Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 5: Kabar untuk Ibu


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)* 


Setelah bermalam di sebuah desa pinggiran Kadipaten Waroksupit, rombongan Ketua Perguruan Tiga Tapak kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Perguruan Tiga Tapak, yang terletak di pinggiran lain dari kadipaten itu.


Meski jarak tinggal beberapa jam perjalanan ke perguruan, tetapi tadi malam memang sudah tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan. Beruntung perjalanan mereka tidak mengalami gangguan, hingga rombongan pedati tiba di sebuah pos penjagaan terluar dari kawasan Perguruan Tiga Tapak.


“Hormat kami, Ketua!” ucap tiga orang murid Perguruan Tiga Tapak berseragam baju hijau muda dan celana berwarna hijau gelap. Mereka setengah membungkuk sambil menjura hormat.


“Segera kabarkan kepada Ibu Guru Kedua bahwa Kerling Sukma sudah pulang!” perintah Jaga Manta kepada ketiga pemuda itu.


Ketiga murid Perguruan Tiga Tapak itu segera melihat ke atas pedati untuk melihat keberadaan Kerling Sukma. Gadis bermata hijau indah itu hanya tersenyum kepada mereka ketika melihatnya.


“Waah! Sukma tambah sangat cantik!” desah salah satu dari murid itu memuji sambil tersenyum lebar. Namanya Sigangga.


“Heh! Kalian malah memandangi adikku! Mau aku hukum, hah?!” hardik Jaga Manta mendelik.


“I… iya, Ketua. Aku akan segera melapor!” sahut Sigangga jadi panik. Ia segera berbalik dan berlari mendapati seekor kuda yang ditambatkan.


Dengan segera murid tersebut melaju cepat bersama kudanya menuju ke perguruan. Sementara dua murid lainnya kembali ke pos penjagaan yang berupa gubuk kecil, tetapi memiliki sehelai panji bergambar tiga telapak tangan.


Jaga Manta yang masih duduk bersanding dengan Helai Sejengkal, kembali menggebah kudanya meninggalkan pos penjagaan tersebut.


Sigangga memacu cepat kudanya, bersemangat layaknya seorang pandekar yang pergi untuk menyelamatkan sang kekasih dari penculikan. Bahkan ketika tiba di pos penjagaan kedua, ia tidak pakai “say hello” lagi kepada murid-murid perguruan yang berjaga. Kudanya terus saja digebah.


“Apa-apaan Sigangga itu? Dia pikir kita jurik yang tidak terlihat? Main terabas saja!” sungut salah satu prajurit penjaga pos kedua.


Sigangga terus menggebah kencang kudanya, seolah ia sedang ikut pacuan kuda tingkat kadipaten. Hingga akhirnya ia pun tiba di pos penjagaan pertama, pos yang paling dekat dengan Perguruan Tiga Tapak.


Berbeda dengan pos kedua dan ketiga, di pos ini ada enam orang murid perguruan yang berjaga. Jalan pun ditutup dengan pagar balok kayu setinggi dada. Jika ada yang ingin lewat, pagar penghalang jalan itu akan digeser.


“Berhenti!” teriak seorang murid yang berdiri di balik pagar batang kayu. Ia berusaha menghentikan lari kuda yang datang. Ia berdiri bersama dua temannya yang lain.


“Minggiiir! Ada pesan daruraaat!” teriak Sigangga kencang, tanpa mengendurkan lari kudanya.


Sigangga tidak mengurangi lari kudanya, ia lompatkan sang tunggangan untuk melompati pagar. Para murid yang berdiri di balik pagar buru-buru turun berjongkok menyelamatkan kepalanya.


Dak! Bdluk!


Namun naas, Sigangga kurang tinggi melompatkan kudanya, membuat kaki depan kuda tersandung pagar penghalang. Insiden itu membuat kuda tersungkur. Sementara pagar kayu tumbang menimpa ketiga murid penjaga.

__ADS_1


Siganggang jatuh dengan tangkas. Ketika tubuhnya yang terlempar ke depan menyentuh tanah, ia langsung berguling rol, lalu cepat bangkit dan berlari sekencang kuda liar menuju Perguruan Tiga Tapak.


Sigangga benar-benar menunjukkan ketangkasannya tanpa kenal kawan dan lawan.


Akhirnya ia bisa melihat benteng bambu Perguruan Tiga Tapak. Benteng bambu itu memiliki tiga lapis pintu gerbang utama untuk tiba ke pusat kehidupan perguruan.


Empat murid perguruan yang berjaga di pintu gerbang utama ketiga saling berpandangan heran saat melihat Sigangga muncul berlari terbirit-birit.                 


“Buka pintu! Pesan darurat dari Ketua!” teriak Sigangga tanpa sedikit pun mau memperlambat larinya, seolah-olah remnya sudah blong.


Penjaga pintu gerbang buru-buru membukakan pintu bagi Sigangga.


Wuss!


Tubuh Sigangga lewat begitu saja masuk ke dalam benteng.                                    


“Buka pintu! Pesan darurat dari Ketua!” teriak Siganggang pula kepada murid perguruan penjaga pintu gerbang kedua.


Hal yang sama juga ia lakukan di gerbang utama pertama. Semua cepat membukakan pintu lebar-lebar kepada Sigangga demi kelancaran perjalanannya.


“Pesan darurat dari Ketua!” teriak Sigangga keras, membuat semua orang yang ada di halaman utama perguruan berhenti beraktivitas.


“Lapor, Ibu Guru Kedua! Pesan darurap…!” teriak Sigangga jauh-jauh jarak.


Namun, kekencangan larinya yang tidak punya rem membuatnya sulit mengerem ketika hendak tiba di depan Gatri Yandana. Alhasil, akibat sedikit kesalahan saja, Siganggang tersandung tanah yang datar.


Blugk!


“Hahaha…!” sebanyak tiga puluh murid sontak tertawa melihat Sigangga jatuh tersungkur mengecup tanah keras.


Gatri Yandana menengok ke belakang memandangi murid-muridnya. Sontak para murid segera menahan tawanya.


Sigangga segera bangkit terduduk. Sambil mengerenyit dengan napas masih memburu yang terus berlari di dalam dada, ia melongokkan kepalanya melewati posisi sepasang kaki Ibu Guru Kedua. Setelah pandangannya menemukan seraut wajah cantik yang tersenyum di antara barisan murid-murid perempuan, kerenyitan Siganggang berubah menjadi kerenyitan senyum.


“Hehehe!” kekehnya cengengesan sambil buru-buru berdiri di depan gurunya yang masih terlihat cantik itu, meski usianya hampir separuh abad. Setelah melihat wajah si gadis pujaan hati, rasa sakit dan jantung hampir copot seolah sudah tidak terasa karena tertelan rasa bahagia.                   


“Hanya karena memandang keberadaan Dinara kau mengabaikan keberadaanku, Sigangga?” tanya Gatri Yandana.


Terkejut Sigangga bukan alang kepalang, bagaimana bisa Ibu Guru Kedua tahu siapa gadis yang ditaksirnya.

__ADS_1


Di barisan belakang, para murid kembali ramai dan heboh. Ternyata, diam-diam teman mereka yang cantik bernama Dinara telah menjalin koneksi asmara dengan Sigangga. Dinara hanya tersenyum-senyum malu karena sudah ketahuan kartu cintanya.


Dari dalam sebuah bangunan besar perguruan, terlihat muncul seorang kakek berambut putih panjang. Meski tua, tetapi fisiknya terlihat kekar dan gagah. Ia mengenakan jubah hijau gelap.


“Katakan, pesan darurat apa yang kau bawa, Sigangga!” perintah Gatri Yandana.


“Ketua, Ibu Guru Kedua…” jawab Sigangga, masih terengah-engah.


“Jika lima hitungan kau tidak bicara lengkap, akan aku hukum!” ancam Gatri Yandana.


Terkejut Sigangga. Buru-buru ia ingin berucap, tetapi ia lupa apa isi pesannya.


“Dua, tiga,” hitung Gatri Yandana.


“Ketua Jaga Manta pulang bersama banyak wanita, Ibu Guru Kedua!” kata Sigangga mengikuti apa yang dilihat oleh matanya. Ia benar-benar lupa pesan apa yang harus ia sampaikan.


“Apa?!” kejut Gatri Yandana sebagai ibu tiri Jaga Manta.


Di belakang punggung Gatri Yandana para murid pun saling berbisik bertanya-tanya.


“Apa maksudmu ‘bersama banyak wanita’?” tanya Gatri Yandana yang tidak bisa menangkap jelas maksud laporan Sigangga.


“Oh iya, Ibu Guru Kedua, Kerling Sukma. Yaaa, aku ingat, Kerling Sukma, Ibu Guru!” kata Sigangga yang baru teringat.


“Kenapa dengan anakku?!” tanya Gatri Yandana bernada agak panik. Sebagai ibu yang telah berpisah beberapa tahun lamanya, rasa kekhawatiran sangat mudah muncul di hati.


“Ketua pulang bersama Kerling Sukma, Ibu Guru Kedua,” jawab Sigangga dengan pesan yang benar.


“Benarkah yang kau katakan, Sigangga? Apakah lidah dan pikiranmu sudah selaras?” tanya Gatri Yandana ragu, sebab Kerling Sukma ada di Jurang Patah Hati, sedangkan Jaga Manta pergi ke kediaman Nyi Lampingiwa. Sulit rasanya jika keduanya bisa bertemu.


“Benar, Ibu Guru Kedua,” jawab Sigangga mantap. “Ade Kerling Sukma sekarang begitu cantik, Ibu Guru Kedua. Dia tadi tersenyum manis kepadaku, hehek!”


Plak!


Tepukan tangan Gatri Yandana pada kepala Sigangga memutuskan kekehan senang pemuda itu. Gatri Yandana yang sedang bahagia karena kabar itu segera berbalik menghadap kepada murid-muridnya.


“Latihan cukup sampai di sini! Dinara, bawa Sigangga ke belakang dan suguhkan minuman sejuk untuknya! Surina, bersihkan dan rapikan kamar Kerling Sukma! Sungkaya, sampaikan kepada Wawang Naya untuk memasak makanan yang enak! Sonoremuk, segera pergi kabarkan kepulangan Sukma kepada Ibu Guru Pertama….”


Gatri Yandana seketika sibuk mengatur muridnya untuk menyambut kedatangan putri kesayangannya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2