Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
96. Ular Putih


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Setelah mendapatkan informasi dari Biro Mata Putih, Komandan Naga Merah Tengah Bu Ruong membawa dua lusin pasukan menggerebek rumah bordil Teratai Nirwana di pagi itu.


Terkejut para pelayan yang sedang bekerja membersihkan seluruh sisi dalam rumah bordil mewah itu dari lapisan debu.


“Pemimpin Jaringan Ular Tanah, keluar!” teriak Komandan Bu Ruong setelah ia berada di ruang utama Teratai Nirwana.


Teriakan sang komandan dan pergerakan puluhan prajurit yang menyebar dengan formasi memagar di belakang pemimpinnya, mengejutkan para pelayan yang berbekal kain pel, ember kayu berisi air pembersih, dan kain lap, hanya terdiam terkejut memandangi para prajurit itu.


Tidak ada tanggapan atau jawaban dari para pekerja kebersihan itu, Komandan Bu Ruong kembali berteriak, kali ini pakai kalimat ancaman.


“Pemimpin Jaringan Ular Tanah, keluar! Atau kami obrak-abrik seluruh ruangan di gedung ini!”


Tiba-tiba dari salah satu sisi dalam muncul berlari sesosok wanita berpakaian merah terang dengan dandanan yang sederhana, tetapi tetap berkesan mahal.


“Aaah! Ada apa ini, tuan-tuan prajurit?” tanya wanita itu dengan senyum yang dipaksakan. Ia tidak lain adalah Linsi Mee, wanita 50 tahun yang berstatus sebagai pemilik rumah bordil itu.


“Di mana pemimpin Jaringan Ular Tanah?” tanya Bu Ruong.


“Aduuh, mana saya tahu. Bukankah tadi malam kalian sudah periksa seluruh ruangan di tempat ini?” kata Linsi Mee.


“Kau tahu? Kondisi Ibu Kota sedang gawat. Jika kau menghalangi kerja prajurit keamanan, maka kau akan kami bawa ke penjara!” tandas Bu Ruong.


“Ah, jangan, Tuan Prajurit!” pekik Linsi Mee dengan wajah mengerenyit memelas kepada Bu Ruong.


“Aku pemimpin Jaringan Ular Tanah!” sahut satu suara seorang wanita tiba-tiba.


Komandan Bu Ruong, Linsi Mee dan para prajurit segera memandang ke tangga utama. Tampak seorang wanita muda nan cantik berpakaian serba putih yang dilapisi jubah putih pula. Ia turun dengan anggun. Wanita bertahi lalat kecil di dagu kiri itu memiliki rambut panjang terurai yang sebagian dikepang kecil-kecil. Gadis itu tidak lain adalah Su Rai alias Ular Putih, orang nomor duanya Jaringan Ular Tanah.


Di belakangnya ada dua orang lelaki bertubuh besar berpakaian serba cokelat. Keduanya melangkah gagah mengikuti Su Rai. Di punggung tangan mereka yang menggenggam warangka pedang ada tato hitam kepala ular dengan lidah bercabangnya. Kedua lelaki itu adalah anggota Jaringan Ular Tanah.


Komandan Bu Ruong sempat ternganga melihat Su Rai yang turun laksana dewi dari nirwana. Begitu cantik.


“Aku Su Rai, pemimpin Jaringan Ular Tanah,” kata Su Rai lagi setelah kakinya menginjak lantai papan ruangan bawah itu.


Komandan Bu Ruong segera mengangkat tangannya dan menggerakkannya memberi isyarat perintah kepada para prajuritnya.


Para prajurit di belakang Bu Ruong langsung bergerak serentak mengalir membentuk pagar yang mengepung posisi Su Rai dan kedua pengawalnya.


“Kami memiliki bukti bahwa Jaringan Ular Tanah terlibat dalam penyerangan terhadap rombongan Putri Yuo Kai. Harap Nona Su ikut kami!” kata Bu Ruong.


“Silakan bawa aku,” kata Su Rai sambil ulurkan kedua tangan putih bersihnya, siap untuk diborgol. Tampak di punggung tangan kanannya ada tato kepala ular dengan lidah bercabang.


“Belenggu tangannya!” perintah Bu Ruong.

__ADS_1


Seorang prajurit yang membawa belenggu besi, segera maju ke hadapan Su Rai lalu memasangkan borgol ke kedua pergelangan tangan Su Rai.


“Ular Putih!” sebut kedua lelaki anggota Jaringan Ular Tanah di belakang Su Rai.


“Tidak usah resah, mereka tidak akan menyakitiku,” kata Su Rai lalu melangkah pergi dengan kedua tangan dibelenggu borgol besi.


“Tuan Bu Ruong, kalian salah menangkap orang. Nona Su tidak bersalah sedikit pun. Jika sampai Nona Su terluka oleh kalian, aku akan menuntut ke pengadilan!” seru Linsi Mee.


Namun, Komandan Bu Ruong tidak mengindahkan perkataan Linsi Mee. Ia menggiring Su Rai berjalan keluar dari rumah bordil itu.


Seorang wanita muda nan cantik digiring sebagai tawanan oleh para prajurit keamanan Ibu Kota, pastinya menjadi perhatian masyarakat ramai di pagi itu. Warga pun ramai berbisik-bisik di pinggir jalan, bertanya-tanya siapakah gerangan gadis itu adanya.


Su Rai sebagai orang nomor dua di Jaringan Ular Tanah yang bekerja di bawah tanah, tentunya bukan orang yang ternama di kalangan orang biasa. Ia pun hanya dikenal oleh orang-orang tertentu. Kondisinya saat itu tidak membuatnya panik, terlihat dari langkahnya yang tenang menuruti pengawalan para prajurit.


Sementara Komandan Bu Ruong duduk gagah di atas punggung kudanya. Ia merasa jumawa dengan berhasil menangkap pemimpin Jaringan Ular Tanah tanpa susah payah.


Di antara keramaian warga yang menyaksikan rombongan itu, ternyata ada seseorang yang mengenali Su Rai adanya. Orang itu adalah seorang lelaki berkumis berpakaian hijau gelap. Penampilannya tidak jauh beda dengan warga biasa pada umumnya. Orang bernama Ling Mo itu segera berbalik pergi setelah memastikan siapa orang yang berjalan dalam kondisi kedua tangan diborgol.


Ling Mo yang berusia sekitar 45 tahun itu berjalan tergesa-gesa. Apa yang baru saja dilihatnya seolah-olah adalah kabar penting. Ia meninggalkan jalan utama Liong Sue dan menyusuri jalan-jalan yang lebih sepi. Jalan yang dilaluinya cukup jauh dan berbelok-belok. Hingga akhirnya, ia tiba di depan sebuah pintu kayu kecil yang terletak di sebuah gang sempit yang sepi.


Pak pak pak!


Ling Mo menepuk papan pintu. Cukup keras. Sesekali ia menengok kanan dan kiri, khawatir ada yang mengawasinya atau mengintainya.


“Ling Mo,” jawab Ling Mo.


Sebuah lubang kecil di daun pintu terlihat terbuka, menunjukkan sepasang mata yang memandang sejenak wajah Ling Mo. Ternyata jawaban Ling Mo tadi belum bisa membuat lelaki di balik pintu langsung percaya penuh. Setelah memastikan wajah Ling Mo dan bahwa ia datang sendirian, lubang mengintip kembali ditutup. Selanjutnya pintu dibuka dari dalam.


Ling Mo segera masuk. Ternyata di balik pintu dan dinding batu itu ada halaman yang cukup luas. Adanya tumpukan kayu bakar dan tungku untuk memasak menjelaskan bahwa itu adalah halaman belakang dari rumah tersebut.


Ling Mo mengabaikan keberadaan lelaki yang membukakan pintu. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan berhenti di sebuah ruangan. Ling Mo menjura hormat.


Di ruangan itu berdiri seorang pria separuh baya bertubuh agak gempal karena lemak. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Ia memelihara kumis tipis dan jenggot yang agak lebat. Kepalanya diikat dengan kain hitam yang memiliki tulisan putih berbunyi “Hutan Timur”. Orang itu bernama Ushang La.


Di ruangan itu, Ushang La sedang berdiri bersama seorang pemuda tampan berpakaian bagus berwarna kuning. Pemuda berkumis tipis itu tidak lain adalah Bangsawan Sushan, salah satu tamu yang hadir di pesta pembukaan Biro Naga Besi milik Xie Yua. Keduanya sedang menghadap ke dinding yang terpampang sebuah kertas lebar dan tebal yang mengandung gambar denah. Tidak ada penjelasan tentang denah apa itu.


“Berita apa yang kau bawa, Ling Mo?” tanya Ushang La, beralih kepada Ling Mo.


“Su Rai, pemimpin Jaringan Ular Tanah baru saja ditangkap oleh keamanan Ibu Kota dan dibawa pergi,” lapor Ling Mo.


“Apakah ada pula lelaki botak bermata satu yang ditangkap?” tanya Ushang La.


“Tidak ada, hanya Su Rai sendiri yang ditangkap,” jawab Ling Mo.


“Ditangkapnya pemimpin Jaringan Ular Tanah menunjukkan tujuan kedua dari serangan kita kemarin sore berbuah hasil, meskipun harus kehilangan banyak orang. Namun, aku belum merasa berhasil jika Ular Buta, pemimpin tertinggi kelompok itu belum ditangkap atau mati. Aku yakin itu hanya masalah waktu, cepat atau lambat, setelah ini Kerajaan akan memburu Ular Buta. Kita akan memaksa Su Rai menunjukkan keberadaan Ular Buta,” ujar Ushang La.

__ADS_1


“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Ketua?” tanya Bangsawan Sushan.


“Hari ini juga kita akan menangkap ikan besar sebagai umpan agar gurita besar mau keluar,” kata Ushang La yang merupakan Ketua Kelompok Hutan Timur, pihak yang diajak Bangsawan Sushan bekerja sama dalam misi rahasianya.


Sementara itu, Su Rai dibawa langsung ke ruang penyimpanan mayat-mayat orang yang menyerang rombongan Putri Tsun Yuo Kai. Begitu pentingnya pengakuan dari pemimpin Jaringan Ular Tanah, Jenderal Mok Jueng sampai harus turut datang ke ruang mayat itu.


“Benarkah mereka orang-orang Jaringan Ular Tanah?” tanya Jenderal Mok Jueng kepada Su Rai setelah Komandan Bu Ruong memperlihatkan sejumlah mayat yang memiliki tato ular hitam yang kepalanya berdiri di atas lingkaran tubuhnya. Tato-tato itu umumnya terletak di salah satu sisi badan yang biasanya tertutup oleh pakaian.


“Bukan!” jawab Su Rai mantap. “Siapa yang mengatakan kepada Tuan bahwa tato ular itu milik kelompokku?”


“Satu-satunya penyerang yang kami tangkap hidup-hidup,” jawab Jenderal Mok Jueng.


“Lihat tato di tanganku,” kata Su Rai, sambil mengangkat tangan kanannya yang masih diborgol. Ia menunjukkan kepada Jenderal Mok Jueng dan Komandan Bu Ruong tato yang ada di punggung tangannya. Lalu katanya lagi, “Semua anggota Jaringan Ular Tanah tato ularnya hanya kepala seperti ini. Dan, semua tato ada di tangan seperti ini. Terlebih, tato orang-orang mati ini semuanya belum lama dibuat. Tuan Jenderal bisa memeriksanya kepada pembuat tato jika tidak percaya dengan kata-kataku. Jadi, Tuan Jenderal bisa menyimpulkannya sendiri.”


“Berarti ada yang mencoba menjadikan Jaringan Ular Tanah sebagai tersangka penyerangan,” ucap Jenderal Mok Jueng.


“Apakah kesimpulan Tuan Jenderal bisa membuatku bebas?” tanya Su Rai.


“Tidak, pembelaan Nona Su belum membuktikan bahwa mereka bukan orang-orang Ular Tanah,” kata Jenderal Mok.


Tiba-tiba sekelompok wanita berpakaian serba merah terang yang sama datang memasuki ruangan penyimpanan mayat itu. Keenam wanita itu dipimpin oleh Bo Fei, tangan kanan Putri Yuo Kai. Ia masih mengenakan pakaian biru gelap.


Cukup terkejut Jenderal Mok Jueng dan Komanda Bu Ruong melihat kemunculan para wanita itu.


“Apa yang kau lakukan di sini, Bo Fei?” hardik Komandan Bu Ruong.


“Kalian menangkap orang yang berada di bawah perlindungan Yang Mulia Putri. Lepaskan Nona Su Rai, Putri ingin bertemu dengannya sekarang juga!” ujar Bo Fei.


Terbelalak Jenderal Mok Jueng dan bawahannya. Mereka tidak menyangka jika Jaringan Ular Tanah dipegang oleh Keluarga Istana. Jenderal Mok Jueng tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Putri Yuo Kai sudah mengambil alih melalui orang-orangnya.


“Lepaskan!” perintah Jenderal Mok Jueng.


Komandan Bu Ruong pun menghampiri Su Rai dan membuka borgol di tangan gadis itu dengan kunci yang dimilikinya.


“Silakan, Nona Su!” kata Bo Fei seraya menunjukkan jalan kepada Su Rai.


Dengan senyum yang mengembang, Su Rai berbalik pergi yang didampingi oleh Bo Fei dan diikuti oleh keenam wanita yang merupakan separuh dari personel Pengawal Angsa Merah.


“Bu Ruong, cepat kau periksa semua pembuat tato yang ada di Ibu Kota ini!” perintah Jenderal Mok Jueng dengan nada tinggi karena suasana hatinya sedang kesal.


“Baik, Jenderal!” ucap Komandan Bu Ruong seraya menghormat.


Jenderal Mok Jueng segera pergi. Selain tidak ada hasil yang jelas, sang jenderal juga harus segera melapor kepada Kaisar yang tadi malam sudah mengancam kepalanya. Ia hanya bisa berharap, sejumlah informasi yang terhimpun kepadanya dari sejumlah laporan Biro Mata Putih bisa menyelamatkannya dari murka Kaisar. (RH)


 

__ADS_1


__ADS_2