Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 31: Siap Perang di Jalur Bukit


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


 


Rombongan Joko Tenang bisa melihat keberadaan pasukan berkuda Senopati Duri Manggala jauh di depan sana. Mereka pun bisa melihat keberadaan sekitar seribu pasukan yang menutup jalan. Posisi jalan itu berada di antara dua bukit yang tidak sama ketinggian dan bentuk bukitannya. Rombongan Joko Tenang bisa melihat jelas karena posisi mereka berada di tanah yang agak tinggi. Jalan itu melandai saat menuju ke apitan dua bukit yang dikenal dengan Jalur Bukit.


Posisi pasukan berkuda Senopati Duri Manggala dengan lima puluh kekuatan, kini berhadapan dengan seribu pasukan pejalan kaki Kerajaan Balilitan yang berseragam kuning hitam.


Terlihat pula di puncak bukit sebelah kanan yang lebih tinggi dari bukit sebelah kiri, berdiri tiga orang manusia yang di belakangnya ada puluhan orang berseragam putih-putih. Ketiganya adalah Ratu Ginari dengan pakaian serba biru terangnya, Satria Gagah dan Suginowo. Sekitar hampir tiga puluh orang berseragam putih-putih adalah anggota Kelompok Kaki Angin atau murid-murid Suginowo.


Namun, satu hal yang membuat Senopati Duri Manggala mengerutkan kening adalah sosok yang memimpin seribu pasukan di depan sana. Sosok berpakaian kuning emas itu tidak lain adalah Laga Patra, putranya sendiri.


“Apa? Aku berhadapan dengan putraku sendiri. Bagaimana bisa Laga Patra memimpin pasukan musuh?” kejut Senopati Duri Manggala dalam hati.


Senopati Duri Manggala juga memandang jauh ke atas puncak bukit. Ia sedikit pun tidak mengenali siapa mereka adanya.


“Laga Patra!” teriak Senopati Duri Manggala bertenaga dalam, sehingga suaranya menggema keras dan sampai kepada pendengaran Laga Patra.


Laga Patra yang awalnya tidak mengenali siapa pemimpin pasukan berkuda itu, jadi terkejut. Ia segera tahu bahwa orang di depan sana adalah ayahnya.


“Ayah!” sahut Laga Patra akhirnya setelah agak lama tidak menjawab.


“Kenapa kau memimpin pasukan musuh?!” tanya Senopati Duri Mandala berteriak.


“Kenapa Ayah datang ke mari?!” Laga Patra justru balik bertanya.


“Anak kurang ajar! Ternyata kau berkhianat kepada Kerajaan Baturaharja!” gusar Senopati Duri Manggala.


“Kami menunggu rombongan Joko Tenang. Kenapa pasukan Ayah yang muncul? Jangan salahkan aku jika aku harus membunuh Ayah!” seru Laga Patra.


Mendelik kian terkejut Senopati mendengar perkataan putranya.


“Kau mau membunuh ayahmu, Laga Patra? Anak durhaka!” teriak Senopati Duri Manggala.


“Pengabdianku bukan kepadamu, Ayah, tetapi kepada Ratu Ginari, Roh Langit Tujuh. Jika Ayah tunduk kepada Ratu Ginari, maka nyawa Ayah akan terjamin!”

__ADS_1


Merah padam dan mengeras wajah Senopati oleh kemurkaan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa anaknya akan berkata seperti itu.


“Apakah kau menungguku, Ginari?!”


Tiba-tiba terdengar suara lelaki lain yang menggema keras bermuatan tenaga dalam. Namun, pertanyaannya ditujukan kepada Ratu Ginari. Suara itu tidak lain adalah suara Joko Tenang, pemuda yang sangat dicintai oleh Ratu Ginari.


Seiring itu, rombongan Joko Tenang telah bergerak masuk ke Jalur Bukit.


“Jika kita maju, kita akan masuk perangkap, Kakang,” kata Kerling Sukma beberapa saat sebelumnya.


“Itu cara kita bisa sampai kepada pemimpin mereka,” jawab Joko Tenang. “Pasukan itu tidak akan ada artinya bagi kita. Lawan kita adalah Ginari dan kelima pengikut rohnya yang tersisa.”


Joko Tenang dan rombongannya akhirnya tiba di sisi kiri pasukan Senopati Duri Manggala, tetapi agak berjarak sehingga dari jauh bisa terlihat bahwa mereka terdiri dari dua kelompok.


Uniknya, meski Joko Tenang dan para istrinya tahu bahwa mereka akan masuk ke dalam peperangan melawan pasukan di bawah kendali Ratu Ginari, anggota rombongan yang tidak bisa bertarung pun tetap diikutsertakan, terlebih kondisi fisik beberapa anggota masih terluka dalam.


Kini, tiga pasukan telah berhadapan. Pasukan Kerajaan Balilitan berhadapan dengan pasukan Kerajaan Baturaharja dan pasukan Joko Tenang yang jumlahnya sangat patut untuk diremehkan.


“Ginari! Kenapa kau melibatkan pasukan yang besar hanya untuk menjemputku?” tanya Joko Tenang dengan suara mengandung tenaga dalam. Ia memandang ke atas puncak bukit.


Melihat kehadiran Joko Tenang, Ratu Ginari melesat terbang dari tempat berdirinya. Ia terbang seperti burung di ketinggian angkasa yang jauh. Lalu berhenti mengambang setinggi bukit.


Kata-kata Ratu Ginari sangat mengejutkan Joko Tenang dan para wanitanya yang mengenal Ginari sebelumnya. Ingin rasanya Tirana, wanita pertama yang akrab dengan Ginari, keluar dari bilik kereta. Ia ingin mempengaruhi pikiran Ratu Ginari, tetapi kondisinya yang terluka membuat keinginannya itu bukan ide yang baik.


“Ginari, apakah kau sadar bahwa kau sudah menjadi jahat?” tanya Joko Tenang.


“Kau menyebutku jahat, Joko? Tetapi kau tidak menyebut wanita-wanita yang merebutmu dariku itu jahat! Kembalilah ke dalam pelukanku, tinggalkan mereka!” seru Ratu Ginari lagi.


“Ginari, kau adalah pendekar yang baik, gurumu Setan Genggam Jiwa adalah guru yang baik, dan kakekmu Pengemis Maling adalah orang yang baik. Namun, Kalung Tujuh Roh yang menghidupkanmu kembali telah membuatmu menjadi orang jahat dan melupakan segala kebaikan dalam hidupmu….”


“Hentikan ocehanmu, Joko!” hardik Ratu Ginari memotong kata-kata Joko Tenang. “Aku bisa saja memusnahkan kalian semua hanya dalam waktu singkat, tetapi aku ingin menunjukkan kepadamu, betapa hebatnya kekuatan yang aku miliki. Kini aku adalah Ratu Kerajaan Balilitan. Kau bisa menjadi raja dan aku adalah ratunya, tanpa diganggu oleh perawan tua Getara Cinta itu!”


Alangkah panasnya perasaan dan telinga Getara Cinta disebut perawan tua oleh Ratu Ginari. Ingin rasanya ia naik ke angkasa saat itu juga dan menghancurkan mulut Ratu Ginari, tetapi ia tidak mau bertindak tanpa arahan dari suaminya.


Breg breg breg…!

__ADS_1


Tiba-tiba satu pasukan berseragam biru putih muncul dari arah belakang pasukan Senopati Duri Manggala dan Joko Tenang. Pasukan itu berjumlah sekitar dua ribu orang. Pasukan itu dipimpin oleh sekitar tiga ratus pasukan berkuda.


“Hihihi! Peperangan ini akan semakin ramai!” kata Ratu Ginari yang didahului dengan tawa nyaringnya.


Seorang nayaka pemimpin prajurit datang berkuda menghampiri sisi kanan Senopati Duri Manggala.


“Hormat hamba, Gusti Senopati!” ucap perwira itu.


“Aku tidak memanggil pasukan, tetapi kenapa kau bisa datang ke mari, Nayaka Segar Labu?” tanya Senopati Duri Manggala yang merupakan pemimpin seluruh pasukan kerajaan.


“Berdasarkan laporan Sepak Bilas dan Tepuk Geprak, rombongan itu membawa keturunan terakhir Arta Pandewa!” jawab perwira yang bernama Nayaka Segar Labu, seraya menunjuk rombongan Joko Tenang.


Senopati Duri Manggala segera menengok kepada Joko Tenang, seolah bertanya dengan tatapannya yang tidak berbicara.


“Senandung Senja dan Nyai Kisut berada di dalam perlindungan kami. Jika kalian memaksa untuk menangkap mereka, kami tidak ada keraguan untuk melindungi mereka!” tandas Joko Tenang.


Senopati Duri Manggala sejenak menengok melihat ke arah bilik kereta kuda. Ia yakin, Senandung Senja dan Nyai Kisut yang dimaksud Nayaka Segar Labu ada di dalam bilik itu, sebab sejak tadi ia tidak melihat keberadaan kedua wanita yang berstatus buronan itu.


Sebenarnya Senopati Duri Mandala sangat enggan berurusan dengan Joko Tenang, sebab ia tahu orang-orang dalam rombongan itu bukan sekedar pendekar biasa.


“Untuk sementara kesampingkan dulu urusan keturunan pemberontak itu. Lihat, aku sedang berhadapan dengan seribu pasukan. Apakah kau tahu siapa orang yang memimpin pasukan di depan sana? Orang itu adalah Laga Patra, putraku sendiri!” kata Senopati Duri Manggala agak keras.


Terkejutlah Nayaka Segar Labu. Ia segera memandang serius kepada sosok pemimpin pasukan di depan sana.


“Kepung!” teriak Ratu Ginari tiba-tiba, membahana keras, menghentikan segala perbincangan di tengah medan Jalur Bukit itu.


Tiba-tiba di punggung bukit di sisi kanan bermunculan panji-panji berwarna merah yang tegak berdiri dan berkibar kencang. Seiring itu, barisan ribuan prajurit bermunculan, seolah mereka sejak tadi bersembunyi dari pandangan manusia. Seragam pasukannya yang berwarna kuning hitam yang menunjukkan mereka adalah prajurit Kerajaan Balilitan. Ada lebih tiga ribu prajurit yang berdiri di punggung bukit itu.


Pasukan itu dipimpin oleh Raja Galang Madra alias Roh Langit Tiga.


Di punggung bukit di sisi kiri, juga bermunculan panji-panji berwarna kuning. Seiring itu, muncul pula ribuan pasukan Kerajaan Balilitan yang dipimpin oleh Nyai Kilau Maut.


Drap drap drap…!


Kejutan terakhir adalah munculnya seribu pasukan berkuda dari balik bukit sebelah kiri. Kuda-kuda itu berlari kencang menciptakan bumbungan kabut debu ke langit. Mereka berlari kencang memutar dan kemudian berhenti, memposisikan diri di belakang dua ribu pasukan Kerajaan Baturaharja.

__ADS_1


Ternyata di belakang seribu pasukan berkuda itu berlari kencang sekitar lebih seribu pasukan panah. Mereka membentuk formasi di belakang pasukan kuda yang berbaris menutup jalan mundur pasukan Baturaharja dan Joko Tenang.


Melihat hal itu, semakin ketakutanlah Gowo Tungga dan Gembulayu. (RH)


__ADS_2