
*Cincin Darah Suci*
Sepasang mata Su Ntai bergerak-gerak. Sepasang telinganya menangkap suara benda jatuh ke air.
Akhirnya Su Ntai membuka kedua matanya yang langsung menyipit dengan wajah mengerenyit. Cahaya matahari pagi memaksa pupil matanya menyesuaikan diri. Su Ntai lalu mengucek matanya, sekaligus membersihkannya.
Ia mendengar suara air yang bergerak. Ia memandang ke danau yang ada tidak jauh dari tempatnya tidur.
Ternyata suara gerakan air berasal dari Puspa yang berenang di danau. Terlihat Puspa berenang timbul tenggelam. Su Ntai hanya geleng-geleng kepala melihat Puspa mandi dengan pakaian yang utuh. Setahu dia, Tirana dan Puspa tidak membawa pakaian ganti.
Su Ntai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia tidak melihat keberadaan Tirana. Hanya ada tiga ekor kuda mereka yang tertambat.
Pluk!
Terkejut Su Ntai saat satu benda menimpa wajahnya. Saat ia melihat benda yang jatuh ke tanah itu, ternyata seekor ikan yang menggelepar-gelepar di bebatuan.
Tidak berapa lama, dari dalam air timbul kepala Puspa. Tangannya yang memegang seekor ikan bergerak melempar. Ikan kembali melambung ke arah Su Ntai. Kali ini Su Ntai menangkapnya.
Selanjutnya, beberapa ekor ikan kembali dilempar oleh Puspa. Hingga dapat enam ekor ikan. Rupanya Puspa masih bisa berhitung. Artinya satu orang dapat jatah dua ekor ikan.
“Hah! Ular!” pekik Su Ntai sambil buru-buru menghindar pindah tempat.
Ternyata lemparan terakhir puspa adalah seekor ular air. Melihat Su Ntai tidak menangkap lemparannya, Puspa mendelik.
“Hei, Kutu Gede! Tangkap ularku, nanti dia kabur!” teriak Puspa.
Mau tidak mau, Su Ntai segera mengejar ular itu sebelum kabur masuk ke dalam air lagi. Menangkap seekor ular bukanlah perkara sulit bagi Su Ntai, tapi bukan satu hal yang menyenangkan baginya.
“Hihihi...!”
Puspa tertawa nyaring seperti kuntilanak hutan sambil tubuhnya berkelebat berputar seperti silinder di udara ke dekat Su Ntai.
Su Ntai hanya berdiri diam mematung sambil memejamkan matanya saat tebaran air di pakaian Puspa menghujani tubuhnya.
“Hihihi!” tawa Pupsa sambil merebut ular di tangan Su Ntai. Lalu katanya kepada lelaki yang jauh lebih tua darinya itu, “Ki Suntai tidak usah mandi lagi, sudah Puspa siram dengan air suci. Hihihi!”
“Ke mana Tirana?” tanya Su Ntai.
“Puspa tidak tahu. Puspa tidak kantongi Tirana,” jawab Puspa ketus, membuat wajah cantiknya tampak menggemaskan. Namun kemudian, dia menjadi mengerikan saat dengan mudahnya memutus leher ular dengan gigitannya.
Puspa lalu pergi duduk mencangkung di atas dahan pohon yang tumbuh merendah ke bawah. Ia asik memakan ular mentahnya. Sementara air masih bertetesan dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup.
Su Ntai memilih membuat perapian kecil dengan menyusun batu.
“Pandai Ki Suntai menangkap ikan tanpa kail,” kata Tirana yang tahu-tahu sudah berada di belakang Su Ntai.
“Eh, mengejutkanku saja,” ucap Su Ntai seraya tersenyum setelah agak terkejut.
Dilihatnya gadis berpakaian serba putih itu menurunkan setandan pisang yang warnanya sudah berwarna kuning.
Tirana memetik satu pisang lalu dia timpukkan kepada Puspa. Timpukan itu bukan sembarang timpukan, tapi bertenaga dalam.
Tap!
Dengan mudahnya tangan kiri Puspa menangkap.
“Coba Puspa makannya dengan pisang, pasti enak,” kata Tirana seraya tersenyum.
__ADS_1
“Memangnya Tirana sudah pernah coba?” sahut Puspa dengan mata mendelik.
Tirana tidak menjawab selain tertawa.
“Apakah tidak apa-apa Puspa dalam keadaan basah seperti itu?” tanya Su Ntai sambil menusuk mulut ikan dengan sebatang ranting kecil.
“Sebelum Puspa cantik seperti itu, penampilannya sangat kotor, bahkan wajahnya tertutup lumpur kering. Lebih baik dia suka dengan air daripada suka dengan lumpur,” jawab Tirana.
“Hei! Kenapa bicarakan Puspa?!” hardik Puspa dari tempatnya. Wanita cantik tapi beringas itu melempar kulit pisang ke tengah-tengah Tirana dan Su Ntai.
“Puspa sekarang cantik!” sahut Su Ntai.
“Hihihi! Dasar lelaki tua tidak tahu diuntung. Sudah punya istri cantik di rumah, tapi masih melirik Puspa!” rutuk Puspa yang didahului dengan tawanya.
Tirana hanya tertawa mendengar perkataan Puspa. Ia mengumpulkan ranting-ranting kecil yang berserakan di sekitar.
Puspa bergerak turun dari dahan pohon. Dia berjalan mendekat.
Blep!
Tiba-tiba ranting yang sudah dikumpulkan terbakar oleh api yang menyala cukup besar. Sampai-sampai Tirana dan Su Ntai harus menarik jauh wajahnya dari jilatan api.
“Hihihi! Hampir saja Tirana jadi ayam botak!” kata Puspa tertawa merasa lucu dengan candaannya.
“Kenapa tiba-tiba Puspa jadi jahil?” tanya Tirana.
“Puspa kangen mau menjahili Kucing Hutan, jadi Puspa menjahili kalian,” jawab Puspa sambil duduk berjongkok dan memetik tiga pisang sekaligus. Satu tangannya masih memegang ular air yang sudah mati.
“Kapan kita akan sampai ke Negeri Jang?” tanya Tirana kepada Su Ntai.
“Apakah tidak ada jalan lain yang lebih cepat?” tanya Tirana.
“Tidak ada,” jawab Su Ntai.
“Ada!” celetuk Puspa.
Tirana dan Su Ntai kompak memandang Puspa yang bersikap acuh tak acuh dengan keduanya. Ia sibuk mengupas pisang.
“Jalan mana?” tanya Tirana.
“Lewat ilmu Gerbang Tanpa Batas punya Puspa,” jawab Puspa tanpa memandang Tirana.
Melebar sepasang mata Tirana. Ada rasa gembira yang langsung hadir di dalam hatinya. Ia kemudian tersenyum.
Tirana lalu dengan gemas mencubit kedua pipi dan katanya, “Kenapa tidak sejak awal kau melakukannya? Sehingga kita tidak perlu membantai di Istana Negeri Lor We.”
“Puspa baru ingat,” jawab Puspa santai.
“Ayo, kita lakukan sekarang juga!” ajak Tirana.
“Tidak bisa,” kata Puspa pelan.
“Kenapa?”
“Aku lupa wajah Kucing Hutan,” jawab Puspa lalu memasukkan pisang ke mulutnya.
“Wajah Kakang Joko itu sangat gampang diingat karena sangat tampan,” kata Tirana.
__ADS_1
“Seperti Ki Suntai?” tanya Puspa.
“Hahaha!” Su Ntai tertawa.
“Bibir Kakang Joko itu merah seperti bibir Puspa kalau pakai gincu,” tandas Tirana.
Puspa manggut-manggut tanda mengerti.
“Ayo kita lakukan sekarang jika Puspa sudah ingat!” desak Tirana.
“Tidak. Puspa mau makan ikan bakar dulu!” tandas Puspa.
“Tapi Puspa harus janji, setelah makan ikan bakar, kita pergi dengan Gerbang Tanpa Batas,” kata Tirana.
“Iya iya iya!” jawab Puspa dengan nada kesal.
Akhirnya setelah mereka sarapan ikan bakar dan pisang, Puspa menunaikan janjinya.
Puspa duduk bersila di atas bebatuan. Tirana dan Su Ntai berdiri agak jauh dari Puspa. Wanita berpakaian basah itu memejamkan matanya, kedua tangannya diangkat tinggi lurus ke atas dengan telapak saling menempel di atas kepala.
Pak! Bress!
Tangan kiri kemudian bergerak turun dengan cepat dan menapak batu di tanah. Sinar putih berbentuk lingkaran yang mengurung posisi Jalang di atas bebatuan bergerak bergelombang dari ukuran kecil lalu membesar dan menghilang dalam radius lima langkah. Jumlah lingkaran sinar putih yang keluar dari bawah telapak tangan kiri Puspa terus mengalir dan bergerak melebar lalu menghilang. Demikian terus-menerus sehingga membentuk gerakan gelombang lingkaran sinar putih. Sementara tangan kanan tetap lurus di atas kepala.
Agak lama Puspa terdiam dalam posisi seperti itu. Hanya gelombang lingkaran sinar putih yang bergerak tanpa henti.
Cezz!
Selanjutnya, sebutir sinar biru muncul di ujung jari tangan kanan Puspa yang masih lurus ke langit. Kemudian Puspa mengayunkan tangan kanannya ke bawah, membanting bola sina biru kecil di ujung jarinya.
Sinar itu terbanting ke atas batu dan bergerak liar dengan sendirinya di antara gelombang sinar putih. Gerakan sinar biru itu cepat dan acak, tidak teratur, tetapi hanya di depan Puspa. Itu karena Puspa duduk menghadap ke barat, arah yang mereka tuju.
Mereka yang menyaksikan hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi. Sementara sepasang mata Puspa masih terpejam.
Tiba-tiba gerakan liar bola sinar biru terhenti di satu titik. Warna birunya pun berubah menyala warna merah. Sinar itu tidak bergerak lagi di depan tubuh Puspa. Sementara gelombang sinar putih terus bergerak muncul dari bawah telapak tangan kiri Puspa yang masih menapak di atas batu.
Selanjutnya, Puspa membuka kedua matanya dan melihat area sinar di sekitarnya.
“Posisi Kucing Hutan sudah terlacak!” kata Puspa. “Kalian berdua duduklah di dalam lingkaran dan pegang tangan Puspa!”
Tirana masuk ke lingkaran sinar lebih dulu karena dia sudah pernah melakukannya bersama Joko Tenang. Ia duduk bersila di depan Puspa dan mengambil tangan kanan Puspa. Sementara tangan kiri Puspa masih menapak di bawah mengalirkan gelombang putih.
“Ayo duduk di sini, Ki Suntai!” panggil Tirana.
Su Ntai pun datang masuk dan segera duduk di dekat kedua wanita itu. Tirana memberikan tangan kirinya kepada Su Ntai.
“Bersiaplah masuk ke Gerbang Tanpa Batas!” seru Puspa.
Bress!
Seiring Puspa melepas tapak tangan kirinya dari batu, gelombang sinar putih berganti satu sinar merah bulat datar yang bergerak melebar di atas bebatuan, melewati bawah tubuh Puspa, Tirana dan Su Ntai. Tangan kiri Puspa cepat mengambil pergelangan tangan kanan Su Ntai dan memegangnya dengan erat.
Tampak ketegangan melekat pada wajah Su Ntai.
Namun ternyata, sinar merah itu menciptakan lubang gaib berwarna merah. Tubuh Puspa, Tirana dan Su Ntai seketika jatuh ke bawah, ke dalam lubang merah yang dengan cepat menutup sendiri dan hilang. Ketiganya telah masuk ke Gerbang Tanpa Batas, salah satu kesaktian unik yang dimiliki Puspa.
Ketiganya pun menghilang. (RH)
__ADS_1