Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
72. Penantian di Istana Terikat


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Suara keindahan petikan senar guzheng yang jernih dan alunan seruling bambu dizi yang mendayu, memenuhi seantero ruang besar Istana Terikat yang didominasi warna biru. Suara musik yang menjadi pengiring gerak tarian lima wanita berpakaian dan berselendang merah, terdengar hingga ke luar istana yang khusus untuk menjamu tamu tersebut.


Gemulai dan kelembutan gerakan para penari yang selalu tersenyum cantik tak jemu dipandang mata, turut membuat Kaisar Tutsi Long Tsaw dan Permaisuri Fouwai selalu tersenyum.


Kaisar berusia 65 tahun itu duduk santai di singgasananya dengan jubah biru bersulam emas kepala naga di bahu kanan dan ekor naga di bahu kiri. Pria agak gemuk itu sudah 31 tahun menjadi penguasa Negeri Jang. Sementara Permaisuri Fouwai duduk agak berjarak di kursi yang lain di sebelah kanannya. Orang yang berada paling dekat dengan Kaisar justru seorang lelaki tua berpakaian jubah hitam, yaitu Kepala Kasim Yo Gou. Ia adalah orang setia dan kepercayaan Kaisar. Dibandingkan Permaisuri Fouwai, Kasim Gou lah yang lebih banyak berada di sisi Kaisar.


Sementara di sisi Kasim Yo Gou berdiri gagah Kepala Pengawal Kaisar Jenderal Bo Yung yang berpakaian hijau gelap, dilapisi pakaian pelindung kulit yang tebal berwarna hitam. Pedangnya menggantung di pinggang kiri.


Posisi tahta Kaisar Long Tsaw sepuluh tangga lebih tinggi dari semua meja jamuan yang ada di bawah. Meja jamuan di tata dua baris saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Makanan lezat dan minuman tersaji lengkap di atas meja.


Jarak para penari dan meja-meja jamuan dengan tangga tahta pun cukup jauh, perlu lima lompatan untuk menjangkau tangga tahta.


Di deretan meja sebelah kanan ditempati oleh keluarga kerajaan. Dari meja yang yang terdekat dengan tangga tahta adalah Selir Ni yang usianya 47 tahun. Ia tampil dengan gaun merah muda yang lembut. Di sisinya duduk Selir Yim yang berusia 41 tahun dengan pakaian warna putih. Di belakang mereka masing-masing berdiri seorang pelayan.


Selanjutnya meja yang bantal duduknya masih kosong. Di meja itulah nanti Putri Yuo Kai harus duduk.


Selanjutnya meja milik Pangeran Tutsi Han Tsun yang segera pulang ke istana untuk turut menghadiri jamuan. Di belakangnya berdiri pengawal pribadinya, Tan Ma. Dan meja ujung di sisi kanan itu ditempati oleh Putri Tutsi Ling Mei yang usianya sudah 17 tahun. Ia tampil cantik dengan pakaian hijau muda. Di belakangnya pun ada seorang pelayan yang berdiri.


Sementara di barisan sebelah kiri, meja terdekat dengan tangga tahta adalah Perdana Menteri La Gonho, seorang pria berusia 70 tahun berperawakan kurus dan memelihara jenggot putih yang agak panjang.


Di meja selanjutnya adalah Putra Mahkota Negeri Ci Cin, Pangeran Baijin. Ia adalah seorang pria tampan berkumis tipis dengan usia 40 tahun. Ia memiliki fisik yang cukup besar dan berisi. Pakaian birunya yang bagus berhias sulaman indah bercorak burung phonix warna merah. Di pangkuannya terbaring sebuah pedang bagus berwarna hijau.


Di belakang Pangeran Baijin berdiri seorang lelaki berpakaian bagus berwarna hijau. Ia menyandang pedang di tangan kirinya. Ia bernama Sala A Jin dengan usia 38 tahun, pengawal pribadi sang pangeran.


Di meja berikutnya, duduk pria tampan yang jauh lebih muda dengan usia 27 tahun, adik bungsu Pangeran Baijin. Ia adalah Pangeran Bairin. Ia sengaja ikut mendampingi kakaknya. Tidak ada senjata yang terlihat di tangan atau tubuhnya.


Meja terakhir ditempati oleh seorang lelaki gagah dengan sepasang alis yang tebal. Usianya 50 tahun. Berpakaian seorang perwira militer. Ia adalah Jenderal Wae Yie, Kepala Pasukan Naga Hitam yang bertanggung jawab atas keamanan istana.


Semua tampak tersenyum menyaksikan hiburan yang disuguhkan oleh para penari dan pemain guzheng (kecapi 16 senar) dan dizi yang sangat mahir. Namun, tidak terlihat ada senyum di wajah Pangeran Bairin. Kekesalannya yang ia pendam adalah telah lama mereka harus menunggu kedatangan Putri Yuo Kai.

__ADS_1


Kekesalan juga sebenarnya ada pada Pangeran Baijin, tetapi ia masih menunjukkan kesabaran dan hormatnya kepada tuan rumah. Karenanya, senyum tipis masih menghias di bibirnya.


Hingga pada akhirnya, tarian para penari berakhir seiring berhentinya permainan musik. Para penari membungkuk hormat kepada Kaisar Tsaw. Kaisar memberi tanda gerakan tangan yang mengizinkan para penghibur istana itu untuk pergi. Mereka sudah melakukan lima tarian yang berbeda selama masa menunggu kedatangan Putri Yuo Kai. Mereka pun pergi dengan tertib dan hormat.


“Maafkan hamba, Yang Mulia!” sahut Pangeran Bairin sambil menghormat dengan tangan bertemu di depan dada, memecah keheningan yang sempat tercipta.


“Silakan, Pangeran!” Kaisar Tsaw mempersilakan.


“Apakah Putri Kai pasti akan hadir dalam jamuan ini?” tanya Pangeran Bairin.


“Hahaha!”


Pertanyaan itu justru membuat Kaisar Tsaw tertawa datar, membuat Pangeran Bairin kerutkan kening.


“Meski Pangeran Baijin yang punya maksud utama untuk bertemu dengan putriku, tetapi justru Pangeran Bairin yang tidak sabar untuk bertemu,” kata Kaisar yang membuat mereka tertawa, termasuk Pangeran Baijin.


Komentar Kaisar itu membuat Pangeran Bairin agak salah sikap yang kemudian berujung senyum yang dipaksakan.


“Kasim Gou!” panggil Kaisar.


“Iya, Yang Mulia?” tanya Kasim Yo Gou sambil buru-buru mendekat setengah jarak kepada Kaisar.


“Sudah kau pastikan Kai akan datang?” tanya Kaisar agar berbisik.


“Sudah, Yang Mulia. Jika Putri Kai tidak datang juga, akan aku hukum keras Kasim Ho,” jawab Kasim Gou memastikan.


Kaisar Tsaw mengangguk dan menggerakkan jarinya agar Kasim Gou kembali ke posisinya. Ia lalu berkata kepada Pangeran Baijin, “Meski aku adalah penguasa Negeri Jang yang besar ini, tetapi aku tidak bisa memaksa putri kesayanganku untuk hidup dengan lelaki yang bukan pilihannya. Jika aku memaksanya, apakah Pangeran tahu apa yang akan terjadi?”


Pertanyaan itu membuat Pangeran Baijin terdiam sesaat. Ia mencoba mencari terkaan jawaban dari pertanyaan Kaisar Tsaw.


“Jika Pangeran bisa jawab, aku akan balas memberi hadiah besar,” kata Kaisar lagi.

__ADS_1


Tersenyumlah Pangeran Baijin, meski ia tidak mungkin tahu jawabannya.


“Aku tahu, Ayahanda!” seru Pangeran Tsun cepat.


“Soal ini bukan untuk kelurga istana!” hardik Kaisar Tsaw agak mendelik.


“Bagaimana bisa Pangeran Baijin menjawab, bertemu dengan Putri Kai saja belum pernah, apa lagi bisa tahu sekeras kepala apa kakakku itu,” kata Pangeran Tsun.


“Pangeran Tsun!” hardik Selir Ni, tapi agak pelan. “Jangan ciptakan gambaran buruk tentang kakakmu.”


“Maafkan saya, Ibu Ni,” ucap Pangeran Tsun. Namun, ia kembali berkata, “Tapi sepertinya aku punya firasat buruk hari ini.”


Selir Ni tidak menanggapi lagi, karena Pangeran Baijin telah berkata lebih dahulu kepada Kaisar.


“Soal dari Yang Mulia begitu sulit bagiku. Namun, aku mencoba menerka saja, mungkin Langit mau berpihak kepadaku. Jika Yang Mulia memaksa Putri Kai untuk menikah dengan lelaki bukan dari pilihannya sendiri, Putri akan pergi dari istana,” ujar Pangeran Baijin.


“Salah!” seru Kaisar Tsaw agak keras. “Jawabannya adalah, aku akan dikudeta oleh putriku sendiri.”


“Hahaha!” tertawalah Pangeran Baijin mendengar jawaban yang benar dari Kaisar. Baginya itu adalah jawaban gurauan dari Kaisar Tsaw.


Akhirnya Kaisar Tsaw juga tertawa menyusuli tawa Pangeran Baijin, disusul tawa yang lainnya.


Bagi Pageran Baijin, Bairin dan Pengawal Sala A Jin yang merupakan tamu jauh, pikir mereka, tidaklah mungkin Putri Kai akan mengkudeta ayahnya hanya karena dipaksa menikah dengan lelaki bukan pilihannya.


Namun, bagi keluarga kerajaan, jawaban yang diungkapkan oleh Kaisar Tsaw adalah benar adanya. Sebab, peristiwa itu pernah hampir terjadi.


Tiga tahun yang lalu, Putri Kai diminta untuk menerima lamaran Putra Mahkota Negeri Moh, tetapi sang putri menolak. Kaisar Tsaw kemudian memaksa dengan cara mengeluarkan titah yang pastinya tidak boleh ditolak oleh siapa pun, termasuk putrinya sendiri.


Namun, di luar dugaan, Putri Kai justru mengancam akan mengkudeta ayahnya jika titah resmi itu tidak dicabut kembali. Bahkan Putri Kai berani menempatkan sang kaisar diujung maut dengan ilmu Pisau Dewi Angin, ilmu pisau yang hari ini ia tunjukkan di depan wajah Kasim Ho. Kaisar pun menarik kembali titahnya dan berjanji tidak akan memaksa Putri Kai lagi mengenai calon suami.


“Yang Mulia Putri Yuo Kai tiba!” teriak prajurit yang berdiri di gerbang ruangan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2