
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Gatri Yandana bersama puluhan murid Perguruan Tiga Tapak berseragam hijau-hijau telah berdiri menunggu di depan gerbang utama ketiga, gerbang benteng bambu perguruan. Bersama Gatri Yandana berdiri Obang Kenari dan Tembas Rawa.
Obang Kenari adalah nenek berambut putih berpakaian serba hitam. Ia adalah tabib di perguruan tersebut. Tembas Rawa adalah seorang lelaki yang usianya sudah di atas tiga puluh tahun, mungkin empat puluh. Ia adalah murid utama di perguruan itu.
Para murid sudah membentuk dua barisan yang saling berhadapan dengan dipisahkan oleh sebuah jalan tepat di depan Gatri Yandana.
Pedati yang ditarik oleh dua ekor kuda sudah terlihat dan berlari sedang menuju kepada mereka yang ramai menunggu.
Wajah Gatri Yandana tampak sumringah dengan senyum yang tanggung, menunjukkan ketidaksabaran untuk melihat wujud dewasa putrinya, yang kata Sigangga semakin cantik.
“Siapa lelaki yang bersama Ketua itu?” tanya Obang Kenari kepada Gatri Yandana.
Mereka sudah bisa melihat keberadaan Jaga Manta sebagai Ketua Perguruan Tiga Tapak dan sosok Helai Sejengkal yang duduk di posisi kusir.
“Orang yang disamping Ketua itu adalah perempuan cantik, Nyi,” kata Tembas Rawa meluruskan pandangan Obang Kenari yang bengkok.
“Hah!” kejut Obang Kenari dan Gatri Yandana bersamaan.
“Putriku berubah jadi aneh seperti itu?” ucap Gatri Yandana tiba-tiba merasa syok, ia tidak percaya jika Kerling Sukma berubah drastis.
“Dewi Mata Hati telah memaksa Sukma mengikuti gaya rambutnya!” kata Obang Kenari pula.
“Ibu Guru Kedua, itu bukan Kerling Sukma. Coba perhatikan baik-baik,” kata Tembas Rawa.
Gatri Yandana dan Obang Kenari mencoba lebih memfokuskan dan menajamkan penglihatannya kepada sosok di sisi Jaga Manta. Semakin dekatnya jarak pedati juga membuat apa yang mereka lihat semakin jelas.
Mereka pun bisa melihat keberadaan dua orang lain yang duduk di gerobak pedati. Namun, mereka bisa memastikan bahwa kedua orang lainnya bukanlah Kerling Sukma, melainkan seorang nenek tua dan wanita cantik berparas dewasa.
“Di mana Sukma? Aku tidak melihatnya,” kata Gatri Yandana, senyumnya berubah jadi kebingungan.
“Iya, tidak ada Adik Sukma,” kata Tembas Rawa pula, menguatkan perkataan Ibu Guru Kedua.
“Hormat kami, Ketua!” seru serentak puluhan orang murid yang berbaris setelah mendapat aba-aba dari seorang murid utama. Mereka setengah membungkuk sambil tangannya menjura hormat.
Penghormatan itu mereka lakukan saat pedati kuda telah tiba di depan mereka.
Gatri Yandana, Obang Kenari dan Tembas Rawa memilih menunggu. Awalnya Gatri Yandana berniat langsung menjemput putrinya sebelum turun dari pedati, tetapi nyatanya Kerling Sukma tidak ada.
Semakin jelas pula mereka melihat wajah-wajah wanita yang dibawa Jaga Manta dalam satu pedati. Gatri Yandana dan Obang Kenari hanya mengenal Nyi Lampingiwa karena tokoh sakti itu pernah datang meminjam sebuah pusaka milik Sangar Hentak, mendiang Ketua Perguruan Tiga Tapak atau ayah dari Jaga Manta.
__ADS_1
Jaga Manta turun bersama Helai Sejengkal yang langsung mengembangkan senyum kepada Gatri Yandana dan para tetua. Getara Cinta dengan telaten membantu Nyi Lampingiwa turun dari gerobak pedati. Ia lalu menyusul menemui Gantri Yandana dan lainnya.
“Hormat Ananda, Ibu Kedua!” ucap Jaga Manta kepada Gatri Yandana.
“Tadi Sigangga melaporkan kedatangan adikmu Kerling Sukma, kenapa tidak ada?” tanya Gatri Yandana. Namun, belum juga Jaga Manta menjawab, Gatri Yandana sudah mengumpat kesal, “Sigangga kurang diajar! Aku juga bodoh pakai percaya dengan laporannya yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Sukma yang ada di Jurang Patah Hati bisa bertemu denganmu yang sedang pergi ke kediaman Nyi Lampingiwa?”
Jaga Manta, Getara Cinta dan Helai Sejengkal hanya tersenyum mendengar gerutuan Gatri Yandana.
“Ah, tidak pantas aku mengumpat di saat ada tamu yang datang,” kata Gatri Yandana seraya cepat tersenyum, mengabaikan kekesalannya.
“Ibu!” sebut satu suara nan lembut tiba-tiba yang begitu dekat di telinga Gatri Yandana, seiring satu pipi mulus datang dari belakang menempel di pipi. Dua tangan juga muncul dari belakang Gatri yang melingkar di perut. Saat itu juga Gatri merasakan ada tubuh wanita yang menempel di punggungnya. Memeluknya kencang.
Gatri Yandana terkejut bukan main. Sejenak ia terdiam terpaku, seolah membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh wanita di belakangnya itu.
Seolah tersadar, Gatri Yandana cepat menengok ke samping sambil agak menarik kepalanya guna memberi jarak dengan wajah yang menumpang di bahu kanannya.
Wajah nan cantik jelita bermata hijau terang itu hanya tersenyum lebar melihat reaksi Gatri Yandana.
“Hihihi! Sukmaaa!” pekik Gatri Yandana kencang karena begitu gembiranya.
Gatri Yandana langsung berbalik dan memeluk kencang putrinya yang ternyata lebih besar dari yang dulu. Ia bahkan menciumi wajah putri kandung sematawayangnya itu beberapa kali karena begitu bahagia dan bersyukurnya.
“Hihihi!” Kerling Sukma pun tertawa menghadapi kebagahagiaan ibunya, hingga-hingga ia gelagapan.
Setelah memeluk dan menciumi Kerling Sukma, Gatri Yandana belum juga melepaskan putrinya. Ia pegang erat kedua lengan putrinya dan memandangi wajahnya jelita itu dengan dalam, seolah sedang mencoba menghapal inci per inci bentuk wajah gadis bermata hijau itu.
“Ehhem! Sepertinya aku tidak kebagian jatah pelukan,” celetuk Obang Kenari sambil memandang ke arah lain.
Mendengar perkataan Obang Kenari, Gatri Yandana jadi tertawa. Ia akhirnya melepaskan Kerling Sukma. Barulah Kerling Sukma beralih memeluki Obang Kenari, orang yang pertama menyentuh dan menggendongnya ketika pertama lahir ke dunia.
“Sepertinya Obang tambah sehat saja, pelukannya tambah kuat,” kata Kerling Sukma saat merasakan pelukan si nenek.
“Hehehe!” terkekehlah Obang Kenari mendengar kata-kata Kerling Sukma. Ia kemudian melepas pelukannya dan menyeka sebulir air bening pada sudut mata tuanya. “Apakah Dewi Mata Hati melatihmu dengan sangat keras?”
“Tidak, Obang. Guru justru sangat menyayangiku, lebih sayang daripada kepada murid-muridnya yang lain,” jawab Kerling Sukma seraya tersenyum menyejukkan perasaan si tabib.
Kerling Sukma lalu beralih kepada Tembas Rawa.
“Kakang Tembas!” sapa Kerling Sukma kepada Tembas Rawa.
“Wah sayang, aku tidak bisa memeluk,” ucap Tembas Rawa seraya tertawa kecil.
__ADS_1
“Hihihi! Jika aku perbolehkan, nanti calon suamiku bisa marah besar,” balas Kerling Sukma juga berseloroh.
Jlegerr!
Laksana mendengar petir di siang terik. Kata “calon suamiku” seketika mengejutkan Gatri Yandana dan Obang Kenari.
“Calon suami? Calon suami apa, Sukma? Kau belum pulang selama ini, kenapa tiba-tiba ada calon suami?” tanya Gatri Yandana dengan alis bertaut serius.
“Nanti aku ceritakan di dalam, Ibu,” ucap Kerling Sukma lembut. “Nah, perkenalkan, ini namanya Helai Sejengkal, calon istrinya, Kakang Jaga.”
“Hah!” pekik Jaga Manta dan Helai Sejengkal bersamaan, terkejut saat Kerling Sukma memperkenalkan gadis berambut pendek.
“Tidak seperti itu, Ibu Kedua. Kami berdua tidak ada kesepakatan. Kami berdua masih masa-masa malu-malu,” bantah Jaga Manta cepat.
“Umurmu itu sudah hampir kepala empat, memalukan kalau masih masa malu-malu!” kata Obang Kenari.
Jaga Manta hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Obang Kenari.
“Dan ini Ratu Getara Cinta,” kata Kerling Sukma lagi memperkenalkan Getara Cinta.
Melebar serentak lingkar mata mereka mendengar nama Getara Cinta ada embel-embel “ratu”-nya.
“Hormat kami, Yang Mulia Ratu!” ucap Gatri Yandana sambil segera turun berlutut menjura hormat.
Tindakan Gatri Yandana itu segera diikuti oleh Obang Kenari dan seluruh murid Perguruan Tiga Tapak. Kondisi itu membuat Getara Cinta jadi bingung karena ia sekarang bukan lagi seorang ratu dan tidak memiliki kerajaan.
“Bangunlah kalian semua!” kata Getara Cinta.
Gatri Yandana dan yang lainnya segera bangkit kembali.
“Dan ini adalah….”
“Kami sudah mengenalnya, Sukma,” kata Gatri Yandana memotong perkataan Kerling Sukma saat hendak memperkenalkan Nyi Lampingiwa.
“Hehehe!” kekeh Nyi Lampingiwa.
“Bagaimana kabarmu, Lampingiwa?” tanya Obang Kenari sambil menghampiri Nyi Lampingiwa yang berdiri di sisi Getara Cinta.
“Hehehe! Aku baik-baik saja, Obang,” jawab Nyi Lampingiwa seraya tertawa.
“Ibu Kedua, baiknya kita berbincang lebih banyak di dalam,” ujar Jaga Manta.
__ADS_1
“Mari, Ketua!” kata Gatri Yandana sambil bergeser membuka jalan agar Jaga Manta sebagai ketua perguruan berjalan masuk lebih dulu. (RH)