalan di belakang kereta. Tali kekang para kuda diikatkan di belakang. Perjalanan yang tidak kencang membuat para kuda tidak keberatan. (RH)

__ADS_1


 


__ADS_2