
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
“Hihihi! Siapa yang namanya Mahapatih Ayam Mandala?” tanya Puspa yang didahului dengan tawa nyaringnya menyayat hati. Ia lalu menunjuk Mahapatih Yudi Mandala dan putranya, “Kau? Atau kau?”
“Aku!” seru Mahapatih Yudi Mandala lantang.
“Oooh! Hihihi!” Puspa manggut-manggut seperti nenek-nenek, lalu tertawa. Lalu tanyanya lagi, “Jadi kau ayam? Hihihi! Ayam naik kuda! Hihihi!”
Memerahlah paras Mahapatih Yudi Mandala diejek seperti itu oleh Puspa.
Tuk tuk!
Ehehek...!
Serentak kuda Mahapatih Yudi Mandala dan Dewa Yuda meringkik keras sambil dengan liar mengangkat kedua kaki depannya. Sambil menertawakan Mahapatih Yudi Mandala, ternyata diam-diam Puspa menyentilkan tenaga dalam yang mengenai leher kedua kuda.
Setelah meringkik, kuda Dewa Yuda berlari liar.
“Hah!” pekik Dewa Yuda terkejut dangan tubuh terbawa oleh kuda. Hampir saja dia terlempar jatuh.
Kuda Mahapatih Yudi Mandala sama, ia juga berlari liar. Mahapatih Yudi Mandala sempat kelabakan, tetapi ia buru-buru melompat naik tinggi ke udara, melepas kudanya tanpa menunggang.
“Hihihi...!” Puspa tertawa terkikik-kikik melihat kedua orang itu.
Kembang Buangi berinisiatif cepat mengejar kuda Dewa Yuda, ia tidak mau membiarkan pemuda itu lolos.
“Hihihi! Akk!”
Blar!
Puspa yang tertawa berkepanjangan sampai memegang perutnya, jadi terkejut, tahu-tahu sinar merah berpijar telah menyerangnya dari atas. Telat sedikit menghindar, Puspa pasti naas. Tanah tempat Puspa tadi berdiri telah hancur berlubang, menyisakan tanah yang terbakar.
“Hei! Ayam Nyusu! Puspa sedang tertawa, kenapa diserang?!” maki Puspa kepada Mahapatih Yudi Mandala yang baru saja mendarat di tanah.
“Benar-benar kau pantas mati, Perempuan Gila!” geram Mahapatih Yudi Mandala.
“Beraninya kau menyebut Puspa gila!” teriak Puspa marah bukan main, lalu tiba-tiba melesat maju menyerang Mahapatih Yudi Mandala.
Mendelik Mahapatih karena gerakan Puspa begitu cepat. Sambil berlari mundur, Mahapatih Yudi Mandala menangkis dan menghindari semua serangan ganas Puspa. Mahapatih harus menghindari cakaran Puspa yang diduganya mengandung racun.
“Hebat juga perempuan liar ini,” membatin Mahapatih Yudi Mandala saat beberapa kali lehernya terancam oleh cakaran Puspa.
“Mati kau, Ayam Nyusu!” pekik Puspa pada satu kesempatan sambil tubuhnya bersalto kilat ke belakang, sementara kaki kanannya menebas lurus dari atas ke bawah, mengincar kepala lawan.
Dak!
Menggunakan silangan kedua tangan kekarnya di atas kepala, Mahapatih menahan tulang kering kaki Puspa. Mahapatih sampai meringis menahan kuatnya tenaga kaki Puspa. Kedua kaki Mahapatih sampai melesak ke tanah sedalam tiga jari.
Namun, dalam hitungan per sekian detik, tangan kanan Mahapatih cepat juga mengirimkan tinju maut kepada tubuh Puspa yang sempat menggantung di depannya.
Puk!
Puspa bisa menahan tinju itu dengan telapak tangannya, membuat tubuh wanita liar itu terdorong deras ke belakang. Puspa mendarat dengan tajam di tanah.
“Hihihi!” tawa Puspa kemudian.
__ADS_1
Sementara itu, Joko Tenang, Ratu Getara Cinta, Tirana, Putri Alifa Homar, dan seluruh pasukan dari kedua pihak hanya menonton.
Di tempatnya, Mahapatih Yudi Mandala sedang duduk bersila dan melakukan gerakan tangan bertenaga dalam. Dengan mata yang menatap tajam kepada Puspa, kedua bibirnya komat-kamit membaca mantera.
“Hei, Ayam Nyusu! Kita sedang bertarung, kenapa kau malah duduk?!” teriak Puspa.
Wes! Zess!
Tiba-tiba dari dalam tubuh Mahapatih Yudi Mandala melesat keluar bayangan sosoknya, yang nyaris terlihat nyata. Bayangan itu melesat ke atas, ke angkasa, sambil melesatkan sinar merah berpijar.
Blar!
Puspa bisa mengelak, meninggalkan pijakan yang kemudian meledak berlubang dan terbakar api. Sementara bayang itu telah lenyap di udara.
Wes! Zess!
Blar!
Ternyata satu bayangan dari dalam tubuh Mahapatih Yudi Mandala kembali melompat ke udara. Sinar merah berpijar dilesatkan kembali. Puspa masih bisa menghindari.
Selanjutnya, tiba-tiba lima bayangan berlompatan berurutan ke udara. Sama, masing-masing juga melesatkan sinar merah berpijar.
Puspa terbirit-birit menghindari siraman lima sinar itu.
“Hihihi!”
Namun akhirnya dia tertawa ketika serangan Mahapatih Yudi Mandala tidak berlanjut.
“Giliran Puspa!” teriak Puspa lalu melompat tinggi ke angkasa. “Aarggk!”
Spontan Mahapatih Yudi Mandala melesat cepat lagi jauh untuk menghindari serangan itu.
“Hihihi...!”
Namun, tidak terjadi apa pun dalam serangan Puspa. Tidak ada tenaga sakti yang menyerang posisi Mahapatih Yudi Mandala. Puspa turun dari angkasa dengan tertawa terkikik-kikik.
“Aduh! Hihihi!” keluhnya karena mendarat tidak bagus, membuatnya hampir jatuh sendiri. Lalu tertawa lagi sambil menunjuk Mahapatih Yudi Mandala yang sudah menghindar jauh.
Ratu Getara Cinta hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ratu baru itu. Sementara Joko Tenang tertawa kecil melihat Mahapatih Yudi Mandala dikerjai oleh Puspa. Tirana hanya tersenyum lebar.
“Ayam Nyusu kebirit-birit. Pasti kencing di celana! Hihihi!” Puspa masih menertawai Mahapatih Yudi Mandala, hingga-hingga ia duduk di tanah.
Mahapatih Yudi Mandala benar-benar dilanda kemarahan yang tinggi. Ia mengerahkan ilmu Lengan Baja pada kedua tangannya dan ilmu Kaki Neraka pada kedua kakinya.
Kedua lengan Mahapatih Yudi Mandala berubah berwarna biru gelap. Sementara kedua kakinya bersinar merah membara seperti bara api.
Selanjutnya, Mahapatih Yudi Mandala melesat cepat ke arah Puspa. Melihat lawannya telah maju kembali, Puspa pun melesat tidak kalah cepat. Keduanya bertemu dalam pertengahan jarak. Pertarungan jarak dekat level maut pun terjadi. Puspa masih mengandalkan cakarannya dan tendangan bertenaga dalamnya.
Mendelik Puspa, Mahapatih Yudi Mandala berani menangkis cakarannya dengan kedua tangan. Ia pun tidak berani menyentuh serangan kaki Mahapatih yang sangat panas. Tinju dan pukulan Mahapatih pun sekeras baja.
“Sehebat apa tangan besimu itu, Ayam!” teriak Puspa lalu tiba-tiba mendesak Mahapatih dengan serangan cakar bertubi-tubi.
Dengan gesit tanpa punya kesempatan menyerang balik, Mahapatih Yudi Mandala menangkis semua serangan cakar Puspa dengan benteng kedua tangannya yang sekuat baja.
Crass! Crass!
__ADS_1
“Aaak...!” pekik Mahapatih Yudi Mandala tinggi.
Apa yang terjadi?
Awalnya Mahapatih Yudi Mandala bisa menangkis semua cakaran beruntun dan ketat kedua tangan Puspa. Namun, pada dua cakaran terakhir, tiba-tiba kedua tangan Puspa bersinar kuning dalam serangannya. Kesepuluh kuku panjangnya menyala kuning seperti lava api. Ilmu dari Genggam Inti Bumi itu ternyata bisa memotong kedua batang tangan Mahapatih yang sekeras baja.
Menjerit tinggi Mahapatih Yudi Mandala merasakan sakitnya pada kedua tangannya yang kini buntung. Dalam kondisi terluka seperti itu, Mahapatih Yudi Mandala langsung melompat mundur jauh, lalu mendarat sempoyongan.
Tidak begitu banyak darah yang keluar dari potongan tangan itu karena efek hangus mengeringkan pembuluh darah yang putus.
“Aaak! Perempuan Siluman!” maki Mahapatih Yudi Mandala sambil menahan sakit.
“Hihihi...!” Puspa tertawa berkepanjangan melihat keadaan Mahapatih.
Namun, dalam kondisi kesakitan seperti itu, Mahapatih Yudi Mandala masih berbuat sesuatu untuk melanjutkan pertarungan. Ia kembali duduk bersila.
“Saatnya membayar kematian orang-orang Tabir Angin!” teriak Puspa keras.
Puspa berkelebat cepat di udara, hendak kembali mencabik-cabik tubuh Mahapatih Yudi Mandala dengan cakaran panasnya.
“Huaarrk!” teriak Mahapatih Yudi Mandala dengan mulut yang terbuka lebar.
Zerzz!
Tiba-tiba dari dalam mulut Mahapatih Yudi Mandala melesat sinar hijau panjang bergelombang tanpa putus. Sinar itu cepat dan langsung menjerat tubuh Puspa di udara. Sinar hijau yang tersambung ke dalam tenggorokan Mahapatih itu terus membelit kuat tubuh Puspa.
“Aaak!”
Puspa yang tertahan di udara, menjerit melengking menahan sakit yang hebat mendera kulit dan daging dalam tubuhnya.
Hal itu mengejutkan Joko Tenang dan para gadisnya. Mereka khawatir Puspa akan berakhir pada kondisi itu. Joko Tenang melangkahkan kakinya untuk melesat mengambil tindakan.
Namun....
“Hahr!”
Dalam kondisi kesakitan yang parah, Puspa masih mampu menghentakkan tenggorokannya dengan mulut terbuka.
Sess! Broack!
Dari dalam tenggorokan Puspa, melesat sebutir sinar kuning bening sebesar kelereng. Salah satu ilmu pamungkas Puspa yang bernama Nyawa Terakhir itu, menusuk tembus dada Mahapatih Yudi Mandala.
Orang tersakti di Kerajaan Tarumasaga itu tumbang tanpa nyawa dan tanpa jeritan lagi. Meski sinar yang menembusnya sebesar kelereng, tetapi hasilnya adalah lubang besar yang mengerikan selebar piring.
“Ayam Nyusu matiii!” teriak Puspa kencang, setelah ia jatuh ke tanah.
Kematian Mahapatih Yudi Mandala membuat pasukannya jadi kebingungan. Pasukan Kerajaan Tarumasaga yang sudah berganti tuan, tiba-tiba bermunculan dari beberapa arah. Ratusan prajurit bertombak dan berpedang itu segera mengepung pasukan bawaan Mahapati yang kehilangan induk.
Meski pasukan Mahapati jumlahnya ratusan orang, tetapi jumlah pasukan di bawah perintah Ratu Getara Cinta lebih banyak.
Akhirnya, komandan pasukan itu memilih menjatuhkan senjatanya. Hal itu segera diikuti oleh semua prajurit di bawah komandonya. (RH)
**********
__ADS_1
AUTHOR minta maaf kepada READERS atas up yang sering lama. Author kini memegang 3 novel dan 1 Chat Story yang semuanya minta up setiap hari. AUTHOR mohon maaf yang sebesar-besarnya jika sekiranya Readers Setia merasa kecewa.🙏🙏🙏