
*Desa Wongawet (Dewo)*
Ki Daraki benar-benar dibuat murka atas tewasnya tiga belas warga oleh racun yang bernama Racun Ulat Api. Racun itu hanya dimiliki oleh Sudarka seorang.
Sudarka yang merasa tidak melakukan perbuatan jahat itu, jadi panik dan juga marah. Namun, ia harus marah kepada siapa. Dia tidak tahu-menahu bagaimana bisa racun miliknya digunakan untuk meracuni makanan.
“Tudurya! Satikwa! Tungkur Wagi! Ringkus Sudarka!” perintah Ki Daraki dengan tatapan penuh amarah.
Tudurya yang duduk di sisi kiri Joko Tenang, mencoba menangkap lengan Sudarka yang duduk di sisi kanan Joko. Namun Sudarka menepis tangan Tudurya dan ia langsung melompat jauh ke ujung panggung.
Tudurya, Satikwa, dan saeorang pemuda bertubuh tinggi besar lagi bercambang lebat segera berkelebat mengejar Sudarka. Orang yang bercambang itulah yang bernama Tungkur Wagi. Mereka bertiga mengepung Sudarka.
“Ada orang yang telah mencuri racunku dan menjadikanku kambing hitam!” teriak Sudarka.
“Jika memang bukan kau, seharusnya kau tidak melawan!” kata Tungkur Wagi, suaranya agak serak.
“Kau atau bukan, kau harus ditangkap dulu, Sudarka,” kata Tudurya.
“Aku tidak mau disiksa!” tandas Sudarka.
“Jika begitu, kami ringkus engkau secara paksa!” seru Satikwa lalu maju menyerang Sudarka.
Tudurya dan Tungkur Wagi juga bergabung mengeroyok Sudarka.
“Apa yang kau lakukan, Joko?” tanya Palang Segi yang melihat Joko Tenang tetap makan di saat semuanya tidak ada yang berani makan.
“Aku lapar,” jawab Joko seadanya.
“Apakah kau tidak takut makananmu beracun?” tanya Palang Segi.
“Aku tidak mencium ada racun di makananku,” jawab Joko. “Lagipula tujuan dari pemberi racun hanya untuk menciptakan kekacauan. Aku yakin, makanan Kepala Desa tidak beracun.”
“Bagaimana kau bisa yakin Joko?” tanya Ki Daraki karena mendengar perkataan Joko yang terakhir.
“Jika pembunuh itu menginginkan kematianmu, cukup racun dimasukkan ke dalam makanannmu, tidak perlu memasukkannya ke dalam makanan sesama warga, kecuali jika mereka yang mati dianggap layak mati,” kata Joko menganalisa kejadian itu.
“Kemuning, coba kau makan makananku, apakah ada racunnya atau tidak!” perintah Ki Daraki kepada kekasihnya.
“Ki, apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuh Kemuning?” tanya Sumirah, Kekasih Utama Ki Daraki.
“Diam kau, Sumirah!” bentak Ki Daraki. Lalu perintahnya lagi kepada Kemuning, “Makan!”
Tanpa rasa takut, Kemuning mengambil satu potongan ikan bakar dari nampan milik Ki Daraki di atas meja. Tanpa ragu gadis bertubuh mungil itu mengambil potongan daging ikan lalu memasukkannya ke mulut. Ki Daraki hanya diam menatap tajam kepada Kemuning. Kepala Desa memandangi Kemuning hingga ia menelan daging ikan itu.
Tidak terjadi apa-apa pada Kemuning, menunjukkan bahwa ikan bakar itu tidak beracun.
“Sumirah, Titin, tangkap Kemuning dan penjarakan di gua terlarang!” perintah Ki Daraki.
__ADS_1
Mendengar perintah itu, Sumirah dan Titin Susina terkejut, terutama Kemuning. Sebagian warga, terutama kaum wanita, juga terkejut. Mereka tidak menyangka Ki Daraki akan menangkap kekasihnya sendiri.
“Aku tidak melakukan kesalahan, Ki. Kenapa kau mau menangkapku?” kata Kemuning membela diri.
“Kesalahanmu adalah karena kau mengetahui bahwa makananku tidak beracun,” kata Ki Daraki. Lalu perintahnya lagi, “Bawa dia!”
Sebagai dua Kekasih Utama Ki Daraki, Sumirah dan Titin Susina segera melaksanakan perintah Ki Daraki. Kemuning tidak melakukan perlawanan saat kedua lengannya dicekal oleh Sumirah dan Titin Susina.
“Kau akan menyesal jika berbuat jahat kepadaku, Ki!” teriak Kemuning kepada Ki Daraki yang berdiri di tengah-tengah lingkaran yang sudah tidak rapi.
“Sebelum aku menyesal, kau yang lebih dulu akan menyesal!” balas Ki Daraki.
Sumirah lalu menotok beberapa titik pada tubuh Kemuning. Tujuannya agar Kemuning tidak melawan saat digelandang ke gua terlarang.
Ditangkapnya Kemuning membuat Bangirayu yang bersama Tirana dilanda ketegangan.
“Bersikaplah tenang atau kau akan terbaca oleh Ki Daraki,” bisik Tirana sepelan mungkin kepada Bangirayu.
Bisikan itu membuat Bangirayu berusaha mengendalikan emosinya.
“Asih Marang! Tangkap Sedap Malu!” perintah Ki Daraki lagi.
Alangkah terkejutnya gadis tercantik di desa itu mendengar perintah Ki Daraki yang menargetkannya.
Dak!
“Harus aku bawa ke mana Sedap Malu, Ki?” tanya Asih Marang yang sudah mengangkat panggul tubuh Sedap Malu.
“Biarkan Karani yang membawanya ke gua terlarang,” kata Ki Daraki.
Sebelumnya, Ki Daraki tiba-tiba memiliki ide untuk menangkap Sedap Malu dengan dalih bahwa ia adalah kekasih Sudarka pemberontak.
Karani segera mendatangi Asih Marang dan mengambil alih tubuh Sedap Malu.
“Kau membuatku bisa menemukan siapa orang-orang yang merencanakan kejadian ini, Joko,” kata Ki Daraki seraya tersenyum lebar kepada Joko.
Bermodal perkataan Joko Tenang sebelumnya, Ki Daraki kemudian mempunyai ide untuk mengetes Kemuning. Selama ini ia melihat ada gelagat mencurigakan dari kekasih mungilnya itu.
Joko Tenang hanya tersenyum, ia sudah berhenti makan.
“Yang kau lakukan berisiko salah orang,” kata Joko Tenang.
“Itu cara yang harus aku ambil agar aku tidak terlihat dipecundangi di depan wargaku,” kata Ki Daraki.
“Sedap Malu!” teriak Sudarka saat melihat kekasihnya dibawa dalam kondisi pingsan.
Namun, Sudarka tidak bisa berbuat apa-apa. Tiga orang yang mengeroyoknya adalah tiga pemuda andalan. Sejak tadi pertarungan berlangsung seimbang.
__ADS_1
“Mak Gandur, periksa makanan apa saja yang diracuni dan lacak siapa yang berani menaruh racun!” perintah Ki Daraki kepada wanita tertua di desa itu.
“Baik!” sahut seorang wanita muda bertubuh agak gemuk. Rambutnya ia ikat satu menggunakan pita biru terang, sewarna dengan baju dan sarungnya. Ia adalah Mak Gandur, wanita tertua di desa itu yang awet muda.
Dum! Dum!
Terdengar suara dua peraduan tenaga dalam saat pukulan tinju Tudurya dan Satikwa masuk bersamaan. Kemarahannya yang memuncak membuat Sudarka tidak mau bertarung berlarut-larut. Ia pun mengadu dua tinju bertenaga dalam itu dengan Tinju Hentak Remuk miliknya.
“Akh!” pekik Tudurya dan Satikwa bersamaan, saat merasakan tulang lengan kanan mereka serasa remuk di dalam daging.
“Hiaat!” pekik Tungkur Wagi yang sudah melompat dari sisi belakang sambil menghentakkan sebulat sinar merah.
Broakr!
Lantai papan panggung hancur dihantam bola sinar merah Tungkur Wagi karena Sudarka telah lebih dulu berkelebat turun dari panggung.
“Sedap Malu!” teriak Sudarka sambil berkelebat hendak mengejar Karani yang membawa tubuh kekasihnya.
Slap!
Tiba-tiba Ki Daraki menghilang dari dekat Joko berdiri dan tahu-tahu muncul menghadang Sudarka di udara.
Wess!
Satu sinar kuning berkiblat cepat menyerang Sudarka yang hanya bisa menahan dengan silangan kedua tangan di depan dada. Tubuh Sudarka terlempar kencang lalu jatuh di tanah berumput.
“Ki Daraki, selama ini aku setia kepadamu, tetapi kau justru memperlakukanku seperti ini!” gusar Sudarka yang mulutnya telah berlumur darah.
“Sudah waktunya kau beristirahat!” desis Ki Daraki seraya tersenyum sinis.
“Apakah ini tipu muslihatmu untuk merebut Sedap Malu dariku? Sungguh licik kau, Ki Daraki!” tukas Sudarka.
“Hahaha!” Ki Daraki hanya tertawa rendah mendengar tudingan Sudarka.
“Jika aku harus berpisah dengan Sedap Malu, maka kau pun tidak akan aku biarkan memilikinya!”
Bruss!
Sudarka menghentakkan kedua lengannya dengan telapak terbuka menghadap ke langit. Selanjutnya kedua lengan itu diselimuti sinar biru terang berhawa dingin menusuk.
“Kakang, mereka mengharapkan bantuan kita untuk kebebasannya,” ujar Tirana kepada Joko. Di saat situasi sedang kacau, Tirana memanfaatkan waktu untuk berdiskusi singkat dengan calon suaminya.
“Kita tidak ada alasan untuk membantu. Kita harus mengejar Pedang Angin secepat mungkin,” kata Joko.
“Bangirayu, gadis yang bersamaku, dia curiga bahwa pemimpin Kelompok Pedang Angin memberikan seorang wanita kepada Ki Daraki agar bisa lewat Jalan Lubang Cahaya hari itu juga,” kata Tirana.
Perkataan Tirana membuat Joko yang memandang kepada pertarungan jadi memandang wajah cantik calon istrinya. Ia langsung mencocokkan perkataan Tirana dengan keterangan dari Tudurya mengenai tiga tandu tertutup yang dibawa Kelompok Pedang Angin.
__ADS_1
“Mungkinkah Ginari atau Ratu ada di sini?” ucap Joko lirih, menatap serius Tirana. (RH)