
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Tiga tahun yang lalu.
Tiga hari lamanya Surya Kasyara menahan diri untuk tidak bermain judi dan mabuk-mabukan. Faktor utamanya karena tubuhnya sakit semua dan mengalami seperti kelumpuhan otot. Istirahat tiga hari rupanya cukup bagi Surya Kasyara bisa beraktivitas lagi, meski masih ada sisa-sisa sakit pada otot paha dan perutnya. Sisa-sisa luka dan memar masih jelas terlihat di wajahnya.
“Rawaiti!” panggil Surya Kasyara sambil masuk ke dalam rumah. Ia mengambil kendi tanah liat dan ia tuang ke dalam mulutnya tanpa duduk lebih dulu.
“Iya, Kang!” sahut satu suara perempuan dari sebelah dalam.
“Fruut!” Surya Kasyara menyemburkan air dari dalam mulutnya ke lantai tanah rumahnya. Ia mengerenyit sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. “Tidak enak sekali minum air sumur!”
Dari ruang dapur berjalan pelan seorang wanita muda nan cantik. Meski kulitnya tidak begitu putih, tetapi kebersihan wajahnya dari bitnik jerawat membuatnya enak dipandang. Gadis berpinjung hitam dan berbaju kuning itu berjalan sambil tangannya berpegang pada sisi pintu dapur. Gadis berambut panjang terurai itu berjalan ke balai-balai sambil tangannya mengulur dan agak meraba-raba, mencoba menyentuh pinggiran balai. Gerakan si gadis itu menunjukkan bahwa ia buta. Kedua mata si gadis memang tertutup oleh kelopak mata. Ada warna menghitam di sekitar lingkar matanya. Ialah yang bernama Rawaiti, adik kandung dan tercintanya Surya Kasyara.
“Ada apa, Kakang Surya?” tanya Rawaiti.
“Apakah kau masih memiliki perhiasan peninggalan mendiang Ibu?” tanya Surya Kasyara.
“Masih. Tapi kalau untuk dijual lalu dipakai berjudi dan mabuk, aku tidak akan memberikannya kepada Kakang!” tandas Rawaiti.
Surya Kasyara lalu duduk rapat di sisi adiknya. Ia memegang lembut tangan kasar adiknya yang beberapa urat darahnya menonjol jelas.
“Tidak, Kakang tidak akan berjudi atau minum tuak lagi. Kau tahu sendiri, Kakang sudah berhenti selama tiga hari. Kakang akan teruskan. Hanya saja, kekasih Kakang memerlukan pakaian pernikahan, tetapi uangku kurang,” ujar Surya Kasyara.
“Jadi Kakang mau menikah dengan Kayuni?” tanya Rawaiti sumringah sambil tersenyum lebar, tetapi wajahnya tetap menghadap lurus ke dinding rumah.
“Iya. Kakang janji, setelah membelikan Kayuni pakaian pengantin, aku akan membawanya ke mari untuk mengenalkanmu,” tandas Surya Kasyara, mencoba meyakinkan adiknya.
“Tunggu sebentar, Kakang. Aku ambilkan, ya,” kata Rawaiti.
Gadis buta itu lalu bangkit dan berjalan pelan ke dalam. Senyumnya masih tersisa di wajahnya. Ia begitu senang bahwa kakaknya akan menikah. Surya Kasyara menunggu, ia juga tersenyum sendiri, karena berhasil mengelabui adiknya. Ia memang sangat sayang kepada adiknya, tetapi rasa sayangnya kepada judi dan tuak sedikit lebih kuat.
Rawaiti akhirnya keluar kembali dengan membawa seuntai kalung emas pada tangan kanannya.
“Ini, Kakang. Ini adalah perhiasan terakhir yang kita miliki. Jangan lupa, sampaikan salamku kepada Kayuni,” kata Rawaiti, lalu memberikan kalung emas itu kepada kakaknya.
“Iya, pasti aku sampaikan. Kayuni juga suka menanyakan kabarmu. Aku sering bercerita kepadanya bahwa aku memiliki seorang adik yang cantik dan baik hati,” kata Surya Kasyara sambil menerima kalung itu.
__ADS_1
Surya Kasyara sengaja mengarang cerita untuk menyenangkan perasaan adiknya. Jika ia jujur, ia khawatir itu justru membuat sedih adiknya. Nama Kayuni Larasati ia catut dalam cerita bohongnya. Ia memang salah satu pengagum putri Adipati Tambak Ruso, tetapi ia sama seperti pemuda kadipaten lainnya yang berani suka tetapi hanya di belakang saja.
Namun kemudian, Surya Kasyara berubah sedih. Ia memandangi wajah adiknya. Sebenarnya ia tidak tega membohongi adiknya dan menguras habis perhiasan miliknya. Pemuda tampan itu tidak bisa menahan kesedihannya hingga air matanya keluar.
Mendengar suara aneh dari kakaknya, Rawaiti mengerutkan kening.
“Kakang kenapa? Sepertinya Kakang menangis,” tanya Rawaiti.
“Tidak, aku hanya terharu karena memiliki adik yang sebaik dirimu. Maafkan aku, Rawaiti. Hanya karena Kakang ingin menikah, kau pun Kakang korbankan,” ucap Surya Kasyara.
“Tidak apa-apa, Kakang. Kebahagiaan Kakang adalah kebahagiaan aku juga. Pergilah, Kakang! Kayuni pasti menunggu Kakang!” kata Rawaiti seraya tersenyum.
“Baik. Terima kasih, Rawaiti. Aku berjanji akan berhenti berjudi dan mabuk-mabukkan. Aku berjanji!” kata Surya Kasyara. “Aku pergi, Rawaiti!”
“Iya, Kakang.”
Maka, Surya Kasyara berlari pergi meninggalkan adiknya dan rumahnya. Ia harus menjual dulu kalung itu.
Setelah berdiri terpaku sambil tersenyum, Rawaiti lalu berbalik dan melangkah pelan untuk menuju dapur, tempat ia meninggalkan masakannya.
Namun, ketika baru ingin berjongkok di dekat tungku yang masih menyala, Rawaiti mendengar ada langkah-langkah kaki yang masuk ke dalam rumah. Buru-buru ia berbalik dan pergi ke ambang pintu.
Di depan Rawaiti kini memang telah berdiri empat lelaki berseragam hitam-hitam. Mereka semua berbekal golok di pinggang masing-masing.
“Rupanya adik Sontoloyo cantik juga,” ucap lelaki berbadan terbesar dan memelihara kumis tipis. Ia bernama Tulanggoyo. Lalu tanyanya kepada Rawaiti, “Sontoloyo mana?”
“Baru saja pergi,” jawab Rawaiti. Ia tahu bahwa kakaknya lebih populer dengan nama Sontoloyo.
“Jadi Sontoloyo tidak ada. Padahal kami akan membunuhnya hari ini!” ujar Tulanggoyo.
“Apa?!” pekik Rawaiti terkejut. Ia buru-buru berjalan ke arah Tulanggoyo.
Bdak!
“Akk!” jerit Rawaiti, karena sebelum mendapati Tulanggoyo, ia menabrak kursi bambu dan ia pun terjatuh.
Tulanggoyo dan ketiga temannya membiarkannya.
__ADS_1
“Apa kesalahan kakakku? Kakakku orang baik-baik, kakakku bukan orang jahat, tidak mungkin dia berbuat jahat!” kata Rawaiti sambil berusaha bangun dengan meraba-raba mencari pegangan. Ia kemudian mendapatkan kaki meja.
“Utang Sontoloyo sudah melangit, batas pelunasannya sudah habis. Jadi, kami diperintahkan oleh Ki Lugas untuk membunuhnya sebagai pelunasan utang!” tandas Tulanggoyo.
“Jangan bunuh, jangan bunuh kakakku, Tuan! Aku mohon jangan bunuh kakakku!” ratap Rawaiti menangis, sambil buru-buru merangkak dan mendapatkan kaki Tulanggoyo. Ia memeluk kaki lelaki yang hanya tersenyum-senyum itu. “Kalian boleh mengambil rumah kami, tapi tolong jangan bunuh kakakku. Aku mohon!”
“Aku suka yang seperti ini. Ini kesempatanku untuk bersenang-senang. Dari pada tiap hari harus menelan ludah melihat tingkah Ki Lugas dengan pelacurnya,” ucap Tulanggoyo dalam hati sambil tersenyum mesum. Lalu katanya kepada Rawaiti, “Nyawa kakakmu saja tidak cukup untuk membayar utangnya, apa lagi hanya dengan rumah kecil ini. Hanya ada satu cara agar kakakmu tidak kami bunuh….”
“Katakan! Aku akan penuhi, aku akan melakukannya, asalkan kalian tidak membunuh kakakku!” kata Rawaiti cepat sambil mendongak kepada Tulanggoyo yang sudah bernafsu melihat wajah Rawaiti.
Rawaiti lalu melepaskan pelukannya pada kaki Tulanggoyo dan ia diam berlutut. Tulanggoyo lalu membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada telinga Rawaiti. Gadis itu terlihat takut, karena ia tahu bahwa wajah Tulanggoyo begitu dekat dengan wajahnya. Ia bisa merasakan bau keringat Tulanggoyo dan napasnya sampai terasa di pipinya.
“Siapa namamu?” tanya Tulanggoyo berbisik di telinga Rawaiti.
Bisikan yang begitu dekat di telinga membuat Rawaiti terkejut dan refleks menjauhkan wajahnya ke samping, membuatnya jatuh duduk miring bertopang dengan tangan kirinya.
“Ra… Rawaiti!” jawab Rawaiti takut-takut.
“Rawaiti, kau memang adik yang baik hati dan begitu sayang kepada kakakmu. Baiklah, aku akan membiarkan kakakmu hidup, dengan syarat kau harus menyerahkan dirimu kepadaku!” bisik Tulanggoyo.
Terkejut Rawaiti mendengar syarat itu. Jelas ia tidak mau menyerahkan diri kepada orang-orang jahat itu. Rawaiti terdiam menangis, sebab ia pun tidak mau kakaknya mati dibunuh, terlebih kakaknya sebentar lagi akan menikah dengan Kayuni.
Tulanggoyo lalu mencabut goloknya. Mendengar suara senjata diloloskan dari sarangnya itu membuat Rawaiti terkejut. Sebentar kemudian, keterkejutannya berganti dengan keterpakuan yang gemetar. Ujung golok Tulanggoyo sudah menempel di leher mulus Rawaiti. Gadis itu tidak berani bergerak sedikit pun, sebab ia tahu bahwa benda yang menempel di lehernya adalah benda tajam.
Tulanggoyo melakukan itu untuk memperkuat tekanan dari ancamannya.
“Golok ini yang akan membunuh kakakmu nanti jika kau menolak menyerahkan diri. Setelah itu, mayatnya akan digantung di tengah kadipaten sebagai peringatan bagi orang yang menentang kekuasaan Adipati Tambak Ruso,” kata Tulanggoyo.
Rawaiti semakin menangis. Ia benar-benar tidak mau menjadi pemuas nafsu orang-orang jahat itu. Namun, jika ia menolak, berarti kakak tersayangnya akan mati. Jelas, nyawa kakaknya tergantung dari keputusannya.
“Baiklah jika kau ragu,” kata Tulanggoyo sambil menarik kembali goloknya dan menyarungkannya. “Sekarang kau aku beri dua pilihan. Kau memilih ikut aku dengan sukarela, maka kakakmu selamat. Atau, kau memilih menolak, maka kakakmu akan kami bunuh dan kau tetap akan kami bawa secara paksa!”
Semakin terkejutlah Rawaiti. Jelas kedua pilihan itu sama-sama akan mengorbankan dirinya. Namun, apa boleh buat dan apa daya. Sambil menangis ia pun menentukan pilihannya.
“Baik, aku ikut kalian, asalkan kakakku jangan kalian bunuh!”
“Ah! Keputusan cerdas, Rawaiti! Hahaha!” teriak Tulanggoyo senang lalu tertawa.
__ADS_1
Langsung saja, ia meraih tubuh Rawaiti dan memanggulnya.
“Hahaha! Tidak usah menangis, kau justru akan bahagia bersama Kakang Tulanggoyo! Hahaha!” kata Tulanggoyo sambil melangkah pergi dengan senang. Tidak lupa dia memberi isyarat tangan kepada anak buahnya agar membakar rumah itu. (RH)