Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 1: Jebakan untuk Chi Men


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma) *


 


Ia seorang wanita separuh baya berkulit putih bersih dalam balutan hanfu berwarna hitam. Sabuk pakaianya berwarna kuning dengan pakaian dalam berwarna putih bersih. Pakaian hitamnya dihiasi sulaman perak bermotif burung phoinix. Ia bernama lengkap Chang Chi Men dan memiliki julukan Dewi Selendang Maut.


Ia sedang berjalan-jalan di pasar kota Munyang. Suasana ramai dengan berbagai dagangan yang penuh warna dan warni.


Di saat Chi Men sedang melihat-lihat berbagai macam asesoris rambut, tiba-tiba sudut matanya menangkap pergerakan yang mengusik perasaannya.


Si salah satu sudut pasar, dua orang lelaki bertubuh besar terlihat sedang menarik paksa seorang wanita muda.


“Tolong!” teriak wanita yang dibawa paksa masuk ke dalam gang pasar. Orang-orang pasar hanya memandangi tanpa berani ikut campur.


Sebagai seorang pendekar dan sama-sama perempuan, Chi Men tidak bisa tinggal diam atau bersikap abai menyaksikan kejadian seperti itu. Cara kasar kedua lelaki itu jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang baik.


Chi Men segera berlari menyeberang jalan pasar dan pergi masuk ke dalam gang. Ia melihat, di ujung gang yang buntu, kedua lelaki tadi sedang berusaha melepas pakaian si wanita yang meronta-ronta.


“Lelaki busuk!” maki Chi Men sambil berlari ke ujung gang.


Makian Chi Men membuat kedua lelaki yang sedang memegangi kedua tangan wanita berpakaian kuning itu jadi menoleh. Melihat kedatangan seorang wanita dengan gestur tubuh menunjukkan bahwa ia bukan wanita biasa, kedua lelaki itu segera cabut pedang masing-masing.


Bak bak!


Namun, gerakan Chi Men terlalu cepat datang dengan dua tendangan menghajar dada dan wajah kedua lelaki itu.


Kedua lelaki berbadan besar tersebut buru-buru bangkit lagi dan mencoba menyerang kembali. Namun, dengan mudah lagi, Chi Men memblokir pergerakan tangan mereka lalu dilanjutkan dengan hantaman pukulan yang keras. Keduanya kembali terjengkang dengan senjata yang lepas dari tangan.


Sambil mengerenyit kesakitan, kedua lelaki itu saling pandang, seolah saling berbicara lewat mata. Pada akhirnya, keduanya bangkit dan lari terbirit-birit menuju mulut gang. Mereka kabur.


“Hiks hiks…!” terdengar suara tangis ketakutan dari wanita berpakaian kuning. Ia meringkuk di sudut gang sambil memeluk dirinya sendiri. Tampak pakaiannya sudah kusut, meski belum sampai terbuka.


“Jangan takut lagi, Nona. Orang-orang jahat itu sudah pergi,” ucap Chi Men lembut sambil membungkuk dan tangannya menyentuh pelan bahu wanita tersebut.


Perlahan wanita itu menengok kepada Chi Men. Ia melihat wajah bersih Chi Men berada sejangkauan darinya.


“Terima kasih!” ucap wanita muda itu, yang menatap melalui balik helaian rambutnya yang acak-acakan.


“Siapa namamu?” tanya Chi Men lagi.


“Lung Tin,” jawabnya gadis itu sambil tangan kanannya bergerak cepat.


Bress!


“Akk!”


Alangkah terkejutnya Chi Men. Ada dua hal yang membuatnya terkejut, yaitu saat mendengar siapa nama wanita itu dan melihat lemparan bubuk merah ke wajahnya. Jarak yang begitu dekat membuat Chi Men tidak bisa menyelamatkan mata dan wajahnya dari bubuk merah itu.


Chi Men langsung menjerit karena sepasang matanya begitu sakit, pedas dan perih. Ia sempoyongan mundur ke tembok gang. Ia langsung tersadar di dalam hati bahwa ia dijebak.


Wanita berpakaian kuning tiba-tiba bangkit dengan ekspresi wajah yang telah berubah, dari ketakutan menjadi menyeringai.

__ADS_1


“Ini akhir hidupmu, Chi Men!” pekik wanita bernama Lung Tin itu lalu melompat cepat menendang wajah kiri Chi Men.


Chi Men yang tidak bisa membuka mata, terbanting keras ke tanah.


Tiba-tiba di mulut gang muncul lima lelaki berpedang. Chi Men terkejut karena mendengar kemunculan sejumlah langkah kaki.


“Bunuuuh!” teriak satu orang lelaki mengomandoi.


Kelima lelaki itu berlari masuk memenuhi gang. Mau tidak mau, Chi Men harus mengandalkan pendengarannya.


Blets! Das!


Chi Men menghentakkan lengan kanannya dalam posisi masih terbaring di tanah. Dari dalam lengan bajunya yang gombrong melesat keluar selendang berwarna hitam. Ujung selendang itu menghantam dada lelaki terdepan sehingga terjengkang menabrak rekannya sendiri.


Tiga lelaki yang lain terus maju dan menebaskan pedang-pedangnya kepada Chi Men. Sambil menahan sakit yang luar biasa pada matanya, Chi Men melompat naik ke udara menghindari bacokan berjemaah itu.


Babak!


Namun pada saat itu, Lung Tin juga berkelebat cepat di udara. Dua tendangan keras menghajar tubuhnya.


Chi Men terlempar menghantam tembok gang lalu jatuh ke tanah. Para lelaki bergolok cepat memburu dengan senjatanya.


Chi Men berguling-guling menghindari tebasan pedang yang bersusulan.


Blets!


Pada satu kesempatan, ia hentakkan selendang hitamnya, membuat gerakan bergelombang di udara yang mementalkan tiga lelaki pengeroyoknya.


Set!


Apa boleh buat, selendang hitam Chi Men tidak bisa mengatasi semua lawan. Setelah ditusuk, ia menendang penyerangnya hingga terjengkang.


Dalam kondisi buta dan berdarah seperti itu, Chi Men cepat bangkit. Lung Tin datang menyerang dengan pukulan dan tendangan yang bertenaga dalam. Dengan kewalahan, Chi Men mengelaki beberapa serangan dan menangkisnya.


Bret!


Tiba-tiba jari-jari tangan kiri Chi Men menyala merah membara dan muncul kuku-kuku besar lagi tajam. Sekelebat cakaran berhasil menyerang balik terhadap Lung Tin. Namun, kebutaan membuat serangan itu tidak akurat, hanya merobek hangus perut baju Lung Tin.


Lung Tin sempat terkejut oleh serangan dari ilmu Cakaran Naga Langit itu.


“Hiaat!”


Serangan tiga lelaki kembali datang serempak mengeroyok Chi Men.


Trang! Bret!


“Akh!” jerit satu lelaki saat pedangnya dibabat patah oleh cakaran Chi Men, lalu diteruskan mencakar dadanya dengan dalam. Lelaki itu langsung tewas.


Chi Men harus membayar mahal, upayanya dalam membunuh satu lawannya, membuat lawan yang lain dapat merobek punggungnya dengan pedang dari belakang.


Breet!

__ADS_1


Dalam kondisi terluka parah itu, Chi Men masih mampu menyerang balik seperti harimau terluka. Ia melakukan gerakan berputar dengan dua cakaran mengibas.


Satu lagi lelaki berpedang harus tewas saat lehernya terkena cakaran panas.


Dengan merasakan arah embusan angin di dalam gang itu, Chi Men jadi tahu arah keluar dari gang tersebut.


Ketika ada kesempatan, dia cepat berkelebat cepat di udara, melewati kepala dua lelaki pengeroyoknya.


Seset!


“Hekh!”


Lung Tin yang tidak mau kehilangan mangsanya cepat melesat sejumlah jarum senjata rahasianya. Chi Men memekik tertahan saat merasakan jarum-jarum masuk ke punggungnya yang sudah terluka besar.


Chi Men masih sanggup mendarat, meski dengan sempoyongan. Ia lalu berlari buta arah.


“Kejaaar!” teriak Lung Tin kepada tiga lelaki yang tersisa.


Ketiga lelaki berpedang buru-buru mengejar.


Set! Ctar!


Lung Tin melesatkan satu benda kecil ke langit. Pada titik yang tinggi, benda itu meledak nyaring dan berubah menjadi asap merah yang tebal. Itu adalah tanda.


Brak!


Chi Men yang masih belum bisa melihat, menabrak sebuah lapak pedagang hingga terjatuh. Salah satu tangannya masuk tercelup ke dalam ember kayu berisi air.


Mengetahui ada air, Chi Men cepat memasukkan wajah putihnya ke dalam air keruh bekas cucian piring kedai bakmi. Saat wajahnya sudah masuk ke air, ia mencoba membuka matanya. Namun, masih sangat perih dan pedas.


“Itu dia!”


Tiba-tiba terdengar teriakan keras suara laki-laki dari kejauhan. Terdengar ramai suara lelaki berteriak sambil berlarian mendekat. Jumlahnya bukan lagi tiga atau lima, tetapi belasan orang.


Pada saat yang sama, Lung Tin telah berkelabat di udara ke arah posisi Chi Men. Pandangan Chi Men hanya pulih sedikit. Dengan pandangan yang menyipit, ia hanya bisa melihat samar tidak jelas, tetapi ia bisa merasakan kedatangan Lung Tin.


Blets! Das!


Ia kembali melesatkan selendang hitamnya yang keluar melesat dari dalam lengan bajunya. Itu berhasil mengenai dada Lung Tin, membuatnya jatuh terjengkang.


Wuss!


Tangan kiri Chi Men melepaskan serangkum angin pukulan ke arah gerombolan lelaki berpedang yang datang. Serangan itu membuat para lelakit tersebut berhempasan.


Itu kesempatan bagi Chi Men berkelebat pergi dengan kondisi terluka parah. (RH)


*********


PENGUMUMAN


Mulai chapter ini masuk season "Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)". Ini adalah season terakhir dalam novel Pendekar Sanggana.

__ADS_1


Novel lanjutan Pendekar Sanggana berjudul Delapan Dewi Bunga. 😀🙏


__ADS_2