
*Cincin Darah Suci*
Nasib apes dialami oleh Lien Hua yang berada di sebuah perahu. Ketika salah satu Pengawal Angsa Merah mendarat di satu perahu dengannya, ia langsung menyambut dengan serangan cakar beracunnya.
Sets!
“Aaak!”pekik Lien Hua karena dengan mudahnya Pengawal Angsa Merah itu memangkas tangan kanannya dengan tangan yang ternyata setajam pedang.
Clap!
Lien Hua yang memiliki ilmu melenyapkan warna wujudnya, tiba-tiba hilang dari pandangan. Ia meninggalkan potongan bangkai tangannya yang jatuh ke lantai perahu. Namun, itu tidak membuat anggota Pengawal Angsa Merah bingung mencari.
Brakr!
Anggota Pengawal Angsa Merah langsung menghancurkan perahu yang dipijaknya dengan pukulan bertenaga dalam tinggi. Sementara dia sendiri sudah melompat mundur mendarat di perahu lain. Dia dan kedua temannya yang memang mengeroyok Lien Hua diam memperhatikan reaksi di air dan perahu-perahu yang terapung.
Ada satu perahu yang bergerak kencang tanpa terlihat ada orang yang menaikinya. Melihat itu, dua anggota Pengawal Angsa Merah yang menunggu reaksi langsung berkelebat bersamaan ke arah perahu yang bergerak.
Wuss! Jbuur!
Dua pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi melesat menghantam sosok yang tidak terlihat di atas perahu yang terguncang. Terdengar suara hantaman yang menciptakan kemunculan tubuh Lien Hua yang tahu-tahu sudah terpental, lalu jatuh ke dalam air.
Sejenak ketiga Pengawal Angsa Merah menunggu kemunculan tubuh Lien Hua dari dalam air parit. Tidak perlu waktu lama, tubuh Lien Hua timbul kembali dalam kondisi sudah menjadi mayat. Dari mulut dan potongan tangan kanannya masih mengalir darah yang kemudian larut terbawa air.
Di titik lain, di atas tanggul.
Li Wei yang sudah mengalami luka dari pertarungan dengan Putri Yuo Kai sebelumnya, harus berakhir hidupnya dalam waktu singkat.
Set!
Kedatangan ketiga anggota Pengawal Angsa Merah Li Wei sambut dengan lesatan sekumpulan pita merah panjang. Pita-pita itu menyatu kaku membentuk ulir seperti bor yang ujungnya lancip sekeras besi.
Ketiga Pengawal Angsa Merah itu mampu menghindar dengan lihai. Satu melesat mendatangi Li Wei dengan merendahkan tubuhnya di bawah bentangan pita, satu melesat cepat seperti burung di atas bentangan pita, dan satu lagi memilih menyerang dengan pukulan jarak jauh.
Di saat tangan kanannya mengendalikan pita, Li Wei harus menghindari dua serangan secara bersamaan, yaitu serangan bawah yang mengincar kakinya dan serangan atas yang mengincar wajah dan dadanya.
Wuss! Buk!
Maka di kondisi sibuk itulah, pukulan jarak jauh datang masuk menghantam dada Li Wei. Wanita 37 tahun itu pun terdorong nyaris terjengkang.
Set set set! Tseb!
“Akh!”
Di saat Li Wei kehilangan keseimbangan itulah, dua anggota Pengawal Angsa Merah terus memburu dan menyayat-nyayat tubuh Li Wei bergantian dengan tangan-tangan mereka. Eksekusi terakhir adalah satu tusukan tangan ke perut hingga tembus ke punggung.
__ADS_1
Tinggallah Limo Shin yang terakhir bertahan. Dari atas perahu yang dipakainya berdiri, dia memainkan cambuk warna-warninya dengan lecutan-lecutan yang cepat dan berbahaya. Sedemikian cepatnya permainan cemetinya membuat ketiga Pengawal Angsa Merah yang mengeroyoknya tidak memiliki ruang untuk mendekatinya.
Bagian-bagian perahu sekitar yang terkena lecutan itu pada berhancuran.
Tiga perahu digunakan oleh ketiga Pengawal Angsa Merah untuk mengepung Limo Shin dari tiga arah.
Wuss! Wuss! Wuss!
Das! Das! Das!
Ketika ketiganya memilih mengirimkan pukulan-pukulan jarak jauh, ternyata Limo Shin memiliki ilmu perisai yang mampu mementahkan pukulan itu ketika mengenai tubuh.
Wuss! Broakr! Jburr!
Akhirnya, satu dari mereka punya ide dengan melepaskan pukulan jarak jauh untuk menghancurkan perahu yang digunakan oleh Limo Shin.
Limo Shin yang tidak menyangka perahunya akan dihancurkan, tidak sempat melompat, sehingga ia jatuh ke dalam air.
Jbur jbur jbur!
Serentak ketiga Pengawal Angsa Merah itu melompat terjun ke dalam air. Seperti ikan-ikan piranha yang mencium amis darah di dalam air, ketiga wanita berbaju merah itu meluncur cepat di dalam air menyerbu keberadaan Limo Shin.
Putri Yuo Kai, Pangeran Han Tsun, Joko Tenang dan para penonton lainnya hanya menyaksikan warna darah muncul dari dalam air ke permukaan lalu mengalir.
Tidak berapa lama, ketiga anggota Pengawal Angsa Merah mencelat keluar dari dalam air bersamaan dan mendarat di atas perahu-perahu yang ada di pinggiran parit.
Dengan demikian, tamatlah riwayat orang-orang sakti bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Putri Yuo Kai.
Mereka benar-benar disuguhkan pertunjukan kejam oleh Pengawal Angsa Merah. Mungkin banyak dari mereka yang baru kali ini melihat para wanita yang selama ini mengawal Putri Yuo Kai menunjukkan kehebatannya, sekaligus kekejamannya.
“Kakak!” sebut Pangeran Han Tsun yang datang menemui kakaknya. Ia menjura hormat secukupnya selaku seorang adik. Ia datang bersama Tan Ma yang menghormat lebih dalam.
“Untung kau masih muncul. Jika tidak, aku akan menghajarmu, Pangeran!” hardik Putri Yuo Kai. Lalu tanyanya untuk menguji adiknya, “Di mana sekarang adikmu?”
“Sudah aman di istana, Kak,” jawab Pangeran Han Tsun.
“Lapor, Yang Mulia!” kata Komandan Bu Ruong seraya berlutut menghormat kepada Putri Yuo Kai. Ia melanjutkan, “Masih ada dua penjahat yang masih hidup, tetapi kondisinya sekarat!”
“Bunuh!” perintah Putri Yuo Kai dingin.
“Baik, Yang Mulia!” ucap Komandan Bu Ruong patuh. Ia lalu bangkit dan berbalik untuk melaksanakan tugasnya.
Di atas salah satu perahu, terbaring tubuh Chen Ho yang basah kuyup dan Hongli Ho yang masih bernapas. Keduanya adalah bagian dari keenam penjahat yang ingin membunuh Putri Yuo Kai, tetapi dalam pertarungan sengaja dibiarkan hidup oleh Joko Tenang.
“Bunuh keduanya!” perintah Komandan Bu Ruong kepada prajurit yang menjaga keduanya.
__ADS_1
“Siap, Komandan!” jawab kedua prajurit yang berdiri di atas perahu itu.
Kedua prajurit itu segera mencabut pedangnya untuk ditusukkan kepada Chen Ho dan Hongli Ho. Kedua pendekar itu hanya bisa menatap tajam tanpa bisa berbuat apa-apa.
Melihat tindakan kedua prajurit tersebut, Joko Tenang cepat berteriak dari tempatnya.
“Tunggu!” teriak Joko yang mengejutkan Putri Yuo Kai dan yang lainnya.
Semuanya memandang kepada Joko yang meneriaki dua prajurit yang posisinya agak jauh di dekat reruntuhan jembatan. Namun, kedua prajurit itu tidak berhenti dan terus mengangkat pedangnya untuk memenggal kepala Chen Ho dan Hongli Ho.
Untuk bisa mencegah eksekusi itu, tidak ada jalan lain bagi Joko Tenang selain menggunakan ilmu Langkah Dewa Gaib.
Tuk tuk!
Tahu-tahu Joko sudah berada di perahu tempat Chen Ho dan Hongli Ho berada. Ia menotok kedua prajurit itu sehingga gerakannya berhenti, lalu tumbang karena tidak bisa menjaga keseimbangan di atas perahu.
Joko Tenang yang berpindah perahu dengan cara yang ajaib membuat Komandan Bu Ruong langsung mencabut pedangnya.
“Tunggu!” seru Joko pula kepada Komandan Bu Ruong.
“Siapa dia, Kakak?” tanya Pangeran Han Tsun kepada Putri Yuo Kai.
“Manusia dari langit,” jawab Putri Yuo Kai lalu berkelebat meninggalkan adiknya yang hanya berdiri berpikir.
“Manusia dari langit?” gumam Pangeran Han Tsun tidak mengerti.
Putri Yuo Kai turun mendarat di perahu yang sama dengan Joko berdiri. Buru-buru Joko melompat ke perahu lain guna menjaga jarak.
“Apa yang Tuan Joko lakukan?” tanya Putri Yuo Kai.
“Mereka sudah tidak berdaya, kenapa harus dibunuh lagi? Itu bukan sifat seorang pendekar,” ujar Joko Tenang kepada Putri Yuo Kai sambil menunjuk tubuh Chen Ho dan Hongli Ho yang kini ada di depan kaki sang putri.
“Tuan Joko tidak setuju jika mereka dibunuh?” tanya Putri Yuo Kai yang menerka keinginan Joko berdasarkan tindakan pencegahan yang dilakukan, karena ia tidak mengerti perkataan pemuda asing itu.
“Terima kasih jika Yang Mulia Ratu bisa mengerti alasanku,” kata Joko seraya tersenyum sambil mencontoh cara hormat Pangeran Han Tsun.
Melihat Joko tersenyum dan menghormat, Putri Yuo Kai jadi tersenyum kecil. Ia bisa menerka maksud Joko Tenang.
“Penjarakan kedua penjahat ini!” perintah Putri Yuo Kai kepada Komandan Bu Ruong.
“Baik, Yang Mulia,” ucap Komandan Bu Ruong.
Putri Yuo Kai lalu berkelebat terbang naik ke tanggul menemui ke-12 Pengawal Angsa Merah.
“Kita kembali!” perintah sang putri.
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia Putri!” jawab Pengawal Angsa Merah serentak. (RH)