
*Arak Kahyangan*
Hanya kemarahan yang bisa dilampiaskan oleh Ratu Aswa Tara. Dalam hati ia mengakui kecerobohannya karena telah membokong Joko Tenang. Ia tidak tahu bahwa Joko Tenang ternyata kebal.
Kepungan ratusan prajurit elitnya pun tidak bisa berbuat banyak untuk menangkapnya.
Set! Crek!
Joko Tenang agak terkejut melihat alat besi yang di operasikan prajurit Ratu Aswa Tara. Senjata besi besar seperti terkaman gigi binatang raksasa yang menganga lebar melesat cepat hendak menerkam tubuh Joko. Kesigapan Joko membuatnya sanggup menghindari terkaman senjata besar itu. Setelah menerkam dan menangkap ruang kosong, senjata itu tertarik mundur kembali dengan cepat ke sarangnya. Senjata itu ditautkan dengan rantai besar yang bisa digulung cepat oleh mesin di sarangnya.
Set! Press! Bluarr! Broakr!
Alat penangkap serupa kembali menyerang Joko dari arah lain. Meski besar dan berat, tetapi lesatannya sangat cepat, bisa membuat pendekar kelas menengah sulit menghindari tangkapannya. Namun, kali ini Joko tidak menghindar, melainkan langsung mengadunya dengan sinar putih menyilaukan. Ilmu Surya Langit Jagad yang memiliki kekuatan dahsyat langsung menghancurkan senjata besi besar itu. Hebatnya, sinar putih Joko tidak turut hancur, tetapi terus melesat cepat menghancurkan sarang senjata berikut dua prajurit yang mengoperasikannya.
“Gila!” ucap Ratu Aswa Tara yang melihat perlawanan Joko dari jauh.
“Biar aku turun tangan, Yang Mulia Ratu,” kata Pina Pima yang berdiri di dekat Ratu Aswa Tara.
“Serang!” teriak para prajurit beramai-ramai merangksek maju menyerang Joko.
“Ciaat!”
Wusss!
Sebelum ada serangan salah satu prajurit yang mendekat sampai tiga langkah, Joko Tenang telah mengibaskan kedua lengannya memutar. Hasilnya, dari satu titik, yakni Joko Tenang, berhembus angin laksana badai dahsyat ke segala penjuru.
Seluruh prajurit yang mengepung Joko Tenang berterbangan jauh dengan bermacam-macam kondisi. Ada yang tertiup terbang lalu berguling-gulingan ke sisi tembok yang jauh, ada pula yang terbang menghantam tiang dan dinding ruangan. Semua benda tertiup rusak dan berantakan. Semua senjata besi besar yang bisa melesat jauh itu tertiup berguling-guling hingga rusak bersama sarang-sarangnya.
__ADS_1
Ratu Aswa Tara dan Pina Pima yang posisinya jauh dari pengepungan turut terlempar ke dalam ruangan bertirai milik ratu. Badai Malam Dari Selatan yang dilepas Joko Tenang di dalam ruangan itu memadamkan semua obor batu. Suasana berubah gelap seperti malam. Hanya sedikit cahaya yang masuk membias dari luar.
Tidak berapa lama, suasana berubah hening. Hanya rintihan-rintihan kesakitan para prajurit yang terdengar ramai di banyak tempat di ruangan itu. Sementara Ratu Aswa Tara dan Pina Pima segera bangun dan keluar dari ruangan bertirai yang juga berantakan. Keduanya hanya menderita luka benturan saat terlempar.
“Sinting! Pendekar macam apa Joko itu? Ilmu gila apa yang dia miliki?” rutuk Ratu Aswa Tara. “Kita salah besar!”
Ratu Aswa Tara dan Pina Pima memandangi ruangan yang gelap. Samar-samar mereka bisa melihat kehancuran parah yang terjadi. Sejumlah prajurit tampak tergeletak tidak bergerak, sebagian besar mereka terkumpul di pinggiran ruangan yang luas itu. Ratu Aswa Tara segera tahu bahwa Joko telah tidak berada di tempat itu. Joko telah pergi.
Ratu Aswa Tara segera berkelebat terbang menuju pintu keluar yang memiliki cahaya matahari dari luar. Pina Pima segera mengikuti junjungannya.
Di luar, sejumlah prajurit terlihat terkapar tidak bergerak, entah tewas atau sekedar tidak sadarkan diri, karena tidak ada luka berdarah yang mereka alami.
“Pina, pergi lihat apa yang terjadi di luar sana!” perintah Ratu Aswa Tara.
“Baik, Yang Mulia!” ucap patuh Pina Pima.
Pina Pima segera berkelebat pergi. Di daerah tengah kerajaan ia melihat pergerakan pasukan menuju wilayah depan. Pina Pima segera menuju ke gerbang depan.
Di antara para prajurit wanita yang berseragam putih-putih, tampak satu wanita berpakaian biru terang duduk dalam kondisi lemah. Ada darah kental yang mengotori bibir bawahnya.
“Apakah Joko mengamuk di sini?” tanya Pina Pima kepada wanita yang adalah Sawiri.
“Benar. Dia terlalu cepat dan langsung menyerang dengan angin pembakarnya. Dia masih berbaik kepadaku, karena hanya setengah tenaga dalamnya yang ia gunakan untuk menahan pukulanku,” jawab Sawiri.
“Bagaimana dengan Tirana? Apakah dia juga melakukan pergerakan?” tanya Pina Pima.
“Dia sudah pergi beberapa saat sebelum Joko datang ke mari. Tirana bersama Sulasih pergi membawa dua tahanan wanita itu,” kata Sawiri.
__ADS_1
“Apa? Bagaimana bisa Sulasih berkhianat?” gusar Pina Pima.
“Entahlah. Yang jelas Tirana tidak jauh beda dengan Joko. Mereka bukan mainan kita,” kata Sawiri.
“Mereka pasti pergi ke Tabir Angin untuk mendapatkan Arak Kahyangan,” duga Pina Pima.
“Bagaimana dengan teman Joko yang pemuda itu?” tanya Pina Pima.
“Dia masih di Kampung Penerus untuk pembuahan,” jawab Sawiri seraya mengerenyit menahan sakit di dalam tubuhnya.
Tanpa berkata lagi, Pina Pima berbalik pergi meninggalkan Sawiri.
Sementara itu, Joko Tenang melesat laksana setan yang berlari di atas rerumputan hutan. Kakinya tidak lagi menginjak tanah, cukup menginjak helai-helai rumput yang setinggi lutut.
Joko Tenang sejenak berhenti di lokasi tempat Tirana dan Sulasih diserang panah. Joko melihat ada dua anak panah yang tersisa dan pecahan daging manusia yang berantakan dengan kain pakaian berwarna putih.
Selanjutnya Joko Tenang kembali melesat meninggalkan tempat itu. Ia mengikuti arah kepergian Tirana dan Sulasih.
“Sejauh mana Kerajaan Tabir Angin berada?” membatin Joko.
Joko Tenang terus melesat menembus hutan yang mulai bercampur dengan daerah bebatuan. Sementara itu, matahari mulai terjun ka barat.
Setelah cukup jauh melesat ke arah timur membelakangi matahari, Joko Tenang terpaksa berhenti. Jalannya ke arah timur dihadang oleh dinding batu yang tinggi. Jelas tidak mungkin terus ke timur. Sementara jalan yang ada menuju selatan dan utara.
“Aku bisa tersesat jika salah pilih jalan,” ucap Joko dalam hati. Namun, ia harus memilih pergi ke selatan atau ke utara. Tidak mungkin ia kembali ke arah ia datang. Di tempat itu pun tidak terlihat tanda-tanda jejak manusia. Joko pun tidak melihat bahwa setelah ke selatan atau utara kemudian ada jalan menuju ke arah timur lagi.
Mau tidak mau Joko harus memilih jalan. Ia memutuskan berlari ke selatan. Hingga jauh ia berlari seperti kijang, belum juga ada jalan yang berbelok menuju timur. Arah timur masih terbentur oleh tebing tinggi yang berdiri lurus menjulang ke langit.
__ADS_1
Joko kembali berhenti dan memandang ke daerah sekitarnya yang sudah penuh batu-batu besar raksasa. Selain hutan lebat, daerah itu lebih didominasi wilayah berbatu. Karena itulah daerah hutan bergunung itu dinamai Rimba Berbatu.
“Sepertinya aku salah jalan,” ucap Joko lirih kepada dirinya sendiri. (RH)