Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 5: Helai Sejengkal


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)* 


Perempuan itu tersenyum lebar duduk di atas perut Joko Tenang. Ia sudah tidak menggigil lagi. Wajahnya sudah tidak pucat dan bibir sudah tidak berwarna kuning gelap. Ia menyeka keringat di wajahnya.


Sementara itu, Joko Tenang terkulai seperti orang sekarat tanpa tenaga. Giliran Joko yang berkeringat dan wajahnya pucat.


Melihat wajah dan kondisi Joko Tenang seperti itu, si perempuan jadi kerutkan kening. Ia heran.


“Hei, apakah Racun Ular Es-ku pindah kepadamu?” tanya si wanita kepada Joko.


“Menjauhlah dariku,” ucap Joko lemah.


“Eh, maafkan aku,” ucap si wanita seolah baru tersadar bahwa ia duduk mengangkang di atas perut Joko. Ia lalu bangkit berdiri dalam kondisi segar bugar, seolah apa yang tadi ia alami hanyalah satu sandiwara belaka.


“Hei, bangunlah!” suruh si wanita.


Namun, tetap saja Joko terbaring begitu lemah. Si wanita tetap heran.


“Hei! Aku hanya mengambil ludahmu, tidak menyedot ludah yang lain. Kenapa kau lemah?” tanya si wanita berambut pendek itu.


“Menjauhlah, Nisanak!” suruh Joko lemah, seolah tidak punya semangat hidup.


Perempuan itu menghempaskan napas lalu menjauhi Joko sejauh enam langkah.  Barulah Joko merasakan bahwa  tenaganya mulai berangsur datang. Joko bangun duduk lalu melakukan pengaturan napas agar kondisinya lebih cepat pulih.


Joko Tenang bangkit berdiri. Ia menatap kesal kepada wanita berwajah imut di depannya.


“Apa yang kau lakukan tadi, Nisanak?!” tanya Joko dengan sedikit membentak. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang marah.


“Memelukmu dan mengambil ludahmu,” jawab si wanita agak tergeragap karena dibentak oleh pemuda tampan itu.


“Perbuatanmu sangat tidak pantas. Aku bermaksud menolongmu, tetapi kau malah menjebakku!” bentak Joko lagi, satu hal yang sangat jarang ia lakukan terhadap seorang wanita.


“Tapi, hanya seperti itu yang bisa membuatku sembuh sementara,” kata perempuan itu agak tertunduk.


“Sembuh dari apa? Lihat, kau tidak sakit apa pun!”


“Aku memang sakit, Hei! Apakah kau tidak bisa membedakan mana orang sakit dan mana orang segar?” kata wanita itu. “Sebagai ucapan terima kasihku, perkenalkan, namuku Helai Sejengkal.”


“Aku tidak peduli!” sentak Joko Tenang, ia benar-benar marah, terlihat dari wajahnya yang merengut. “Jangan lakukan itu lagi atau aku menghajarmu!”


“Kalau racunku kumat lagi, aku harus melakukannya lagi, Hei!” tandas wanita bernama Helai Sejengkal itu.


“Kenapa kau tidak menikah sehingga kau bisa melakukannya dengan suamimu?” tanya Joko kesal.


“Jika aku menikah, berarti suamiku akan tidak perjaka. Ludahnya tidak akan bisa menyembuhkan jika racunku kumat lagi,” jawab Helai Sejengkal.


“Jika begitu, lakukan dengan kekasihmu!” tandas Joko Tenang.


“Aku pernah punya kekasih, tetapi ketika racunku kumat dan aku sedot ludahnya, ternyata tidak mengobatiku, artinya dia sudah tidak perjaka. Dia pasti sudah pernah berhubungan dengan wanita murahan,” kata Helai Sejengkal.

__ADS_1


“Kau yang murahan!” umpat Joko, tetapi hanya di dalam hati. Ia khawatir jika gadis itu akan tersinggung jika ia umpat seperti itu. Ia justru bertanya, “Racun apa sebenarnya itu? Ketika aku periksa tadi, racunnya sudah melekat kuat di seluruh titik penting dan rumit dari tubuhmu. Aku pun tidak akan sanggup mengeluarkannya.”


“Racunku bernama Racun Naga Es. Racunku akan bereaksi jika aku terlalu letih,” kata Helai Sejengkal.


“Bukankah kau bisa mengukur agar kau tidak terlalu letih?” tanya Joko.


“Jika seperti tadi, aku dipaksa letih, Hei. Jika aku bertemu lagi dengan murid-murid Dewi Mata Hati....”


“Siapa? Murid-murid Dewi Mata Hati?” sebut ulang Joko memotong perkataan Helai Sejengkal. Seketika Joko Tenang teringat dengan Bibi Nara yang berjuluk Dewi Mata Hati dan muridnya yang bermata hijau, Kerling Sukma. Ia baru ingat bahwa Bibi Nara juga berambut pendek seperti Helai Sejengkal di hadapannya.


“Kenapa, Hei?” tanya Helai Sejengkal sambil melangkah lebih mendekat kepada Joko.


“Jangan mendekat!” seru Joko cepat sambil mundur setindak, membuat kakinya menginjak api di tanah sehingga padam.


“Kenapa, Hei?” tanya Helai Sejengkal sambil memaksa maju terus mendekat kepada Joko Tenang.


Joko Tenang melompat mundur dalam kegelapan.


“Aku takut kegelapan, Hei!” teriak Helai Sejengkal.


“Kau bohong!” tukas Joko. “Tadi kau mengeluh kedinginan, tetapi ketika aku mau mengobatimu, kau justru menangkapku seperti kucing menangkap tikus.”


“Hihihi!” tawa Helai sejengkal mendengar perumpamaan Joko. “Kau harus percaya kepadaku, Hei. Perbuatanku itu di luar keinginanku. Jika aku tidak berbuat seperti itu, aku lama-kelamaan bisa mati karena racunku.”


“Kau pasti wanita jahat karena kau berurusan dengan murid Dewi Mata Hati!” tukas Joko. Ia lalu berbalik pergi meninggalkan Helai Sejengkal.


Helai Sejengkal buru-buru mengejar Joko di dalam gelapnya kebun pisang.


“Aku harus mengikutimu, Hei! Aku takut murid-murid Dewi Mata Hati menemukanku lagi dan racunku bereaksi lagi karena letih. Jika racunku bereaksi lagi, jadi aku tidak perlu mencari lelaki lain untuk mendapatkan ludah perjaka,” ujar Helai Sejengkal.


“Berarti kau adalah pendekar aliran hitam sehingga harus berurusan dengan murid-murid Dewi Mata Hati,” tuding Joko.


“Biarpun guruku berwatak jahat, tetapi aku tidak jahat, Hei!” sangkal Helai Sejengkal.


“Lalu kenapa kau bisa berurusan dengan Dewi Mata Hati?” tanya Joko lagi.


“Mereka menuduhku telah membunuh adik seperguruan mereka karena senjataku ditemukan di tubuhnya. Tapi bukan aku pelakunya, Hei. Aku berani bersumpah seratus turunan disambar petir jika aku berbohong,” tandas gadis berambut pendek itu.


Tiba-tiba muncul kekahwatiran pada diri Joko mendengar seorang murid Dewi Mata Hati ada yang terbunuh.


“Murid Dewi Mata Hati yang dibunuh, apakah laki-laki atau perempuan?” tanya Joko.


“Perempuan,” jawab Helai Sejengkal.


Semakin cemas Joko mendengar jawaban itu.


“Apakah perempuan itu bermata hijau?” tanya Joko lagi.


“Emm... sepertinya tidak,” jawab Helai Sejengkal setelah berpikir.

__ADS_1


Legalah Joko Tenang, ternyata bukan Kerling Sukma sebagaimana yang ia khawatirkan.


“Kau kenal Dewi Mata Hati, Hei?” tanya Helai Sejengkal.


“Kenal.”


“Aaah, kau pasti punya hati dengan seorang muridnya yang bermata hijau ya?” terka Helai Sejengkal sambil tersenyum nakal.


“Dia sahabatku,” kata Joko.


“Aku tidak percaya,” kata Helai Sejengkal sambil bergerak mendekati Joko dengan gerakan yang agak genit.


“Jangan mendekatiku. Pergilah!” kata Joko sambil bergerak menjauh. Ia pun akhirnya menemukan setandan pisang.


Blep!


Joko Tenang menyalakan api hijau di tangannya untuk melihat kematangan pisang yang ia temukan. Ternyata matang.


Set!


Dengan menggunakan tenaga dalam, Joko memotong separuh dari tandan pisang yang menggantung.


“Hei, untuk apa kau mengambil pisang itu?” tanya Helai Sejengkal.


“Aku dan calon istriku lapar,” jawab Joko.


“Calon istri?” ucap ulang Helai Sejengkal agak terkejut.


“Kenapa?” tanya Joko.


“Tidak, tidak apa-apa. Hanya, aku tidak bisa minta ludah perjaka lagi jika ada calon istrimu,” ucap Helai Sejengkal lemah.


“Carilah lelaki lain yang masih perjaka,” kata Joko. Ia lalu berkelebat pergi dengan membawa pisang.


Helai Sejengkal cepat mengejar Joko Tenang.


“Jangan mengikuti!” seru Joko.


“Aku harus mengikutimu! Ludahmu sudah cocok denganku!” teriak Helai Sejengkal yang agak kerepotan mengikuti kecepatan lari Joko.


Dalam waktu singkat, Joko Tenang tiba di dangau tengah sawah. Saat itu, Getara Cinta dan Tirana sedang berbincang-bincang santai. Keduanya tersenyum melihat kedatangan calon suami mereka yang membawa pisang.


“Tidak masalah kan jika hanya makan ini?” tanya Joko.


“Tidak, Kakang,” jawab Getara Cinta.


“Boleh aku bergabung?” tanya Helai Sejengkal yang tahu-tahu sudah  berdiri di sisi Joko.


Joko Tenang cepat bergeser.

__ADS_1


Getara Cinta dan Tirana saling pandang melihat kemunculan gadis berambut pendek itu. (RH)


__ADS_2