
*Pusaka Sereap Sakti (Pusesa)*
“Ukh!” keluh Sobenta yang bangun-bangun merasakan sakit pada bagian ulu hatinya.
Sobenta segera tersadar apa yang terjadi dengan dirinya sebelumnya. Seorang wanita buruk rupa telah menyerangnya. Buru-buru ia bangun duduk sambil menengok ke sana dan ke sini.
Sobenta melihat keberadaan Joko yang masih terbaring dan seorang wanita berpakaian serba merah sedang duduk memandanginya.
“Kami menunggumu, Orang Tua,” sapa Putri Sri Rahayu.
“Siapa kau?” tanya Sobenta lalu buru-buru bangkit berdiri. Ia mencari seruling panjangnya yang lebih cocok disebut tongkat bambu, tetapi ia tidak menemukan di sekitarnya.
“Aku akan menunjukkan di mana tongkatmu jika kau membebaskan totokan Joko,” kata Putri Sri Rahayu.
“Tidak akan aku bebaskan, kecuali Joko mau menikah dengan muridku Kumala Rimbayu!” tandas Sobenta.
“Orang Tua, aku ini calon suami adik seperguruanmu, apakah kau tega membiarkan muridmu berbagi lelaki dengan bibi gurunya,” kata Joko yang tidak bisa bergerak selain bernapas, berbicara dan melirik.
“Memang tidak, tetapi kau hanya berdusta!” tukas Sobenta.
“Kalau aku kau tuduh berdusta, berarti aku tidak baik untuk muridmu. Jangan sampai muridmu itu punya suami seorang pendusta!” kata Joko.
Terdiam mendelik Sobenta. Ia jadi tersudut dengan tudingannya.
“Tidak tidak tidak. Kau itu bukan pendusta, tetapi kau hanya berdusta untuk satu urusan ini saja,” kata Sobenta.
“Ayolah, Orang Tua, hentikan ketidalucuan ini!” rajuk Joko.
“Kau memilih tongkat hilang atau mau membebaskan totokan pada tubuh Joko, Kek?” tanya Putri Sri Rahayu menawarkan, ia sudah berdiri menghadapi Sobenta.
“Kau siapa, Nisanak?” Sobenta justru bertanya balik.
“Namaku Sri Rahayu, temannya Joko.”
“Syukurlah, aku kira kau juga calon istrinya Joko,” kata Sobenta agak lega.
“Dia akan menjadi calon istriku juga, Orang Tua, tinggal menunggu kata sepakat!” teriak Joko yang bermaksud memanasi perasaan kekek botak itu, tetapi justru membuat Putri Sri Rahayu mendelik.
“Bagaimana, Kek?” tanya Putri Sri Rahayu lagi.
“Aku memilih tongkatku hilang!” tegas Sobenta, lalu tiba-tiba, “Kau pun harus aku lumpuhkan!”
__ADS_1
Cepat sekali Sobenta menyerang Putri Sri Rahayu dengan maksud untuk melumpuhkannya juga dengan totokan.
Tek!
Tanpa harus bergeser dari tempat berdirinya, Putri Sri Rahayu menahan serangan jari Sobenta. Jari-jari besar tangan kanan orang tua itu tertahan oleh dua jari halus Putri Sri Rahayu yang sudah tanpa sarung tangan.
Sobenta terkejut berlipat. Terkejut pertama karena gadis berwajah buruk itu begitu santai menahan serangannya yang sangat cepat. Terkejut kedua karena ada sesuatu yang aneh dirasakan oleh tangannya yang ditahan oleh Putri Sri Rahayu. Sobenta langsung menarik pulang tangannya.
“Tanganmu beracun!” sebut Sobenta terkejut.
“Benar, Kek,” jawab Putri Sri Rahayu santai, sambil mengenakan kembali sarung tangannya menutupi kulit putih halusnya tetapi beracun ganas.
Perlahan telapak tangan kanan Sobenta menghitam warnanya, seiring itu ada rasa berdenyut dan juga membuat jari-jarinya begitu keras untuk digerakkan.
“Racun itu akan terus menjalar ke bahu dalam dua puluh hitungan. Setelah itu akan menyerang kepala dan jantung,” kata Putri Sri Rahayu tenang. “Sebelum itu terjadi, bebaskan Joko dari totokanmu!”
Tanpa pikir panjang dan dalam kondisi panik, Sobenta cepat bergerak mendekati Joko. Karena tangan kanannya dalam proses keracunan, Sobenta menggunakan jari tangan kirinya untuk menekan dua titik tubuh Joko secara bersamaan. Tekanan itu bukan sekedar tekanan, tetapi ada aliran sinar putih yang sangat kecil masuk sehingga bebaslah totokan pada tubuh Joko Tenang.
“Jika kau bukan murid Bibi Nara, sudah aku balas kau, Orang Tua!” kecam Joko Tenang sambil bergerak bangun.
“Sri, berikan penawarnya, cepat!” tagih Sobenta kepada Putri Sri Rahayu.
“Padahal aku tidak menjanjikanmu obat penawar, Kek,” kata Putri Sri Rahayu sambil melemparkan sebutir pil yang sangat kecil berwarna hijau gelap.
“Aaah!” pekik Sobenta sambil mengerenyitkan seluruh wajah tuanya sehingga terlihat lucu. “Asam sekali!”
“Kek, kau lihat dua pohon kelapa yang tumbuh menyilang di sana?” tanya Putri Sri Rahayu seraya memandang ke barat.
Sobenta ikut melihat jauh ke sana.
“Tongkatmu aku buang ke sana,” kata Putri Sri Rahayu.
Tanpa basa basi lagi, Sobenta cepat berkelebat pergi ke tempat dua pohon kelapa tumbuh saling menyilang. Jika ia memiliki seruling, sesakti apa pun Joko dan teman wanitanya itu, pasti akan tunduk.
Setibanya di tempat dua pohon kelapa tumbuh, Sobenta masih harus mencari dulu. Ternyata Putri Sri Rahayu tidak berdusta. Sobenta menemukan seruling panjangnya. Namun, ketika ia memandang ke arah tempat Joko dan Putri Sri Rahayu berada, Sobenta harus kecewa. Kedua anak muda itu telah hilang, entah pergi ke arah mana.
“Kurang ajar!” maki Sobenta.
Sobenta lalu memandangi tangannya. Ternyata tangan kanannya sudah mulai normal kembali warnanya. Jari-jarinya pun sudah enak digerakkan.
“Siapa sebenarnya wanita buruk rupa itu? Kenapa tangannya bisa beracun seperti itu? Kesaktiannya begitu tinggi,” membatin Sobenta. “Lebih baik aku pergi ke Jurang Patah Hati menemui Kerling Sukma.”
__ADS_1
Sementara itu, Joko Tenang sedang berduaan dengan Putri Sri Rahayu karena memang tidak ada orang ketiga.
“Mudah-mudahan Tirana tahu jalan ke kediaman guru Hujabayat,” kata Joko yang juga berniat ke kediaman Nyi Lampingiwa atau Nyi Pandang Ireng.
“Kenapa kau bisa kalah oleh kakek botak itu, Joko?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Pengaruh suara serulingnya begitu cepat memperdaya perasaan dan pikiran. Aku belum tahu cara menangkalnya. Bahkan dengan irama permainan muridnya, aku pun takluk,” jawab Joko. “Oh iya, tadi kau menyebut dua kali pertemuan denganku? Yang benar adalah empat kali pertemuan. Pertama bermalam di bukit, kedua saat aku pergi ke Kadipaten Rebaklaga, ketiga di Lembah Cekung. Pertemuan pertama kita tidak kau sebutkan, saat aku bertemu dengan Tiga Malaikat Kipas. Aku melihatmu dengan asap merahmu, Putri.”
Terkejutlah Putri Sri Rahayu mendengar perkataan terakhir Joko.
“Kau melihatku saat itu?” tanya Putri Sri Rahayu jadi agak salah tingkah.
“Saat itu aku menerima beberapa ilmu dari Tiga Malaikat Kipas. Salah satunya adalah Merah Raga. Aku masuk ke alam jin. Apakah kau termasuk bangsa jin?”
“Mungkin, tapi aku merasa aku adalah manusia. Nenek moyangku ada yang dari bangsa jin,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Apa nama kerajaanmu?” tanya Joko.
“Kerajaanku hanya kerajaan kecil yang tersembunyi di sebuah gunung. Tidak banyak orang yang tahu. Namanya Kerajaan Siluman. Apakah kau pernah mendengarnya, Joko?” jawab Putri Sri Rahayu lalu balik bertanya.
“Belum pernah.”
“Aku harap tidak ada yang memberi tahukanmu. Karena jika kau tahu, aku yakin, kau tidak akan mau menikah denganku. Hihihi!” kata Putri Sri Rahayu lalu tertawa pelan.
“Aku jadi penasaran, Putri,” kata Joko Tenang.
“Ada pertarungan!” kata Putri Sri Rahayu.
“Aku juga mendengarnya,” timpal Joko.
Mereka mendengar suara pertarungan di sisi selatan posisi mereka. Suara itu berasal dari balik jalan menikung yang dipagari oleh tanah tinggi berumput. Ditilik dari suara kelitan para petarung itu, bisa diterka bahwa yang bertarung adalah seorang wanita tua dan seorang wanita yang lebih muda.
“Ayo kita lihat, mungkin salah satunya adalah orang yang kita kenal!” ajak Joko Tenang.
Mereka bergegas pergi ke selatan.
Setibanya di tikungan jalan, mereka melihat dua orang wanita sedang bertarung, seorang tua dan muda.
Kedatangan mereka langsung mengalihkan perhatian wanita muda yang ternyata cantik. Ia berpakaian hijau muda dan bercelana kuning. Rambut panjangnya diikat dengan pita merah. Ternyata Joko mengenal gadis itu.
“Mega Kencani,” ucap Joko Tenang lirih.
__ADS_1
“Joko, bantu aku! Nenek tua ini telah melumpuhkan kesaktian guruku!” teriak Mega Kencani cepat, sambil terus berusaha mengelaki setiap serangan si nenek berbaju hitam jenis daster. (RH)