Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 31: Hanya Dewi Mata Hati


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Kambing berkuping panjang yang bernama Cantik itu berjalan santai memasuki gerbang utama pertama. Si cebol ganteng terlihat duduk santai dengan wajah dan pandangan stagnan, hanya lurus ke depan.


“Guru! Malaikat Serba Tahu sudah sampai!” lapor seorang murid perguruan kepada Pendekar Seribu Tapak.


“Ayo!” ajak Pendekar Seribu Tapak yang telah gagal untuk mengobati Joko Tenang.


“Ayah, tolong cari Ratu dan Sukma. Beri tahu bahwa Malaikat Serba Tahu datang!” pinta Tirana kepada ayahnya, Turung Gali, yang tadi juga gagal mengobati Joko Tenang.


Joko Tenang masih tidak sadarkan diri dengan tubuh yang semua kulitnya menghitam.


Turung Gali mengangguk. Tirana tidak mau meninggalkan suaminya, meski ia sangat ingin cepat menemui Malaikat Serba Tahu.


Ketenangan Malaikat Serba Tahu tiba-tiba berubah, saat melihat Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta bergerak masuk mengangkat tubuh seorang wanita yang penuh darah. Lili Angkir bahkan menangis tersedu-sedu dalam rangkulan suaminya yang menuntunnya masuk ke dalam bangunan utama perguruan, mengikuti masuknya Jaga Manta.


Terlihat pula murid-murid perguruan berkumpul tidak teratur, seperti baru saja menonton satu pertunjukan yang menegangkan. Gambaran itu terlihat di wajah-wajah para murid yang terlihat tegang dan sedih.


Malaikat Serba Tahu jadi bertanya-tanya di dalam benaknya. Meski ia memiliki ilmu yang membuatnya bisa menerawang dan banyak tahu segala hal, tetapi ilmunya itu memiliki kemampuan terbatas, tetap tidak membuatnya tahu segala sesuatu. Ilmunya selalu memberi gambaran yang bersifat umum atau sebagian saja, bahkan kadang hanya sedikit saja.


Tumbuk Gertak muncul mendatangi kedatangan Malaikat Serba Tahu dengan langkah tergesa-gesa.


“Malaikat Serba Tahu, kau harus memberi tahu kami sejelas-jelasnya! Mengapa kejadian ini tidak masuk dalam ramalanmu?” kata Tumbuk Gertak agak emosi.


Malaikat Serba Tahu yang tidak tahu apa-apa, jadi terbelalak bingung.


“Tapi ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Malaikat Serba Tahu. Kuda kambingnya sudah berhenti berjalan.


“Ayo cepat turun!” kata Tumbuk Gertak sambil menarik tubuh Malaikat Serba Tahu.


“Eh eh eh!” teriak Malaikat Serba Tahu yang langsung dipanggul oleh Tumbuk Gertak.


Tumbuk Gertak membawa Malaikat Serba Tahu yang bertubuh kecil ke balairung, seperti memanggul anak kecil. Di belakang, Tembas Rawa mengikuti.


Pada saat yang sama, Pendekar Seribu Tapak, Ki Ranggasewa dan Robenta muncul dari arah lain, juga terlihat tergesa-gesa.


“Serba Tahu! Kau harus memberikan penjelasan yang terang!” seru Pendekar Seribu Tapak dari jarak yang masih agak jauh.


“Kenapa aku jadi seperti tersangka?” tanya Malaikat Serba Tahu, masih di panggulan Tumbuk Gertak.

__ADS_1


“Keponakanku yang berguru pada Pendekar Jari-Jari Hijau tiba-tiba pulang, lalu menyerang Pangeran Joko dengan ilmu Jari Penghancur Nyawa!” kata Tumbuk Gertak.


“Apa?!” kejut Malaikat Serba Tahu.


“Karna itu kau harus jelaskan, kenapa kejadian ini bisa terjadi! Keponakanku mati diterkam harimau penjaga Pangeran Joko, dan Pangeran sendiri di ambang kematian!” jelas Tumbuk Gertak sambil menurunkan Malaikat Serba Tahu duduk di tengah-tengah balairung yang masih bernuansa ruang pernikahan.


“Setahuku ilmu Jari Penghancur Nyawa sudah dimusnahkan oleh adikku, kenapa cucu guruku bisa pulang membawa ilmu itu dan diserangkan kepada Pangeran Joko?” tanya Pendekar Seribu Tapak, berdiri memandang Malaikat Serba Tahu.


Pada saat itu tiba pula Getara Cinta, Kerling Sukma, Kumala Rimbayu dan Turung Gali.


“Tenang dulu, tenang semua, tolong ceritakan secara lengkap dan runut, juga santun!” kata Malaikat Serba Tahu mencoba meredam emosi dan kepanikan dari orang-orang di sekitarnya.


Mereka pun akhirnya terdiam sejenak, membenarkan imbauan Malaikat Serba Tahu. Mereka segera sadar bahwa mereka telah terbawa kepanikan.


Mereka semua akhirnya duduk bersila di hadapan Malaikat Serba Tahu. Beberapa orang kemudian juga datang ke balairung, mereka ingin tahu, data apa yang akan dikeluarkan oleh si cebol ganteng itu.


“Ceritakanlah apa yang terjadi!” perintah Malaikat Serba Tahu.


Tumbuk Gertak lalu menjadi juru cerita. Sambil mendengarkan dengan seksama, Malaikat Serba Tahu memejamkan matanya. Tampak ibu jari tangan kanannya bergerak menyentuh keempat ujung jarinya yang lain secara bergantian terus-menerus.


“Seperti itu ceritanya,” kata Tumbuk Gertak akhirnya, menutup ceritanya.


“Cepatlah!” desak Pendekar Seribu Tapak.


“Pertama tentang Lirik Layangati. Dia memang tidak tahu jika di sini ada pernikahan. Jadi kepulangannya tepat bersamaan dengan hari pernikahan. Selebihnya aku tidak tahu. Kedua, tentang ilmu terkutuk Jari Penghancur Nyawa. Benar ilmu itu sudah dimusnahkan, bahkan Pendekar Jari-Jari Hijau sudah tidak memilikinya….”


“Tapi buktinya….”


“Dengarkan dulu sampai habis!” hardik Malaikat Serba Tahu kepada Pendekar Tapak Seribu yang memotong penjelasannya.


Pendekar Seribu Tapak hanya menarik kedua sudut bibirnya sambil hempaskan napas tuanya.


“Tapi kitab ilmu Jari Penghancur Nyawa itu masih ada di tangan Jari-Jari Hijau. Bisa disimpulkan, Lirik Layangati mempelajarinya dari kitabnya. Kau tahu, Seribu Tapak, ilmu itu mudah dipelajari tapi sulit untuk ditangkal jika bukan oleh Jari-Jari Hijau sendiri, karena dia yang menciptakannya….”


“Itu artinya, Kakang Joko tidak bisa ditolong, Kek?” tanya Kerling Sukma dengan mata kembali berkaca-kaca ingin menangis, tinggal menunggu jawaban Malaikat Serba Tahu.


“Dulu sebelum Jari-Jari Hijau memusnahkan ilmu pengobatan dari ilmu Jari Penghancur Nyawa, Jari-Jari Hijau-lah satu-satunya orang yang bisa menyembuhkannya. Tapi sekarang, ilmu pengobatannya juga sudah dimusnahkan,” jawab Malaikat Serba Tahu.


“Hiks hiks…!” Kerling Sukma kembali menangis. Getara Cinta segera merangkul belakang bahu Sukma.

__ADS_1


“Kakek Serba Tahu!” panggil satu suara perempuan lain. Ia adalah Tirana yang datang belakangan. Rupanya ia tidak bisa menahan diri, ia merasa harus mendengar langsung penjelasan Malaikat Serba Tahu.


Kini Joko Tenang dalam penjagaan Nyi Lampingiwa dan Helai Sejengkal di kamarnya.


“Kakang Joko memiliki Permata Darah Suci dan rompi pusaka. Ketika Kakang Joko di ambang kematian saat melawan pemilik Permata Darah Suci di negeri seberang samudera, permata dalam diri Kakang Joko dan rompinya bisa memberikan kekuatan baru. Kenapa kali ini keduanya tidak bekerja?” tanya Tirana.


“Permata Darah Suci seperti minyak, tenaga dalam sepeti api. Joko Tenang tanpa tenaga dalam tidak akan bisa memancing kekuatan Permata Darah Suci. Kau bisa tanyakan kepada Ratu Getara ketika kedua permata itu bertemu dalam satu hubungan pertama. Hanya Ratu Getara yang mendapat kekuatan baru dari Permata Darah Suci, Joko Tenang tidak,” jawab Malaikat Serba Tahu.


“Benar, Kakang Joko tidak mendapat kekuatan dari Permata Darah Suci,” kata Getara Cinta membenarkan.


“Jika yang mengancam nyawa Joko Tenang adalah ilmu yang lain, mungkin Rompi Api Emas akan bereaksi menangkal dan menyelamatkan tuannya. Namun, ini adalah ilmu terkutuk. Rompi Api Emas pun tidak sanggup. Jika tidak sanggup, rompi itu tidak akan berbuat apa-apa….”


“Lalu dapat Kakek pastikan bahwa Kakang Joko tidak bisa ditolong?” tanya Tirana menerka dengan nada cukup ditekan.


“Tidak juga. Setahuku ada satu ilmu kuno yang bisa mengobati korban ilmu terkutuk itu….”


“Apa?!” tanya mereka serentak, memotong kata-kata Malaikat Serba Tahu.


“Tapi… aku lupa namanya,” jawab si cebol.


“Apa?!” kejut mereka bersamaan, kecewa besar.


“Bagaimana bisa, Serba Tahuuu?!” gusar Pendekar Seribu Tapak. Ia kesal bukan main. Lalu tanyanya kesal, “Bagaimana bisa kau yang serba tahu lupa nama satu ilmu saja yang pernah kau tahu?”


“Sabar dulu, Seribu Tapak!” kata Malaikat Serba Tahu. “Tunggu sebentar, tunggu sebentar!”


Setelah berkata seperti itu, kakek ganteng itu menjatuhkan kepalanya ke depan, seperti orang sedang tertidur.


Hening tercipta. Mereka semua terpaksa diam menunggu. Mereka tahu bahwa Malaikat Serba Tahu sedang mengerahkan ilmunya.


Pak!


“Hah!” kejut sebagian dari mereka, ketika tiba-tiba Malaikat Serba Tahu menggebrak lantai papan dengan keras.


“Aku dapat!” seru Malaikat Serba Tahu sambil mengangkat wajahnya, terlihat pandangannya berbinar, seolah sedang melihat bidadari cantik turun ke kali.


Seketika semua memandang serius kepada kakek ganteng itu. Mereka menunggu kalimat berikutnya.


“Lintah Cinta. Nama ilmu kuno itu adalah Lintah Cinta. Orang yang memiliki ilmu pengobatan kuno itu hanya ada satu orang, yaitu Dewi Mata Hati!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2