
*Cincin Darah Suci*
Kembali Benteng Taele diguncang lima belas hantaman menghancurkan. Benteng itu semakin rusak, korban prajurit kembali berjatuhan di atas benteng, bahkan salah satu batu api itu menghantam tempat prajurit penarik pintu gerbang.
Pasukan infanteri Ci Cin berbondong-bondong menuju ke gerbang benteng yang terbuka. Sementara pasukan panah berkuda Ci Cin terus bermanufer sambil membidik prajurit-prajurit di atas benteng. Hebatnya lagi, pasukan khusus itu memiliki tingkat akurasi bidikan yang tinggi.
“Biarkan pasukan mereka masuk lalu tutup gerbangnya!” perintah Jenderal Zhao Jiliang kepada Ho Mo.
“Siap, Jenderal!” jawab Ho Mo. Ia lalu memberi perintah kepada komandan pasukan yang ada di bawah.
Jenderal Zhao Jiliang melihat prajuritnya berguguran satu demi satu dalam waktu yang begitu singkat.
“Aku tidak boleh menyerah, harus melawan sampai darah terakhir. Aku harus membangkitkan semangat pasukan,” batin sang jenderal.
Jenderal Zhao Jiliang lalu mengambil alih sebuah busur dan panah. Ia lalu membidik para pasukan panah berkuda yang melintas.
Satu kali panah, tepat sasaran. Satu prajurit panah berkuda jatuh dari tunggangannya bersama nyawa melayang. Ia kembali mengulang, kembali tepat.
“Tembak pasukan pejalan kaki!” teriak Jenderal Zhao Jiliang kepada pasukan panahnya. Sementara dia melanjutkan memanahi pasukan panah berkuda yang melintas.
Seset seset...!
Pasukan panah di atas benteng yang masih ada cepat menembakkan panahnya ke arah pasukan infanteri Ci Cin yang mendekati pintu gerbang.
Para prajurit Ci Cin pun bertumbangan. Namun, jumlah panah lebih sedikit dibandingkan ribuan pasukan yang menuju ke gerbang.
Seet! Seet! Seet!
Prajurit Lor We juga menembakkan panah raksasa yang mereka miliki. Anak panah berupa tombak berlesatan kencang ke dalam rombongan pasukan Ci Cin. Satu tombak yang dilesatkan bisa menusuk dua hingga tiga prajurit sekaligus.
Namun, para pemanah di atas benteng juga tidak luput dari sasaran pasukan panah berkuda Ci Cin. Sementara rombongan pasukan pejalan kaki Ci Cin sudah mulai masuk ke dalam lorong gerbang.
“Tutup gerbang!” teriak Jenderal Zhao Jiliang.
Maka para prajurit yang menggantikan operator pintu yang sebelumnya tewas, segera memutar balik roda penarik rantai pintu. Namun, kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan manjanik membuat mesin penarik gerbang macet.
“Jenderal, pintunya tidak bisa turun!” teriak prajurit operator pintu.
“Sial!” maki Jenderal Zhao jiliang.
__ADS_1
Pasukan infanteri Ci Cin sudah berhasil masuk ke dalam benteng. Pasukan itu langsung disergap oleh pasukan Lor We yang sudah bersiap di dalam. Pertempuran jarak dekat pun terjadi. Namun, gelombang besar pasukan Ci Cin terus mengalir sehingga menumpuk di pintu gerbang.
“Tumpahkan minyak!” perintah Jenderal Zhao Jiliang.
Sejumlah prajurit di atas benteng segera bekerja menjatuhkan drum-drum minyak ke bawah, tepat mengenai berjubelnya prajurit Ci Cin. Drum-drum kayu itu pecah dan menyebarkan minyak membasahi para prajurit.
Set! Blep!
“Aaa...!”
Satu panah api dari atas benteng ditembakkan kepada pasukan Ci Cin yang sudah basah. Api besar seketika berkobar membakar puluhan prajurit yang menumpuk. Mereka berteriak histeris kepanasan.
Melihat prajurit pasukannya terbakar beramai-ramai di gerbang benteng, Pangeran Baijin tampak gusar.
“Kita tidak boleh habis-habisan di sini sebelum kita berperang dengan pasukan Jang,” kata Pangeran Baijin kepada Sala A Jin. “Berikan aku kuda!”
“Tapi, Yang Mulia. Apakah Pangeran harus turun tangan sendiri untuk menaklukkan benteng ini. Empat jenderal kita belum turun,” kata Sala A Jin keberatan.
“Aku ingin menjajal kesaktian baruku kepada musuh,” desis Pangeran Baijin.
“Baik, Yang Mulia!” ucap Sala A Jin. Ia lalu turun dari kuda dan memberikan kudanya untuk sang putra mahkota.
“Hiah!” teriak Pangeran Baijin setelah duduk di punggung kuda.
Pangeran Baijin melesat cepat bersama kudanya ke tengah arena perang.
Melihat ada seorang penunggang kuda berpakaian perwira datang mendekat seorang diri, Jenderal Zhao Jiliang segera menilai bahwa itu adalah peluang untuk membunuh satu jenderal pasukan Ci Cin.
Jenderal Zhao Jiliang segera bergeser posisi, mengambil alih operasi sebuah panah tombak. Ia mengarahkan bidikannya ke arah kuda Pangeran Baijin yang semakin mendekat. Jenderal Zhao Jiliang tidak tahu bahwa orang yang dibidiknya nadalah Putra Mahkota Negeri Ci Cin.
Seet!
Akhirnya Jenderal Zhao Jiliang melepaskan panah tombak itu. Tombak melesat tepat mengarah kepada Pangeran Baijin yang membiarkan senjata itu datang kepadanya.
Zers!
Kepal tangan kanan Pangeran Baijin tiba-tiba diselimuti sinar hijau berpijar. Kepal tangan itu cepat dilesatkan meninju mata tombak yang datang.
“Apa?!” pekik Jenderal Zhao Jiliang terkejut melihat tombak itu musnah menjadi debu saat bertemu dengan tinju Pangeran Baijin.
__ADS_1
Kini, Pangeran Baijin melesat semakin dekat ke benteng bersama kudanya.
Jenderal Zhao Jilian lalu mengambil tiga batang tombak yang langsung ia lemparkan beruntun ke arah kedatangan Pangeran Baijin. Namun, tidak ada yang tepat sasaran. Ketiga tombak itu hanya menancap di tanah kosong.
“Hiaaat!” teriak Jenderal Zhao Jiliang sangar. Tubuhnya sudah melompat dari atas benteng dengan pedang siap menebas tubuh Pangeran Baijin di bawah sana.
Brezz!
“Aaak!” jerit Jenderal Zhao Jiliang keras di udara.
Tubuhnya tertahan di udara dan disengat oleh aliran sinar hijau yang bersumber dari tangan kanan Pangeran Baijin yang telah berdiri di tanah kosong.
Bcroakr!
“Jenderaaal!” teriak Ho Mo histeris di atas benteng, saat menyaksikan tubuh jenderalnya hancur mengerikan di udara menjadi serpihan-serpihan halus.
Para prajurit Lor We di atas benteng yang melihat kematian mengenaskan jenderalnya, langsung ambruk mentalnya. Kekalahan yang sudah terbayang beberapa waktu sebelumnya kini terlihat semakin nyata.
Sementara itu, pertempuran jarak dekat sengit yang terjadi di dalam benteng telah memakan korban ratusan prajurit dari kedua belah pihak.
“Jenderal kalian telah mati! Menyerahlah prajurit Lor We!” teriak Pangeran Baijin menggunakan tenaga dalam sehingga suaranya menggema luas terdengar oleh seluruh prajurit pasukan Lor We.
Seketika pasukan Lor We berhenti bergerak, terkejut dengan nyali yang seolah sudah hilang. Mata tombak dan pedang prajurit Ci Cin segera bertempelan di leher para prajurit Lor We, membuat mereka segera menjatuhkan senjata tanda menyerah.
Maka, dalam waktu singkat, peperangan yang berkecamuk mereda. Perlawanan dari pasukan Lor We berhenti, menunjukkan kekalahan mereka.
“Ci Cin menang!” teriak seorang prajurit Ci Cin.
“Ci Cin menang! Ci Cin menang!” teriak para prajurit Ci Cin lainnya bersahut-sahutan dan ramai gembira.
Para prajurit Lor We segera berlutut. Pasukan Ci Cin yang sudah di dalam benteng segera bergerak naik ke atas benteng dan mengamankan pasukan Lor We agar menyerah.
Maka jelas, pasukan Negeri Ci Cin memenangkan peperangan di perbatasan dengan merebut mudah benteng kota Taele, perbatasan timur Negeri Lor We.
Dengan direbutnya Benteng Taele, pasukan Negeri Ci Cin akan dengan mudah menuju ke perbatasan timur Negeri Jang.
“Jika benteng ini berani tidak membuka pintu untuk pasukan kita, berarti telah terjadi sesuatu dengan Pangeran Young Tua,” kata Pangeran Baijin kepada Sala A Jin setelah perang selesai.
“Seharusnya ada kabar jika terjadi sesuatu di ibu kota We, Yang Mulia,” kata Sala A Jin.
__ADS_1
Pangeran Baijin terdiam.
“Putri Yuo Kai, tunggulah kedatanganku,” desisnya pelan, tapi masih didengar oleh Sala A Jin. (RH)