Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 26: Genap Empat Istri


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Bukan hanya Kerling Sukma yang tegang dan berdebar menghadapi saat-saat menjelang akad serah terima dan janji suci diucapkan, tetapi juga sang ibu, yaitu Gatri Yandana.


Jaga Manta sebagai kakak satu bapak, bertindak sebagai wali yang akan menyerahkan adiknya kepada Joko Tenang yang masih tampak bugar, meski sudah melalui dua hari dua malam dalam menafkahi batin kedua istrinya.


“Yang Mulia Pangeran Dira Pratakarsa Diwana! Dengan disaksikan oleh roh ayahku, disaksikan oleh keluarga besar Perguruan Tiga Tapak, para tokoh persilatan aliran putih, para pejabat pemerintahan, dan seluruh mata yang menyaksikan, aku kawinkan Yang Mulia dengan adikku, Kerling Sukma. Maka terimalah Kerling Sukma sebagai istrimu!” ucap Jaga Manta lantang, meski perasaannya saat itu bergetar sedikit karena grogi.


Penyebutan “roh ayahku” oleh Jaga Manta mendadak membuat Kerling Sukma merasa sedih. Ia jadi teringat ayahnya, terlebih ia tidak pernah melihat sang ayah untuk terakhir kalinya. Bahkan setelah sang ayah dimakamkan, ibunya tidak memberitahukan bahwa ayahnya telah tewas.


“Aku terima sepenuh hati, Kerling Sukma putri dari Sangar Hentak sebagai istriku!” jawab Joko Tenang tanpa ragu.


“Berjanjilah!” seru Jaga Manta.


“Aku bersumpah disaksikan oleh para guru, orangtua, dan semua mata, akan memperlakukan Kerling Sukma sebagai istriku dengan penuh kasih dan cinta. Dan aku berjanji, akan berusaha sekuat tenaga memberikan kebahagiaan di medan tarung dan di semua medan!”


Kali ini tidak ada yang tertawa setelah Joko Tenang mengucap sumpahnya.


“Saaah! Hahaha!” teriak Pendekar Seribu Tapak kencang dan panjang, lalu ia tertawa sendiri.


Sontak beras dan tetaburan bunga dilempar kepada kepala Joko Tenang dan Kerling Sukma oleh para murid perguruan.


Joko Tenang tersenyum lebar. Ia lega. Sahnya pernikahannya dengan Kerling Sukma membuatnya resmi memiliki istri empat orang dan ketiga pernikahannya ini berjalan lancar dan aman.


“Hiks hiks!”


Dalam kegembiraan yang ramai itu, tiba-tiba terdengar suara tangis pengantin perempuan. Sebagian dari mereka seketika terkejut, termasuk Joko Tenang. Gatri Yandana segera mendapati putri tercintanya dan memeluknya.


Kerling Sukma menumpahkan tangisnya dalam pelukan ibunya.


Kegembiraan seketika berubah hening. Semua mata tertuju kepada Kerling Sukma.

__ADS_1


“Kenapa, Nak?” tanya sang ibu.


“Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedih teringat Ayah,” jawab Kerling Sukma terisak. Ia segera mengontrol emosinya dan menyeka air matanya. “Aku juga menangis karena bahagia. Pengorbanan hati dan pikiranku selama bertahun ternyata tidak sia-sia. Aku kini nyata menjadi milik Kakang Joko sebagai istri, dan Kakang Joko kini menjadi milikku sebagai suami. Aku sangat bahagia di dalam hati.”


Gatri Yandana membelai rambut putrinya, lalu mengecup keningnya. Setetes air mata meluncur jatuh di wajah Gatri Yandana.


“Peluklah suamimu, Nak!” suruh Gatri Yandana seraya tersenyum kepada putrinya.


Tersenyum malulah Kerling Sukma. Jika hanya berdua dengan Joko, ia tidak akan malu mau seperti apa terhadap pemuda berbibir merah itu, tetapi ini ia disuruh memeluk Joko di depan puluhan mata yang menyaksikan.


Namun akhirnya, Kerling Sukma pun merangsek maju dan memeluk suaminya yang sudah merentangkan tangan dengan gagah. Meski Joko Tenang sudah jadi pejantan tangguh, tetapi ia juga harus lihat tempat untuk mengekpresikan rasa cintanya.


Joko Tenang memeluk Kerling Sukma lalu hanya mengecup keningnya dengan lembut. Namun, meski hanya demikian, tetapi kebahagiaan dari kecupan itu begitu terasa hingga ke relung hati.


Setelah itu, mulailah pasangan pengantin melakukan sungkem meminta restu dan doa kepada kedua ibu, yaitu Gatri Yandana dan Lili Angkir. Selanjutnya kepada Pendekar Seribu Tapak, Obang Kenari, Tumbuk Gertak dan istrinya, lalu kepada Dewi Mata Hati. Terakhir adalah minta restu dan doa kepada Jaga Manta.


“Bawa kedua pengantin ke kamar asmaranya!” teriak Pendekar Seribu Tapak.


Kerling Sukma dipanggul oleh kakaknya, Jaga Manta. Sementara Joko Tenang dipanggul oleh mertuanya, Turung Gali.


Lagi-lagi kamar asmara telah berganti warna menjadi putih.


Baru saja Joko Tenang menutup pintu kamar asmara, Kerling Sukma langsung menyerang suaminya dengan nafsu yang menggebu-gebu, bahkan Joko Tenang sampai terdesak, tanpa bisa melakukan serangan balasan.


Ternyata, Kerling Sukma memiliki karakter nafsu cinta yang buas. Di masa jeda setelah ronde pertama mencapai puncak asmara, barulah Joko Tenang berbagi tips-tips kepada Kerling Sukma tanpa menyebut nama Tirana atau Getara Cinta.


Ada kesepakatan di antara Joko Tenang dan ketiga istrinya, yaitu ketika Joko Tenang sedang dalam urusan ranjang bersama salah satu istrinya, mereka diharamkan menyebut nama istri yang lain. Itu bertujuan untuk menjaga kekhusyukan interaksi pasangan dan menjaga perasaan istri yang sedang dinafkahi.


Dalam hubungan badan antara Joko Tenang dan Kerling Sukma, tidak ada fenomena kesaktian yang terjadi seperti yang dialami Tirana dan Getara Cinta.


Namun, selain mendapat layanan terbaik dari Joko Tenang, Kerling Sukma sedikit memiliki keunikan dalam berhubungan. Kerling Sukma adalah pendekar wanita yang memiliki tingkat kelenturan tubuh yang cukup tinggi, karenanya ia memiliki beberapa gaya yang mengandalkan kelenturan tubuh dan itu tidak bisa dilakukan oleh Tirana dan Getara Cinta.

__ADS_1


Perbedaan gaya tarung setiap istri cukuplah Joko Tenang yang mengetahui dan menjadi rahasia masing-masing. Sebenarnya ilmu menyimpan rahasia di antara sesama istri terkait perkara ranjang, Joko Tenang dapat dari pengajaran Tirana.


Tirana banyak berbagi ilmu kepada Joko Tenang ketika mereka pulang dari Negeri Jang. Mereka memuaskan waktu berhari-hari di atas Gimba, rajawali raksasa milik Joko.


“Sandaria, lalu kapan kau akan bergabung bersama kami sebagai istri Kakang Joko?” tanya Getara Cinta kepada Sandaria.


Getara Cinta dan Tirana mendampingi gadis mungil jelita itu untuk menuju ke tempat serigalanya menunggu. Serigala Perak sudah lebih dulu pergi.


“Entahlah,” jawab Sandaria dengan suara seraknya yang khas. Ia tersenyum malu. “Aku harus memberi pengertian dulu kepada para serigalaku agar mereka tidak kecewa jika mengetahui aku berbagi suami.”


“Tapi jangan terlalu lama, sebab bisa saja Kakang Joko bertemu dengan calon sakti yang lain, sehingga ruang yang harusnya kau isi justru ditempati oleh wanita lain,” kata Getara Cinta.


“Jika kau sudah mengambil keputusan, datanglah ke Kerajaan Sanggana Kecil di Telaga Fatara di sisi utara Gunung Prabu, karena setelah pernikahan ini selesai, kami dan Kakang Joko akan tinggal di sana,” kata Tirana.


Saat itu, terdengar seekor kuda berlari kencang memasuki gerbang utama pertama perguruan.


“Lapooor!” teriak Sigangga yang menunggang kuda. Ia tampak sudah sehat, meski wajahnya masih menyisakan luka akibat dihajar oleh pengawal Putri Aninda Serunai.


Teriakan laporan Sigangga mengejutkan para pemain gamelan sehingga musik berhenti. Otomatis para penari cantik pun berhenti menari guna melihat apa yang terjadi.


Biasanya, jika Sigangga datang membawa laporan atau pesan, pasti ada hal buruk.


Jaga Manta segera keluar ke teras balairung.


Kali ini Sigangga turun dari kuda dengan hati-hati, membuatnya aman dari insiden buruk.


“Ada apa, Sigangga?” tanya Jaga Manta.


“Lirik Layangati sudah pulang, Ketua!” lapor Sigangga dengan tersenyum.


“Apa?!” kejut Jaga Manta, tapi kemudian sumringah senang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2