Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 16: Kamar Penuh Mayat


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)* 


Karena dirinya adalah lelaki sendiri, mau tidak mau Prabu Dira yang harus bekerja mengangkut dua lelaki berambut pirang yang tertotok di luar gua. Kedua lelaki itu dikumpulkan menjadi satu degan keempat rekan mereka yang masih hidup, tetapi sudah tidak berdaya.


Prabu Dira kembali ke tempat perapian mereka di awal. Namun, ketika Prabu Dira tiba di tempat itu, ia hanya mendapati Barbara yang sedang terikat di batang pohon. Bo Fei dan Yi Liun ternyata sudah pergi ke gua.


“Jangan berbuat macam-macam, lelaki hidung lubang satu!” teriak Barbara yang kondisinya masih tertotok, tetapi suaranya tidak.


“Tenang, aku tidak akan meninggalkanmu,” kata Prabu Dira. Ia lalu mendekati Barbara dengan maksud untuk melepaskan tali pengikat tubuhnya.


“Jangan sentuh aku! Aku akan mengulitimu jika kau lakukan, lelaki hidung lubang satu!” teriak Barbara seraya mendelik.


“Kau berisik sekali,” keluh Prabu Dira sambil membuka tali pengikat tubuh Barbara. Mau tidak mau, ada saat-saat pemuda berbibir merah itu harus mendekatkan wajahnya pada wajah atau tubuh Barbara. “Aku tidak akan membuangmu ke jurang. Aku hanya mau membawamu naik ke gua.”


“Lepaskan! Jika terjadi sesuatu kepadaku, ayahku tidak akan melepaskanmu! Lepaskan! Lep!”


Prabu Dira akhirnya menotok pita suara Barbara. Dengan mudahnya Prabu Dira mengangkat tubuh besar perempuan berambut pirang itu. Karena besar, Prabu Dira memilih memanggulnya dengan satu bahu. Meski tidak ada maksud, tetap saja Prabu Dira “menang banyak”.


Setibanya di dalam gua, terlihat Permaisuri Yuo Kai memandang dengan kerutan kening kepada kedatangan suaminya yang membawa tubuh Barbara.


“Kenapa harus kau yang membawanya, Suamiku?” tanya Permaisuri Yuo Kai agak merengut, seolah menunjukkan ketidaksukaannya.


Buk!


Melihat reaksi istrinya seperti itu, seenaknya saja Prabu Dira menjatuhkan tubuh Barbara seperti menjatuhkan karung beras. Wajah Barbara hanya bisa meringis tidak berkutik.


“Bo Fei, bawa wanita ini kepada teman-temannya!” perintah Permaisuri Yuo Kai.


“Baik, Yang Mulia!” ucap patuh Bo Fei.


Bo Fei lalu meraih tubuh Barbara dan mengangkatnya. Meski tubuhnya sedang, lebih kecil dari Barbara, tetap Bo Fei mampu mengangkat dengan kedua tangannya.


Alangkah terkejutnya Barbara di dalam kebisuannya, saat melihat kondisi Albert yang tidak bergerak berlumuran darah dengan kedua tangan sudah buntung.


“Dasar lelaki ceroboh. Semuanya jadi rusak hanya dalam kurang semalam!” maki Barbara di dalam hati.


“Aku tadi berniat menyuruh Bo Fei yang membawanya, tetapi ternyata Bo Fei dan Yi Liun sudah tidak ada, jadi terpaksa,” kilah Prabu Dira agar permaisurinya tidak terlihat merengut lagi.


“Jika sebelumnya aku tahu bahwa dia adalah perempuan, lalu cantik pula, aku tidak akan menyuruhmu untuk mengurusnya,” kata Permaisuri Yuo Kai. Memang dialah yang sebelumnya mengatur agar melumpuhkan Barbara saat mengintai. Ia tidak tahu bahwa orang yang mengintai mereka di dalam gelap ternyata seorang perempuan muda lagi cantik.


“Yang Mulia Putri! Yang Mulia Putri!” teriak Chi Men yang datang berlari dari sebuah lorong kecil di sudut ruangan besar gua itu.


“Ada apa, Chi Men?” tanya Permaisuri Yuo Kai.

__ADS_1


“Aku menemukan ruangan yang berisi tumpukan mayat wanita!” lapor Chi Men.


“Apa?!” kejut Permaisuri Yuo Kai.


Mendengar laporan Chi Men tersebut, Barbara yang mengerti sedikit-sedikit bahasa Mandarin, jadi terkejut pula. Ia terkejut bukan karena baru tahu, tetapi terkejut karena ketahuan.


“Ada apa?” tanya Prabu Dira.


“Chi Men menemukan ruangan berisi banyak mayat wanita,” jawab Permaisuri Yuo Kai.


“Mungkin itu wanita-wanita korban persembahan untuk pedang itu,” duga Prabu Dira. “Ayo kita lihat!”


Prabu Dira, Permaisuri Yuo Kai dan Chi Men lalu pergi ke lorong kecil yang sebelumnya dimasuki oleh Chi Men. Sementara Bo Fei tetap berjaga. Ia dan Barbara bahkan saling menatap tajam.


Di ujung lorong kecil yang menurun ke bawah, ada sebuah pintu batu yang tertutup rapat.


“Tutup menciuman kalian, Yang Mulia!” kata Chi Men yang akan membuka pintu batu itu. Sebelumnya ia menemukan cara membuka pintu batu itu setelah curiga bahwa tembok rata itu adalah sebuah pintu.


“Suamiku, tutup penciumanmu!” kata Permaisuri Yuo Kai kepada Prabu Dira.


“Siap!” sahut Prabu Dira, membuat sang istri melirik seraya tersenyum.


Prabu Dira jadi senang dalam hati, sebab istrinya sudah tersenyum.


Greg!


Permaisuri Yuo Kai mengerenyit menahan napas. Meski terlihat tenang, Prabu Dira juga menahan napas.


Pada akhirnya, mereka melihat pemandangan yang mengiris hati. Di dalam sana, ada tumpukan mayat-mayat wanita dengan kondisi jasad yang sudah rusak hingga sangat rusak, hingga mayat yang tinggal kerangka tulang belaka. Dilihat dari mayat-mayat yang belum terlalu rusak, dapat disimpulkan bahwa mereka semua yang mati adalah wanita muda.


“Cukup!” kata Permaisuri Yuo Kai.


Chi Men lalu kembali menutup pintu ruangan yang gelap tersebut.


Mereka kembali ke ruangan utama.


Sekeluarnya dari lorong yang kecil tersebut, Permaisuri Yuo Kai langsung menghampiri Barbara yang duduk bersandar pada dinding gua. Sementara Prabu Dira pergi ke tempat lain.


“Apakah kau mengerti bahasaku?” tanya Permaisuri Yuo Kai kepada Barbara menggunakan bahasa Mandarin.


Barbara hanya diam, tidak menjawab.


Sadar bahwa Barbara dalam kondisi ditotok pita suaranya, Permaisuri Yuo Kai lalu melepas totokan pada pita suaranya.

__ADS_1


“Teman lelakimu tadi mengerti bahasaku, mungkin kau juga mengerti bahasaku?” tanya Permaisuri Yuo Kai.


Barbara tetap diam dengan menatap tajam pada Permaisuri Yuo Kai.


“Bo Fei! Wanita ini tidak berguna. Bawa ke luar dan bunuh!” teriak Permaisuri Yuo Kai.


“Tunggu! Aku mengerti sebagian!” teriak Barbara tiba-tiba, menggunakan bahasa Mandarin yang kaku. Ia tidak mau dibunuh. Ia merasa masih muda. Ia tidak mau mati muda.


“Keputusan bagus!” ucap Permaisuri Yuo Kai memuji. “Kau bisa jelaskan tentang mayat wanita di dalam sana?”


Permaisuri Yuo Kai menunjuk arah lorong.


“Itu korban persembahan Pedang Singa Suci,” jawab Barbara.


“Begitu banyaknya yang kalian bunuh. Sudah berapa lama?”


“Puluhan tahun.”


“Puluhan tahun? Jadi sebelum kau lahir, persembahan ini sudah ada? Apakah ayahmu pelakunya?” tanya Permaisuri Yuo Kai.


Barbara tidak menjawab.


“Puluhan tahun kalian melakukan itu hanya untuk mengikis batu kristal itu?”


“Bagaimana kau tahu?” tanya Barbara cepat.


“Temanmu itu menceritakannya. Kalian sungguh jahat, memang pantas untuk dibunuh!” desis Permaisuri Yuo Kai.


“Jangan coba-coba kau lakukan! Ayahku tidak akan melepaskan kalian semua!” teriak Barbara.


“Demi sebuah pedang buntung, kalian membunuh begitu banyak wanita muda. Apa istimewanya pedang itu sehingga lebih berharga dari nyawa puluhan wanita itu?” tanya Permaisuri Yuo Kai lagi.


“Aku tidak tahu, sebab pedang itu masih ada di dalam batu,” jawab Barbara.


“Konyol!” rutuk Permaisuri Yuo Kai.


Booom!


Tiba-tiba semuanya dikejutkan oleh suara hantaman yang menggema keras. Saat itu pula, gua tersebut bergetar sebentar seolah ada gempa bumi.


Permaisuri Yuo Kai, Barbara dan semuanya cepat menengok melihat ke arah Prabu Dira yang berdiri dalam kondisi tangan kanan bersinar hijau membara. Batu kristal putih yang mengubur Pedang Singa Suci terlihat mengalami banyak keretakan, setelah dihantam oleh Tinju Dewa Hijau Prabu Dira.


Prak!

__ADS_1


Dua detik kemudian, batu kristal putih itu pecah dan Pedang Singa Putih jatuh tergeletak begitu saja.


“A… apa?!” pekik Barbara terkejut dan tidak habis pikir. (RH)


__ADS_2