
*Cincin Darah Suci*
Meski terjadi hal yang begitu memalukan dan tidak pantas bagi Keluarga Istana, tetapi Kaisar Long Tsaw dan Permaisuri Fouwai merasa lega atas kepulihan putri mereka.
Setelah Keluarga Istana kembali ke tempat atau aktivitasnya masing-masing, Putri Yuo Kai mengajak Joko Tenang berjalan-jalan di taman kecil Istana Tua. Bo Fei dan Su Mai berjalan mengikuti di belakang. Su Mai menjadi penerjemah otomatis di belakang.
Putri Yuo Kai dan Joko Tenang berbincang tanpa canggung, bahkan untuk urusan pribadi. Keduanya seolah tidak menganggap keberadaan Bo Fei dan Su Mai.
Namun, ketika mereka memasuki jalan taman yang sempit dengan lebar hanya tiga langkah, Joko Tenang berinisiatif berjalan empat langkah di depan sang putri, tetapi berjalan mundur sehingga mereka berkomunikasi dengan tetap bertatap mata dan wajah.
Putri Yuo Kai dan kedua wanita di belakangnya hanya tersenyum melihat cara Joko seperti itu.
“Jadi kau tidak keberatan kita menikah?” tanya Putri Yuo Kai.
“Aku tidak keberatan. Aku seorang pendekar. Harus menerima aturan yang sudah kita sepakati. Bisa dikatakan pula, aku pasrah,” jawab Joko seraya tersenyum. “Namun yang jadi permasalahan, apakah Yang Mulia Putri mau punya suami lemah sepertiku?”
Putri Yuo Kai tersenyum. Lalu mengangguk malu.
“Hahaha!” Joko Tenang tertawa pendek.
“Kenapa kau tertawa?”
“Aku senang melihatmu tersenyum malu seperti itu,” jawab Joko.
“Kau mulai menjadi lelaki,” dengus sang putri, tapi tetap ada setipis senyum yang tersisa.
“Memangnya aku seorang perempuan?” tanya Joko mendelik.
“Satu karakter yang dimiliki oleh setiap lelaki adalah mulutnya lebih manis dari gula,” kata Putri Yuo Kai.
“Jadi kau merasa kemanisan dengan ucapanku?” tanya Joko dengan pandangan menggoda.
“Hahaha!”
Meledaklah tawa Putri Yuo Kai yang membawa Joko ikut tertawa.
Bo Fei dan Su Mai hanya tersenyum melihat kebahagiaan Putri Yuo Kai yang selama ini adalah sosok yang begitu dingin.
“Namun, kau belum memberitahuku tentang kabar calon istriku,” kata Joko, setelah tawa mereka mereda.
“Calon istrimu jatuh di negeri timur,” jawab Putri Yuo Kai, meski dalam hatinya ada sedikit rasa takut. Ia takut jika Joko Tenang memilih untuk pergi ke Negeri Lor We.
“Berarti aku harus ke timur mencari mereka!” tandas Joko.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?” tanya Putri Yuo Kai. Raut murung wajahnya menunjukkan keberatannya.
“Aku akan tetap menikahimu, tetapi aku harus bertemu dulu dengan Tirana. Aku tidak akan menikah tanpa kehadirannya,” ujar Joko.
“Apakah Tirana akan setuju kau menikah denganku?” tanya Putri Yuo Kai, mengandung kekhawatiran.
“Jangan cemas. Meski Tirana lebih sakti dariku, tetapi dia tunduk kepadaku. Karena dia adalah calon istri pertamaku, jadi dia harus hadir saat kita menikah. Aku akan mencarinya dan akan membawanya ke mari.”
“Lebih sakti darimu?” tanya Putri Yuo Kai seakan tidak percaya.
“Benar, tapi dia akan senang bersaudarakan dengan wanita bernilai tinggi seperti Yang Mulia Putri,” kata Joko.
“Baiklah,” jawab Putri Yuo Kai mengangguk, meski masih ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya. “Lalu kapan kau akan pergi?”
“Menjelang sore, sebab Yang Mulia Kaisar mengundangku nanti siang,” jawab Joko. “Oh iya, apakah kau tidak keberatan bahwa kita hanya akan menikah tanpa bisa berhubungan layaknya suami istri?”
“Apakah tidak bisa?” Putri Yuo Kai balik bertanya, terkesan sangat berharap ada cara lain sehingga mereka bisa benar-benar menyatu dalam hubungan suami istri.
“Sebenarnya bisa, tetapi aku belum siap. Jika itu aku lakukan, maka seluruh kesaktianku akan musnah untuk sementara dan aku akan menjadi lelaki biasa yang tidak lebih baik dari seorang prajurit penjaga pintu.”
Terkejut Putri Yuo Kai mendengar hal itu.
“Bagaimana bisa?” tanya Putri Yuo Kai bingung. “Bagaimana bisa kita menikah tanpa ada hubungan?”
“Baik,” ucap Putri Yuo Kai mengangguk, ia tersenyum manis.
“Satu hal lagi, Yang Mulia Putri,” kata Joko yang membuat wanita itu memendam rasa khawatir, yang kemudian terbukti ketika Joko berkata kembali, “Kita menikah, tetapi kita akan segera berpisah kembali.”
“Apakah karena ratu yang pernah kau ceritakan itu?” tanya Putri Yuo Kai. Kini wajahnya tampak dingin. Perasaannya sedih bukan karena cemburu kepada ratu Getara Cinta yang Joko maksud, tetapi sedih karena Joko sepertinya tidak bisa dipaksa tetap tinggal.
“Benar,” jawab Joko singkat. “Aku harus memenuhi janji nyawaku kepada Ratu Getara Cinta.”
“Aku akan ikut denganmu ke negerimu,” ujar sang putri.
“Apa kau yakin bisa meninggalkan Negeri Jang?” tanya Joko, merasa ragu dengan niat Putri Yuo Kai.
“Aku tidak tertarik dengan kekuasaan,” kata Putri Yuo Kai. “Tapi, bagaimana bisa delapan hati wanita bisa berkumpul menjadi satu?”
“Aku juga tidak mengerti, Yang Mulia Putri,” kata Joko. “Namun, jika Tirana bisa menyingkirkan rasa cemburunya, itu artinya, sebenarnya semua hati wanita bisa melakukannya.”
“Aku akui, sebenarnya aku belum bisa merelakan lelaki yang aku cintai dimiliki oleh wanita lain,” ungkap Putri Yuo Kai.
“Lalu, kenapa Yang Mulia berani mau menikahiku?” tanya Joko.
__ADS_1
“Karena kau begitu istimewa. Kau adalah ciri-ciri lelaki yang aku tunggu-tunggu selama ini. Aku tidak mau kehilangan kau, Joko.”
“Apakah Yang Mulia nanti akan memperebutkan aku dengan Tirana?” tanya Joko dengan nada yang datar.
Mereka akhirnya tiba di sebuah gazebo. Di tempat itu ada sebuah meja, tetapi satu dari dua kursi posisinya agak jauh dari meja, seolah sengaja dibuat berjarak jauh. Di atas meja ada satu set teko porselen bersama empat cawan kecil yang memiliki hiasan batik berwarna kuning.
Hidangan minuman itu telah diatur oleh Mai Cui dan Li Yiun karena mereka telah barada menunggu di gazebo tersebut.
“Silakan,” kata Putri Yuo Kai mempersilakan Joko untuk duduk, sementara ia duduk di kursi yang rapat dengan meja.
Joko Tenang duduk di kursi yang dijauhkan dari meja sesuai jarak pembatasan fisiknya. Sementara Bo Fei dan Su Mai berdiri di belakang sang putri.
“Bagaimana aku bisa berebut dengan wanita yang jauh lebih sakti dariku?” kata Putri Yuo Kai, melanjutkan pembicaraannya. “Tapi aku berkeyakinan, kondisi cinta di antara kita dan istri-istrimu yang lain kelak tidak seburuk yang aku bayangkan.”
“Hahaha,” tawa Joko. “Jika Yang Mulia ikut aku ke Tanah Jawi, berarti Su Mai juga akan ikut?”
“Bagaimana, Su Mai?” tanya Putri Yuo Kai.
“Aku adalah pengikut Tuan Ular Buta, Yang Mulia,” jawab Su Mai.
“Berarti tidak masalah jika ia ikut. Ular Buta akan memenuhi semua permintaanku,” kata Putri Yuo Kai.
“Kenapa tadi Yang Mulia memegang tanganku?” tanya Joko Tenang mengalihkan tema percakapan.
“Hahaha!” Tertawalah Putri Yuo Kai diingatkan lagi oleh insiden jatuh bersama tadi.
Joko Tenang hanya tersenyum menunggu tawa Putri Yuo Kai berhenti.
“Jangan-jangan Yang Mulia sengaja melakukannya,” tukas Joko Tenang curiga.
Putri Yuo Kai segera menghentikan tawanya. Ia ingin menjaga sikapnya sebagai seorang putri di depan calon suaminya.
“Ya, aku sengaja memegang tanganmu, karena aku suka kau memegang tanganku,” kata Putri Yuo Kai, tanpa peduli dengan penilaian Bo Fei atau Su Mai, atau kedua pelayan pribadinya.
Rasa-rasa indah yang memberi kebahagiaan dan memenuhi seluruh rongga dada, hati dan pikiran tampaknya telah membuat sang putri melanggar batasannya sebagai seorang putri, orang nomor dua di Negeri Jang. Di depan Joko Tenang ia sedikit tidak mengindahkan rasa malu.
“Tapi aku tidak sedikit pun berencana jatuh memelukmu!” tandas Putri Yuo Kai membantah, nada suaranya agak keras.
“Untung saja Yang Mulia Kaisar tidak menghukumku karena dianggap aku yang sengaja melakukannya,” kata Joko, membuat Putri Yuo Kai tersenyum lebar.
Sang putri lalu menuangkan teh ke dalam cawan. Gerakannya begitu lembut dan indah dalam menuang, seolah penuh perasaan dan penghayatan. Itu salah satu hal disukai Joko pada diri Putri Yuo Kai. Joko tidak tahu bahwa semua wanita di lingkungan Istana atau bangsawan akan menuang teh seperti itu.
Perbincangan hangat kedua insan yang kini berstatus calon pengantin itu terus berlanjut. Terjemahan Su Mai yang berjalan otomatis membuat komunikasi keduanya berjalan lancar dan menciptakan kesan yang mendalam, terutama bagi Putri Yuo Kai yang faktanya terlalu jarang berinteraksi dengan lelaki.
__ADS_1
Berbeda dengan Joko Tenang yang hidupnya selalu ditemani oleh gadis-gadis cantik. (RH)