Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
56. Rahasia Arak Kahyangan


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Seluruh pejabat bangkit dari duduknya dan menghormat kepada Ratu Getara Cinta. Setelah itu mereka berbalik pergi. Seluruh prajurit pun bergerak rapi keluar melalui lima pintu besar yang ada di pendapa agung itu. Sepuluh palayan di sekitar singgasana ratu juga bangun dan pergi. Bidadari Seruling Kubur, Sulasih dan Ragatos turun pergi ke luar.


Tinggallah Joko Tenang dan Tirana berdiri di depan Ratu Getara Cinta.


“Kenapa kau tidak turut pergi, Tirana?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Aku adalah penjaga Kakang Joko. Aku tidak bisa meninggalkannya seorang diri, Yang Mulia Ratu,” jawab Tirana.


“Izinkanlah Tirana tetap bersamaku. Ia ibarat sebagian dari diriku, Yang Mulia,” kata Joko.


Ratu Getara Cinta terdiam sejenak. Lalu katanya, “Baiklah.”


“Terima kasih, Yang Mulia Ratu,” ucap Tirana.


“Aku jelaskan kepada kalian. Khasiat lain dari Arak Kahyangan yang tidak diketahui oleh semua orang. Selain ia memang sebagai obat segala macam racun, Arak Kahyangan juga adalah racun ganas,” kata Ratu Getara Cinta.


Sedikit berubah raut wajah Joko mendengar ungkapan Ratu Getara Cinta.


“Maksud, Yang Mulia Ratu?” Yang bertanya adalah Tirana.


“Yang diambil dari Arak Kahyangan adalah satu tetes satu tetes. Tetesan akan bergantian menjadi obat dan racun. Jika tetes pertama ia berfungsi sebagai obat, maka tetes berikutnya berubah menjadi racun,” jelas Ratu Getara Cinta.


“Apa?!” kejut Joko.


Pikiran Joko dan Tirana segera bekerja membayangkan gambaran situasi yang akan terjadi terhadap pengobatan Ginari dan Kembang Buangi.


“Apakah peluangnya hanya satu yang bisa diberi obat?” tanya Joko.


Namun, sebelum Ratu Getara Cinta menanggapi, Tirana segera berkata, “Bukankah tetes yang adalah racun, bisa dibuang saja?”

__ADS_1


Ratu Getara Cinta tertawa pendek karena memang kedua pendekar di depannya belum tahu tentang Arak Kahyangan, kecuali tahu sebagai obat segala jenis racun.


“Tetesan Arak Kahyangan hanya bisa dikeluarkan dengan cara disedot dengan mulut yang bertenaga dalam tinggi. Jika tetesannya bisa keluar, ia akan langsung masuk ke mulut. Jika tetesannya adalah obat, bisa langsung diberikan kepada orang yang sakit melalui perantara mulut ke mulut. Jika tetesannya adalah racun, maka ia akan langsung menyerang diri penyedotnya. Dan uniknya, racun Arak Kahyangan tidak bisa ditawari oleh Arak Kahyangan sendiri. Hal sangat penting yang harus aku sampaikan kepada kalian, tetesan terakhir yang keluar dari Arak Kahyangan dipakai untuk obat. Artinya, tetesan berikutnya adalah racun. Jika satu nyawa yang ingin kau selamatkan, maka satu nyawa harus kau korbankan untuk menelan tetesan racun pertama. Jika dua nyawa yang ingin kau selamatkan, maka dua nyawa harus kau sediakan untuk berkorban menelan racun Arak Kahyangan.”


Setelah menjelaskan agak panjang, Ratu Getara Cinta diam. Ia melihat Joko Tenang dan Tirana terpaku diam. Kecerdasan mereka menjadi buntu. Hitung-hitungannya, jika ingin mendapatkan dua tetes obat, berarti harus ada dua orang yang berkorban meminum racun terlebih dahulu. Minimal harus ada tiga pendekar bertenaga dalam tinggi untuk bisa menyedot keluar tetesan Arak Kahyangan, itupun dua pendekar di antaranya berisiko mati oleh racun.


“Mengapa menjadi rumit seperti ini?” tanya Joko kepada dirinya sendiri. Ia mulai tampak gelisah, hal itu terlihat dari gerak samar tubuh dan waajahnya.


“Apa yang harus kita lakukan, Kakang?” tanya Tirana kepada Joko.


“Entahlah, pikiranku buntu,” jawab Joko.


“Yang Mulia Ratu yang empunya Arak Kahyangan, tentunya lebih tahu jalan terbaik untuk kami,” kata Tirana.


“Benar. Jalan terbaiknya adalah bunuh Aswa Tara. Sebab, di jantung Aswa Tara ada yang namanya Embun Kehidupan. Dia berupa cairan bening kecil yang terbungkus aman di dalam jantung. Aku hanya tahu seperti itu tanpa pernah melihatnya. Jika Embun Kehidupan dicampur dengan racun Arak Kahyangan, maka racun akan berubah menjadi obat. Tidak perlu aku jelaskan mengapa Aswa Tara memiliki Embun Kehidupan di jantungnya. Dengan mendapat Embun Kehidupan, maka kalian tidak perlu ada pengorban nyawa, karena dua tetes Arak Kahyangan bisa menjadi obat semua,” jelas Ratu Getara Cinta.


Kembali Joko Tenang terdiam berpikir.


“Sebenarnya aku tidak menuntut syarat yang banyak, karena cara itu memanglah langkah yang harus kalian ambil. Namun, aku dan Kerajaan Tabir Angin adalah pihak yang sangat diuntungkan dengan kematian Aswa Tara,” kata Ratu Getara Cinta.


“Yang Mulia Ratu!” panggil Joko Tenang. “Izinkan aku untuk istirahat dan berpikir sejenak.”


“Baiklah. Namun pikirkan, jika kau memutuskan untuk membunuh Aswa Tara, kalian tidak perlu bertarung di Sumur Juara, karena matinya Aswa Tara dengan sendirinya Hutan Kabut akan runtuh tanpa penguasa,” kata Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia,” kata Joko.


Joko Tenang dan Tirana lalu menjura hormat kemudian berbalik pergi meninggalkan sang ratu.


Seiring langkah kepergian Joko dan Tirana, para prajurit segera bergerak masuk dengan rapi. Para pelayan yang tadi pergi kembali datang dan menempati posisinya kembali.


“Panggil Panglima Jagaraya menghadap!” perintah Ratu Getara Cinta kepada pelayannya.

__ADS_1


Satu orang pelayan wanita segera bangkit dan berjalan cepat untuk mendapatkan Panglima Jagaraya di luar sana.


Tidak berapa lama, Panglima Jagaraya datang menghadap.


“Syaratku itu memang tampak kejam, Jagaraya,” kata Ratu Getara Cinta.


“Ampun, Yang Mulia Ratu,” kata Panglima jagaraya seraya menjura hormat karena khawatir nasihat yang akan ia utarakan dinilai lancang. “Mungkin akan lebih baik jika Yang Mulia Ratu tidak menunjukkan jalan kepada pembunuhan itu, biarkan Pendekar Joko dan calon istrinya menghadapi kondisi apa adanya bahwa Arak Kahyangan perlu pengorbanan nyawa dari mereka sendiri.”


“Kau tahu mengapa aku menunjukkannya jalan aman agar tidak ada nyawa yang dikorbankan?” tanya Ratu Getara Cinta yang kemudian ia jawab sendiri. “Jika aku berpikiran sama denganmu, maka aku sangat yakin, Joko akan mengorbankan diri menyedot tetes Arak Kahyangan yang beracun. Aku tidak mau itu terjadi.”


“Mengapa? Ampuni hamba, apakah Yang Mulia menaruh hati kepada Pendekar Joko?” tanya Jagaraya.


“Entahlah. Yang pasti aku tidak ingin dia mati,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Dia orang asing, tetapi Yang Mulia tidak ingin dia mati. Itu pertanda, Yang Mulia,” kata Jagaraya. “Namun bagaimanapun juga, Aswa Tara adalah adik kandung Yang Mulia Ratu. Apakah Yang Mulia akan mengorbankannya demi Pendekar Joko?”


“Benar Aswa Tara adalah adikku, tetapi kau lihat kekejamannya yang sudah melampaui batas kemanusiaan. Kaum lelaki benar-benar ia anggap tak lebih dari pada seekor kerbau. Kita tidak bisa menghentikannya, tetapi orang asing dari luar Rimba Berbatu bisa. Selama ia masih berkuasa, maka selama itu pula kita membuang-buang tenaga dan nyawa hanya untuk meladeni pertarungan di Sumur Juara. Meski ia kalah, tetapi ia tetap menggali di Lembah Gelap. Ratusan nyawa lelaki dan anak-anak telah terkubur di dalam lembah, tetapi penambangan tetap ia lakukan,” kata Ratu Getara Cinta.


“Apakah Yang Mulia Ratu yakin bahwa Pendekar Joko akan memilih membunuh Aswa Tara?”


“Aku sudah menjelaskan bahwa tidak ada cara aman, kecuali membunuh Aswa Tara. Namun, aku melihat ia begitu berat dengan pilihan itu. Sejak melihatnya bertarung di Sumur Juara, aku sudah kagum kepadanya. Ia memilih tidak membunuh Bidadari Seruling Kubur, padahal itu tampak mudah baginya.”


“Hamba semakin yakin, Yang Mulia Ratu jatuh hati kepadanya,” kata Jagaraya.


“Jangan terlalu dini menilaiku, Jagaraya!” hardik Ratu Getara Cinta tanpa memandang punggawanya tersebut. Ia mencoba menutupi sikap lemahnya sebagai seorang ratu.


“Hamba tidak berani, Yang Mulia. Namun, hamba pun memaklumi jika itu memang adanya. Wanita mana yang tidak tertarik dengan Pendekar Joko? Baru memandangi parasnya saja sudah bisa membuat setiap wanita akan terus memandang ke langit malam dan rembulan. Mereka akan berangan-angan indah,” kata Jagaraya.


“Jangan banyak melantur!” hardik Ratu Getara Cinta lagi, kali ini lebih pelan. “Kau harus pastikan segala keperluan tamu-tamu kita terpenuhi dan terlayani dengan baik!”


“Hamba mengerti, Yang Mulia,” ucap Jagaraya patuh.

__ADS_1


Setelah itu, ratu cantik jelita itu terdiam termenung menatap lurus jauh ke cahaya yang ada di pintu sana. Sementara Panglima Jagaraya hanya tersenyum. (RH)


__ADS_2