Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 13: Wanita Kerajaan Sanggana Kecil


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


Kereta kuda yang disaisi oleh Joko Tenang terus melaju. Mereka kini sedang melalui sebuah jalan di tengah hutan. Jalan itu tidak sulit bagi kendaraan kuda ataupun kereta kuda.


Saat itu, Turung Gali sudah tidak ada bersama mereka.


“Kakang, kita akan menghadapi banyak orang persilatan. Aku khawatir terhadap keselamatan Kakang,” ujar Kerling Sukma dari dalam bilik kereta.


“Aku sudah bertanya kepada Macan Penakluk, ternyata dia bisa keluar jika aku perintahkan,” jawab Joko Tenang. “Mata Hijau, nanti kau akan melihat cara suamimu bertarung tanpa kesaktian. Hahaha!”


Tirana dan Getara Cinta tersenyum kepada Kerling Sukma.


“Kakang akan turut bertarung, tetapi kitalah yang akan mejadi tangan dan kaki Kakang Joko,” kata Tirana sambil memegang tangan Kerling Sukma.


“Ada yang menghadang,” kata Getara Cinta.


“Pasti orang Gerombolan Kuda Biru,” terka Kerling Sukma.


Joko Tenang menghentikan lari kedua kuda penarik keretanya. Di depan sana telah menghadang delapan orang, satu perempuan dan tujuh lelaki. Satu perempuan itu sudah pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, yaitu Sumitri yang berjuluk Wanita Kepeng Perak.


Melihat dari posisi berdirinya, Sumitri bersama teman pria di sisinya adalah pemimpin dari enam orang lainnya yang berdiri di belakang mereka berdua.


Lelaki yang berdiri di sisi kiri Sumitri adalah seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan tahun. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam. Ia menyandang sebuah golok besar yang diperlakukan seolah sebuah tongkat. Lelaki berkumis tebal seperti Pak Raden itu memiliki sepasang otot lengan yang kekar berisi, sebanding dengan besar senjatanya. Ia bernama Gatra Wicaksono.


Keenam lelaki yang berdiri di belakang Sumitri dan Gatra Wicaksono adalah para pendekar yang level kesaktiannya masih ada di bawah keduanya.


“Itu rombongan yang melukai Sorak Bura dan menolong anak adipati itu,” kata Sumitri kepada Gatra Wicaksono yang hanya mengangguk.


Joko Tenang melempar senyum kepada Sumitri dan rekan-rekannya. Sementara ketiga istrinya memilih belum keluar atau menampakkan wajah.


“Kita bertemu lagi, Nisanak!” sahu Joko Tenang seraya tersenyum.


“Dan kali ini kau tidak akan kami biarkan pergi dengan hidup-hidup!” seru Sumitri.


Panas rasanya telinga Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma mendengar perkataan Sumitri. Namun, mereka memilih menahan diri sebelum ada perintah dari sang suami.


“Izinkan kami lewat dengan aman, maka kalian pun akan aman!” balas Joko Tenang dengan menyisipkan sedikit keangkuhan pula.


“Hahaha!” tawa Gatra Wicaksono. “Punya nyali juga!”


“Apa yang perlu ditakutkan dari kalian yang hanya bermodal gertakan sambal belaka? Jika kesaktian kalian baru sebatas setinggi pohon kecambah, jangan bermimpi bisa merebut Kadipaten Surosoh. Pulanglah dan sampaikan kepada pemimpin kalian, Penguasa Kerajaan Sanggana Kecil menantangnya!” seru Joko Tenang. Ia sengaja berkoar untuk memancing emosi para penghadang itu belaka.


“Penguasa Kerajaan Sanggana Kecil!” ucap ulang Gatra Wicaksono lalu memandang Sumitri.


“Baru kali ini aku mendengarnya,” kata Sumitri.


“Bocah berbibir merah, kau jangan mencoba membual jika hanya untuk mencari celah melarikan diri. Selama aku langlang buana, aku tidak pernah mendengar nama Kerajaan Sanggana Kecil. Bahkan Kerajaan Sanggana Besar pun tidak pernah ada!” kata Gatra Wicaksono.


“Teman perempuanmu itu sudah pernah merasakan kesaktian wanita Kerajaan Sanggana Kecil. Dengan murah hati aku akan menunjukkan kehebatan para wanita Kerajaan Sanggana Kecil jika kalian penasaran!” kata Joko Tenang.


Ketiga istri Joko Tenang hanya mendengarkan koaran-koaran Joko Tenang, karakter yang sebenarnya bukan milik suami mereka. Itu bukan gaya Joko Tenang.


“Pemuda itu benar, kita harus hati-hati. Kesaktian perempuannya tidak rendah,” kata Sumitri kepada Gatra Wicaksono.


“Jika kau merasa tidak sanggup melawannya, lalu kenapa kita menghadangnya? Kau meremehkanku,” tanya Gatra Wicaksono dengan tatapan tidak suka. Ia lalu berteriak kepada Joko Tenang, “Apakah yang mengaku Penguasa Kerajaan Sanggana Kecil akan berlindung di balik ketiak perempuannya?!”


Mendengar itu, Kerling Sukma tersulut amarahnya, benteng kesabarannya jebol.

__ADS_1


Clap!


Kerling Sukma tahu-tahu telah menghilang dari tempat duduknya. Tirana hanya mendelik. Sementara Getara Cinta tersenyum melihat reaksi Tirana.


Bakk!


“Hugk!” keluh Gatra Wicaksono seiring tubuh yang terpental keras ke belakang, hingga menabrak keras dua lelaki lainnya di belakang.


“Kurang manis!” maki Sumitri.


Sumitri dan rekan-rekannya terkejut saat tahu-tahu sosok Kerling Sukma muncul di depan Gatra Wicaksono, langsung menghantam dada lelaki itu.


Setelah terkejut, Sumitri cepat berinisiatif langsung menyerang pula. Ia melompat sambil mengibaskan tendangan bertenaga dalam tinggi.


Dak! Bak!


Namun, tendangan Sumitri mudah ditangkis oleh gerakan kaki Kerling Sukma yang luwes. Bahkan, kaki Kerling Sukma yang lain sangat cepat menyusul menusuk ke dada Sumitri. Wanita berjubah hitam itu terjengkang keras.


Tirana dan Getara Cinta tidak mau melewatkan tontonan menarik. Karenanya mereka keluar dari bilik dan duduk mengapit suami mereka.


“Serang!” teriak Gatra Wicaksono murka, memerintah keenam anak buahnya.


Maka, keenam anak buah Sumitri dan Gatra Wicaksono cepat berlari dan melompat maju menyerbu Kerling Sukma.


“Dua gebrakan!” kata Getara Cinta menerka.


“Setuju, dua gebrakan!” kata Tirana.


Boom!


Ketika serangan beramai-ramai itu datang kepadanya, Kerling Sukma hanya menghantamkan tinju kanannya ke telapak tangan kirinya sendiri. Hasilnya, sebuah bayangan tinju tangan raksasa berwarna hitam muncul pada tubuh Kerling Sukma. Bayangan tinju yang wujudnya berlipat-lipat kali lebih besar dari tubuh manusia itu, langsung melesat terbatas ke depan.


“Ternyata hanya sekali gebrak,” ucap Getara Cinta yang salah perkiraan.


Keenam lelaki yang menyerang bersamaan itu seketika terpental semua terkena hantaman tenaga tinju bayangan raksasa. Mereka terpental cukup jauh, seperti telah diseruduk oleh sepuluh tenaga banteng. Selanjutnya, tidak ada yang bisa bangkit kembali karena tulang-tulang mereka berpatahan.


Kehebatan dari ilmu Tinju Seruduk Tulang adalah membuat orang-orang yang bertenaga dalam di bawah standar nasional akan mengalami patah tulang di mana-mana. Dan buktinya adalah keenam lelaki itu, mereka hanya bisa mengerang-erang kesakitan.


Kerling Sukma menengok kepada kedua madunya lalu tersenyum lebar sambil menunjukkan satu jari telunjuknya. Itu isyarat bahwa ia melakukan hanya sekali gebrak. Ia mendengar tebak-tebakan mereka tadi.


“Hihihi!” Tirana dan Getara Cinta hanya tertawa di tempatnya. Demikian pula Joko Tenang yang hanya tersenyum senang, sebab istri-istrinya selalu mesra di kala tegang maupun santai.


“Kurang manis! Rasakan Badai Koin-ku!” teriak Sumitri gusar.


Sseett!


Belasan koin perak melesat sekaligus menyerang Kerling Sukma.


Tanpa menghindar, Kerling Sukma hanya menghentakkan tangan kirinya dengan telapak terbuka. Maka, satu lapisan sinar merah tipis, datar dan luas muncul satu tombak dari tubuh Kerling Sukma.


Cess cess cess…!


Semua koin yang menyerang terhadang oleh ilmu perisai Payung Kebajikan milik Kerling Sukma. Semua koin itu luber seperti membentur dinding yang sangat panas suhu derajatnya.


“Berapa ilmu yang akan keluar?” tanya Tirana, tebak-tebakan lagi.


“Dua,” jawab Getara Cinta menerka.

__ADS_1


“Dua juga. Hihihi!” kata Tirana lalu tertawa, sebab tebakannya selalu mengikuti tebakan Getara Cinta.


Di tangan kanan Kerling Sukma telah bercokol bola sinar putih dari ilmu Api Putih. Saat serangan Badai Koin Sumitri berhenti dan ilmu perisai Payung Kebajikan hilang, Kerling Sukma langsung melesat kepada Gatra Wicaksono.


Lelaki berkumis tebal itu terkejut bukan main. Dugaan awalnya adalah Kerling Sukma akan menyerang Sumitri, bukan dirinya.


Sess! Ziss!


Sinar putih ilmu Api Putih telah dilesatkan. Namun, pada saat yang sama, tangan kiri Kerling Sukma juga melesatkan satu sinar putih berbentuk piringan tipis dari ilmu Cinta Penjemput Nyawa. Targetnya adalah Sumitri yang tidak sedang dipandang oleh Kerling Sukma.


“Kurang manis, Kampret!” maki Sumitri terkejut.


Gatra Wicaksono yang tidak sempat menghindar, terpaksa menahan dengan tameng golok besarnya. Senjatanya terpaksa ia gunakan sebagai penangkis dengan memberinya tenaga dalam tinggi.


Blar! Bluar!


Hancurlah golok besar Gatra Wicaksono. Tubuhnya terpental deras menghantam batang pohon hutan pinggir jalan.


Nasib yang serupa dialamai oleh Sumitri. Sinar Cinta Penjemput Nyawa ia tangkis dengan sinar merah berbentuk bola besar. Telatnya tindakan Sumitri membuat peraduan dua tenaga ilmu kesaktian itu terjadi di depan tubuh Sumitri. Ledakan tenaga dan sinar terjadi hebat.


Tubuh wanita berjubah hitam itu terpental keras tanpa jeritan. Sumitri jatuh keras di tanah berumput kosong. Namun, kondisinya sangat parah. Badan depannya hancur karena sifat ilmu Cinta Penjemput Nyawa adalah menghancurkan. Tewas sudah wanita yang suka mengumpat “kurang manis” itu.


Sementara itu, Gatra Wicaksono berusaha bangkit berdiri. Pakaian depannya telah hangus terbakar. Wajahnya yang mengalami luka bakar parah sudah tidak berkumis dan berambut. Badan depannya juga mengalami luka bakar yang parah.


Blugk!


Gatra Wicaksono tumbang ke depan dengan nyawa telah melayang.


Melihat kedua lawan utamanya telah tewas. Kerling Sukma lalu berbalik dan mengangkat tiga jari, menunjukkan kepada kedua madunya.


Joko Tenang dan kedua istri di sisinya hanya tertawa karena terkaan Tirana dan Getara cinta meleset. Kerling Sukma mengeluarkan tiga ilmunya untuk memenangkan pertarungan itu. Bahkan Gatra Wicaksono dibuat tidak memiliki waktu untuk unjuk kesaktian.


“Gadis jelita bermata hijau menggelar kesaktian, di kala musuh berkoar laksana ayam pejantan, musuh mati di bawa panji yang kukibarkan, tapi kulihat di belakang dua maduku justru bermesraan!” seru Kerling Sukma bersyair.


“Hihihi….!” Tirana dan Getara Cinta malah tertawa kencang mendengar syair Kerling Sukma.


Joko Tenang hanya tersenyum melihat gesekan-gesekan menggemaskan para istrinya.


“Di kananku ada Ratu, di kiriku ada Gadis Penjaga, kau memilih duduk di mana, Mata Hijau-ku?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum.


“Di pangkuan Kakang!” jawab Kerling Sukma sambil melompat bersalto di udara.


“Hekh!” keluh Joko Tenang saat tahu-tahu tubuh Kerling Sukma sudah menduduki kedua pahanya dengan posisi memunggungi. Joko Tenang hanya bisa mendelik karena ia memangku seorang anak besar.


“Hihihi…!” Tertawa ramailah ketiga istri.


Kerling Sukma mengambil alih tali kekang kuda dari tangan suaminya. Ia menggebah, kuda pun berjalan melanjutkan perjalanan.


“Hihihi…!” tawa Kerling Sukma berkepanjangan saat kedua tangan Joko Tenang memeluk perutnya sambil menggelitikinya.


Ramailah mereka bercumbu rayu di atas kereta kuda. Mereka meninggalkan dua mayat dan enam orang yang bergelimpangan tidak berdaya.


Namun dalam perjalanannya, akhirnya Kerling Sukma pindah tempat. Ia naik duduk di atap bilik kereta bersama Tirana. Keduanya membiarkan Getara Cinta duduk manja sambil bersender dalam rangkulan satu tangan suaminya.


Perbedaan-perbedaan kecil seperti itu tidak sedikit pun mereka permasalahkan, justru sesekali mereka jadikan bahan gurauan belaka.


Setelah keluar dari hutan, mereka harus menyeberangi jembatan kayu. Jembatan di atas sungai yang curam itu dibangun kokoh dengan bahan papan dan kayu.

__ADS_1


Setelah menyeberangi sungai, maka tibalah mereka di Gerbang Hati Putih. Sepuluh orang pendekar yang berjaga di area itu menghadang dan menghentikan perjalan Joko Tenang dan ketiga istrinya. (RH)


__ADS_2