Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC13: Putri Buruk Rupa


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


 


Akhirnya kuda dan keretanya berhenti di dekat mereka berkumpul.


Melihat kereta kuda telah berhenti, Gulung Lidah buru-buru meninggalkan api unggun dan pergi ke kereta lalu membukakan pintu bilik kereta.


Dari dalam bilik tersembul seorang wanita berambut panjang berpakaian merah. Yang menarik, kedua tangannya ditutupi oleh sarung tangan warna merah, satu hal yang jarang dilakukan oleh para wanita bangsawan atau kerajaan. Ketika sepasang kakinya yang semua tertutupi kulitnya itu turun menginjak tanah, barulah jelas terlihat pula parasnya yang putih tapi tidak cantik. Wajah wanita muda itu penuh bopeng dan jerawat, serta ada bekas luka bakar.


Sejak wanita itu keluar dari bilik keretanya, aroma harum bunga mawar yang lembut tapi luas jangkauannya, tercium memanjakan hidung dan perasaan.


Wanita itu tidak lain adalah Putri Sri Rahayu yang berjuluk Bidadari Asap Racun. Kali ini ia tidak bersama asap merahnya yang menutupi kaki.


“Sisisi... silakan, Bidadari!” ucap Gulung Lidah, seolah ia adalah penyambut tamu.


Melihat kedatangan wanita berpakaian merah, Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi bergerak bangkit berdiri.


“Mohon maaf, Nisanak. Kami kemalaman dan belum mendapatkan tempat bagus untuk bermalam. Jika berkenan, izinkan kami ikut serta menghangatkan diri dengan api kalian,” ujar Putri Sri Rahayu kepada Tirana dan Kembang Buangi.


Tirana tersenyum sambil mendengarkan perkataan Putri Sri Rahayu, tetapi ia tidak langsung menjawab permintaan sang putri. Ia segera memandang kepada Joko Tenang sebagai pemimpin. Joko Tenang mengangguk.


“Tempat ini bukanlah milik kami, jadi tentunya Nisanak dan Gulung Gagap....”


“Gulung Lilili... Lidah, Tititi... Tirana Sayang,” kata Gulung Lidah cepat memotong tapi lelet meralat.


“Iya, maksudku, Nisanak dan Gulung Lidah bisa singgah pula di sini,” kata Tirana meluruskan dan melengkapi.


Siluman Gagap segera pergi mengambil sebongkah batu sebesar bokongnya dan mengangkatnya ke dekat kaki Putri Sri Rahayu. Tidak lupa ia tebas-tebas permukaan batu dengan jari-jari tangannya, membersihkan debu yang ada.


“Sisisi... silakan, Bibibi... Bidadari,” kata Gulung Lidah, sibuk melayani tuannya.


Putri Sri Rahayu pun duduk anggun di batu tersebut.


“Bidadari? Sebenarnya yang bidadarimu yang mana, Gulung Lidah? Aku atau majikanmu?” tanya Tirana.


“Jejeje....”


“Jelek?” terka Kembang Buangi yang merasa lelah menunggu perkataan Gulung Lidah.


“Bububu... bukan. Jejeje... jelas bidadariku kau, Tititi... Tirana,” kata Gulung Lidah sambil tersenyum malu-malu. Tampak lucu, membuat Tirana dan Kembang Buangi tertawa kecil.


“Kakaka....”


“Kakatua?” terka Kembang Buangi lagi, memotong perkataan Gulung Lidah.


“Bukan!” tandas Gulung Lidah mulai kesal oleh kejahilan Kembang Buangi. “Kakaka... kalau ini adalah jujuju... junjunganku, Putri Sri Rarara... Rahayu, Bibibi... Bidadari Asap Rarara... Racun!”


“Oh, ini junjunganmu Putri Sri Rarara Rahayu atau Bidadari Asap Racun?” ulang Kembang Buangi. Salah satu karakter Kembang Buangi sebenarnya adalah jahil. Ia pun pernah menjahili Joko Tenang saat pertama kali mereka bertemu.


Waktu lalu, Kembang Buangi pernah mengejar-ngejar Joko karena  pemuda itu selalu menjauh ketika didekati olehnya.

__ADS_1


“Sasasa... salah! Yang benar, Pupupu... Putri Sri Rarara... Rahayu!” tandas Gulung Lidah.


“Oooh, Pupupu Putri Sri Rarara Rahayu?” tanya Kembang Buangi lagi kepada Gulung Lidah.


“Aduh!” keluh Gulung Lidah meringis seperti orang kelelahan.


Tertawalah Joko, Tirana dan Kembang Buangi, tapi Kembang Buangi yang paling kencang tertawa. Putri Sri Rahayu hanya tersenyum melihat Gulung Lidah digoda oleh Kembang Buangi.


“Maafkan kami, Yang Mulia Putri,” ucap Tirana mewakili.


“Tidak perlu sungkan, cukup panggil aku Sri. Terlebih aku berada di luar istana,” kata Putri Sri Rahayu seraya tersenyum ramah, anggun layaknya seorang putri. “Jika diizinkan, sudilah kiranya aku mengenal nama kalian.”


Tirana tidak langsung menjawab, ia memandang kepada Joko Tenang, membuat Putri Sri Rahayu juga berpaling memandang kepada Joko.


“Tampan sekali orang yang bernama Joko ini. Tapi kenapa ia memakai pewarna bibir?” membatin Putri Sri Rahayu.


Joko Tenang mengangguk sekali kepada Tirana.


“Namaku Tirana, pelayan sekaligus calon istri Kakang Joko. Dan ini sahabat kami, Kembang Buangi,” kata Tirana memperkenalkan diri. “Kami tidak tahu jika Lidah Gulung memiliki seorang putri.”


“Lidah Gulung adalah salah satu prajurit pendekarku, tetapi dia suka berpergian. Yang di kereta bernama Sabdo Bumi. Tanpa sengaja aku dan Sabdo Bumi bertemu Lidah Gulung di Desa Wongawet. Di sana kami mendengar cerita tentang kepahlawanan kalian,” ujar Putri Sri Rahayu.


“Kalian tentunya tidak diminta bermalam di desa itu?” terka Tirana.


“Tidak.”


“Yang Mulia Putri!” panggil Joko tiba-tiba.


Tersentak jantung Putri Sri Rahayu. Meski ia bersikap tenang, terlebih ia adalah seorang sakti, tetapi ketika Joko Tenang untuk pertama kali memanggilnya, ada satu rasa asing yang menyentak jantungnya.


Panggilan itu membuat Putri Sri Rahayu beralih memandang kepada Joko. Pandangan mereka bertemu. Meski ada sebenang rasa membelai hati Putri Sri Rahayu, tetapi tidak bagi Joko. Mungkin karena faktor bahwa wajah sang putri buruk.


Putri Sri Rahayu bertanya hanya dengan tatapan yang teduh.


“Harum mawarmu begitu memanjakan perasaan, tetapi kenapa ada bau racun di baliknya?” puji dan tanya Joko.


Agak terkejut mereka semua. Tirana dan Kembang Buangi terkejut karena mereka tidak menduga. Putri Sri Rahayu dan Gulung Lidah terkejut karena Joko Tenang bisa mendeteksinya.


“Aku wanita beracun. Seluruh kulitku beracun. Tetapi aku sudah mengamankan orang lain dari bahaya racunku. Karenanya aku menggunakan aroma mawar yang kental untuk menutupi bau racunku,” kata Putri Sri Rahayu jujur.


“Bagaimana bisa?” tanya Kembang Buangi penasaran. Bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki tubuh semuanya beracun?


Putri Sri Rahayu hanya tersenyum. Lalu katanya, “Itu rahasia.”


“Lalu, bagaimana jika Sri menikah?” tanya Tirana pula.


“Mungkin tidak akan menikah. Hihihi!” jawab Putri Sri Rahayu lalu tertawa rendah.


“Lalu, bolehkah kami tahu, hendak ke mana kalian hingga harus kemalaman seperti ini,” tanya Tirana, mencoba mengikuti gaya bertanya Putri Sri Rahayu.


“Kerajaan Tarumasaga....”

__ADS_1


“Apakah Putri anggota keluarga Kerajaan Tarumasaga?” tanya Joko cepat, memotong perkataan Putri Sri Rahayu. Nada pertanyaannya pun agak tinggi dan mengandung kecurigaan.


Pertanyaan itu membuat Putri Sri Rahayu memandang serius kepada Joko Tenang.


“Bukan. Ini untuk pertama kalinya kami menuju Tarumasaga, karenanya kami sampai kemalaman, salah mengukur waktu perjalanan,” jawab Putri Sri Rahayu.


“Kami pun menuju ke tempat yang sama. Hanya saja, tujuan kami menghancurkan orang-orang Tarumasaga!” ungkap Joko berterus terang. Joko bermaksud, jika ternyata wanita beracun itu akan menjadi bagian dari pihak Kerajaan Tarumasaga, lebih baik mereka selesaikan perselisihan di malam itu juga.


“Maafkan aku, Joko. Aku tidak terkait dengan apa tujuan kalian ke Kerajaan Tarumasaga, karena aku hanya ingin mengunjungi seseorang di Kuthanegara Tarumasaga,” ujar Putri Sri Rahayu.


“Baiklah, maafkan kami jika curiga,” ucap Joko dengan nada yang lebih rendah.


“Maafkan jika sikap kami agak kasar, Sri. Tarumasaga telah membantai orang-orang kami, jadi kami gampang marah jika bertemu orang yang terkait dengan Tarumasaga,” kata Tirana menambahkan.


“Sabdo Bumi!” Tiba-tiba Joko Tenang berteriak memanggil lelaki besar yang duduk sendiri di belakang kuda.


Namun, lelaki yang bernama Sabdo Bumi tidak bereaksi atas panggilan Joko.


“Sabdo Bumi!” panggil Joko lagi, lebih keras.


“Jojojo... Joko! Sasasa... Sabdo Bumi itu tututu... tuli. Dia tititi... tidak akan mendengarmu,” kata Gulung Lidah.


Joko lalu memungut sebutir batu, lalu melemparkannya kepada Sabdo Bumi yang wajah dan pandangannya tidak sedang ke tempat itu. Joko yakin bahwa orang itu bukan sekedar kusir biasa yang punya tubuh kekar.


Tap!


Meski katanya tuli, tetapi Sabdo Bumi dengan tangkas menangkap batu itu. Ia memandang kepada Joko yang telah melemparnya.


Barulah Joko Tenang melambaikan tangan memanggil Sabdo Bumi.


“Oh iya, kami memiliki kambing hutan muda. Apakah kalian ingin kita panggang?” tawar Putri Sri Rahayu.


“Tapi itu tidak beracun, kan?” tanya Kembang Buangi.


Putri Sri Rahayu tertawa kecil. “Tidak.”


Tanpa diperintah, Gulung Lidah segera berlari ke kereta untuk mengambil kambing mati yang mereka bawa.


“Kau dari kerajaan mana, Putri?” tanya Joko.


“Kerajaanku tidak seperti kerajaan lain pada umumnya. Kerajaan Siluman Gaib terletak di sebuah celah gunung yang hanya memiliki daerah kekuasaan yang kecil,” jawab Putri Sri Rahayu.


“Tapi sepertinya, aku pernah melihatmu, Putri,” kata Joko Tenang.


“Di mana?” tanya Putri Sri Rahayu cepat.


Joko Tenang teringat peristiwa tadi siang, saat ia sedang mempraktikkan ketiga ilmu barunya yang diwariskan oleh Tiga Malaikat Kipas. Ketika Joko mempraktikkan ilmu Merah Raga yang membuatnya masuk ke alam gaib, Joko bisa melihat keberadaan sejumlah makhluk gaib yang gurunya sebut adalah jin.


Salah satu makhluk dari kelompok jin itu adalah seorang perempuan berpakaian merah yang berdiri di atas gumpalan asap merah. Meski posisi perempuan berasap itu jauh, tetapi Joko yakin sekali bahwa perempuan itu adalah Putri Sri Rahayu. Hanya bedanya, yang ini tidak berdiri di atas gulungan asap merah.


“Mungkin hanya mirip,” kata Joko, memilih tidak membahasnya.

__ADS_1


“Kikiki... kita pesta kakaka... kambing papapa... panggang!” seru Lidah Gulung. (RH)


__ADS_2