
“Guru…” ucap Kerling Sukma lirih.
Kerling Sukma berusaha membuka sepasang matanya. Samar-samar ia melihat sosok Nara, gurunya. Namun, sosok itu tidak jelas terlihat. Jubah kuning dan rambut pendek sosok itu membuat Kerling Sukma seperti didatangi oleh Dewi Mata Hati.
“Guru!” sebut Kerling Sukma agak keras dan lebih jelas.
Sosok itu kian mendekati Kerling Sukma yang terbaring tidak berdaya di dalam kegelapan. Sosok yang semakin mendekat semakin mirip dengan gurunya itu, seolah bercahaya di dalam kegelapan.
“Bangunlah, Mata Hijau!” kata sosok itu datar.
“Aku sudah mati, Guru!” ucap Kerling Sukma lemah dan sedih, ia telah kehilangan rasa pada raganya. Ia tidak bisa bangun berdiri atau duduk di dalam kegelapan itu.
“Aku tidak akan membiarkan murid kesayanganku mati selagi aku masih hidup,” ucap sosok bermata hitam itu agak panjang. Ia lalu berteriak agak keras kepada Kerling Sukma, “Bangunlah! Buka mata hijaumu!”
Tersentak hati dan pikiran Kerling Sukma mendengar teriakan sosok berjubah kuning itu. Namun dilihatnya, sosok itu telah menghilang, meninggalkan kegelapan semata.
“Buka mata hijaumu! Buka mata hijaumu! Buka mata hijaumu!”
Meski telah menghilang dari pandangan Kerling Sukma, teriakan suara Dewi Mata Hati itu terdengar berulang-ulang. Saat itu juga, Kerling Sukma teringat sesuatu. Ia kemudian menutup kembali matanya, tetapi pikirannya tidak.
Saat ini, tubuh Kerling Sukma berdiri dengan hanya menggantung di cekikan Nyai Kilau Maut pada lehernya. Kaki Dewi Mata Hijau sudah tidak sanggup berdiri, sepasang tangannya pun terkulai tanpa tenaga sedikit pun. Mulutnya ternganga karena udara sudah tidak mengalir masuk ke dalam dadanya. Ia telah menutup matanya seiring lenyapnya energi dari seluruh tubuhnya.
“Hihihi…!” tawa Nyai Kilau Maut panjang setelah memastikan Kerling Sukma telah tewas dalam cekikannya.
Cring!
“Hah!” desah Nyai Kilau Maut terkejut, saat melihat tiba-tiba sepasang kelopak mata Kerling Sukma terbuka nyalang.
Zrezrzr…!
Nyai Kilau Maut melihat sepasang pupil mata hijau Kerling Sukma meledakkan cahaya menyilaukan, membuat pandangan sepasang mata Nyai Kilau Maut buta menjadi putih. Selanjutnya dalam waktu yang sangat cepat tanpa jeda, sepasang mata hijau Kerling Sukma melesat dua garis sinar hijau kepada mata Nyai Kilau Maut.
“Aaakk…!” jerit Nyai Kilau Maut tinggi dan panjang.
Seketika seluruh tubuh Nyai Kilau Maut menegang. Dua garis sinar hijau itu terus menjadi jembatan bagi kedua pasang mata kedua wanita sakti itu. Tubuh Kerling Sukma yang tadi tidak memiliki tenaga sedikit pun, tiba-tiba sepasang kakinya bisa memijak. Sepasang tangan yang awalnya lunglai, tiba-tiba mengepal mengeras.
Secara perlahan, cekikan tangan kanan Nyai Kilau Maut lepas dari leher Kerling Sukma. Justru wanita tua itu yang terlihat seolah kehilangan tenaga dalam jeritannya yang berkepanjangan.
__ADS_1
Kusuma Dewi dan para pendekar lainnya hanya terbelalak melihat kejadian aneh itu. Awalnya mereka terkejut melihat Kerling Sukma yang “tewas” dalam cekikan, tetapi kemudian mereka lebih terkejut melihat kebangkitan Dewi Mata Hijau itu.
“Ilmu Mata Hijau bisa kau gunakan tanpa harus menggunakan tenaga dalam, bahkan tanpa tenaga sedikit pun, cukup dengan dorongan pikiran,” kata Dewi Mata Hati sambil menyisir rambut murid kesayangannya, ketika dua tahun sudah lamanya ia mendidik Kerling Sukma sebagai muridnya.
“Semudah itu, Guru?” tanya Kerling Sukma yang kerap kali disisiri rambutnya oleh Nara, meski sang guru buta adanya.
“Tidak mudah. Kau harus melatih membangun kekuatan itu melalui kekuatan pikiranmu. Jika kau cerdas, butuh waktu setengah tahun untuk melatih ilmu Mata Hijau itu. Dengan ilmu itu kau bisa menyerap tenaga sakti lawan atau siapa pun yang menjadi korbanmu,” jelas Nara.
Pada kemudiannya, ternyata Kerling Sukma membutuhkan waktu selama tujuh bulan untuk menguasai ilmu itu. Namun kemudian, ilmu itu hampir tidak pernah digunakan hingga sekarang.
Hingga akhirnya, tangan Kerling Sukma bersinar ungu menyilaukan. Ilmu Roh Langit Empat milik Nyai Kilau Maut seolah-olah pindah kepada diri Dewi Mata Hijau.
Paks!
“Hekrr!”
Kerling Sukma menghantam keras dada Nyai Kilau Maut dengan pukulan sinar ungu menyilaukan. Wanita tua cantik itu terpental deras jauh ke belakang, lalu jatuh bergulingan di tanah, di antara mayat-mayat prajurit yang berserakan.
Nyai Kilau Maut sudah tidak bernyawa lagi. Dadanya jebol berlubang mengerikan.
“Surya Kasyara!” teriak Kerling Sukma yang sepasang matanya sudah tidak bersinar hijau lagi.
Pada saat yang sama, Kusuma Dewi, Nyai Kisut dan Garis Merak datang menghampiri Kerling Sukma.
“Tuakmu!” pinta Kerling Sukma kepada Surya Kasyara.
“Masih ada, masih ada!” ucap Surya Kasyara semangat, sambil memberikan bumbung tuaknya.
Kerling Sukma yang kini memiliki tenaga sakti Roh Langit Empat, membutuhkan tuak Surya Kasyara untuk mengobati luka dalamnya.
“Kau bangkit dari kematian, Sukma?” tanya Kusuma Dewi.
“Aku hanya hampir mati. Beruntung Guru datang membangunkanku,” jawab Kerling Sukma seraya tersenyum.
Setelah meneguk tuak milik Surya Kasyara, Kerling Sukma bisa merasakan bahwa kondisi tubuh dalamnya menjadi lebih baik.
“Kita pasti bisa menang,” ucap Dewi Mata Hijau optimis.
__ADS_1
Ia sejenak melihat perkembangan terbaru dari pertarungan di sejumlah titik. Dilihatnya sang suami dan Getara Cinta mengalami kondisi yang buruk dalam menghadapi Ratu Ginari. Namun, kondisi Turung Gali dan Tirana jauh lebih buruk.
Bress!
Kerling Sukma kembali mengeluarkan Kerling Emas dari dalam tubuhnya. Ia lalu melompat naik ke punggung ular raksasa sinar kuningnya.
“Kusuma, beri bantuan yang aman kepada Kakang dan Ratu!” seru Kerling Sukma, lalu melesat menuju ke pertarungan Tirana dan Turung Gali.
“Baik!” sahut Kusuma Dewi.
Beberapa waktu sebelumnya.
Turung Gali telah berhasil mengunci Raja Galang Madra dengan ilmu Pasak Paku Bayangan. Kini Raja Galang Madra tidak bisa ke mana-mana. Bayangan tubuhnya telah dipaku di tanah oleh sebuah sinar merah berwujud pasak.
Dengan tidak bisa ke mana-mananya Raja Galang Madra, Turung Gali mengambil kesempatan menyerang Roh Langit Tiga itu dengan ilmu tertingginya, yaitu ilmu Lengan Merah.
Zruzzz!
Turung Gali menghentakkan kedua lengannya. Dua spiral sinar merah melesat menyerang Raja Galang Madra. Raja bawahan Ratu Ginari itu menahan kedua ujung spiral sinar merah dengan kedua tinju yang bersinar ungu.
Spiral sinar merah ilmu Lengan Merah terus melesat tanpa putus, sehingga peraduan tenaga sakti dari kedua pihak saling menekan.
Turung Gali mendelik. Ia bisa merasakan setinggi apa tenaga sakti milik Raja Galang Madra. Turung Gali lebih terkejut saat sinar merahnya dikuasai oleh warna ungu, menunjukkan ilmu Roh Langit Tiga menggerogoti ilmunya.
Werzz! Buom!
Ketika sinar ungu bergerak lambat menelan warna merah hingga pertengahan sinar spiral, tiba-tiba sinar ungu yang menjalari sinar merah melesat cepat dan menghantam kedua tangan Turung Gali.
Hal itu membuat Turung Gali terpental jauh lalu jatuh keras di tanah yang keras.
Turung Gali segera bangkit dengan bibir bawah berlumur darah.
“Ayah!” teriak Tirana memanggil. Ia datang bersama burung sinar merahnya.
Turung Gali melompat naik ke udara yang kemudian disambar oleh punggung burung Tirana. (RH)
***********
__ADS_1
AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!