Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
152. Pernikahan Joko dan Putri Yuo Kai


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Tirana dan Puspa sepakat bahwa mereka baru akan pergi mencari Permata Darah Suci setelah Joko Tenang menikah dengan Putri Yuo Kai dan melalui malam pertamanya. Sebab, waktu yang mereka miliki masih cukup banyak untuk satu purnama.


Namun, Tirana sangat berpesan kepada Joko ketika calon suaminya itu melalui malam pertamanya dengan Putri Yuo Kai nanti.


“Kita masih harus pulang, yang itu masih memerlukan kesaktian Kakang. Jadi tolong Kakang sangat menjaga agar tidak merusak keperjakaan Kakang. Jika hanya sebatas bercumbu, tidak apa-apa, tapi jangan sampai Joko kecil Kakang terkena darah perawan Yang Mulia Putri. Jika itu terjadi, maka seluruh kesaktian dan tenaga dalam Kakang akan terkunci sampai Delapan Dewi Bunga terwujud.”


Itulah pesan Tirana kepada calon suaminya itu. Joko hanya mengangguk dan tersenyum.


Pesan yang sama juga Tirana sampaikan kepada Putri Yuo Kai.


Sedangkan untuk membujuk Puspa, wanita liar itu harus disuap senampan hidangan lezat setiap hari. Setelah mendapat senampan makanan, Puspa pasti akan langsung pergi ke Taman Selatan dan makan di bawah pohon permaisuri. Akibatnya, dalam beberapa hari itu, kelima pohon permaisuri gundul dari bunga ungunya. Semua bunganya digugurpaksakan oleh Puspa yang suka dengan hujan bunga.


Setelah pelaksanaan upacara penghormatan untuk para prajurit yang gugur, seluruh Istana mulai dibuat sibuk untuk memperbaiki kerusakan dan menghiasi seluruh sisi Istana sebagai perayaan besar.


Semua pelayan dikerahkan untuk upacara pernikahan. Bagaimana caranya supaya dalam waktu hanya tiga hari semua yang diperlukan siap tersedia, sehingga upacara pernikahan Joko Tenang dan Putri Yuo Kai berlangsung tetap dengan penuh kemegahan dan kemeriahan.


Sehubungan Joko Tenang sebagai calon mempelai lelaki tidak memiliki rumah, maka Kaisar Long Tsaw memutuskan menjadikan Istana Ksatria sebagai rumah mempelai lelaki. Istana Ksatria adalah istana yang disediakan untuk Pangeran Han Tsun jika kelak ia akan menikah. Di istana itulah nanti proses sembahyang dilakukan.


Malam pertama pun nanti akan berlangsung di Istana Ksatria.


Sebelum hari pernikahan, Joko dan Putri Yuo Kai harus melalui sejumlah ritual atau upacara menurut adat Negeri Jang, seperti ritual penyisiran rambut kedua calon mempelai oleh orang yang sudah menikah dan memiliki keturunan, ritual pengusiran roh jahat, hingga ritual makan 12 jenis sayuran yang berbeda rasa.


Joko Tenang terpaksa harus mengikuti adat upacara dan keyakinan Keluarga Istana Jang.


Pihak mempelai wanita terpaksa harus memberikan sejumlah keringanan kepada mempelai lelaki yang tidak bisa menghadirkan kedua orangtuanya.


Setiap hari Tirana mengunjungi calon madunya. Bahkan ia turut ikut melayani sang putri dalam mempersiapkan diri menghadapi hari bersejarahnya.


Dalam waktu tiga hari itu, Tirana mengakrabkan diri dengan Putri Yuo Kai. Terlihat kebahagiaan di wajah dan sikap Tirana dalam melayani Putri Yuo Kai.

__ADS_1


Hingga di malam menjelang hari pernikahan, Putri Yuo Kai duduk termenung seorang diri di atas kasurnya yang sudah dihias penuh keindahan warna merah. Kamar itu benar-benar sudah menjadi kamar pengantin.


Hal yang dipikirkan oleh Putri Yuo Kai bukanlah tentang pernikahannya atau tentang calon suaminya, tetapi ia memikirkan Tirana.


Jika melihat dan memikirkan sifat dan sikap Tirana kepadanya dan terhadap pernikahan ini, Putri Yuo Kai merasa telah berbuat tidak adil kepada gadis dari negeri jauh itu.


Tirana telah menyelamatkan nyawanya dari Biksu Hitam, Tirana mengikhlaskan haknya sebagai calon istri pertama dengan mengizinkan Putri Yuo Kai menjadi istri pertama Joko Tenang, Tirana begitu setia melayani kebutuhannya pada hari-hari menjelang pernikahan, dan Tirana pun begitu bahagia dengan pernikahan itu.


Yang lebih mengherankan sang putri adalah tidak adanya ekspresi benci atau cemburu di wajah Tirana. Selama beberapa hari ini bersama Tirana, Putri Yuo Kai berusaha mencari sirat kecemburuan di wajah gadis asing itu. Namun, Putri Yuo Kai tidak menemukan apa yang dicarinya di wajah jelita Tirana.


“Sebenarnya terbuat dari apa hati Tirana?” tanya Putri Yuo Kai dalam hati. “Tapi, mungkin aku yang tidak tahu berterima kasih. Jika Tirana memiliki hati seperti aku, mungkin aku tidak memiliki peluang sedikit pun untuk mencintai Joko....”


Pada malam itu, akhirnya Putri Yuo Kai memutuskan untuk berusaha menghilangkan rasa cemburunya. Jika Tirana bisa melakukannya, maka ia pun pasti akan bisa melakukannya, meskipun sebelumnya ia telah merasakan bagaimana sakitnya rasa cemburu itu.


Pada malam itu juga ia memutuskan untuk tidak mengambil hak Tirana sebagai calon istri pertama. Ia tidak akan mengambil keperjakaan Joko Tenang besok, terlebih itu berbahaya bagi Joko.


Keesokannya.


Terdengar teriakan lantang dari dalam Istana Ksatria.


Joko Tenang saat ini dalam pakaian pengantin lelaki berwarna merah. Ada selendang warna merah yang menyilang di tubuhnya yang pada bagian tengahnya dibuat simpul berbentuk bunga merah. Empat langkah di sisi kirinya, Putri Yuo Kai berdiri anggun dalam gaun serba merah. Wajahnya ditutupi oleh kain merah tipis yang juga menutupi kepalanya. Semarak berbagai perhiasan melekat pada pakaian dan fisik putri jelita itu.


Semua wajah yang menyaksikan keduanya tampak tersenyum bahagia. Keduanya segera turun bersujud untuk menghormati Dewa Langit.


“Memberi hormat kepada Dewa Bumi!”


Joko dan Putri Yuo Kai kembali turun bersujud.


“Memberi hormat kepada leluhur!” teriak pemandu acara sembahyang bagi kedua mempelai yang menjadi pengesahan bagi keduanya sebagai suami istri.


Joko Tenang dan Putri Yuo Kai kembali bersujud menghormat kepada papan nama para mendiang kaisar Negeri Jang terdahulu.

__ADS_1


“Memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar!”


Kali ini pasangan pengantin harus bergerak mengubah arah. Putri Yuo Kai harus bergerak hati-hati. Tirana berdiri di sisinya memegangi tangan sang putri agar keseimbangannya terjaga karena sang putri memakai sepatu khusus.


Joko Tenang dan Putri Yuo Kai bersujud kepada Kaisar Long Tsaw yang duduk dengan senyum selalu mekar.


“Memberi hormat kepada Yang Mulia Permaisuri!”


Pasangan pengantin kembali bersujud kepada Permaisuri Fouwai setelah mengangkat kepalanya.


“Terakhir, kedua pengantin saling memberi hormat!”


Maka, Joko Tenang dan Putri Yuo Kai saling berhadapan arah. Saat itulah, muncul rasa bahagia yang besar di dalam hati keduanya. Rasa berdebar-debar yang memberi desiran-desiran indah, mereka nikmati di saat-saat sakral tersebut. Keduanya turun perlahan dan saling bersujud.


Maka resmilah Joko Tenang menjadi suami Putri Yuo Kai dan sang putri menjadi istri pertama Joko.


“Semoga pengantin diberkahi Langit dan bahagia sampai tua dan sampai maut memisahkan!” seru Kaisar Long Tsaw yang diikuti oleh doa semua orang yang hadir dan menyaksikan pernikahan bersejarah itu.


Doa-doa yang lain pun diucapkan, memberi suasana kebahagiaan yang sangat kental. Ucapan selamat diucapkan oleh Kaisar dan Keluarga Istana lainnya. Demikian pula para pejabat yang datang bersusul-susulan, mereka mengucapkan selamat sekaligus memberikan banyak hadiah.


Su Mai tetap setia menjadi penerjemah bagi Joko di saat sibuk seperti itu.


Tirana dengan lembut memegang kedua tangan Putri Yuo Kai. Ia tersenyum menatap wajah sang putri di balik selubung merah itu. Tirana menepuk sekali punggung tangan Putri Yuo Kai.


“Selamat, Yang Mulia Putri. Takdir telah ditetapkan. Nikmatilah hari indah dan bahagia ini bersama Kakang Joko yang kau cintai. Aku tidak akan mengganggu kalian,” ucap Tirana yang diterjemahkan oleh Su Mai.


Putri Yuo Kai hanya tersenyum dan mengangguk sekali.


Tirana melepaskan pegangan tangannya. Dengan khidmat ia kemudian turun berlutut dan menjura hormat.


“Selamat kepada Yang Mulia Pangeran yang telah menjadi seorang lelaki seutuhnya,” ucap Tirana teruntuk Joko Tenang yang hanya tersenyum. Sikap yang ditunjukkan oleh Tirana membuatnya semakin cinta kepada gadis penjaganya.

__ADS_1


Tanpa menunggu perintah, Tirana bangkit dan melangkah mundur sambil membungkuk hormat. Kemudian ia berbalik membawa senyumnya dan melangkah pergi dengan perasaan bahagia. Ia sudah menyelesaikan satu seperdelapan dari misinya. (RH)


__ADS_2