
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
“Jamuan Kampung Kubur memang sangat istimewa dan enak. Alangkah bagusnya jika bubur kacang kehidupan menjadi makanan pagi para pejabat dan prajurit di Kerajaan Sanggana Kecil,” puji Permaisuri Sandaria setelah menghabiskan bubur kacang kehidupan dan minuman kencur dimadunya.
“Hahaha!” tawa Pangeran Kubur yang juga sudah menghabiskan makanan dan minumannya, tentunya bubur yang dimakan lelaki tua itu adalah bubur baru.
Sebelumnya Pangeran Kubur sempat menawarkan kepada para pendekar pengikutnya, bagi siapa yang tidak percaya bahwa di dalam makanan pemimpin mereka ada racun, agar mau memakan bubur itu.
Namun, tidak ada seorang pun yang menawarkan diri untuk berani memakan bubur itu.
“Berarti kalian semua yakin bahwa makananku telah diracuni,” kata Pangeran Kubur kepada para pengikutnya saat itu. Ia lalu melempar mangkuknya begitu saja agak jauh ke samping, ke depan sebuah rumah.
Sejumlah ayam peliharaan lalu segera berebut untuk mematoki bubur yang tercecer di tanah.
“Bagaimana mungkin seorang permaisuri bisa menjadi seorang utusan?” tanya Pangeran Kubur yang nadanya semakin bersahabat kepada Permaisuri Sandaria.
“Kerajaan Sanggana Kecil adalah kerajaan baru dan kecil yang dirajai oleh seorang prabu yang juga seorang pendekar sakti, yaitu Prabu Dira Pratakarsa Diwana, murid dari Ki Ageng Kunsa Pari dan Tiga Malaikat Kipas….”
“Apa?!” pekik Pangeran Kubur sehingga memotong penjelasan sang permaisuri.
Sebagai seorang tokoh dunia persilatan yang sudah berusia matang, nama Ki Ageng Kunsa Pari bukanlah nama asing di dalam memori hidupnya. Ia pun sangat tahu siapa adanya pemilik nama Tiga Malaikat Kipas.
Permaisuri Serigala sengaja memunculkan nama kedua guru suaminya karena menilik status Pangeran Kubur dan usianya. Rasanya sulit mencari tokoh dunia persilatan usia tua yang tidak mengenal Ki Angeng Kunsa Pari dan Tiga Malaikat Kipas. Dengan maksud untuk mempersingkat diplomasi agar tidak bertele-tele, Permaisuri Sandaria menyebutkan dua nama besar itu agar Pangeran Kubur tidak banyak pertimbangan dan keraguan.
Sementara itu, lima ekor ayam yang tadi berebut sarapan bubur kacang kehidupan, justru seperti makan bubur kacang kematian. Mereka mati semua dengan paruh dan hidung berbusa.
“Prabu Dira pada hari ini akan resmi memiliki tujuh orang permaisuri sakti….”
“Tujuh orang?” sebut ulang Pangeran Kubur dengan mimik serius seolah tidak percaya.
“Benar, Pangeran. Aku tidak mungkin berdusta. Aku adalah Permaisuri Keenam,” tandas Permaisuri Sandaria.
“Cek cek cek!” Pangeran Kubur berdecak sambil geleng-geleng kepala.
“Karena kami sangat kekurangan prajurit, perwira dan pejabat, jadi untuk sementara beberapa posisi jabatan dipegang oleh para permaisuri, termasuk aku,” jelas Permaisuri Serigala.
“Hemm!” gumam Pangeran Kubur sambil manggut-manggut seolah berpikir. Lalu tanyanya, “Lalu maksud apa Yang Mulia Permaisuri bawa sehingga datang ke wilayah kekuasaanku?”
“Aku membawa pesan dari Prabu Dira teruntuk Pangeran. Pesan itu berupa penawaran. Karena beberapa pengikut Pangeran telah melanggar, menyusup dan bermaksud menyerang Kerajaan, jadi ada tiga penawaran yang Prabu Dira berikan kepada Pangeran….”
__ADS_1
“Apa saja itu?” tanya Pangeran Kubur serius. Rasa curiga dan dugaan negatifnya sudah muncul di dalam pikirannya.
“Tawaran pertama adalah Pangeran dan para pengikut Pangeran menjadi musuh bagi Kerajaan. Dengan demikian, kita akan berseteru dan akan saling membunuh untuk menaklukkan. Tawaran kedua adalah bertetangga dengan damai tanpa saling mengusik atau menyerang. Namun, seluruh wilayah Gunung Prabu bebas dilalui oleh prajurit Kerajaan dengan aman. Sebaliknya, orang Gunung Prabu dilarang memasuki wilayah Kerajaan. Ketiga adalah tawaran untuk mengabdi pada Raja dan Kerajaan Sanggana Kecil, yang artinya seluruh Gunung Prabu menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan. Prabu Dira pun akan menawarkan satu jabatan bagi Pangeran jika mau menyerahkan seluruh Gunung Prabu kepada Kerajaan,” tutur Permaisuri Sandaria yang diakhiri dengan senyuman.
Terdiamlah Pangeran Kubur sambil menatap tajam wanita bertubuh kecil di seberang meja itu. Sementara para pendekar yang mendengar tiga tawaran itu menjadi riuh berbasak-bisik.
“Ketiga tawaran tidak ada yang menguntungkan!”
“Daripada kita diperbudak, lebih baik kita melawan. Kita yang lebih dulu ada di gunung ini!”
“Raja itu terlalu congkak!”
“Tapi orang-orang kerajaan itu begitu sakti!”
“Dengar saja tadi, tawaran kedua, mereka boleh menginjak wilayah kita, tetapi kita tidak boleh masuk wilayahnya!”
“Ini tawaran yang tidak adil!”
“Ketua seharusnya mengajak kita berunding!”
“Kita tangkap saja permaisuri ini lalu jadikan sandera!”
“Melawan serigalanya saja mungkin kita akan mati!”
“Tentunya Pangeran membutuhkan waktu untuk memilah dan memilih. Aku mohon izin, Pangeran,” kata Permaisuri Sandaria lalu berdiri dari duduknya. Lalu kemudian ia kembali berpesan, “Tapi ingat, Pangeran, jika dalam tiga hari tidak ada jawaban yang sampai ke Istana, maka kami akan memburu orang-orang Gunung Prabu. Kelima pengikutmu yang kini berada di penjara cukup sebagai alasan tanda permusuhan.”
Mendeliklah Pangeran Kubur mendengar ancaman tersebut. Belum lagi ia berkata menanggapi ancaman itu, tiba-tiba Permaisuri Sandaria lenyap dari posisinya. Tahu-tahu ia sudah duduk di punggung serigala berbulu hitam yang bernama Satria.
Pangeran Kubur dan para pengikutnya hanya bisa terkejut.
Cring!
Permaisuri menggerakkan gelang lonceng pada kalung di leher Satria. Dan selanjutnya….
Bukan hanya Permaisuri Sandaria dan kelima serigalanya yang menghilang begitu saja seperti hantu, tetapi kedua Pengawal Bunga dan seluruh prajurit biasanya turut menghilang, seolah menjadi satu paket.
Hal itu membuat mereka semakin terkejut karena untuk satu permaisuri saja saktinya sudah seperti itu, bagaimana kalau tujuh permaisuri kumpul semua.
“Manik Cahaya, Setan Kesurupan, Tukang Tanam, Bala Bala!” teriak Pangeran Kubur memanggil keempat orang utamanya.
Empat orang segera datang berkumpul di hadapan Pangeran Kubur yang tetap duduk di kursinya.
__ADS_1
Cring!
Sementara itu, Permaisuri Sandaria dan rombongannya tahu-tahu muncul di pinggiran hutan Kerajaan Sanggana Kecil, didahului dengan terdengarnya suara lonceng yang nyaring.
“Hormat hamba, Yang Mulia Pemaisuri Keenam!” ucap empat prajurit penjaga perbatasan, serentak sambil berlutut menjura hormat.
“Bangunlah!” perintah Permaisuri Sandaria.
Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan pulang dengan memasuki hutan.
Sementara di ruang pernikahan.
“Kekasihku, Kusuma Dewi, bersediakah kau menjadi istriku mulai saat ini?” ucap Prabu Dira lantang, bertanya kepada Kusuma Dewi yang tampil jelita dengan busana serba merah.
“Ya!” jawab Kusuma Dewi agak lirih, tetapi jelas terdengar oleh semua hadirin, membuat sebagian besar dari mereka tersenyum lebar. “Aku bersedia menjadi istrimu yang setia, Prabu Dira Pratakarsa Diwana, hingga maut memisahkan kita. Aku berjanji akan meningkatkan kesaktianku agar bisa layak sebagai istrimu!”
“Hahaha!” tertawa bijaklah Prabu Dira mendengar kalimat akhir Kusuma Dewi, membuat gadis cinta pertama Joko Tenang itu tersenyum malu dengan wajah putihnya yang memerah. Prabu Dira lalu mengucapkan janjinya, “Aku bersumpah, disaksikan oleh para istriku, adikku, mertuaku, para perwira serta prajurit dan para dayang, akan memperlakukan Kusuma Dewi sebagai istriku dengan penuh kasih dan cinta. Dan aku berjanji akan berusah sekuat tenaga memberikan kebahagiaan di medan tarung dan di segala medan!”
“Bagaimana, Yang Mulia Ratu dan para Permaisuri?” tanya protokol pernikahan.
“Sah!” jawab Ratu Getara Cinta dan ketiga permaisuri lainnya.
“Saaah! Hihihi!” teriak Permaisuri Sandaria yang tiba-tiba muncul di samping posisi Prabu Dira dan Kusuma Dewi. Ia lalu tertawa cekikikan sendiri.
Kemunculan Permaisuri Sandaria yang langsung berteriak “sah” setelah yang lainnya berkata “sah”, jelas mengejutkan kedua pengantin dan saksi. Masih untung dia muncul sendirian, tidak bersama kelima serigala dan rombongannya.
“Hihihi…!” Putri Sagiya tertawa melihat insiden nakal Permaisuri Sandaria.
Ratu Getara Cinta hanya tersenyum sambil geleng-gelengkan kepala. Permaisuri Tirana hanya tersenyum melihat tingkah madunya yang satu itu. Permaisuri Mata Hati tanpa ekspresi dan komentar. Permaisuri Kerling Sukma hanya mendelik melihat kemunculan Permaisuri Serigala, yang menunjukkan bahwa tugasnya di Gunung Prabu telah selesai.
“Hmm cantiknya! Hihihi!” puji Permaisuri Sandaria sambil mencubit kedua pipi Kusuma Dewi.
Kusuma Dewi hanya bisa tersenyum mengerenyit. Sementara itu, Permaisuri Sandaria buru-buru berjalan meninggalkan pengantin sambil tertawa-tawa. Ia segera begabung bersama para madunya.
Prabu Dira hanya bisa tersenyum mengelus dada mendapat gurauan dari istri mungilnya.
“Mulai saat ini, kau aku beri gelar Permaisuri Ketujuh dan Permaisuri Pedang!” seru Prabu Dira lantang kepada Kusuma Dewi.
“Terima kasih, Kakang Prabu,” ucap Kusuma Dewi lalu bergerak berlutut menghormat di depan kaki suaminya. (RH)
***************
__ADS_1
Prabu Dira Pratakarsa Diwana sudah punya 7 Permaisuri.
AYO TULIS! Permaisuri mana yang menjadi idolamu?