Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC14: Mengenang Cinta Muda


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)* 


“Kau sudah bangun, Getara,” sapa Prabu Cokro Ningrat seraya tersenyum kepada Ratu Getara Cinta yang baru saja membuka matanya.


Ratu yang terbaring di sebuah ranjang kayu mewah lagi bertilam tebal dan empuk, mencoba mengenali wajah orang yang langsung ditangkap oleh matanya. Wanita cantik berwajah sangat pucat itu terdiam untuk beberapa detik.


“Cokro Ningrat,” ucap Ratu Getara Cinta lemah. Ekspresi wajahnya dingin. Ia yakin bahwa saat ini dirinya berada di Kerajaan Tarumasaga.


“Dayang! Bawakan ke mari bubur dan sayurnya!” perintah Prabu Cokro Ningrat yang memang sudah menyiapkan makanan lembut bagi Ratu Getara Cinta.


Seorang dayang perempuan yang hanya berpinjung sedada segera datang membawa senampan hidangan yang masih hangat. Dengan penuh rasa hormat, dayang tersebut meletakkan nampan yang dibawanya ke sebuah meja kayu di sisi kepala ranjang.


Prabu Cokro Ningrat lalu mengambil satu mangkok keramik yang berisikan bubur nasi, lengkap ada sendoknya. Prabu Cokro Ningrat menyiduk kuah sayur dan dicampurkan ke bubur nasi, lalu mengaduknya.


“Panggil tabib!” perintah Prabu Cokro Ningrat kepada prajuritnya.


“Baik, Yang Mulia Prabu,” ucap seorang prajurit yang berjaga di pintu kamar. Ia lalu pergi untuk memanggil tabib kerajaan.


Prabu Cokro Ningrat meniup lembut bubur yang sudah ada di sendok.


“Makanlah, biar tenagamu pulih,” kata Prabu Cokro Ningrat sambil menyodorkan sendok itu ke depan bibir pucat Ratu Getara Cinta.


Namun, sang ratu justru bergerak pelan menoleh, menjauhkan bibirnya dari sendok itu.


“Aku tidak akan menerima kebaikanmu, Cokro,” tandas Ratu Getara Cinta. “Kau telah menghabisi rakyatku, tapi kau justru mencoba berbuat baik kepadaku.”


Prabu Cokro Ningrat menghembuskan napas berat. Lalu katanya penuh nada kelembutan, “Aku begitu merindukanmu setelah permaisuriku wafat. Aku tahu bahwa kau tidak akan mau ikut ke Tarumasaga, jadi hanya cara itu pilihanku.”


“Biarkan dayang yang menyuapiku,” kata Ratu Getara Cinta yang memang merasakan tubuhnya nyaris tidak bertenaga, bahkan mengangkat tangan pun tidak sanggup.


Mendengar itu, masih senang perasaan Prabu Cokro Ningrat, daripada tidak sama sekali.


“Dayang!” panggil Prabu Cokro Ningrat.


Dayang tadi kembali mendekat, kali ini dengan beringsut.


“Suapi Ratu Getara!” perintah Prabu Cokro Ningrat lalu bangkit dari kursinya dan bergeser berdiri.

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia Prabu,” ucap dayang itu lalu menggantikan posisi rajanya.


“Aku ingin kita seperti dulu, Getara, saling mencintai dan menyayangi,” ujar Prabu Cokro Ningrat.


Ratu Getara tidak langsung menjawab, ia menerima suapan bubur dari dayang. Ingin rasanya ia memaki lelaki itu habis-habisan, tetapi emosi itu ia tahan karena fisiknya begitu lemah. Ia tidak mau menghabiskan energi sia-sia, karena jikapun ia bertenaga, ia tidak akan bisa berbuat banyak.


“Pikiran rusak apa yang merasukimu sebagai seorang raja, Cokro? Kau membawaku tetapi kau menghabisi keluargaku,” kata Ratu Getara Cinta.


“Karena aku terlalu cinta kepadamu. Apalah artinya kekuasaan besarku jika aku tidak bisa membawamu ke mari dalam kondisi yang hidup? Jika memang aku tidak bisa memiliki hati dan cintamu, memiliki ragamu pun aku rela,” tandas Prabu Cokro Ningrat.


“Hancurnya perasaanku di saat itu, lebih menyakitkan daripada kematian,” ucap Ratu Getara Cinta.


“Hal itu bisa kau lupakan, kita bina lagi cinta dan sayang dari awal,” kata Prabu Cokro Ningrat berusaha meyakinkan. “Aku berjanji, akan memberikan semua yang terbaik untukmu.”


“Lupakan. Dengan membawaku ke mari, kau sama saja membawa maut bagi dirimu sendiri dan Tarumasaga. Kau telah menculik calon istri seorang sakti,” kata Ratu Getara Cinta.


“Siapa?” tanya Prabu Cokro Ningrat cepat, nada suaranya agak meninggi dengan wajah terlihat marah.


“Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari. Dialah calon suamiku,” jawab Ratu Getara Cinta, ucapan pertama kali yang mengkonfirmasi bahwa ia adalah calon istri Joko Tenang.


“Ki Ageng Kunsa Pari memang sakti, tapi sehebat apa kesaktian muridnya?” kata Prabu Cokro Ningrat sinis.


“Aku tidak percaya. Kau hanya membohongiku. Bagaimana mungkin murid lebih sakti dari gurunya? Lagipula, apa artinya aku memiliki pasukan dan para perwira sakti jika hanya menghadapi satu orang tidak bisa. Kau lihat sendiri, bagaimana aku membuat Tabir Angin tidak berdaya sediki pun,” sesumbar Prabu Cokro Ningrat.


“Mohon ampun, Yang Mulia Prabu. Tabib Uwakiri sudah tiba!” lapor prajurit dari ambang pintu kamar.


Prabu Cokro Ningrat memandang ke pintu. Di samping prajurit yang tadi pergi memanggil tabib, telah berlutut pula seorang wanita tua.


Wanita tua berambut putih itu mengenakan pakian biru gelap dan hitam yang sederhana. Ia membawa sebuah kotak kayu bergagang di sisinya. Ia adalah tabib kerajaan yang bernama Uwakiri.


“Hormat hamba, Yang Mulia Prabu,” ucap Uwakiri menjura hormat seraya menunduk dan kedua tangan bertemu di depan dahi.


“Periksa sakit calon permaisuriku, Uwakiri!” perintah Prabu Cokro Ningrat.


“Baik, Yang Mulia Prabu,” ucap patuh Uwakiri. Ia lalu masuk ke dalam dengan cara beringsut untuk sampai ke ranjang tempat Ratu Getara berbaring.


Di kerajaan itu, kamar raja dan anak-anak raja adalah tempat yang sangat disakralkan selain balairung istana.

__ADS_1


Dayang yang menyuapi Ratu Getara Cinta segera pindah dari duduknya, memberi ruang bagi tabib kerajaan.


“Maaf, Yang Mulia,” ucap Uwakiri kepada Ratu Getara Cinta. Ia lalu meraih pergelangan tangan kanan Ratu Getara Cinta.


Uwakiri menyentuhkan jempol kanannya ke nadi sang ratu. Terlihat jempol itu bersinar hijau. Cahaya yang temaram di dalam kamar oleh penerangan dian yang terbatas membuat sinar hijau itu terlihat terang.


Keheningan tercipta hingga satu menit kemudian. Sementara Ratu Getara Cinta hanya merasakan rasa hangat pada bagian nadinya yang mendapat tekanan oleh jempol Uwakiri.


Tabib kerajaan itu menarik kembali tangannya dari tangan sang ratu.


“Bagaimana hasilnya, Uwakiri?” tanya Prabu Cokro Ningrat yang berdiri di sisi tabib.


Uwakiri tiba-tiba turun dari duduknya di kursi. Ia menjura hormat dalam-dalam kepada Prabu Cokro Ningrat.


“Ampuni hamba, Yang Mulia Prabu, beribu-ribu ampun. Hamba tidak bisa mengetahui jenis penyakit Yang Mulia Ratu. Namun....”


Kata-kata Uwariki terputus, karena ia takut akan mendapat murka dari sang raja.


“Ada apa? Kenapa berhenti?” tanya Prabu Cokro Ningrat tegang. Ia yakin bahwa tabib andalannya itu masih menyimpan hal buruk tentang sakit Ratu Getara Cinta.


“E... maaf beribu-ribu maaf, Yang Mulia Prabu. Aku merasakan bahwa semua organ penting di dalam tubuh Yang Mulia Ratu dalam kondisi sekarat, usianya tidak lama lagi,” ungkap Uwariki.


“Apa?!” kejut Prabu Cokro Ningrat.


Prabu Cokro Ningrat terdiam syok. Matanya tiba-tiba liar memandang ke sana dan ke sini tidak terkendali. Pengungkapan Uwakiri seakan membuyarkan seluruh impiannya untuk bersama dengan wanita yang pernah ia cintai dan kini ia cintai.


“Apakah hasil penelusuranmu tidak salah, Uwariki?” tanya Prabu Cokro Ningrat. Padahal selama ini ia tidak pernah meragukan hasil pendeteksian Uwariki. “Coba periksa lagi!”


“Baik, Yang Mulia Prabu,” ucap Uwariki patuh. Ia berpikir lebih baik patuh daripada mencoba meyakinkan rajanya.


Uwariki bangkit dan mencoba kembali mendeteksi penyakit dan kondisi tubuh Ratu Getara Cinta. Sang ratu hanya membiarkannya.


Proses yang sama kembali diulang. Hasilnya sama.


“Maaf beribu-ribu maaf, Yang Mulia Prabu, hasilnya tetap sama,” lapor Uwariki lagi.


“Aaagr!” geram Prabu Cokro Ningrat sambil menghentakkan tangan kanannya dengan kesal. Ia menghembuskan napasnya kasar. Ia memandang kosong ke langit-langit kamar yang agak gelap.

__ADS_1


“Lebih baik kau kembalikan aku ke Rimba Berbatu, biarkan aku mati di sana. Atau kau memilih menyimpan calon mayat,” kata Ratu Getara Cinta.


“Tidak!” teriak Prabu Cokro Ningrat. “Jika memang kau pasti akan mati dalam usia beberapa hari lagi, aku akan selalu menempatkanmu di sisiku. Aku akan menghabiskan waktuku bersamamu!” (RH)


__ADS_2