Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
119. Ramalan: Lelaki Kelima Puluh Enam


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Hormat Ananda kepada Ibunda Permaisuri, semoga Langit selalu memberkati,” ucap Putri Yuo Kai dengan hormat yang sedikit merendahkan tubuh.


Sementara Bo Fei, kedua pelayan dan keenam Pengawal Angsa Merah menghormat dengan berlutut.


“Bangunlah,” kata Permaisuri Fouwai seraya tersenyum ramah.


Putri Yuo Kai dan para bawahannya kembali tegak.


“Kakak,” ucap Pangeran Han Tsun seraya menghormat kepada kakaknya.


“Ada apa ini?” tanya Putri Yuo Kai datar setelah mengangguk kepada penghormatan adiknya.


“Joko telah berbuat lancang terhadap Ibunda Permaisuri,” kata Pangeran Han Tsun mengadu, kali ini nada bicaranya lebih datar. Ia tahu, kakaknya sangat dekat dengan Joko dan memiliki perhatian khusus terhadap pemuda berbibir merah itu.


“Sudilah kiranya Ibunda Permaisuri memaafkan Joko. Ia orang asing yang banyak tidak mengerti tata krama dalam Istana,” kata Putri Yuo Kai kepada ibu kandungnya.


Melihat pembelaan kakaknya itu, Pangeran Han Tsun hanya menarik satu sudut bibirnya menunjukkan kekecewaannya.


“Aku sudah tidak mempermasalahkannya,” kata Permaisuri Fouwai.


“Awas jika kau berbuat macam-macam terhadap tamuku!” desis Putri Yuo Kai kepada adiknya.


“Iya, aku mengerti,” kata Pangeran Han Tsun dengan wajah masam merengut.


“Lalu kenapa kau mengajaknya?” tanya Putri Yuo Kai curiga.


“Aku hanya mau mengajaknya berjalan-jalan dan minum di Liong Sue,” jawab Pangeran Han Tsun.


“Tidak biasanya Pangeran Han Tsun tertarik dengan orang asing?” selidik Putri Yuo Kai.


“Sekarang aku tidak tertarik setelah dia berbuat lancang kepada Ibunda Permaisuri,” ketus Pangeran Han Tsun. Lalu katanya kepada Permaisuri Fouwai, “Ananda mohon diri, Ibunda Permaisuri.”


Pangeran Han Tsun lalu menghormat kepada Permaisuri Fouwai lalu melangkah pergi bersama Tan Ma. Kepergian Pangeran Han Tsun segera diikuti oleh Joko Tenang setelah menjura hormat pula kepada Permaisuri Fouwai.


“Apa yang kau lakukan, Joko?” hardik Pangeran Han Tsun saat megetahui Joko Tenang mengikutinya.


“Hah?” Joko Tenang justru bertanya tidak mengerti.


Permaisuri Fouwai dan Putri Yuo Kai hanya membiarkan insiden itu terjadi. Keduanya hanya tersenyum.


Su Mai segera menghampiri Joko dalam jarak terbatas.


“Pendekar Joko, Yang Mulia Pangeran sudah tidak mengajak untuk pergi,” kata Su Mai.


“Oh, kenapa?” tanya Joko kepada Su Mai.

__ADS_1


Tanpa menunggu dialog Joko dan Su Mai selesai, Pangeran Han Tsun melanjutkan langkahnya meninggalkan keduanya.


“Sepertinya Yang Mulia Pangeran sedang kesal karena kejadian tadi,” kata Su Mai.


“Hahaha! Keputusannya membuatnya rugi, karena tidak bisa bersamamu lebih lama,” kata Joko Tenang seraya tertawa yang menggoda Su Mai.


Su Mai hanya tersenyum tertunduk malu.


Joko Tenang dan Su Mai akhirnya kembali kepada Permaisuri Fouwai dan Putri Yuo Kai. Sang putri hanya tersenyum kepada Joko ketika pemuda yang lebih muda usianya itu tiba di hadapannya.


“Kau hendak ke mana, Kai’er?” tanya Permaisuri Fouwai.


“Awalnya aku berniat ke Paviliun Hijau, tetapi justru bertemu Joko di sini. Aku ingin mengajaknya bertemu seseorang,” jawab Putri Yuo Kai.


“Sepertinya kau begitu percaya kepadanya,” kata Permaisuri Fouwai.


Putri Yuo Kai tersenyum. Lalu katanya, “Entahlah. Aku merasa ia begitu apa adanya dan tidak memiliki niat untuk merusak atau menyakiti. Aku juga tidak habis mengerti, mengapa aku bisa begitu percaya kepadanya. Bantuannya dalam pertarungan di parit selatan menunjukkan ia berada di pihak kita. Semoga penilaianku tidak salah.”


Permaisuri Fouwai lebih mendekat dan merapat kepada putrinya. Lalu bisiknya, “Apakah kau menaruh hati kepadanya?”


Putri Yuo Kai tidak terkejut dengan pertanyaan seperti itu. Ia pun tidak merasa tersanjung malu. Namun, ia tersenyum kepada ibunya.


Sebenarnya Joko Tenang mendengar perkataan sang permaisuri, tetapi sayangnya ia tidak mengerti. Sementara Su Mai hanya mendengar samar.


“Kalaupun rasa itu ada, itu tidak mungkin. Pendekar Joko sudah memiliki calon istri dan ia harus kembali secepatnya ke negerinya jika urusannya di sini selesai,” kata Putri Yuo Kai.


“Jika Joko adalah orang Negeri Jang, itu akan mengikatnya. Namun, dia orang asing,” kata sang putri.


Akhirnya Permaisuri Fouwai menarik napas panjang.


“Kai’er, kau harus segera memikirkan untuk menikah secepatnya. Usiamu terus bertambah. Ingat, sudah 55 lelaki yang kau tolak,” kata Permaisuri lagi.


“Iya, Ibunda Permaisuri,” ucap Putri Yuo Kai.


“Selesaikanlah urusanmu dengan Joko,” kata Permaisuri lalu melangkah pergi yang segera diikuti oleh kesebelas pelayannya.


Putri Yuo Kai dan bawahannya, Joko Tenang dan Su Mai mengiringi kepergian Permaisuri Fouwai dengan penghormatan.


Dalam hormatnya kepada Permaisuri, mendadak melebar sepasang mata indah Putri Yuo Kai. Ada sesuatu yang tiba-tiba teringat olehnya.


“Pertama tentang hal yang menyangkut hidupmu, Putri Kai. Perhatikan bilangan lima puluh enam dari langit.”


Kalimat perkataan peramal misterius bernama Yu Rong Ro terngiang kembali di dalam benak Putri Yuo Kai. Ramalan pertama itu seketika ia hubungkan dengan perkataan ibunya yang mengingatkan bahwa sudah 55 lelaki yang ia tolak lamarannya.


“Apakah Joko Tenang adalah lelaki kelima puluh enam?” ucapnya lirih yang terdengar oleh Bo Fei dan kedua pelayan pribadinya.


Ucapan sang putri itu mengejutkan Bo Fei, Mai Cui, dan Yi Liun.

__ADS_1


“Angka itu sangat cocok dengan cara kedatangan Pendekar Joko yang dari langit,” kata Bo Fei pula, menguatkan dugaan majikannya.


Keempat wanita itu kini tengah memandangi Joko Tenang yang berdiri diam. Terkhusus bagi Putri Yuo Kai, ia benar-benar menatap Joko Tanpa berkedip.


Joko Tenang dan Su Mai jadi heran dan bertanya-tanya atas sikap keempat wanita itu.


“Mengapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Joko dengan alis agak mengerut.


“Mengapa Yang Mulia Putri menatap Pendekar Joko seperti itu?” kata Su Mai menerjemahkan.


Putri Yuo Kai tidak menjawab, tetapi justru melangkah maju mendekat kepada Joko Tenang. Putri Yuo Kai mendekati hingga melanggar jarak batas aman bagi Joko.


Pemuda itu segera melangkah mundur menjauhi Putri Yuo Kai yang tidak jua berkedip memandanginya.


“Yang Mulia Putri Yuo Kai!” sebut Joko sambil melangkah mundur menjaga jarak aman. Ia ingin menyadarkan sang putri.


Sebutan itu membuat Putri Yuo Kai menghentikan langkahnya, membuat Joko Tenang menghempaskan napas kelegaan.


“Apa yang terjadi denganmu, Putri?” tanya Joko lagi.


“Apa yang terjadi dengan Yang Mulia Putri?” kata Su Mai menerjemahkan.


“Apakah ada kemungkinan suatu kondisi yang bisa membuatmu tinggal di Negeri Jang untuk selamanya?” tanya Putri Yuo Kai.


Su Mai pun segera menerjemahkan pertanyaan itu untuk Joko.


“Tidak ada. Jikapun aku kemudian mati di sini, mayatku harus tetap pulang ke negeriku. Seorang ratu bergantung nyawa kepadaku. Jadi, aku harus pulang setelah menemukan Permata Darah Suci,” jawab Joko yang kemudian diterjemahkan.


“Kita kembali ke Istana Tua!” kata Putri Yuo Kai kepada pengawal dan pelayannya.


Bo Fei dan kedua pelayan sang putri jadi saling pandang. Namun akhirnya, mereka harus mengikuti langkah Putri Yuo Kai. Mereka meninggalkan Joko Tenang dan Su Mai begitu saja.


Rasa heran juga menyelimuti pikiran Joko dan Su Mai.


“Ayo kita kembali!” ajak Joko kepada Su Mai.


Su Mai pun menuruti ajakan Joko.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Joko kepada Su Mai.


“Aku menduga, ada hal penting yang sedang Yang Mulia Putri pikirkan tentang Pendekar,” jawab Su Mai.


Joko Tenang hanya mengangguk sekali.


“Jika sampai besok pagi tidak ada berita apa pun, bisakah kau membantuku mencari berita tentang calon istriku dan sahabatku?”


“Akan aku lakukan, Pendekar.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2