Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
57. Rencana Rahasia


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Joko Tenang dan Tirana telah tampil bersih. Wajah mereka berseri dengan rambut yang masih tampak lembab selepas mandi. Kali ini Tirana tampil cantik jelita dengan pakaian berwarna putih berlapis jubah kuning berkain tebal dan mahal. Pinggangnya dililit dengan sabuk hitam berhias sulaman emas bermotif bunga-bunga indah. Sementara Joko berganti baju putih celana biru yang baru, tapi tetap dengan Rompi Kencono Geni yang wajib ia pakai setiap saat.


Hal yang sama dengan kondisi Nintari. Ia pun terlihat lebih segar dengan pakaian yang masih ungu tapi baru. Rambutnya tetap dalam kepangan tunggal. Seruling Kubur-nya masih terselip di pinggang. Tadi Nintari menyatakan akan pergi, tetapi Joko Tenang menahannya.


Sulasih pun telah menjadi bagian dari kelompok Joko. Ia punya harapan dari orang-orang sakti yang bersamanya. Ia ingin membebaskan putranya dari perbudakan di Lembah Gelap. Tirana telah menjanjikan kepada Sulasih, jika tidak ada perubahan kondisi yang mereka bayangkan, Tirana akan meminta calon suaminya untuk membebaskan kaum lelaki dari perbudakan di Lembah Gelap, terlebih mereka harus membebaskan Hujabayat.


“Aku ingin bertemu dengan Ratu Getara sebentar, kalian berdua tunggulah sebentar,” kata Joko Tenang.


Setelah mendapat izin dari sang ratu, Joko Tenang diantar oleh prajurit menemui ratu di pinggiran kolam ikan favoritnya.


“Tirana, apa yang ada di pikiranmu sehingga kau sudi berbagi suami dan cinta dengan wanita lain?” tanya Nintari.


“Hmm?” Tirana agak mendelik mendapat pertanyaan seperti itu. Namun kemudian ia tersenyum dan bertanya balik, “Kau tertarik ingin menjadi istri Kakang Joko?”


“Tidak, karena aku tidak bisa berbagi,” jawab Nintari.


“Itu perasaanmu saat ini. Itu bisa berubah suatu saat nanti,” kata Tirana. “Aku dijodohkan dengan Kakang Joko dan aku ditugaskan untuk mencarikan banyak istri. Jika aku tidak siap untuk berbagi, maka saat ini aku tidak akan bersamanya.”


“Karenanya aku tidak percaya bahwa kau ini seorang manusia,” kata Nintari.


“Maksudmu?” tanya Tirana seraya tertawa kecil.


“Setahuku, tidak ada wanita dari kalangan manusia yang mau berbagi suami,” kata Nintari yang membuat Tirana kian tertawa.


“Sekarang kau tahu, ada wanita dari kalangan manusia yang mau berbagi suami,” kata Tirana. Ia lalu beralih kepada Sulasih, “Bagaimana denganmu, Sulasih? Kau mau berbagi suami?”


“Ah?” Kini Sulasih yang agak tersentak wajahnya ditanya demikian. Akhirnya ia menjawab, “Para wanita Hutan Kabut tidak pernah memiliki suami. Laki-laki hanya sebagai pembuah untuk melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Laki-laki tidak punya tempat di Hutan Kabut.”


“Kakak Bidadari, bagaimana jika Kakang Joko menyewamu?” tanya Tirana.

__ADS_1


“Tugas apa?” tanya Nintari.


“Membebaskan kaum lelaki dari perbudakan Ratu Aswa Tara,” jawab Tirana.


“Apakah kau memiliki harta untuk bisa membayarku?” tanya Nintari.


“Tidak. Apakah kau menerima pembayaran utang?”


“Tidak,” jawab Nintari pula. “Namun, jika kau menjamin pasti akan membayar di kemudian hari, aku bisa terima.”


“Tapi ingat, jangan sampai Kakang Joko tahu bahwa aku membayarmu,” kata Tirana dengan suara berbisik.


“Baik. Apakah kau menginginkan Ratu Aswa Tara mati?” tanya Nintari.


“Benar,” jawab Tirana.


“Berarti harganya tambah mahal,” kata Nintari. “Jika aku seorang diri ditugaskan untuk mengobrak-abrik satu kerajaan seperti Hutan Kabut, ini termasuk tugas yang lebih berat dibandingkan bertarung di Sumur Juara. Jadi aku memasang harga yang lebih mahal.”


“Baiklah,” kata Tirana setuju.


"Kenapa ini harus dirahasiakan dari Joko?" tanya Nintari.


"Aku khawatir Kakang Joko tidak akan menyetujui rencana ini, meski ia sangat membutuhkan kematian Ratu Aswa Tara," jawab Tirana.


"Terus terang aku penasaran, kenapa Ratu Aswa Tara harus mati untuk bisa menyelamatkan calon istri Joko," ujar Nintari.


"Tidak bisa aku jelaskan secara rinci, karena aku menilai terkait dengan rahasia kerajaan ini, terutama tentang Arak Kahyangan itu sendiri," jelas Tirana.


"Lalu keputusan apa yang diambil oleh Joko?" tanya Nintari lagi.


"Belum ada keputusan dari Kakang Joko. Sebelum kita mandi, ia hanya termenung memandangi Ginari dan Kembang Buangi. Kakang Joko belum mengutarakan rencananya. Aku rasa Kakang sedang mengutarakannya kepada Ratu Getara Cinta," tandas Tirana.

__ADS_1


"Berapa hari lagi waktu mereka berdua?" tanya Sulasih.


"Mungkin dua hari lagi. Karenanya, setelah ini Kakak Bidadari harus langsung pergi ke Hutan Kabut, karena jarak akan memakan waktu kita. Bawalah jantung Ratu Aswa Tara kemari secepat mungkin. Aku tidak bisa menyertaimu karena harus terus berada di sisi Kakang Joko...."


“Jantung?” potong Nintari menyatakan keheranannya. “Apakah jantung itu ada kaitannya dengan obat untuk keduanya?”


“Benar.”


“Joko datang,” kata Nintari seraya memandang ke arah pintu taman.


Tirana dan Sulasih pun mengalihkan pandangannya ke arah kedatangan Joko. Pemuda tampan itu datang dikawal oleh dua orang prajurit.


“Ratu Getara Cinta ingin menjamu kita dengan makan bersama sebelum kepergian Bidadari,” ujar Joko setibanya ia empat langkah di hadapan para wanita itu.


“Wah! Sepertinya Ratu Getara sedang bahagia hatinya,” sahut Nintari seraya tertawa kecil. “Padahal sejak aku datang dua pekan lalu, tidak sekali pun ada jamuan untuk seorang pendekar bayaran.”


“Tapi, kalian pergilah lebih dulu, aku ingin sejenak memeriksa kondisi Ginari dan Kembang Buangi di ruangannya,” kata Joko.


“Aku ikut Kakang,” kata Tirana.


“Tidak perlu, aku ingin sendiri sejenak,” tolak Joko seraya tersenyum manis kepada Tirana.


Tirana mengangguk. Ia mencoba memahami perasaan Joko.


“Kakang pasti sangat gelisah memikirkan kondisi Ginari dan Kembang,” membatin Tirana dalam anggukannya. Ia berharap, sekembalinya dari menjenguk Ginari dan Kembang Buangi, Joko akan mengutarakan keputusan rencananya di saat jamuan atau setelah jamuan.


“Silakan, para pendekar!” kata seorang prajurit mengarahkan agar ketiga wanita itu mengikutinya.


Satu prajurit lainnya mengawal Joko Tenang menuju tempat Ginari dan Kembang Buangi ditempatkan.


Tempat Ginari dan Kembang Buangi berada adalah sebuah bangunan kayu bagus yang dibangun di dekat aliran sungai kecil selebar tiga langkah yang bisa dilompati untuk sampai ke seberangnya. Lebih mirip aliran parit karena kedua sisinya ditata dengan susunan batu kali. Airnya bening dan mengalir santai. Bangunan kayu itu memiliki pelataran yang cukup lebar dengan tiang-tiang batu yang di atasnya ada pahatan batu berbentuk kepala harimau. Susunannya diselingi oleh tiang-tiang yang di atasnya ada tungku batu yang tidak menyala.

__ADS_1


Ketika Joko dan prajurit yang mengawalnya menyusuri koridor menuju pelataran rumah kayu itu, dari arah lain berjalan pula rombongan Ratu Getara Cinta yang dikawal oleh para pelayan wanitanya dan selusin prajurit Pengawal Ratu.


Tampak Panglima Jagaraya berjalan tidak jauh di belakang Ratu Getara Cinta. Ia membawa sebuah nampan berlapis kain putih bersih yang diatasnya ada sebuah benda yang berkilau memantulkan cahaya matahari. Warnanya biru gelap dan memiliki bentuk yang unik. (RH)


__ADS_2