Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
59. Joko di Ambang Kematian


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Hanya sekali pengerahan tenaga dalam yang tinggi, Tirana berhasil menyedot setetes Arak Kahyangan. Setelah itu, Tirana pergi menghampiri tubuh Ginari. Tangan kanan Tirana menekan titik di sekitar sudut bibir Ginari sehingga bibir yang tertutup rapat terbuka sedikit. Selanjutnya, Tirana merunduk lalu menempelkan bibirnya kepada bibir Ginari.


Saat itulah terjadi proses pemindahan cairan yang ada di dalam mulut Tirana ke dalam mulut Ginari. Tirana sedikit menggunakan tenaga dalam agar cairan itu bisa mudah mengalir masuk ke dalam mulut dan tenggorokan Ginari.


Sementara itu, dengan gerakan yang begitu berat dan tangan gemetar, Joko Tenang bergerak perlahan mendekat ke meja. Panglima Jagaraya segera membantu Joko untuk mendekat ke sisi meja.


Ratu Getara Cinta dan Tirana hanya bisa melihat perjuangan Joko dengan sedih. Tirana tiada henti menangis. Jiwa pendekarnya ternyata tak mampu membuatnya untuk tidak bisa menangis. Kondisi Joko yang ditambah suara isak tangis Tirana membuat perasaan Ratu Getara Cinta terpicu pula untuk memaksa mata indahnya menitikkan setetes air mata.


“Hiaaat!” teriak Joko Tenang keras sambil mengerahkan tenaga dalam tingkat tertingginya.


Joko kemudian menempelkan bibirnya pada mulut botol Arak Kahyangan. Tidak seperti sebelumnya, kali Joko bisa menarik tetes Arak Kahyangan dengan sekali sedot.


“Aaak!” pekik Joko tinggi dengan tubuh tersentak kejang. Ia telah melepas mulut botol dari bibir merahnya. Tetes ketiga Arak Kahyangan yang adalah racun seperti tetes pertama telah masuk ke dalam tenggorokan.


“Joko!” sebut Nintari yang muncul di ambang pintu bersama Sulasih dan Sugeti Harum.


Bdak!


Joko Tenang melempar tubuhnya dengan keras hingga menghantam dinding papan dan jatuh meringkuk kejang menahan kesakitan.


“Joko!” sebut Nintari lalu segera hendak menghampiri Joko.


“Tahan, Kakak Bidadari!” seru Tirana cepat dan keras, membuat Nintari langsung menahan langkah.


“Kenapa?!” tanya Nintari agak membentak. Ia tidak suka dihentikan, karena ia tidak bisa diam melihat Joko menggeliat kesakitan luar biasa. Terlebih kini wajah Joko sudah berwarna biru semua dengan mata yang sangat merah.


“Jika kau mendekatinya, Kakang Joko akan langsung mati!” jawab Tirana.


Meski tidak mengerti dengan maksud jawaban Tirana, tetapi Nintari tidak bisa banyak bertanya, sebab Tirana telah bergerak ke sisi meja.

__ADS_1


“Wanita tidak boleh mendekati Joko, terlebih ia dalam kondisi seperti ini,” kata Ratu Getara Cinta yang memberi sedikit kejelasan bagi Nintari.


“Tapi kenapa, Yang Mulia?” tanya Nintari datar kepada sang ratu.


“Aku pun tidak begitu mengerti. Ia pun berpesan kepadaku agar tidak mendekatinya apa pun yang terjadi dengannya.”


Tirana kembali berhasil menyedot setetes Arak Kahyangan yang merupakan obat setelah tetes racun disedot oleh Joko. Tirana segera menghampiri Kembang Buangi dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir kekasih Hujabayat itu.


“Telan obat Arak Kahyang itu, Kembang,” bisik Tirana setelah melepas bibirnya dari bibir Kembang Buangi.


Setelah melaksanakan tugasnya,Tirana segera beralih kepada Joko.


Joko masih menggeliat-geliat kejang di lantai menderita kesakitan yang luar biasa.


“Kakang Joko!” panggil Tirana yang masih menangis, tetapi ia tidak berani mendekat.


Joko Tenang tidak menjawab panggilan Tirana. Seluruh kulit tubuhnya telah membiru. Kulit wajah, leher dan dada berwarna lebih gelap. Dua dosis racun Arak Kahyangan jelas membuat daya bunuh menjadi dua kali lipat.


Perlahan kejang tubuh Joko melemah. Pandangan mata Joko yang merah mulai memandang kosong. Joko sudah tidak merintih lagi. Tirana segera sadar dengan kondisi yang dialami calon suaminya itu.


Tangis si Gadis Penjaga pecah. Ia meraih tubuh Joko dan meletakkannya di dalam pelukan. Ia menyentuh pipi kelam Joko dan memanggilnya berulang-ulang.


“Yang Mulia Pangeran! Yang Mulia! Jangan mati!” panggil Tirana meratap. “Yang Mulia Pangeran Dira!”


Semua yang hadir di ruangan itu jadi terdiam mengerutkan kening ketika mendengar Tirana menyebut Joko “Yang Mulia Pangeran”.


“Apakah Joko adalah seorang pangeran kerajaan?” tanya batin Ratu Getara Cinta sambil jari-jari lentiknya menyeka air matanya yang turut tercurah.


“Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran. Hamba gagal menjaga, Yang Mulia. Tapi aku mohon, Yang Mulia Pangeran jangan mati, kita belum menikah. Yang Mulia belum menikahi Ginari. Aku mohon, Yang Mulia Pangeran Dira!” ratap Tirana, ia memeluk tubuh Joko dengan kuat bersama curah tangis yang terus terluapkan.


Ratapan Tirana dan kondisi Joko Tenang yang sudah tidak sadarkan diri membawa suasana di ruangan itu penuh dengan nuansa kesedihan yang kental.

__ADS_1


“Jagaraya, periksa kondisi Joko!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Jagaraya patuh. Ia lalu menghampiri tubuh Joko dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.


Setelah memeriksa denyut nadi Joko, Jagaraya bangkit berdiri.


“Yang Mulia Ratu, Joko sudah sampai di ambang kematian,” lapor Jagaraya dengan nada yang lesu.


Ratu Getara Cinta menarik napas dalam. Dadanya bergemuruh menahan kesedihan. Ia berusaha menahan tangis yang ingin mendesak keluar. Namun, genangan air bening telah bercokol di tepian bibir matanya.


“Tidak tidak tidak! Aku tidak akan membiarkan Yang Mulia Pangeran mati!” ucap Tirana.


Sejenak Tirana menahan gejolak kepedihan dan kesedihannya. Ia mengatur napasnya lalu mengecup dahi Joko. Seiring kecupan itu, satu gelombang sinar kuning tipis masuk ke wajah biru kelam Joko. Setelah itu, Tirana menarik kembali kepala dan tubuhnya.


Satu gelombang rasa sejuk memasuki kepala Joko lalu menjalar berproses ke seluruh dalam tubuh. Namun, rasa itu tidak bisa dirasakan oleh Joko.


Tirana kembali mengecup dahi Joko, memberikan Kecupan Malaikat untuk keduakalinya. Namun setelah menunggu sejenak, Joko tetap tidak sadarkan diri. Kondisi tubuhnya pun tidak berubah.


“Tidak ada obat untuk racun Arak Kahyangan, bahkan obat Arak Kahyangan tidak bisa menjadi penawarnya,” kata Ratu Getara Cinta setelah ia menyeka habis air matanya. “Kecuali satu obat.”


Tirana seketika berpaling menatap Ratu Getara Cinta. Nintari dan Sulasih pun beralih memandang kepada sang ratu.


“Jika memang ada obatnya, apakah bisa menyelamatkan Kakang Joko, Yang Mulia? Padahal dia kini di ambang kematian,” tanya Tirana.


“Itu jika obatnya ada di tempat yang jauh,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Maafkan hamba, Yang Mulia!” ucap Jagaraya seraya turun menjura hormat. “Aku berharap Yang Mulia Ratu tidak berpikir hal yang tidak mungkin.”


“Aku tidak bisa membiarkan Joko mati di depan mataku,” kata Ratu Getara Cinta.


“Hamba mohon, Yang Mulia Ratu!” kata Jagaraya agak keras dengan wajah penuh harap. “Tidak mungkin seorang ratu mengorbankan nyawa. Kerajaan akan hilang kendali dan hancur jika tanpa pemimpin.”

__ADS_1


Tirana dan yang lainnya jadi memendam tanda tanya besar mendengar permohonan Panglima Jagaraya.


“Aku tidak bisa, Jagaraya. Aku melihat Joko mau berkorban nyawa demi orang yang dicintainya. Aku telah terpengaruh oleh sikapnya,” ujar Ratu Getara Cinta. Lalu tegasnya kepada orang terdekatnya itu, “Jangan cegah aku!”(RH)


__ADS_2