Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
105. Korban Pertama Joko


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Tuan Joko, apakah kau termasuk bagian dari mereka?” tanya Putri Yuo Kai jadi curiga, karena kemunculan Joko Tenang bersamaan dengan munculnya keenam orang asing lainnya yang berperawakan seperti orang dunia persilatan.


“Jika kau butuh bantuan, aku siap sumbang tenaga, tidak usah sungkan,” kata Joko Tenang seraya tersenyum. “Tidak kusangka di sini sedang terjadi pembunuhan besar-besaran.”


“Siapa kalian sebenarnya? Dan siapa yang memerintahkan kalian?” tanya Putri Yuo Kai kepada Joko.


“Aku mengikutimu, Yang Mulia Ratu. Kata pelayanmu, anakmu diculik penjahat,” kata Joko.


“Baiklah, tidak peduli siapa kalian atau siapa yang mengirim kalian. Nyawa puluhan prajurit Jang harus kalian bayar juga dengan nyawa kalian!” tandas Putri Yuo Kai.


“Sepertinya kau marah kepadaku, Yang Mulia Ratu?” tanya Joko Tenang curiga.


“Baiklah, aku akan membunuhmu lebih dulu, Tuan Joko!” seru Putri Yuo Kai.


Belum lagi Putri Yuo Kai melakukan satu serangan terhadap Joko, satu lelaki yang berdiri di atas perahu berkelebat terbang di udara laksana burung dan mendarat ringan di atas pagar jembatan, berseberangan dengan posisi Joko Tenang yang juga berdiri di pagar jembatan satunya.


Lelaki berpakaian merah dengan jubah hitam itu memiliki wajah yang tampan, meski usianya sudah lima puluh tahun. Jenggotnya lebat tapi terpusat, sehingga seperti kumpulan rambut yang hanya ditempel di dagu. Ia memiliki rambut yang gondrong dan berikat kepala pita panjang berwarna kuning. Yang menarik dari lelaki itu adalah di kedua punggung tangannya terpasang senjata berbahan baja yang memiliki dua cakaran panjang dan tajam sepanjang dua jengkal. Ia adalah pendekar yang bernama Hongli Ho. Dijuluki Harimau Cakar Besi.


Kedatangan Hongli Ho membuat Putri Yuo Kai mengurungkan niatnya untuk menyerang Joko. Putri Yuo Kai melihat Hongli Ho menatap tajam kepada Joko Tenang. Mau tidak mau Joko juga membalas tatapan permusuhan Hongli Ho, ia bahkan sengaja sedikit menaikkan dagunya untuk memberi kesan angkuh.


Sementara orang-orang yang lain yang memusatkan perhatiannya ke atas jembatan yang sudah rusak, memilih bergeming di tempatnya masing-masing.


“Jika mereka teman, tapi kenapa tampak saling memusuhi?” tanya Putri Yuo Kai dalam hati. Semua pertanyaannya tadi memang tidak dijawab oleh Joko, karena Joko tidak mengerti kata-kata sang putri sehingga ia pun menjawab lain.


“Wajahmu sangat asing jika dibandingkan orang-orang di negeri ini,” kata Hongli Ho kepada Joko, yang tidak dimengerti Joko.


“Apa kau heran melihat bibirku?” tanya Joko Tenang pula dengan bahasa asal negerinya.


Mendengar perkataan Joko, barulah Hongli Ho membenarkan dugaannya bahwa Joko buka orang dari negeri itu.


“Bicara apa kau?” rutuk Hongli Ho. Ia lalu beralih kepada Putri Yuo Kai yang berdiri lebih rendah darinya. “Tidak aku sangka, rumor tentang kecantikan dan kesaktian Putri Negeri Jang bukan kabar burung belaka. Pantas, kami dibayar sangat mahal untuk harga nyawamu.”


“Siapa yang membayar kalian?” tanya Putri Yuo Kai.


Hongli Ho tidak langsung menjawab. Dia melompat turun ke lantai jembatan. Tindakan Hongli Ho itu membuat Joko memilih turun pula dari atas pagar. Ia hanya mendengar percakapan bahasa asing antara Putri Yuo Kai dengan Hongli Ho.


“Menurutmu siapa yang memiliki harta yang begitu banyak untuk membayar orang-orang dunia persilatan? Seorang pejabat biasa atau seorang bangsawan tidak akan mampu melakukannya,” kata Hongli Ho.


“Maksudmu, orang yang membayar kalian adalah sebuah kerajaan?” terka Putri Yuo Kai.


“Tepatnya orang kerajaan. Jika kau bernasib bagus hari ini, kelak kau akan tahu setelah tiba-tiba wilayah kekuasaan Negeri Jang sudah berkurang,” kata Hongli Ho.

__ADS_1


“Berarti ini perang dua kerajaan!” desis Putri Yuo Kai.


“Kau benar, Tuan Putri. Oh ya, perkenalkan, namaku Hongli Ho atau Harimau Cakar Besi. Kami berenam sudah mengundi menentukan siapa yang lebih dulu akan berhadapan denganmu dan membunuhmu, atau mati di tanganmu.”


“Berenam? Bukankah Tuan Joko ini bagian dari kelompokmu?” tanya Putri Yuo Kai.


“Dia?” Hongli Ho justru bertanya kepada Putri Yuo Kai sambil menunjuk wajah Joko Tenang dengan dua cakar besinya. “Aku kira dia orangmu.”


Hongli Ho lalu beralih bertanya kepada Joko Tenang.


“Orang Asing, siapa yang membayarmu?” tanya Hongli Ho.


“Bagus, memang seharusnya lelaki lawan lelaki, perempuan lawan perempuan!” kata Joko.


“Percuma kau bicara dengannya. Aku sarankan, lebih baik kau melawannya!” kata Putri Yuo Kai seraya tersenyum tipis.


“Aku dibayar hanya untuk membunuhmu,” tandas Hongli Li.


“Tuan Joko!” panggil Putri Yuo Kai.


Namanya disebut, Joko pun berpaling kepada sang putri. Ia bertanya dengan wajahnya.


“Jika kau bisa membunuhnya,” kata Putri Yuo Kai sambil memberi isyarat menyayat nadi tangannya dengan jari lalu menunjuk Hongli Ho. “Kita....” Ia lalu menunjuk dirinya lalu menunjuk Joko pula, kemudian memberi isyarat makan sambil katanya, “Makan siang berdua.”


Terakhir Putri Yuo Kai mengisyaratkan dua jarinya.


Joko Tenang menawarkan bantuan kepada Putri Yuo Kai bukan tanpa alasan. Berdasarkan analisanya, ia menyimpulkan bahwa Putri Yuo Kai yang dianggapnya seorang ratu itu adalah pihak yang benar dan orang-orang berkesaktian yang datang itu adalah kelompok jahat. Kesimpulan itu berdasarkan dari kondisi yang tercipta, yaitu adanya penculikan putri dan banyaknya korban yang jatuh di pihak pasukan kerajaan.


Putri Yuo Kai jadi tersenyum kepada Joko melihat responnya.


Dak dak!


Joko Tenang melompat kepada Hongli Ho, mengirimkan dua tendangan pembuka yang tidak berbahaya. Hongli Ho hanya menangkis dengan dua sikunya bergantian.


Kini dua pendekar itu saling berhadapan siap tarung.


“Aku tidak mau bertarung melawanmu, Orang Asing!” kata Hongli Ho agak keras.


“Tidak, aku tidak akan membunuhmu,” kata Joko lalu tersenyum paksa kepada Hongli Ho.


“Minggir!” bentak Hongli Ho sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Joko bergeser minggir.


“Tidak. Lihat, betapa banyak orang yang telah kalian bunuh. Aku akan menghentikan kalian untuk mencegah bertambahnya korban,” tandas Joko Tenang.

__ADS_1


“Jangan salahkan jika aku membunuhmu, Orang Asing!” kata Hongli Ho, ia mulai memasang kuda-kuda.


“Seharusnya kalian tidak melakukan itu, nyawa mereka semua sangat berharga sebagai manusia,” ujar Joko, tidak sejalan dengan omongan Hongli Ho.


Hongli Ho yang merasa diabaikan oleh Joko Tenang, akhirnya maju menyerang, tentu saja mengandalkan senjata empat cakar bajanya yang tajam. Memandang Joko Tenang sebagai pendekar yang bukan ecek-ecek, maka Hongli Ho menyerang dengan kecepatan tingkat tinggi.


Namun, tetap saja Hongli Ho harus kecewa karena ternyata Joko Tenang terlihat tenang dalam menghindari semua cakaran bajanya.


“Pemuda asing ini benar-benar hebat. Aku penasaran, sejauh mana kesaktiannya,” batin Putri Yuo Kai.


“Hiaaat!” Tiba-tiba Hongli Ho melejit tinggi ke udara. Di puncak loncatannya, ia menghentakkan sepasang lengannya hingga cakar bajanya membara seperti bara api. Lalu ia ayunkan ke arah Joko Tenang.


Joko Tenang dapat merasakan hawa tenaga yang begitu besar dalam ayunan sepasang cakar itu. Joko memilih melompat tinggi pula menghindari tebasan dua cakar tersebut.


Zroakrr!


Akibat hindaran Joko, sepasang cakar Hongli Ho ganti mencakar lantai jembatan hingga membuat jembatan itu terbelah dua. Bahkan Putri Yuo Kai harus melompat mundur ke ujung jembatan demi menghindari dampaknya.


Dak!


“Hukr!”


Gagal menghabisi lawan, Hongli Ho langsung mendongak ke atas. Joko yang saat itu berada di udara langsung melepaskan pukulan Tapak Kucing. Hongli Ho langsung terjengkang menabrak hancur pagar jembatan dan kemudian jatuh ke atas perahu yang banyak tertambat di bawah jembatan.


Joko turun mendarat di atas lantai jembatan yang masih bisa dipakai untuk berdiri. Jembatan itu sudah terpotong di tengah-tengah.


“Pukulan jarak jauh itu hebat, tidak memiliki proses waktu,” membatin Putri Yuo Kai yang menyaksikan pukulan Tapak Kucing.


Meski terlihat seperti pukulan jarak jauh biasa yang tanpa sinar atau hawa panas dan semacamnya, Tapak Kucing adalah pukulan maut yang nyaris tidak ada orang yang mampu selamat darinya. Ketika pukulan itu dihentakkan, maka saat itu juga tenaganya langsung sampai ke target, tanpa ada proses transfer tenaga.


Maka yang terjadi adalah seperti yang dialami oleh Hongli Ho. Kini ia terkapar di atas perahu dengan mulut penuh darah. Meski ia masih bernyawa, tetapi ia tidak berani bergerak bangun. Ia tahu bahwa jika ada tekanan lagi terhadap dadanya, maka matilah ia.


Joko Tenang memilih tidak membunuh Hongli Ho, tetapi hanya melumpuhkannya. Joko hanya menggunakan separuh tenaga normal dari pukulan Tapak Kucing. Hasilnya, tulang-tulang rongga dada lawan hanya mengalami sejumlah retak, tidak sampai hancur.


Joko Tenang melangkah melongok  melihat ke perahu. Saat melihat kondisi Hongli Ho, Joko dapat memastikan sejauh mana lukanya.


“Kita akan makan bersama!” seru Joko kepada Putri Yuo Kai, lalu memberi isyarat makan. Kemudian ia tersenyum manis kepada wanita cantik yang cukup jauh lebih tua darinya itu.


Senyuman Joko itu kali ini membuat Putri Yuo Kai tersenyum lebar. Karisma yang dikeluarkan oleh senyuman Joko terasa indah ketika menyerang ke dalam mata lalu turun ke hati sang putri.


“Apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa aku begitu gampang terpengaruh olehnya?” membatin Putri Yuo Kai meski bibirnya tersenyum balik kepada Joko.


Wess! Bruakr!

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah benda bulat berduri sebesar kelapa melesat dari seberang parit yang mengincar tubuh indah sang putri. Namun, dengan mudah Putri Yuo Kai berpindah tempat, membuat bola besi berduri itu menghancurkan sebuah tembok bangunan hingga berlubang besar.


Orang yang melempar bola berduri adalah sosok lelaki gemuk yang berdiri di atas tanggul sisi kanan. Ia sosok yang memelihara brewok dengan jenggot lebat sedada. Namun, kepala depannya botak karena rontok. Kegemukannya diimbangi dengan tinggi badan yang normal. Ia mengenakan pakaian serba biru gelap. Seutas rantai panjang terlilit dan terpegang di kedua tangannya. Ia bernama Yelu Yong, seorang tokoh persilatan yang dikenal menggunakan rantai dan bola besi berduri sebagai senjata. (RH)


__ADS_2