
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
“Memangnya kau mau ke mana, hah?” tanya Minati Sekar Arum kepada Joko Tenang.
“Calon istriku diculik, jadi aku harus cepat menemukannya dan memberinya obat agar nyawanya tertolong,” jawab Joko.
“Hah! Calon istri?” kejut Minati Sekar Arum. Ia lalu menunjuk Tirana dan bertanya, “Bukankah Tirana ini calon istrimu?”
“Benar,” jawab Joko.
“Lalu apakah dia juga calon istrimu?” tanya Minati Sekar Arum sambil menunjuk Kembang Buangi.
“Bukan. Dia sahabatku,” jawab Joko lagi.
“Tadi barusan kau katakan calon istrimu sedang diculik. Sebenarnya ada berapa calon istrimu?” tanya Minati Sekar Arum dengan ekspresi galak.
“Calon istriku tiga, dua sedang diculik. Dan istriku satu,” jawab Joko.
Minati Sekar Arum, Ewit Kurnawa dan Iblis Timur terperangah dengan bibir terbuka mendengar pengakuan Joko Tenang.
“Bagaimana Kunsa Pari mendidik murid? Memang dia tidak menanamkan arti sebuah kesetiaan terhadap pasangan hidup?” gerutu Minati Sekar Arum.
“Aku dan Iblis Timur dulu juga setia, tapi apa yang kau lakukan kepada kami, kau malah menyerahkan hatimu kepada Putih Jiwa. Akhirnya kau kena karma, Puti Jiwa menolakmu mentah-mentah. Hahaha!” kata Ewit Kurnawa lalu tertawa.
“Siapa bilang aku ditolak mentah-mentah, sembarangan! Dia sempat memelukku sebelum kami berpisah. Putih Jiwa itu menolakku matang-matang!” bantah Minati Sekar Arum.
“Intinya satu, kau ditolak, Arum!” tandas Iblis Timur.
“Tapi aku masih lebih beruntung daripada kalian. Wajah dan ragaku masih bisa bersaing dengan yang bocah-bocah, sedangkan kalian, apa yang bisa dinikmati dari kalian,” kata Minati Sekar Arum.
“Itu sejak puluhan tahun yang lalu bisa kau lakukan, tapi kenapa kau tidak mengumbar kecantikanmu itu untuk menjerat nyamuk-nyamuk lugu dan muda? Biar mereka bisa merasakan bersenggama dengan nenek-nenek bangka. Hahaha!” kata Iblis Timur lalu tertawa.
“Hahaha...!” Ewit Kurnawa tertawa lebih keras dan panjang.
“Justru itu, biarpun aku bisa melakukannya, tapi aku malu sendiri. Umurku sudah seratus tiga puluh tahun, setidaknya aku harus malu kepada usia jika harus bersenggama dengan bocah bau ingus seperti Joko. Hihihi!” kata Minati Sekar Arum.
“Maafkan kami, Sesepuh. Kami pamit pergi,” kata Joko Tenang akhirnya, ia menyela obrolan para orang tua itu.
“Eit, jangan coba-coba pergi! Tidak sopan!” bentak Minati Sekar Arum. “Urusan nenek guru dan kakek-kakek gurumu ini belum selesai denganmu.”
“Baik baik baik, kami akan bicara serius kepadamu,” ujar Ewit Kurnawa.
“Silakan,” kata Joko.
“Bisakah kau berbagi resep bagaimana cara memikat banyak wanita cantik?” tanya Ewit Kurnawa.
“Hahahak!” tawa Iblis Timur keras mendengar tingkah kakek gendut itu.
“Dasar kakek mesum!” maki Minati Sekar Arum sambil memukul kepala Ewit Kurnawa. “Cepat katakan kepada Joko, aku tidak mau harus keluyuran seharian untuk mencarinya.”
Akhirnya Iblis Timur yang berbicara serius kepada Joko, “Kunsa Pari adalah murid kami untuk dua ilmu kesaktian, yaitu Pukulan Tapak Kucing dan Surya Langit Jagad. Jadi dua ilmu pamungkasmu itu adalah dari kami.”
“Hormat cucu murid kepada Nenek Guru dan Kakek Guru,” ucap Joko Tenang sambil buru-buru menjura hormat dengan merunduk rendah, sementara kedua telapak tangan bertemu di depan dahi, seperti hamba menghormat kepada rajanya.
“Bangunlah, tidak usah terlalu sopan kepada kami, tapi jangan juga kau kurang ajar kepada kami,” kata Ewit Kurnawa.
“Tidak enak sekali dipanggil Nenek Guru, terkesan aku ini sangat tua,” gerutu Minati Sekar Arum.
“Lalu kau mau dipanggil apa?” tanya Ewit Kurnawa.
“Guru Cantik, hehehe,” jawab Minati Sekar Arum terkekeh.
__ADS_1
“Kau belum puas juga, selama lebih seratus tahun kau dipanggil Guru Cantik oleh murid-muridmu, sekarang cucu muridmu pun kau suruh memanggilmu Guru Cantik. Kau mungkin tidak tahu malu, tetapi cucu muridmu yang akan malu punya nenek guru sepertimu!” omel Iblis Timur.
“Hahaha!” tawa Ewit Kurnawa.
“Terserah kau, Joko, mau menyebutku apa, asal jangan Nenek Guru!” kata Minati Sekar Arum kesal.
“Aku akan memanggil kalian dengan sebutan Guru pula. Guru Putih, Guru Hijau, dan Guru Merah,” kata Joko menyatakan idenya.
“Boleh juga, asal jangan menyebutku nenek-nenek, aku paling benci sebutan itu,” kata Minati Sekar Arum.
“Baiklah,” kata Ewit Kurnawa setuju.
“Setuju,” kata Iblis Timur.
“Dengarkan aku, Joko,” kata Ewit Kurnawa. “Kami ini sudah melalui hidup yang lama, lebih lama dari guru-guru kalian. Jadi, kami mendambakan indahnya kematian....”
“Jangan bunuh diri, Guru Putih. Itu cara bodoh untuk menuju kematian!” sergah Joko Tenang, memotong perkataan Ewit Kurnawa.
“Siapa yang mau bunuh diri?” sentak Ewit Kurnawa kepada Joko Tenang.
“Maaf, Guru Putih, aku kira kalian ingin cepat-cepat mengakhiri hidup,” ucap Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa Iblis Timur menertawakan Ewit Kurnawa.
“Kami tidak tahu kapan Penguasa Jagad Raya akan mencabut nyawa kami. Namun, kami khawatir jika masa itu datang tiba-tiba dan memutus segala perencanaan kita. Seluruh ilmu kami sudah kami turunkan kepada banyak murid, kecuali tiga ilmu.”
Ewit Kurnawa berhenti sejenak. Iblis Timur yang melanjutkan penjelasannya.
“Beberapa waktu lalu, kami pergi mengunjungi Kunsa Pari. Muridku itu menceritakan tentang dirimu. Akhirnya kami bertiga sepakat untuk menurunkan tiga ilmu yang tersisa itu kepadamu,” kata Iblis Timur.
“Tapi Kunsa Pari menyembunyikan tentang dirimu yang ternyata punya banyak calon istri,” celetuk Minati Sekar Arum.
“Biarkan saja, sudah keberuntungannya. Bisa kau bayangkan, seandainya ketika dia lelah karena telah membasmi kejahatan, istri banyaknya sangat membantu untuk memijitnya beramai-ramai. Hahaha!” kata Ewit Kurnawa.
“Tapi ingat pesan kami, Joko. Jika lawanmu pantas tidak dibunuh, maka hancurkan kesaktiannya. Hindari sebanyak mungkin membunuh sesama manusia, sebab kau bukanlah Malaikat Pencabut Nyawa,” tekan Minati Sekar Arum.
“Baik, Guru Merah,” ucap Joko.
“Apakah kau sudah siap menerima ilmu kami bertiga?” tanya Ewit Kurnawa.
“Sangat siap, Guru Putih,” jawab Joko mantap.
“Jika demikian, bersiaplah. Tetap duduk bersila dan tahan, karena ini akan sedikit sakit,” kata Iblis Timur.
“Baik, Guru Hijau,” ucap Joko patuh.
“Ayo kita lakukan!” teriak Ewit Kurnawa semangat sambil bangkit berdiri.
Minati Sekar Arum dan Iblis Timur turut bangkit berdiri.
Ewit Kurnawa mengambil posisi sejauh lima tombak di depan Joko Tenang. Lurus di belakangnya berdiri kakek kurus dan di belakang lagi berdiri Minati Sekar Arum.
Ewit Kurnawa menarik napas dalam-dalam sehingga dadanya membusung menyamai perutnya. Selanjutnya napas itu ia tahan. Iblis Timur dan Minati Sekar Arum melakukan hal yang sama.
Selanjutnya, Ewit Kurnawa melakukan gerakan kedua tangan secara perlahan tapi bertenaga dalam tinggi. Hingga akhirnya kedua tangannya berkumpul di belakang pinggang. Di belakang, Iblis Timur dan Minati Sekar Arum melakukan gerakan yang sama.
Joko Tenang duduk dengan tenang. Namun, Tirana dan Kembang Buangi dibuat agak tegang.
“Hah!” hentak Ewit Kurnawa sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Ses! Bles!
__ADS_1
“Hekh!”
Dari dalam tenggorokan Ewit Kurnawa melesat sebola kecil sinar putih menyilaukan. Cepat dan langsung masuk ke dalam badan Joko Tenang. Sontak Joko Tenang mengeluh terkejut saat merasakan rasa sakit yang menyiksa tubuh dalamnya. Wajahnya mengerenyit menahan sakit yang rasanya tidak langsung hilang, tapi bertahan.
“Hah!”
Ses! Bles!
“Akh!”
Iblis Timur melakukan hal yang sama setelah Ewit Kurnawa minggir dari hadapannya. Sebola sinar hijau menyilaukan mata melesat dari dalam mulutnya dan masuk ke dalam tubuh Joko Tenang.
Kali ini Joko Tenang menjerit lebih keras dengan tubuh tersentak. Rasa sakit yang ia rasakan jadi berlipat kali dua. Hal itu membuat Tirana dan Kembang Buangi jadi khawatir.
“Hah!”
Ses! Bles!
“Aaakk...!” jerit Joko tinggi dan panjang.
Tubuhnya kembali tersentak hebat di tempat saat bola sinar merah menyilaukan dari Minati Sekar Arum masuk ke dalam tubuhnya. Sakit yang Joko Tenang rasakan menjadi tiga kali lipat. Kedua tangan Joko sampai menggenggam kuat, urat-urat di wajah dan seluruh tubuhnya sampai bertonjolan karena menahan rasa sakit itu. Lehernya begitu tegang, seolah menahan rasa sakit menuju kematian.
“Kakang!” sebut Tirana cemas.
Tiga Malaikat Kipas hanya tersenyum melihat perjuangan Joko dalam menahan rasa sakit itu. (RH)
**********
Daftar nama readers yang akan muncul:
Cokro Ningrat, Raja Kerajaan Tarumasaga
Alifa Homar, Putri Kerajaan Tarumasaga
Zulkar Nain, Pangeran Kerajaan Tarumasaga
Dewa Yuda, Putra Mahapati Kerajaan Tarumasaga
Suci Sari, Si Cantik Pemukau
__ADS_1