
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Apa yang kalian lihat pada diri Kerling Sukma?” tanya Joko Tenang kepada Tirana dan Putri Sri Rahayu.
“Kesaktiannya tidak diragukan,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Menurutku dia bahagia. Itu yang aku harapkan kepada bakal calon istri yang lain,” kata Tirana sambil tersenyum melirik kepada Putri Sri Rahayu.
“Kenapa melirikku, Tirana? Apakah kau mengira aku tidak bahagia?” tanya Putri Sri Rahayu, balas melirik kecut.
Tirana hanya tertawa melihat reaksi Putri Sri Rahayu.
“Sekarang kita berjalan ke mana, Kakang?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Entahlah, sementara ini aku tidak punya tujuan. Kita mencari secara acak lebih dahulu,” jawab Joko.
Namun, tiba-tiba….
“Ada pertarungan, Kakang,” kata Tirana pelan.
Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu menajamkan pendengarannya.
“Ayo kita lihat!” ajak Joko Tenang.
Mereka bertiga berkelebat ke arah utara. Namun, mereka dihentikan oleh bentangan rawa.
Di seberang rawa ada daratan bertanah keras dan lebih jauh adalah hutan liar.
Di seberang rawa itulah ada terjadi pertarungan tidak seimbang. Tiga orang mengeroyok seorang gadis cantik berpakaian putih. Tiga orang itu tidak lain adalah Nenek Haus Darah, Malaikat Pedang Air dan Mega Kencani. Namun, Mega Kencani tidak terlibat dalam pertarungan, dia lebih memilih berdiri di pinggiran sambil memperhatikan jalannya pertarungan.
Gadis berpakaian putih yang bersenjatakan sebuah seruling perak itu tampak terdesak dikeroyok oleh dua pendekar tua.
“Pendek umur Mega Kencani,” ucap Joko Tenang saat melihat keberadaan Mega Kencani. “Biar aku yang mengurus Mega Kencani, kalian bantulah gadis itu. Sepertinya dia murid si kakek botak seruling panjang.”
“Baik, Kakang,” jawab Tirana dan Putri Sri Rahayu.
Mega Kencani yang melihat ada pergerakan orang di seberang rawa segera melihat siapa mereka adanya.
“Joko Tenang?” ucap Mega Kencani sambil memfokuskan pandangannya ke seberang. Ia berubah panik ketika mengingat perempuan berpakaian merah, memastikan bahwa pemuda berompi merah di seberang sana adalah Joko Tenang. “Aku harus kabur!”
Namun, detik itu juga, ketiga sosok di seberang sana sudah menghilang dari tempat berdirinya. Saat yang sama, tiga deret cipratan air di rawa tercipta tanpa terlihat ada benda yang menyentuhnya.
Mega Kencani buru-buru berbalik hendak pergi. Tangan kanannya cepat memegangi gagang keris yang ada terselip di balik pinggangnya. Namun, tahu-tahu tujuh langkah darinya sudah berdiri menghadang sosok Joko Tenang.
Zersss! Clap!
Mega Kencani menusukkan keris pusakanya yang langsung bersinar hijau. Senjata itu langsung melesatkan sinar hijau panjang yang bergerak liar. Namun, Joko Tenang lebih cepat menghilang dari tempat berdirinya, membuat sinar pusaka itu terus mengenai batang pohon tanpa memberi dampak apa-apa.
Sementara itu, gadis cantik berpakaian putih tebal seperti mantel, dalam kondisi kritis. Ilmu Belalai Darah Nenek Haus Darah telah menjerat kedua tangan dan kaki gadis itu, membuatnya tidak berdaya.
Keempat belalai sinar merah itu mengangkat tubuh si gadis yang bernama Kumala Rimbayu. Gadis bermata bening indah itu merintih tertahan menahan sengatan panas ilmu Belalai Darah Nenek Haus Darah.
Dari belakang tubuh Nenek Haus Darah melompat maju sosok Grayugantang dengan telapak bersinar biru samar. Grayugantang mendarat di hadapan Kumala Rimbayu dan menghantamkan telapak tangannya ke dada si gadis.
Clap! Paks!
Namun, Grayugantang harus terkejut karena tiba-tiba tepat di depan tubuh Kumala muncul sosok Putri Sri Rahayu dengan telapak bersinar merah terang.
__ADS_1
Wuss!
Pada saat yang sama, di udara, tepat di atas kepala Kumala Rimbayu, telah terbang sosok Tirana yang melepaskan pukulan jarak jauhnya kepada Nenek Haus Jantung.
Grayugantang dan Putri Sri Rahayu saling adu ilmu pukulan tingkat tinggi, menciptakan ledakan tenaga. Tubuh Grayugantang terpental kuat ke belakang. Seharusnya ia menabrak keberadaan Nenek Haus Darah yang telah melompat jauh ke belakang karena menghindari angin pukulan Tirana.
Angin pukulan Tirana justru secara kebetulan mengenai tubuh Grayugantang, membuat lelaki tua itu terpental liar dan jatuh jelek menghantam tanah.
Putri Sri Rahayu sendiri terdorong keras ke belakang karena beradu ilmu dengan Grayugantang. Ia menabrak tubuh Kumala Rimbayu yang sangat dekat di belakangnya. Kumala sudah terbebas dari Belalai Darah sejak Nenek Haus Darah mendapat serangan dari Tirana.
Kumala Rimbayu jatuh terjengkang. Putri Sri Rahayu segera membantu gadis cantik itu untuk berdiri. Tampak Kumala Rimbayu telah mengalami luka dalam, tertanda dari rembesan darah kental pada sudut bibirnya.
“Siapa kalian berdua?!” tanya Nenek Haus Darah marah.
“Berani-beraninya kalian ikut campur!” teriak Grayugantang sambil bangun dengan emosi yang meledak-ledak.
Cresss!
Malaikat Pedang Air telah mengeluarkan dua pedang airnya.
“Grayugantang! Tolong aku!” teriak Mega Kencani yang kebingungan mencari keberadaan Joko Tenang.
“Apa yang kau lakukan, Mega?!” bentak Grayugantang kesal melihat tingkah Mega Kencani yang memandang ke sana ke mari, lalu tiba-tiba berbalik.
“Joko murid Kunsa Pari ada di sini!” teriak Mega Kencani tegang.
“Di mana dia?!” tanya Grayugantang dan Nenek Haus Darah bersamaan.
“Tidak tahu, tapi tadi dia ada di sini!” jawab Mega Kencani berteriak sambil terus mencari ke sana dan ke sini.
Karena tidak menemukan keberadaan Joko Tenang, akhirnya Mega Kencani memutuskan menyerang dengan membabi buta. Ia tusukkan keris di tangannya ke depan, meski di depannya tidak terlihat ada siapa-siapa. Setelah itu, ia tiba-tiba berbalik dan kembali melesatkan sinar hijau panjang yang liar. Lalu menusuk ke samping pula yang nyaris mengenai Grayugantang. Untung saja Grayugantang gesit mengelak.
“Mega Kencani! Kau bisa mengenai kami semua!” teriak Grayugantang gusar.
Baks!
“Fukrr!”
Belum lagi Mega Kencani berkata, tiba-tiba dadanya dihantam oleh sesuatu yang kuat tetapi tidak terlihat. Hal itu membuat tubuh Mega Kencani terjengkang sambil menyemburkan darah dari mulutnya, menunjukkan serangan tidak terlihat yang menyerang itu bertenaga dalam tinggi.
Kejadian itu membuat Grayugantang dan Nenek Haus Darah terkejut dan cepat lebih waspada.
Zersss!
Dalam kondisi terbaring di tanah, Mega Kencani cepat melesatkan sinar hijau pada keris yang masih kuat dipegangnya. Namun, apa yang diserang Mega Kencani tidak lebih dari ruang kosong.
Sess! Blarr!
Mega Kencani yang ketakutan dan panik berubah terkejut saat dari samping tiba-tiba melesat sinar hijau berbentuk sebuah pisau. Sinar itu melesat tanpa tempo lagi dan langsung meledakkan tangan kanan Mega Kencani yang memegang keris Pusaka Serap Sakti.
“Aaa…!” jerit tinggi Mega Kencani sambil guling-guling di tanah. Tangan kirinya memegangi lengan kanannya yang sudah tidak ada dan bersimbah darah.
Sementara kerisnya terpental beberapa jangkauan dari Mega Kencani.
“Pusaka Serap Sakti!” sebut Grayugantang yang cepat melihat peluang. Ia langsung melesat hendak menyambar pusaka yang tergeletak itu.
Bang!
__ADS_1
“Agk!”
Melihat pergerakan Grayugantang, Putri Sri Rahayu tidak tinggal diam. Ia mengibaskan cepat lengah kirinya.
Yang kemudian terjadi adalah Grayugantang terpental balik dan jatuh terjengkang.
Sebelum Grayugantang sampai kepada keris pusaka itu, tubuhnya seperti menabrak dinding tebal yang tidak terlihat. Ilmu Dinding Tanpa Wujud milik Putri Sri Rahayu telah mencegahnya merebut Pusaka Serap Sakti.
Tiba-tiba sosok Joko Tenang yang baru saja mengerahkan ilmu Merah Raga, muncul tepat di dekat keris itu. Kemunculan Joko Tenang di dekat keris pusaka itu mengejutkan Grayugantang dan Nenek Haus Darah. Jika Joko Tenang mengambil pusaka itu, maka akan menjadi alamat buruk bagi dunia aliran hitam.
Ketakutan berlebihan diperlihatkan oleh Mega Kencani melihat Joko Tenang berdiri menatapnya tajam.
Bag!
Kaki kanan Joko Tenang menjejak ke tanah. Keris pusaka yang kini tidak bersinar itu terpental melambung ke udara. Tangan kanan Joko cepat menyambarnya. Final, keris Pusaka Serap Sakti sudah berada di tangan Joko Tenang.
“Kau bisa merasakan bagaimana sakitnya jika diserang dengan cara dibokong,” ujar Joko Tenang.
“Joko, jangan lakukan kepadaku, ini semua aku lakukan terpaksa. Aku tidak bersalah!” teriak Mega Kencani panik luar biasa sambil mundur-mundur terduduk. Ia membiarkan darah mengucur deras dari lengan kanannya.
“Tanganmu adalah bayaran atas kaki Nini Silangucap,” kata Joko Tenang kepada Mega Kencani. “Dan ini hukuman atas segala perbuatanmu!”
Zersss!
Joko Tenang menyalurkan tenaga dalamnya yang membuat keris di tangannya itu bersinar hijau. Ia lalu menusukkannya ke arah Mega Kencani.
Maka, langsung saja sinar hijau melesat dan mengenai tubuh Mega Kencani yang sudah tidak berdaya.
“Tidaaak! Tidaaak!” teriak Mega Kencani menjerit histeris. Setelah terkena sinar hijau dari pusaka itu, ia merasakan bahwa ia sudah tidak bisa mengerahkan sedikit pun tenaga dalamnya. Luka pada lengan kanannya pun terasa lebih sakit.
Press! Blaarr!
Joko Tenang kemudian mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad. Maka sinar hijau menyilaukan mata muncul di tangan kanan Joko yang langsung meledakkan keris Pusaka Serap Sakti.
“Hukh!” keluh Joko Tenang dengan tubuh terpental dan terjengkang. Ia terpental lalu jatuh ke tanah. Namun demikian, Pusaka Serap Sakti pun telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan halus.
Dengan demikian, tamatlah riwayat Pusaka Serap Sakti.
Sementara itu, dengan terhuyung-huyung sambil menahan sakit yang luar biasa, Mega Kencani bangkit dan berlari kecil, mencoba meninggalkan tempat itu.
Wess!
Tiba-tiba dari satu arah melesat terbang sesosok tubuh berpakaian serba biru terang. Gerak terbangnya begitu cepat seperti seekor elang pemburu.
Boks!
“Hekr!” keluh Mega Kencani untuk terakhir kalinya dengan tubuh melengkung ke belakang, mulut menyemburkan darah, sepasang mata nyaris lepas keluar, dan dada jebol berlubang mengerikan.
Hal yang dialami oleh Mega Kencani terjadi ketika sosok wanita berpakaian serba biru terbang melintas di atasnya dan mengirimkan pukulan tinju jarak jauh.
Kejadian itu membuat mereka semua terkejut. Itu hal yang sangat tidak terduga.
Sosok wanita berpakaian serba biru terus saja melesat terbang seperti burung tanpa perlu hinggap atau perlu pijakan.
“Tunggu!” seru Joko Tenang mencoba menahan sosok perempuan bercadar biru terang itu.
Namun, sosok itu sudah terbang jauh ke seberang rawa. (RH)
__ADS_1