Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 3: Mengubur Ginari


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


“Nama ibumu adalah Ningsih Dirama. Setahuku ia masih hidup. Adapun di mana dia dan dengan siapa, hanya ayahmu yang tahu. Namun, beberapa kali ayahmu menemuiku sejak kau dititipkan padaku, dia tidak pernah menyinggung tentang ibumu. Bahkan menyebut namanya pun tidak,” tutur Ki Ageng Kunsa Pari.


Joko Tenang hanya terdiam mendengar pengungkapan gurunya tentang ibunya.


“Seperti janjimu tadi, kau harus mendahulukan urusan yang penting dulu, baru kemudian kau bisa mencari misteri ibumu,” kata Ki Ageng Kunsa Pari lagi.


“Iya, Guru,” ucap Joko Tenang sambil mengangguk, meski terlihat ada beban pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya. “Aku akan mencari tahu tentang Ibu setelah bertemu dengan Ayah.”


“Aku tidak akan ikut denganmu pergi ke kediaman Ranggasewa, aku harus segera datang ke Sanggana memenuhi panggilan Gusti Mulia Anjas. Dan Goceng ikut denganku. Aku sarankan kau agar menikah di kediaman Ranggasewa. Mungkin itu bisa menghiburnya karena kehilangan murid kesayangannya,” ujar Ki Ageng Kunsa Pari.


“Baik, Guru.”


“Oh ya, apakah kau bertemu dengan Tiga Malaikat Kipas?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari.


“Aku bertemu.”


“Apakah dia mengangkatmu menjadi murid?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari cepat.


“Iya.”


“Ilmu apa yang diturunkannya kepadamu?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari lagi, benar-benar ingin tahu.


“Putih Raga, Hijau Raga, dan Merah Raga.”


“Kau sangat beruntung Joko.”


“Guru yang membuatku beruntung. Jika bukan Guru yang memberi masukan kepada ketiganya, tidak mungkin aku dicari.”


“Hehehe! Aku tahu kau adalah murid unggulan. Siapa dulu guru pertamanya?” kata Ki Ageng Kunsa Pari bangga.


“Padahal baru saja guru marah-marah kepadaku,” dumel Joko Tenang.


“Hehehe,” kekeh orang tua itu. “Tapi sayang, Joko. Semua kesaktianmu akan terkunci setelah kau menikah.”


“Jika Guru meragukan kesaktian calon istriku, Guru bisa jajal ilmu mereka,” kata Joko Tenang.


“Hahaha, tidak perlu. Itu akan mempermalukan aku saja sebagai orang tua. Ratu Getara Cinta dan prajurit pilihan langsung dari Gusti Mulia, tentu mereka bukan wanita yang khusus untuk di dapur atau memomong anak,” kata Ki Ageng Kunsa Pari.


“Joko, liang lahatnya sudah selesai!” teriak Goceng dari dalam lubang galian.

__ADS_1


Guru dan murid itu segera bangkit dari duduknya di tanah berpasir.


Dari sisi lain, Getara Cinta melangkah mendekati lubang dengan membawa tubuh Ginari yang sudah dibungkus rapi dan utuh dengan kain warna cokelat.


Mereka semua mendekat ke liang lahat. Tidak ada yang bersuara. Kesedihan kembali merasuki hati-hati dan pikiran mereka.


“Tunggu sebentar!” kata Joko Tenang kepada Getara saat calon istrinya itu hendak menyerahkan jasad Ginari kepada Goceng.


Joko Tenang maju dengan cepat. Tangannya cepat pula menyingkap sedikit kain penutup pada wajah Ginari.


Cup!


Cepat dan singkat. Joko Tenang memberikan kecupan terakhir pada kening Ginari. Setelah itu ia kembali mundur sebelum menjadi lemah.


Getara Cinta kemudian menyerahkan jasad Ginari kepada Goceng yang ada dibawah. Goceng menerimanya dengan hati-hati lalu meletakkannya ke bumi dengan hati-hati pula. Ia lalu menutupi jasad itu dengan potongan-potongan bambu, agar ketika dikubur jatuhan tanah tidak menyakiti fisik si mayat.


Goceng kemudian melompat naik.


“Kuburlah Joko!” kata Ki Ageng Kunsa Pari.


Sambil meneteskan air mata, Joko Tenang memungut sekepal tanah liat dan melemparkannya pelan ke atas tatanan bambu. Selanjutnya, ia mengambil cangkul dan menguruk sendiri lubang kuburan itu.


Tirana dan Getara Cinta turut bersedih kembali melihat orang yang mereka cintai telah dikubur. Air mata mereka juga menetes.


“Semoga perjalananmu ke alam lain lebih menyenangkan,” ucap Getara Cinta pula.


Goceng pun membantu menguruk dengan alat kayu.


Akhirnya, terciptalah satu buah makam di Bukit Gluguk, di saat bukit itu akan ditinggalkan oleh penghuninya.


Waktu perpisahan pun tiba dan senja pun mulai menguning di barat jauh.


“Getara Cinta, aku titipkan murid kesayanganku kepadamu. Sebab, sebentar lagi dia akan menjadi lelaki yang harus dilindungi,” pesan Ki Ageng Kunsa Pari kepada Getara Cinta.


“Aku akan selalu mengingat kata-kata Paman Kunsa,” kata Getara Cinta.


“Dan kau, Tirana. Kau adalah komandan dalam misi Delapan Dewi Bunga ini. Pilihkan istri-istri yang terbaik untuk pangeranmu,” pesan Ki Ageng Kunsa Pari pula kepada Tirana.


“Baik, Ki Ageng,” ucap Tirana seraya tersenyum.


“Hamba mohon pamit, Yang Mulia Pangeran,” ucap Ki Ageng Kunsa Pari sambil berlutut dengan kaki kanan, sementara kedua telapak tangan menempel di depan dahi yang menunduk dalam.

__ADS_1


Melihat gurunya menghormat serius, Goceng buru-buru ikut menghormat dan mencontoh posisi tubuh gurunya. Tindakan Goceng hampir membuat Joko tertawa, tapi membuat Getara dan Tirana tertawa rendah.


“Bangunlah, Guru. Tolong sampaikan salamku kepada Ayahanda. Setelah urusanku selesai, aku akan membuat perhitungan kepadanya,” ujar Joko.


Mendelik Ki Ageng Kunsa Pari mendengar kata-kata terakhir Joko.


“Perhitungan yang tidak sampai memutuskan tali darah ayah dan anak,” tambah Joko, membuat Ki Ageng Kunsa Pari lega.


“Kau selalu mengejutkanku, Joko,” keluh Ki Ageng Kunsa Pari.


Joko Tenang hanya tersenyum mendengar kata-kata gurunya. Ia lalu mengajak Tirana dan Getara pergi.


“Ayo, Sayang!” ajak Joko lembut kepada kedua bidadarinya.


Tirana berpaling memandang Getara Cinta seraya tersenyum. Mantan ratu itupun telah tersenyum. Dengan rasa bahagia, keduanya segera melangkah menuju ke tempat pernikahan mereka, yaitu di kediaman Ki Ranggasewa.


Joko Tenang, Getara Cinta dan Tirana pergi menuruni Bukit Gluguk. Sementara Ki Ageng Kunsa Pari dan Goceng pergi menuruni bukit ke arah yang lain.


Bukit Gluguk kini kosong oleh kehidupan manusia, yang tersisa tinggallah reruntuhan gubuk dan kuburan yang tanahnya masih merah.


Maka ketika gelap menyelimuti alam, bukit itupun menggelap. Biasanya, masih ada satu cahaya dian di dalam gubuk. Malam ini, api dian itu sudah tamat riwayatnya.


Meski demikian, suara hewan malam masih sesekali terdengar, seperti jangkrik dan burung malam. Suara dedaunan pohon yang ditiup angin malam terdengar jelas.


Cesss!


Tiba-tiba di antara bunyi-bunyi alam di malam itu, terdengar suara yang mirip desakan udara pada satu lubang yang sempit. Suaranya terdengar cukup nyaring.


Seiring itu, gumpalan asap hijau menyembur dari dalam tanah merah kuburan Ginari. Asap yang menyembur kencang seolah ditiup dari dalam tanah makam.


Greg!


Tiba-tiba terdengar suara aneh, seperti suara retakan benda padat dan besar. Di saat yang bersamaan, bukit itu terhentak kecil seperti ada yang menggoyang, sekali goyangan saja.


Selanjutnya, suara hewan malam tiba-tiba berhenti sunyi, kecuali suara dedaunan yang tertiup angin.


Bluar!


Mengejutkan. Tanah merah makam yang masih lembab tiba-tiba meledak hebat. Tanah berhamburan laksana puncak gunung yang meletus dalam satu kali letupan.


Hujan tanah terjadi sejenak di dalam kegelapan yang hanya bercahaya langit yang sudah hampir menghitam.

__ADS_1


Kini kuburan itu berlubang besar. Ada cahaya hijau yang menyala dari dalam liang lahat. Namun, entah apa? (RH)


__ADS_2