Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 4: Utusan Kerajaan Siluman


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


 


Setelah mencari pedagang pakaian di sebuah desa, akhirnya Joko Tenang mendapat pakaian berwarna hitam-hitam.


Di desa itu pula Joko Tenang dan kedua gadisnya mencari kereta kuda, tetapi tidak ada yang menjual. Mereka akhirnya hanya membeli empat ekor kuda.


Set! Tek!


Saat mereka sedang memilih-milih kuda, tiba-tiba satu benda tipis melesat menyerang Putri Sri Rahayu. Sigap sang putri memiringkan tubuh atasnya sedikit, membuat benda tipis itu menancap di tiang balok kayu kandang kuda. Benda itu adalah sehelai daun hijau kecil yang pada bagian tengahnya ada dua lubang kecil.


Serangan itu juga membuat Joko Tenang dan Tirana terkejut.


“Kakang, ada prajurit dari kerajaanku yang ingin bertemu denganku. Mungkin sifatnya rahasia!” kata Putri Sri Rahayu kepada Joko Tenang.


“Pergilah, kami akan menunggumu di sini,” kata Joko Tenang seraya tersenyum lembut tanpa bertanya atau curiga.


Putri Sri Rahayu mencabut daun yang menancap di tiang kayu tanpa membuatnya robek. Selanjutnya ia berkelebat terbang mengejar sosok berpakaian hitam yang sempat dilihatnya berdiri jauh di bawah sebuah pohon.


Setelah berkelebat cukup jauh ke luar desa, Putri Sri Rahayu akhirnya berhenti pada bibir sebuah jurang berumput. Dasar jurang itu tidak begitu dalam, di bawah sana terbentang rawa yang penuh ditumbuhi ilalang tinggi.


“Hormat hamba, Bidadari Asap Racun!” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba telah berlutut satu kaki di hadapan sang putri.


“Bangunlah, Tangan Jauh!” perintah Putri Sri Rahayu alias Bidadari Assap Racun.


Lelaki berpakaian serba hitam itu segera bangkit berdiri tegak, tetapi pandangannya tidak berani menatap wajah sang putri, ia hanya menatap kepada kedua ujung kaki junjungannya.


Lelaki yang bernama lengkap Siluman Tangan Jauh itu adalah seorang muda yang memiliki paras tampan berkulit putih. Ia memiliki rambut gondrong sebahu, beralis tebal dan berkumis tipis. Pada dagunya juga ada jenggot tipis.


“Tidak aku sangka kau sudah sampai di wilayah jauh ini,” kata Putri Sri Rahayu.


“Aku hanya melaksanakan perintah, Bidadari,” jawab Siluman Tangan Jauh.


“Tidak biasanya siluman di bawah perintah Putri Dua Matahari datang menemuiku. Katakan, pesan apa yang ingin kau sampaikan!” kata Putri Sri Rahayu dingin dan terkesan bernada tidak ramah.


“Berdasarkan perintah dari Putri Dua Matahari, hamba menyampaikan bahwa Prabu Raja Malaikat Dewa Raja Iblis memerintahkan Bidadari untuk kembali ke Kerajaan Siluman,” ujar Siluman Tangan Jauh.


“Lancang!” bentak Putri Sri Rahayu keras, menunjukkan kemarahannya.


“Ampuni hamba, Bidadari!” ucap Siluman Tangan Jauh cepat berlutut lagi.


“Perintah langsung dari ayahku tidak pantas disampaikan oleh seorang utusan sepertimu! Jika memang ingin menyuruhku pulang, harus Putri Dua Matahari langsung yang datang menyampaikan perintah itu kepadaku. Mengerti?!” kata Putri Sri Rahayu memarahi Siluman Tangan Jauh yang sebenarnya bukan di bawah perintahnya langsung. “Jika hanya itu, pergilah!”


“Satu lagi, Bidadari,” ucap Siluman Tangan Jauh.


“Cepat katakan!”

__ADS_1


“Tugas Bidadari Asap Racun dan para Siluman Generasi Pertama telah dicabut dan dialihkan kepada Putri Dua Matahari!”


“Apa?!” kejut Putri Sri Rahayu. “Beraninya Aninda Serunai mengambil alih hakku!”


“Hamba hanya menyampaikan tugas, Bidadari,” ucap Siluman Tangan Jauh sebagai pembelaan diri.


“Sampaikan kepada Putri Dua Matahari, aku tidak akan mengakui semua perubahan yang Ayahanda putuskan jika bukan dia sendiri yang menyampaikan kepadaku. Semua pesan yang kau sampaikan kepadaku aku tolak!” tegas Putri Sri Rahayu.


Clap!


Tahu-tahu Putri Sri Rahayu telah menghilang dari tempat berdirinya.


Pemuda tampan itu hanya bangkit berdiri lalu menengok ke arah kepergian Putri Sri Rahayu.


Setibanya di tempat penjual kuda, Putri Sri Rahayu datang dengan wajah yang masih menunjukkan kekesalan.


“Eh eh eh, kenapa suram wajah putri sakti kita ini?” tanya Tirana heran sambil berjalan menyambut Putri Sri Rahayu.


“Utusan itu membuatku marah. Beraninya dia membawa perintah menyuruhku kembali ke Istana!” sungut Putri Sri Rahayu.


“Sabar. Jika kau tidak suka, maka lupakanlah. Jangan sampai kekesalanmu merusak kebahagiaan kita,” kata Tirana lembut sambil memeluk satu lengan Putri Sri Rahayu dan mengajaknya berjalan berdampingan menuju kuda-kuda yang ditambatkan.


Joko Tenang sudah naik duduk di punggung kuda. Kudanya membonceng satu kuda kosong.


Putri Sri Rahayu lalu naik ke punggung kudanya dalam pelayanan Tirana. Barulah setelah gadis berpakaian merah itu duduk manis di punggung kudanya, Tirana naik ke kudanya.


Joko Tenang hanya tersenyum memandangi Putri Sri Rahayu. Diberi senyum seperti itu, Putri Sri Rahayu balas tersenyum, tapi senyum buatan.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang. Ia lalu mulai menggebah pelan kudanya.


Ketiga pendekar dan keempat kuda itu pun akhirnya melesat meninggalkan desa menuju kediaman Ki Ranggasewa.


Setelah mereka cukup jauh pergi, di atas langit desa tersebut melesat terbang sosok berpakaian serba biru dan bercadar kain biru. Sosok itu juga melesat pergi meninggalkan desa ke arah yang sama ke mana Joko dan kedua gadisnya pergi.


Hanya membutuhkan setengah hari perjalanan untuk tiba di kediaman Ki Ranggasewa. Guru dari Ginari itu menyambut kedatangan mereka bertiga dengan gembira.


“Ada empat kuda. Apa maksudnya ini?” tanya Ki Ranggasewa curiga.


“Kami akan membawa Ki Ranggasewa pergi ke Perguruan Tiga Tapak, karena kami memutuskan akan menikah di sana. Apakah Ki Ranggasewa keberatan karena kami mengubah rencana sebelumnya?” jelas Joko Tenang yang sudah duduk berhadapan dengan Ki Ranggasewa di balai-balai bambu.


Sementara Tirana dan Putri Sri Rahayu sedang ada di dalam kamar. Tirana tadi membeli satu pakaian baru.


“Hehehe. Aku tidak masalah, Joko. Tapi… kenapa bisa berpindah ke sana? Perkiraanku, tentunya kau belum pergi ke sana,” kata Ki Ranggasewa.


“Selain menikahi Tirana dan Getara Cinta, aku juga akan menikahi Kerling Sukma, adik Jaga Manta, Ketua Perguruan Tiga Tapak. Sukma adalah murid termuda Dewi Mata Hati,” jawab Joko.


“Apa?!” kejut Ki Ranggasewa. “Kau juga akan menikahi murid wanita awet muda itu? Hahaha!”

__ADS_1


“Kenapa Ki Ranggasewa tertawa?” tanya Joko Tenang.


“Memang beruntung kau sebagai keturunan Dewa Kematian. Tapi ingat, semakin banyak kepala dan hati yang kau tanggung, maka semakin banyak dan berat permasalahan yang akan kau hadapi. Maka sering-seringlah rendam kepalamu di air dingin. Hahaha!” ujar Ki Ranggasewa.


“Tapi, apakah semua keturunan Dewa Kematian seberuntung aku?” tanya Joko.


“Tidak. Aku rasa hanya keturunan yang terpilih. Terbukti, ayah ibumu tidak bersatu sebagaimana suami-istri sewajarnya,” kata Ki Ranggasewa.


Joko Tenang manggut-manggut kecil.


“Setahuku, hanya Dewa Kematian yang punya cerita memiliki istri delapan orang,” kata Ki Ranggasewa.


“Aku jadi penasaran, sehebat apa ilmu Delapan Dewi Bunga itu,” ucap Joko lirih, seolah sedang berusaha membayangkan.


“Aku tidak mengalami masa hidup bersama Dewa Kematian. Mungkin berbeda dengan Tiga Malaikat Kipas atau Dewi Mata Hati. Usia mereka mungkin masih sempat bertemu dengan Dewa Kematian,” kata Ki Ranggasewa.  “Oh iya, Joko, bagaimana dengan Pusaka Serap Sakti?”


“Sudah aku musnahkan, Ki. Orang yang mencurinya adalah Mega Kencani,” jawab Joko Tenang.


Mendeliklah Ki Ranggasewa. Ia hanya menarik napas dalam lalu ia hempaskan.


“Anak itu benar-benar menjadi perusak,” keluh Ki Ranggasewa.


“Mega Kencani sudah mati dibunuh oleh seorang wanita bercadar biru, Ki,” kata Joko lagi.


“Baguslah. Jika anak itu tetap hidup, ia pasti akan terus menjadi penyakit. Lalu siapa wanita yang membunuhnya?”


“Entahlah, Ki. Aku tidak mengenalnya, tetapi ilmu peringan tubuhnya seperti milik Ginari,” jawab Joko.


“Ah!” desah Ki Ranggasewa terkejut. “Tapi kau katakan bahwa Ginari sudah mati dan kau kubur di Bukit Gluguk?”


“Benar. Karenanya aku tidak mengenalnya. Wanita itu hanya melintas dan langsung membunuh Mega Kencani. Setelah itu pergi, seolah tidak mengenal kami,” kata Joko.


“Nanti jika bertemu lagi, aku akan memaksanya memperkenalkan diri,” timpal Tirana sambil melangkah keluar.


Tirana kini tampil dalam pakaian serba putih indah, serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Pakaian itu membuat kalung peraknya terlihat jelas melingkar di leher. Rambutnya ditata rapi dengan hiasan dua pita putih kecil.


“Bagaimana, Kakang? Cantik, kan?”


Yang bertanya justru Putri Sri Rahayu.


Joko Tenang tersenyum lebar.


“Membuatku jatuh cinta lagi,” ucap Joko Tenang yang membuat mereka semua tertawa semarak. Lalu ia beralih bertanya kepada Putri Sri Rahayu, “Lalu kapan kau akan menunjukkan wajah cantikmu, Putri?”


Mendengar pertanyaan Joko Tenang itu, Tirana cepat memandang tajam kepada Putri Sri Rahayu yang berdiri di sisinya. Senyumnya seketika hilang. Tatapan tajamnya seolah meminta penjelasan kepada sang putri.


Putri Sri Rahayu hanya tersenyum melihat reaksi Tirana. (RH)

__ADS_1


__ADS_2