
Setelah menutup pintu kamar, Tirana menghentakkan lengan kanannya seperti melempar sesuatu. Maka tiba-tiba sebuah pola sinar merah berbentuk lingkaran jaring laba-laba besar menempel di dinding papan kamar. Selanjutnya, Tirana melompat masuk ke dalam sinar jaring laba-laba yang bernama Lorong Laba-Laba itu. Sosok gadis itu lenyap seperti masuk ke alam lain.
Tirana tahu-tahu muncul di sebuah tempat. Ia melihat sekitar. Kosong. Tirana tahu lokasi itu dan tahu harus ke arah mana.
Tirana berkelebat diam-diam lalu naik ke atap koridor. Ilmu peringan tubuh Tirana yang tinggi membuat larinya di atap tidak terdengar oleh para prajurit yang berjaga di bawah atap sepanjang koridor.
Tirana tiba di gerbang penjara yang berada di dalam tebing batu. Ia berkelebat turun dan langsung melumpuhkan dua prajurit wanita yang berdiri berjaga. Tirana masuk ke sebuah ruang batu yang mengejutkan sejumlah prajurit yang bertugas.
Tirana dengan mudahnya melumpuhkan tiga prajurit wanita dan membuat diam satu prajurit lagi yang duduk di belakang meja besar. Penampilan prajurit itu agak lain dengan ikat kepala yang berbeda dari prajurit biasa. Dengan ilmu Pemutus Waktu, Tirana mengirim gelombang tenaga dalam yang membuat Kepala Penjara bernama Sulasih itu mematung, tidak bisa bergerak sedikit pun, meski mata dan pernapasannya tetap berfungsi.
Tirana mengambil sekumpulan kunci sel penjara yang digantung di dinding batu.
Tuk!
“Akh!” pekik Sulasih saat satu totokan bersarang di tengkuknya.
Kini Sulasih bisa bergerak.
“Kau tidak akan bisa menggunakan tenaga dalammu. Tunjukkan di mana dua gadis temanku kalian tahan!” kata Tirana.
“Kau tidak akan bisa membawa kabur mereka, penjagaan di Hutan Kabut sangat ketat,” kata Sulasih.
“Kau salah, tidak ada tempat yang tidak bisa aku masuki,” kata Tirana lalu mendorong pelan punggung wanita yang lebih tua darinya itu agar berjalan. “Siapa namamu?”
“Sulasih.”
Selain pintu keluar, di tempat itu ada dua pintu lain. Kedua pintu semuanya dibuat dari besi tebal dan lubang yang dimiliki hanya lubang untuk kunci.
Sulasih menadahkan tangannya saat tiba di salah satu pintu besi. Tirana memberikan kumpulan kunci yang dipegangnya. Kumpulan kunci itu memiliki bobot yang cukup berat.
Saat pintu di buka, maka terlihat sebuah lorong batu. Di beberapa titik ada prajurit yang berdiri berjaga dengan senjata pedang tersandang di pinggang.
“Kunci kembali!” perintah Tirana saat mereka sudah melewati pintu.
Sulasih menurut. Ketika ia berusaha diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya, ternyata ia benar-benar tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya ia hanya menurut. Ia tahu bahwa nyawanya bisa saja langsung dicabut oleh Tirana.
__ADS_1
Sulasih dan Tirana berjalan wajar melewati para prajurit. Sulasih tidak memilih untuk memberi isyarat kepada para prajurit yang berjaga, karena ia tahu bahwa para prajurit itu akan sia-sia menyerang Tirana.
Tirana bahkan melewati tempat ia dan Joko sebelumnya dikurung. Sulasih membawanya melalui beberapa tikungan lorong. Mereka melalui banyak sel-sel penjara yang memenjarakan laki-laki dan perempuan secara terpisah. Semua tahanan dilumpuhkan tenaga dalam dan kesaktiannya dengan belitan tali sinar merah di leher.
Ada pintu besi lain yang harus mereka lalui. Pintu itu pun hanya bisa dibuka dengan kunci yang Sulasih pegang, meski pintu itu dijaga oleh dua orang prajurit. Pintu kemudian dikunci lagi.
“Aku tidak melihat ada lelaki di kerajaan ini?” tanya Tirana kepada Sulasih.
“Aku tidak akan menjawab,” kata Sulasih.
“Baiklah. Kau akan aku bunuh dan aku gunakan jasa anak buahmu,” kata Tirana sambil angkat tangannya dengan bergetar, menunjukkan diisi dengan tenaga dalam tinggi.
Melihat hal itu, Sulasih seketika panik.
“Tunggu!” seru Sulasih cepat dengan wajah pucat.
Tirana pun menahan pukulan mautnya.
“Jawab semua pertanyaanku!” bentak Tirana.
“Ayo jalan!” perintah Tirana.
Sulasih kembali berjalan.
“Ceritakan tentang para lelaki di Hutan Kabut!”
“Kaum lelaki Hutan Kabut semuanya dipekerjakan di Lembah Gelap. Sesekali mereka diambil hanya untuk membuahi para wanita Hutan Kabut agar bisa melahirkan anak perempuan, setelah itu dikembalikan lagi ke Lembah Gelap.”
“Apa itu Lembah Gelap?” tanya Tirana.
“Tambang emas milik Hutan Kabut yang ada di dalam perut bumi.”
“Lalu bagaimana dengan anak-anak yang lahir dari kalian?”
“Diasuh dan dibesarkan di Kampung Penerus.”
__ADS_1
“Bagaimana jika yang lahir anak laki-laki?”
“Akan dibesarkan sampai usia bisa bekerja. Setelah mereka bisa bekerja, mereka akan dipekerjakan di Lembah Gelap seperti ayah-ayahnya.”
“Kejam sekali kalian!” desis Tirana.
“Bukan kami yang kejam, tapi Ratu yang kejam,” kilah Sulasih. “Aku memiliki dua anak lelaki yang harus bekerja di Lembah Gelap.”
“Kenapa kalian mau mengabdi dengan ratu sekejam itu. Aku juga wanita yang sejak bayi tinggal dan besar di hutan. Bahkan hewan pun, tidak akan membunuh dan menyiksa anaknya sendiri,” kata Tirana dengan nada kesal. “Jadi, sahabat lelakiku ada di Lembah Gelap?”
“Mungkin. Tapi seorang lelaki pendatang, terlebih ia gagah dan tampan, akan berada di Kampung Penerus sekitar sepekan lamanya untuk membuahi beberapa wanita,” jelas Sulasih.
“Hah!” kejut Tirana. “Jadi temanku saat ini sedang membuahi beberapa wanita?”
“Biasanya nasib baiknya seperti itu,” tandas Sulasih.
“Itu bukan nasib baik, tapi membuat lelaki jatuh derajatnya. Kalian pikir lelaki itu ayam jantan!” rutuk Tirana.
“Kita sudah sampai,” kata Sulasih.
Mereka tiba di depan sebuah sel yang dijaga oleh enam prajurit wanita berpakaian putih. Mereka semua bersenjatakan pedang. Hidung dan wajah bawah mereka ditutupi kain putih. Hal itu dilakukan karena ada bau busuk menyengat yang menyebar dari dalam penjara. Tirana dan Sulasih bisa mencium bau busuk itu dengan jelas.
“Berhenti!” perintah salah satu prajurit penjaga sambil maju menghadang dengan pedang yang langsung dihunus. Ia memiliki rasa kecurigaan yang tinggi. “Mengapa Kepala Penjara datang ke mari bersama orang asing?”
Plak! Blugk!
Sebelum Sulasih menjawab, Tirana tiba-tiba main tampar saja. Tamparan itu bukan tamparan biasa, tetapi mengandung tenaga dalam yang tinggi. Maka prajurit wanita yang bertanya dan tidak bersahabat itu terlempar kencang menghantam dinding lorong dengan wajah membiru dan memiliki bekas jari-jari tamparan yang merah gelap. Prajurit wanita itu seketika tidak sadarkan diri.
Serangan Tirana itu jelas membuat kelima prajurit penjaga lainnya langsung cabut pedang dan bergerak menyerang. Namun, baru selangkah mereka bergerak, satu gelombang tenaga halus telah menerpa tubuh mereka. Sejak itu, mereka diam mematung dengan pose masing-masing. Mereka terkena ilmu Pemutus Waktu yang dilepaskan Tirana.
Sulasih hanya bisa mendelik melihat betapa ganasnya ilmu yang dimiliki Tirana dalam melumpuhkan lawan. Ratu Aswa Tara selaku penguasa tertinggi di Hutan Kabut, belum pernah ia lihat bisa melumpuhkan orang semudah itu.
“Buka!” perintah Tirana.
Sulasih pun segera membuka pintu sel penjara itu. (RH)
__ADS_1