Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 27: Lirik Layangati


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Sebagai hukuman atas kesalahan besarnya yang seharusnya tidak terampunkan, Lirik Layangati diasingkan ke kediaman Pendekar Jari-Jari Hijau, adik dari Pendekar Seribu Tapak.


Kisah Lirik Layangati tercatat di novel “Sanggana1: Perampok Raja Gagah” karya Rudi Hendrik.


Selama tujuh tahun sudah Lirik menempa ilmu kesaktian di bawah gemblengan Pendekar Jari-Jari Hijau. Akhirnya, Lirik Layangati diizinkan pulang atau bebas pergi oleh gurunya. Pendekar Jari-Jari Hijau merasa sudah cukup mengajari Lirik Layangati.


Lirik Layangati pulang dengan berkuda selama tiga hari. Hingga tiba di Desa Cipanggang, gadis cantik lagi manis berwajah model lebar itu singgah di sebuah kedai makan besar.


Lirik Layangati adalah gadis berusia dua puluh delapan tahun. Ia memiliki kecantikan dengan bentuk alis yang panjang, membuat model matanya menarik untuk dipandang. Pada cuping kiri hidung ada sebuah tahi lalat yang kecil, mempermanis kecantikannya. Saat ini ia mengenakan pakaian serba jingga.


Lirik Layangati duduk lesehan sambil menunggu pesanannya datang diantar. Tangannya ia letakkan di atas meja berkaki pendek di depannya.


Sambil menunggu itu pula, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Selain dia, ada dua kelompok orang persilatan yang makan di kedai makan tersebut.


Kelompok pertama adalah tiga lelaki berpakaian sama yang menunjukkan mereka berseragam dari sebuah lembaga. Ketiga lelaki berseragam hitam-hitam itu terdiri dari seorang lelaki dewasa berusia kepala empat dan dua orang pemuda. Terlihat bahwa mereka masing-masing menyandang sebatang benda kecil panjang seperti sebuah seruling dengan berbeda warna.


Kelompok kedua adalah dua orang lelaki separuh baya. Lelaki pertama berkepala botak plontos, tetapi ia memelihara kumis dan jenggot, yang bersambung melingkar mengurung bibir hitamnya. Sepasang alisnya yang tebal membuat matanya yang bulat lebar jadi tajam dan agak menakutkan. Ia mengenakan pakaian biru gelap yang dilapisi juba hitam berkancing tapi tanpa lengan. Di punggungnya tersemat sebuah senjata bergagang tetapi tidak memiliki batang pedang atau golok.


Lelaki kedua adalah seorang yang jangkung berpakaian serba cokelat, termasuk belangkon yang dikenakannya. Lelaki itu memiliki model bibir yang agak miring, sehingga terkesan ia selalu sedang tersenyum satu sudut bibir, padahal tidak. Hidungnya mancung dan kokoh sebagai seorang lelaki. Di punggungnya ada sebuah tongkat pendek berwarna merah, yang ujung atasnya memiliki piringan pisau bulat pipih dan tajam. Karena itu, ia haram untuk bergerak menggaruk punggung, sebab bisa-bisa tangannya akan terkena pisau tajam itu.


“Hahaha! Enak benar murid Ki Ageng Kunsa Pari itu, sekali kawin bisa mencangkul tiga perempuan!” kata pemuda berseragam hitam yang bernama Dirga.


“Hahaha!” tawa mereka bertiga di saat mulut mereka masih penuh oleh makanan.


“Wajar saja, Dirga. Kau lihat sendiri, ketampanannya seperti apa. Jika wajahnya itu dijual murah, aku yakin, semua perempuan bisa berbunuhan untuk memperebutkannya,” kata lelaki yang berusia di atas empat puluh tahun. Namanya Pulung Wowo. “Apalagi ini urusan rasa.”


Mereka bertiga dalam perjalanan pulang setelah hadir sebentar di Perguruan Tiga Tapak, menyaksikan pernikahan Joko Tenang dan Tirana.


“Rasa apa, Kakang?” tanya Dirga sambil tangannya mencocol timun ke sambal ulek.


“Makanya, cepatlah kau kawini Suripah agar kau merasakan rasanya,” jawab Pulung Wowo sambil memukul wajah Dirga dengan setangkai daun kemangi.


“Hahaha…!” tertawalah mereka.


“Aku juga jadi mau kawin, hahaha!” kata pemuda satunya yang bernama Miwon Gudek.


“Nah, kau memang harus cepat-cepat kawin, Miwon. Masalahnya, kau itu sehari-hari mengurus kuda-kuda perguruan. Aku hanya khawatir…” kata Pulung Wowo, tapi menggantung, karena ia kembali menyuapkan ayam goreng ke dalam gigitannya.


“Khawatir kenapa, Kakang Pulung?” tanya Miwon Gudek serius.


“Aku khawatir jika kau suatu waktu terserang nafsu birahi. Kasihan kuda-kudanya,” jawab Pulung Wowo.


“Hahahak!” Meledaklah tawa Dirga sendirian. Dia langsung mengerti maksud perkataan kakak seperguruannya itu. Lalu katanya kepada Miwon Gudek, “Kakang Pulung takut kau melampiaskannya kepada kuda-kuda itu. Hahahak!”


“Hahahak!” Bukannya tersinggung, Miwon Gudek justru turut tertawa kencang, seolah hanya mereka yang berada di kedai makan itu.


“Hei, hei! Pelankan tawa kalian! Kita ini sedang ada di tempat umum!” hardik Pulung Wowo kepada kedua rekannya.


Dirga dan Miwon Gudek kemudian agak menahan tawanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Pulung Wowo.

__ADS_1


“Kalian pernah mendengar tentang seseorang yang sangat memuja-muja kelezatan makanan?” tanya Pulung Wowo.


Dirga dan Miwon Gudek menggeleng.


“Pernah ada seorang pemuja kenikmatan makanan. Jadi, semua jenis makanan harus ia pernah cicipi untuk tahu seperti apa kelezatannya. Demi memuaskan lidahnya, ia melakukan pengembaraan ke berbagai negeri hanya untuk mencari berbagai kenikmatan makanan. Nah, begitu juga dengan kawin. Kalau lelaki sudah jadi pemuja rasa wanita, maka dia tidak akan puas dengan satu wanita. Jika perlu, seratus wanita,” tutur Pulung Wowo bak seorang pakar cita rasa.


“Waw!” desah Dirga dan Miwon Gudek mendengar cerita itu.


“Nah, aku curiga si Joko itu model lelaki pemuja rasa. Namun, karena dia adalah pendekar aliran putih dan membawa nama besar gurunya, dia lakukan dengan cara kawin sebanyak-banyaknya!” kata Pulung Wowo berapi-api.


“Tapi menurutku, calon istrinya yang bernama Kerling Sukma itu agak bodoh, Kakang. Mereka itu menikah di Perguruan Tiga Tapak, tetapi kenapa mau menikahnya giliran belakang?” kata Dirga.


Sepasang mata Lirik Layangati melebar ketika mendengar nama Kerling Sukma dan Perguruan Tiga Tapak disebut.


“Tapi menurutku dia beruntung. Setelah kemalangannya karena mau dibunuh kakak tirinya beberapa tahun lalu, dia kini menjadi murid Dewi Mata Hati,” kata Pulung Wowo yang pernah mendengar cerita tentang Kerling Sukma di waktu remaja.


“Yang benar, Kakang? Kerling Sukma pernah mau dibunuh oleh kakaknya sendiri?” tanya Dirga serius. Ia tidak pernah mendengar cerita itu.


“Iya,” tandas Pulung Wowo.


“Jahat sekali kakak tirinya i…”


Prak!


Tiba-tiba sebuah kendi tanah liat melesat menghantam kepala Miwon Getuk, tidak hanya memutus kata-katanya, tetapi juga membuatnya terbanting ke samping.


Pulung Wowo dan Dirga sontak terlompat kaget dari duduknya, seperti kucing kawin yang kepergok anjing.


Hidangan pesanan Lirik Layangati sudah tergelar di meja. Sambil tetap memandang tajam ketiga lelaki berseragam hitam itu, Lirik Layangati meminum air di gelasnya.


“Nisanak! Apa masalahmu?!” teriak Pulung Wowo dengan posisi sudah memasang kuda-kuda, tangan kanannya sudah memegang seruling.


“Masalahku…” ucap Lirik Layangati sambil berdiri dari duduknya. “Kalian menyebutku jahat. Akulah kakak tiri Kerling Sukma!”


Tiba-tiba Lirik Layangati maju dan melompat melesat. Pulung Wowo dan Dirga terkejut melihat lesatan tubuh wanita cantik itu. Kecepatannya membuat mereka berdua tergagap hingga bingung mengambil gerakan.


Bak! Bak!


Tidak hanya cepat dan indah gerak tendangan Lirik Layangati, tetapi juga galak. Pulung Wowo dan Dirga yang ditendang dadanya secara tik tok, terjengkang keras. Jika Pulung Wowo terbanting mematahkan meja kayu tempat makan mereka, Dirga terjengkang menghantam dinding geribik hingga rusak.


“Heaakh!” teriak Miwon Getuk yang berganti jeritan. Ia yang bangkit hendak menyerang dengan kepala berdarah, harus terlompat terbanting ke belakang saat sepakan kaki kiri Lirik Layangati menghajar keras dagunya.


“Kalian orang-orang Perguruan Seruling Sakti, jaga mulut kalian!” seru Lirik Layangati.


Fuuuiu!


Set!


“Aaak!”


Dirga yang posisinya paling jauh dari Lirik Layangati segera meniup serulingnya. Namun, baru seayunan irama yang ditiup, Lirik Layangati mengibaskan dua jari tangannya di depan tubuh. Satu kiblatan sinar hijau tipis melesat cepat menebas pergelangan tangan kanan Dirga hingga putus.

__ADS_1


Pemuda itu menjerit panjang kesakitan.


Pulung Wowo bangkit menyerang dengan cara langsung menaikkan kedua kakinya menyodok wajah Lirik Layangati, sementara kedua tangannya menjadi kaki.


Dak! Dak!


Sambil menarik kepalanya ke belakang, tangan kanan Lirik menangkis kaki itu. Namun, kaki Pulung Wowo yang lain datang menyusul. Lirik kembali menangkis.


Lirik Layangati harus terjajar, sebab kekuatan tendangan kaki kedua beberapa kali lipat lebih bertenaga.


Bugk!


Lirik Layangati menghentakkan kaki kanannya ke lantai papan kedai. Satu gelombang tenaga cukup besar langsung mementalkan tubuh Pulung Wowo dan Miwon Getuk. Tidak hanya itu, beberapa meja sekitar harus terpental pula dan jatuh hancur menghantam lantai.


“Mejakuuu!” teriak pemilik kedai histeris, tanpa bisa mencegah. “Panjul! Cepat hitung kerugiaannya!” teriak pemilik kedai makan kepada staf bagian kasirnya.


Brak!


Satu meja ada yang terpental dan jatuh di dekat meja kedua lelaki lain yang sedang makan di pojokan.


“Hmmr!” geram lelaki botak marah, ia tersinggung karena meja hampir mengenai mereka.


Namun, temannya yang jangkung cepat mencengkeram pergelangan tangan si botak, menahannya. Si jangkung menggeleng kepada si botak.


“Kita masih dalam kondisi terluka dalam. Gadis itu berkesaktian tinggi!” bisik lelaki berbelangkon.


Akhirnya lelaki botak harus menelan kembali emosinya. Dalam kepalanya ia membenarkan perkataan temannya itu.


“Siapa kau sebenarnya?!” tanya Pulung Wowo sambil memegangi dadanya. Darah telah keluar melalui celah bibirnya.


“Aku Lirik Layangati, putri Perguruan Tiga Tapak. Jika kalian ingin membuat perhitungan, datanglah ke perguruanku!” tegas Lirik Layangati.


“Ketua Perguruan Seruling Sakti dan Guru Besar Dewi Mata Hati kini ada di Perguruan Tiga Tapak, jika mereka tahu kau telah berurusan dengan kami, maka kau akan rasakan akibatnya!” kata Pulung Wowo yang termasuk murid utama di Perguruan Tiga Tapak yang kini diketuai oleh Kumala Rimbayu.


“Sedang apa mereka di sana?” tanya Lirik Layangati. Ia benar-benar ingin tahu, sebab ia tidak tahu bahwa saat ini ada acara pernikahan besar di Perguruan Tiga Tapak. Ia pun tidak tahu bahwa besok adik tirinya akan menikah.


“Pernikahan murid Ki Ageng Kunsa Pari dengan bibi guru kami, Kerling Sukma!” jawab Pulung Wowo.


Terkejut samar Lirik Layangati.


“Kalian benar-benar merusak nafsu makanku!” rutuk Lirik Layangati lalu segera berjalan ke luar.


“Nisanak! Nisanak!” teriak pemilik kedai sambil berlari mengejar Lirik Layangati.


“Jika kau ingin ganti untung, tagihlah kepada murid-murid Perguruan Seruling Sakti itu!” kata Lirik Layangati marah kepada si pemilik kedai.


Bentakan itu membuat lelaki pemilik kedai tidak bisa berkata apa-apa.


Lirik Layangati segera menaiki punggung kudanya, lalu menggebah pergi.


Dua orang persilatan yang makan di sudut hanya memperhatikan kepergian Lirik Layangati.

__ADS_1


“Ayo, kita habiskan! Nenek Haus Jantung pasti sudah menunggu kita!” kata lelaki jangkung kepada teman botaknya. (RH)


__ADS_2